Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog
Berlin, Jerman.
Musim Dingin yang Terakhir.
Salju turun tipis di luar jendela kaca lantai lima Charité – Universitätsmedizin Berlin.
Di dalam ruang operasi nomor empat, suasana justru terasa panas oleh ketegangan. Bunyi rhythmic beep dari monitor jantung menjadi satu-satunya melodi yang diizinkan terdengar.
Di tengah ruangan itu, dr. Sekar Anandita Wijaya berdiri tegak. Masker bedah menutupi sebagian wajahnya, namun matanya—tajam, jernih, dan dingin—terfokus sepenuhnya pada rongga dada terbuka di hadapannya.
"Skalpel," suaranya memecah keheningan. Tegas, tanpa ragu.
Seorang perawat instrumen dengan sigap menyerahkan alat bedah tersebut. Sekar bekerja dengan presisi seorang maestro. Di kalangan sejawatnya di Berlin, ia dijuluki Die Eisige Hand—Si Tangan Dingin.
Bukan karena ia tak berperasaan, tapi karena detak jantungnya seolah tak pernah melompat, bahkan saat maut berada hanya satu milimeter di ujung pisaunya.
Namun, hari ini berbeda.
Saat ia sedang menjahit arteri yang halus, sebuah ingatan menyeruak tanpa izin. Ingatan tentang sebuah pesan singkat yang ia terima dua jam sebelum operasi dimulai.
“Sekar, pulanglah. Mas Rahman akan bertunangan minggu depan. Mama harap kamu bisa ikut andil di hari bahagia mas-mu.”
Tangan Sekar membeku.
Hanya satu detik. Namun dalam dunia bedah vaskular, satu detik adalah keabadian. Garis pada monitor jantung mendadak berubah menjadi gelombang yang kacau. Bip! Bip! Bip!
"Dokter, tekanan darah pasien turun drastis!" seru asisten bedahnya.
Sekar memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam di balik maskernya. Ia membuang bayangan wajah Rahman dari benaknya.
Menghapus rasa nyeri yang mendadak menghantam ulu hatinya. Dengan satu gerakan mantap, ia kembali menguasai keadaan. Ia menyumbat pendarahan, mengikat pembuluh darah, dan mengembalikan ritme kehidupan itu.
Sepuluh jam kemudian, Sekar duduk sendirian di ruang ganti dokter yang sunyi. Ia melepas scrub hijaunya yang lembap oleh keringat.
"Kau bisa membedah jantung manusia, Sekar. Tapi kau bahkan tidak berani melihat apa yang ada di dalam jantungmu sendiri," ucapan dari Rahman dua tahun silam kembali terngiang.
Sekar berdiri, mendekati cermin yang buram, melihat pantulan dirinya sendiri.
Dia seorang wanita berusia dua puluh delapan tahun yang sukses, seorang dokter bedah yang dihormati di salah satu rumah sakit terbaik di Eropa, namun tetap saja... ia adalah seorang gadis kecil yang ketakutan setiap kali nama "Rahman" disebut.
Ia mengambil ponselnya. Di layar terkunci, ada foto lama yang sengaja ia simpan di folder tersembunyi.
Foto dirinya dan Rahman di halaman SMA dengan setelan toga kelulusan. Rahman sedang tertawa, merangkul pundaknya dengan protektif. Saat itu, Sekar pikir ia adalah dunia bagi Rahman. Saat itu, ia pikir status "saudara angkat" hanyalah label di atas kertas yang bisa dihapus oleh waktu.
Ia salah. Label itu justru menjadi penjara yang membuatnya melarikan diri hingga ke belahan bumi lain.
"Sepuluh tahun, Rahman," bisiknya pada keheningan ruangan. "Sepuluh tahun aku mencoba membencimu, mencoba mengganti aromamu dengan aroma antiseptik ini. Tapi satu baris pesan tentang pertunanganmu sudah cukup untuk meruntuhkan segalanya."
Sekar tahu, kembali ke Jakarta adalah tindakan bunuh diri bagi ketenangan jiwanya. Jakarta bukan sekadar kota; Jakarta adalah kotak pandora. Di sana, ia bukan dr. Sekar yang hebat. Di sana, ia hanyalah anak pungut yang jatuh cinta pada kakak angkatnya sendiri—sebuah dosa yang tak termaafkan di mata Tuan Wijaya dan norma sosial yang mereka agungkan.
Namun, ada sesuatu yang lebih gelap dari sekadar cinta tak berbalas. Ada alasan mengapa ia dikirim jauh-jauh ke Jerman sepuluh tahun lalu.
Ada rahasia yang terkunci di antara rekam medis lama dan arsip keluarga Wijaya. Sebuah rahasia yang, jika terungkap, akan menghancurkan lebih dari sekadar karier bedahnya.
Sekar berdiri, menyampirkan coat tebalnya, dan berjalan keluar menuju lorong rumah sakit yang dingin. Langkah kakinya menggema, mantap namun berat. Ia sudah mengambil keputusan. Ia akan pulang. Bukan untuk merayakan kebahagiaan Rahman, melainkan untuk mencari akhir.
Ia ingin memastikan bahwa gejolak di hatinya benar-benar bisa ia operasi hingga bersih, atau justru membiarkan luka itu terbuka lebar untuk terakhir kalinya.
Pesawat menuju Jakarta dijadwalkan berangkat besok pagi. Saat Sekar melangkah keluar dari pintu utama Charité, angin musim dingin menerpa wajahnya.
Ia tidak tahu bahwa di Jakarta, sebuah badai yang jauh lebih besar telah menantinya. Badai yang tidak hanya akan mengguncang perasaannya, tapi juga akan menyebarkan kabar lama yang akan menghanguskan harapannya, kariernya, dan mungkin... hidupnya.
Cinta ini memang belum usai. Dan mungkin, ia takkan pernah dibiarkan usai sebelum semuanya hancur menjadi abu.