Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Rumah jaman dulu
Ziya duduk dengan wajah tegang, tangannya berpegang erat ke pegangan yang ada di tepi langit-langit mobil.
“Santai aja atuh Neng, percaya sama saya Neng akan selamat sampai tujuan,” ucap Asep sambil mulai melajukan mobilnya secara perlahan.
“Berisik, dari pada lu ngomong terus mending lu fokus aja ke jalanan,” bentak Ziya dengan mata terpejam, dia tak berani melihat jalanan yang tengah dilaluinya mulutnya komat-kamit membaca do'a yang sekiranya dia tahu.
Ziya semakin mempererat pegangannya tatkala mobil yang mereka tumpangi mulai melewati jalan menurun yang cukup curam, suara air mengalir dan guncangan demi guncangan yang ia rasakan benar-benar membuatnya ketakutan, setelah beberapa saat laju mobil pun berubah, suara mobil memberat itu tandanya mereka sedang melaju dijalanan menanjak.
“Sudah atuh Neng, Neng udah selamat,” ucap Asep setelah mobilnya mencapai jalan yang datar, dia mengulum senyum melihat tampang Ziya yang pucat pasi.
Perlahan Ziya memberanikan diri untuk membuka matanya, benar mobil yang mereka tumpangi sudah mulai melaju jauh meninggalkan jembatan yang terendam air tersebut. Dia pun menghela nafas lega.
“Gila jalanan itu bikin gue sepor jantung Sep, tapi bisa-bisanya lu tenang-tenang aja, gak takut kebawa arus apa lu,” komentar Ziya.
“Saya mah udah biasa atuh Neng, saya pernah lewat jembatan itu saat airnya lagi tinggi-tingginya, lagian ada orang yang jaga juga disana Neng liat juga kan tadi,” ucap Asep.
“Tapi tetep aja gue ngeri, ngebayangin kalau-kalau kita keseret arus.”
“Tapi kan gak kejadian, buktinya Neng masih duduk disini dalam keadaan utuh, hehe.”
Ziya berdecak pelan sambil melipat tangan di dada, kali ini dia bisa duduk dengan tenang. Pandangannya disuguhkan oleh barisan pohon pinus sepanjang jalan yang ia lewati, udaranya pun berubah menjadi dingin.
“Masih jauh gak sih, udah pegel ni gue,” keluh Ziya.
“Sebentar lagi Neng,” tanggap Asep.
“Bentar lagi bentar lagi, dari tadi lu ngomong gitu tapi kita gak nyampe-nyampe,” protes Ziya dengan suara jengkel.
“Sekarang beneran sebentar lagi atuh Neng, yang sabar ya,” ucap Asep.
Jalanan aspal yang semula mulus berganti dengan jalanan terjal penuh bebatuan, banyak lubang berisi air di tengah jalan yang hendak mereka lewati.
Duk... Ouch... Ziya meringis saat kepalanya tak sengaja membentur kaca jendela akibat mobil yang berguncang karena jalanan yang mereka lewati.
“Maaf Neng, Neng gak papa?”
Ziya diam tak menyahut, “Saya akan bawa mobilnya pelan-pelan.”
“Gue gak papa, udah jalan aja ke biasa gue pengen cepet sampe,” ujarnya.
“Ya udah kalau gitu. Neng pegangan yang erat takutnya kepalanya kebentur lagi.”
Sekitar seperempat jam perjalanan akhirnya mobil memasuki jalan perkampungan, sebelah kanan jalan terdapat rumah-rumah penduduk yang berjarak satu sama lain, sedang yang sebelah kiri hamparan persawahan dan kebun-kebun Sayur yang tumbuh dengan subur. Sedang di kejauhan tampak pepohonan dan gunung yang separuh tertutup awan.
“Selamat datang di kampung saya Neng,” ucap Asep.
Hem, jawab Ziya malas.
Mobil pun memasuki pekarangan sebuah rumah sederhana dan berhenti disana, “alhamdulilah, kita sudah sampai Neng, ini rumah saya,” ucap Asep sambil melepas sabuk pengamannya.
Ziya tak menanggapi ucapan Asep dia langsung turun begitu saja seperti biasa. Asep mendengus senyum, sepertinya dia harus banyak bersabar selama tiga bulan kedepan.
“Wah tinggali itu Si Asep mawa Awewe, enyaan kitu manehna ges kawin?” (Wah lihat itu Si Asep bawa wanita, apa ia gitu dia udah nikah?) ucap Ibu-ibu yang terpanggil oleh suara mobil yang dikemudikan Asep.
“Sep, Asep! Saha eta, mani gelis?” (Sep, Asep! Siapa itu cantik banget?) tanya Ibu-ibu tersebut.
“Istri Abdi atuh Teh,” ( Istri Saya atuh Teh,) jawab Asep seadanya.
“Jadi leres Asep teh ges kawin?” (Jadi bener Asep teh udah nikah?) tanya si Ibu tak percaya.
“Muhun Teh, Ie atuh buktina. Maenya Abi nyandak Istri sembarangan, Abi ge sien atuh Teh, hayo weh di tangkap polisi,” (Ia Teh, ini buktinya. Gak mungkin saya bawa wanita sembarangan, saya juga takut di tangkap polisi.) Sahut Asep diselingi candaan.
“Haha bisa wae maneh teh Sep, saha atuh namina?” (Bisa aja kamu Sep, ngomong-ngomong siapa namanya?)
“Sok atuh kenalan,” jawab Asep.
Beberapa Ibu-ibu itu pun mendekat, “Neng gelis, ngartos bahasa Sunda?” (Neng cantik ngerti bahasa Sunda?)
Hah? Ziya tampak bingung, dia melirik kearah Asep, meminta dia menerjemahkan perkataan si Ibu, “Ziya gak ngerti bahasa Sunda katanya Teh, pake bahasa Indonesia aja atuh ngomongnya.”
“Oh namanya Neng Ziya. Nama saya Teh Nining, ini Teh Elis dan ini Teh Saroh,” ucap si Ibu memperkenalkan diri.
“Iya, saya Ziya,” sahut Ziya sambil tersenyum, namun Asep tahu jika dia tak nyaman dengan kehadiran mereka.
“Teh, bukannya kita gak sopan atuh ya, tapi kita baru nyampe, nanti kalau udah gak capek kita ngobrol lagi,” ujar Asep memutus percakapan dengan halus.
“Ah iya, maaf ya Sep, Neng, aduh kita jadi gak enak ini. Sok atuh Istirahat dulu, kalau gitu kita permisi dulu.”
“Iya Mangga Teh,” jawab Asep sopan.
Setelah mereka pergi Ziya berdecak sebal sambil melipat tangan di dada.
“Gue udah boleh masuk belom nih, pegel kaki gue?”
“Eh iya Neng, ayo.” Asep membawakan koper milik Ziya sampai ke teras rumah, kemudian membukakan pintu untuk sang Istri.
Suasana jaman dulu nampak kentara di dalam rumah tersebut, rak kayu berwarna hitam bergaris putih berhiaskan kaca-kaca kecil nampak berdiri kokoh lengkap dengan perabotan jadulnya, seperti cangkir Seng salur hijau lengkap dengan tekonya, serta rantang putih dengan motif bunga diletakkan di sudut rak paling ujung dan masih banyak lagi barang-barang jadul yang disimpan disana. Belum lagi gorden dengan motif burung bangau berwarna pink muda sangat kontras dan jauh dari kata serasi dengan barang dan cat rumahnya.
‘Wah, selera Si Asep bener-bener jadul, ckckck, kursinya juga, kursi begini udah gak ada orang jual di toko kayanya.’ Komentar Ziya, namun hanya di dalam hati.
“Neng, kalau mau Istirahat silahkan, ini kamarnya saya udah nyuruh orang untuk membersihkannya,” ucap Asep.
“Oke, terus yang mana kamar lu, kita gak mungkin tidur satu kamar kan?” tanya Ziya blak-blakan.
“Kamar saya yang sebelahnya Neng. Neng tenang aja, saya akan lakuin sesuai perjanjian kita sebelumnya, tidak ada kontak fisik dan tidak akan saling mencampuri urusan masing-masing, begitu kan?”
“Ya begitu, syukur kalau Lu inget,” ucap Ziya, dia pun membuka pintu kamar dengan cat warna coklat tua tersebut.
Satu buah ranjang berukuran sedang dengan satu buah lemari kayu berukuran kecil nampak menyambut kedatangannya, didalam sini lumayan bersih jadi Ziya tak mempermasalahkannya sama sekali.
“Ck lumayan lah dari pada tidur di lantai,” ucapnya sambil menutup pintu. Tentu saja ini jauh dari kondisi kamarnya di jakarta, jika di ukur ukuran kamarnya pun hampir setengah ukuran rumah ini, belum lagi ranjang King Size-nya dengan lemari pakaian yang dibuat khusus atas permintaan dirinya sungguh jauh berbeda dengan keadaan disini.
“Its ok Ziya, ini hanya untuk tiga bulan, lu pasti biasa, demi hubungan Lu sama Regan agar direstui Papah, hal sekecil ini bukan masalah, Fighting!”
Biar si benalu cari duit sendiri
❤❤😍😍💪💪
klao Asep gk cinta ma kmu ziyaa..
🤣🤣😄❤❤❤😍💪💪💪
ziya auto njerittt..
aaaaa..
🤣🤣😄😄😍😍😍❤💪💪💪
jangan samlai pak raden manfaatin ziya yaaa😍❤❤❤❤💪💪💪
jgn sampai siti curiga..
klao perlu ziya cium asep di depan siti..
🤣🤣😄😍❤❤❤❤
😍💪😍😍💪💪❤❤❤
aseppp..
siap2 aja macn netinamu ngamuk3..
🤣❤❤💪😍😄
bakal ada salah paham ini..
moga gak panjang salah pahamnya..
❤💪💪💪😍😍😄😄😄