Suaminya berkhianat, anaknya di tukar dan dihabisii. Selama lima tahun dia merawat anak suami dan selingkuhannya yang bahkan tinggal satu atap dengannya berkedok sebagai pengasuh.
Bahkan dirinya diracuni oleh pelayan kepercayaannya. Ratih, berakhir begitu tragis. Dia pikir dia adalah wanita paling malang di dunia.
Namun nasib berkata lain. Ketika dia membuka mata, dia berada tepat dimana dia akan melahirkan.
Saat itu Ratih bersumpah, dia akan membalas suaminya yang brengsekk itu. Dia akan mengambil bunga dari setiap perbuatan suami dan semua yang telah menyakitinya dan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Dekat tapi tak bisa Menyentuh
Tadinya Ben ingin bertanya, siapa yang ingin dihabisi oleh wanita di depannya itu. Tapi, karena Ratih mengatakan dia ingin Ben melakukan sesuatu untuknya lagi. Maka Ben memilih diam dan mendengarkan.
"Joni, satpam di rumah ku! aku mau dia di penjara bagaimanapun caranya!" kata Ratih dengan tatapan yang begitu datar.
Ben sempat terkejut, wanita yang dulunya sangat lembut. Anggaplah menepuk nyamuk saja tidak akan pernah mati, karena memang tidak ada niat untuk membunuhh nyamuk itu, makanya dia akan membuat tepukannya meleset. Saat ini bicara tentang bagaimana membuat seseorang di penjara.
Bukan itu saja, barusan dia juga meminta Ben mencari seseorang yang bisa membuatkan racun sesuai dengan apa yang dia inginkan.
Ben sungguh ingin bertanya, ada apa dengan Ratih? tapi alih-alih benar-benar menanyakan pertanyaan itu. Ben langsung mengangguk setuju.
"Aku akan lakukan sesuatu! kapan kamu mau dia di penjara?" tanya Ben.
"Secepatnya!" kata Ratih.
Ben mengangguk lagi.
"Besok, aku pastikan akan ada petugas datang memenjarakan Joni!"
Ratih tersenyum. Wanita itu menepuk lengan Ben dua kali.
Puk Puk
"Terima kasih banyak ya. Kamu memang tidak pernah mengecewakan aku. Aku pulang dulu..."
"Ratih!" sela Ben memanggil Ratih.
"Iya, masalah uangnya aku akan transfer ke rekeningmu!" kata Ratih.
"Bagaimana kalau aku pernah mengecewakanmu?" tanya Ben dengan tatapan sulit di artikan.
Ratih terdiam. Dia menatap Ben yang wajahnya terlihat sedikit tegang.
"Memangnya apa yang bisa membuatku kecewa padamu. Kamu sejak dulu orang yang paling baik padaku. Ben, ada apa?" tanya Ratih.
Ratih yang tadinya tidak memikirkan apapun. Akhirnya jadi penasaran juga. Selama ini dia memang selalu mengatakan apapun yang dia butuhkan dan inginkan pada Ben. Tanpa pernah bertanya apa yang pria di depannya itu butuhkan dan inginkan.
"Ratih, aku..."
Ponsel Ratih berdering, dan itu adalah panggilan telepon dari ibunya.
"Halo ibu..."
[Nak, masih lama tidak? basemen ini terlalu panas, Rafa tidak nyaman]
"Oh iya Bu, aku akan segera pergi ke sana!" kata Ratih yang langsung menutup panggilan telepon itu.
Ratih langsung menoleh ke arah Ben. Pria yang tadi sudah mau bicara padanya.
"Ben, aku harus kembali. Sampai jumpa!"
Ratih bergegas meninggalkan Ben. Pria itu juga tidak memanggilnya lagi. Dia sungguh ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting. Awalnya dia ingin diam saja, melihat Ratih yang memang sudah sangat bahagia. Tapi, dia mulai terusik. Sayangnya, dia tidak pernah punya kesempatan untuk bicara jujur pada Ratih.
**
Setibanya di rumah besar Ratih itu. Maya yang masih menggendong bayi Rafa. Segera turun dari dalam mobil.
"Ibu rasa kamu harus beli mobil yang lebih nyaman dan besar. Supaya saat membawa Rafa imunisasi lagi, tidak sepertinya tadi. Rafa terlihat tidak nyaman!" kata Maya.
"Iya Bu, aku akan minta Ben..."
"Kenapa minta pada Ben, suamimu itu apa gunanya?" sela Maya.
'Dia tidak berguna!' gumam Ratih.
"Selamat siang nyonya Maya" sapa bibi Erma.
Wanita tua itu sangat pandai menjilatt dan berpura-pura baik. Kalau tidak seperti itu, tidak mungkin selama belasan tahun Ratih tertipu olehnya kan?
"Selamat siang bibi Erma" sahut Maya yang memang tidak tahu kalau bibi Erma adalah orang yang bermuka dua dan sangat jahat.
"Bi, ini adalah bibi Asih. Dia adalah pengasuh Rafa. Siapkan kamar untuknya, dekat dengan kamarku ya!"
Pandangan bibi Erma pada bibi Asih langsung terlihat sangat tidak senang. Tapi itu hanya sepersekian detik. Selanjutnya, bibi Erma bahkan menunjukkan kalau dia menyambut hangat kedatangan bibi Asih.
"Bibi Asih, mari aku antarkan ke kamarmu!" katanya sangat ramah dan sopan.
Maya yang melihat itu tersenyum.
"Bibi Erma memang bisa di andalkan!" kata Maya memuji bibi Erma.
Ratih hanya mengikuti langkah ibunya masuk ke dalam rumah.
'Ibu tidak tahu saja, orang yang kaya ibu bisa di andalkan ini. Adalah orang yang akan menghancurkan keluarga kita, Bu. Tapi sekarang aku tidak akan biarkan itu terjadi!'
Setelah menidurkan Rafa. Maya juga pamit pulang.
"Ibu akan pulang dulu. Nanti ibu bicarakan dengan ayahmu, masalah satpam itu. Kamu juga banyak istirahat, kan sudah ada bibi Asih. Kamu harus pulihkan tubuhmu!" kata Maya.
Ratih mengangguk. Maya pun pulang. Ketika Ratih akan kembali ke kamarnya. Bibi Erma menghampirinya.
"Nyonya, ini adalah Sarah. Orang yang saya rekomendasikan kemarin. Dia cukup terampil, nyonya!" kata bibi Erma.
Ratih yang melihat Sarah. Wajahnya tetap tenang. Dagu terangkat tipis, menunjukkan wibawa yang telah dia bangun dengan susah payah. Bibirnya tidak tersenyum, tapi juga tidak mengeras, hanya terkatup rapi, seperti seseorang yang menahan terlalu banyak kata untuk dilepaskan.
Matanya menatap Sarah dengan dingin, bukan marah yang meledak-ledak, melainkan amarah yang telah lama membeku. Ada kilatan pengenalan di sana, sekilas bayangan luka lama, tapi Ratih cepat menutupnya dengan lapisan ketenangan. Ratih menatap seperti seorang atasan menilai bawahan, tajam, penuh kendali, seolah Sarah hanyalah bagian kecil dari rutinitasnya.
"Jadi kamu, Sarah?" tanya Ratih dengan suara rendah dan stabil. Tidak dingin sampai menusuk, tapi cukup datar untuk menegaskan jarak.
Sarah mengangkat kepalanya. Mengangguk selayaknya seorang pelayan pada majikan.
"Iya nyonya!"
"Ini adalah pertama kalinya dan juga terakhir kalinya kamu masuk rumah utama. Tugasmu di tempat laundry!"
Dan setelah mengatakan itu, Ratih berbalik dan pergi begitu saja meninggalkan Bibi Erma dan Sarah.
Saat dia berjalan menuju ke arah kamarnya. Ratih tersenyum sinis.
'Bagaimana rasanya? dulu aku menyambutmu dengan sangat baik. Bahkan sofa yang aku gunakan untuk duduk, itu adalah sofa yang sama yang kamu bisa pakai. Tapi apa yang sudah kamu lakukan? sekarang rasakan! bagaimana rasanya tidak bisa menyentuh anak yang kamu anggap anakmu, meski berada satu rumah dengannya. Lagipula, Rafa bukan anakmu. Mungkin sekarang anakmu sedang kelaparan di luar sana. Seperti Rafaku dulu!' batin Ratih yang lantas menutup pintunya dengan cukup keras ketika dia sudah masuk ke dalam kamarnya.
Brakk
"Ibu!" keluh Sarah.
Bibi Erma juga masih bingung. Sebenarnya ada apa dengan Ratih. Kenapa seperti orang yang berbeda.
"Ibu, aku mau lihat Rafa, ibu. Aku mau gendong anakku!"
"Sarah, jangan bicara sembarangan! kalau Ratih tahu sekarang, bisa berantakan!"
"Tapi ibu, aku mau lihat anakku..."
"Ibu akan berusaha membawanya, nanti. Kamu kembali ke ruangan laundry dulu!"
"Ibu, yang benar saja. Aku benar-benar akan jadi tukang cuci?" tanya Sarah yang enggan sekali kalau benar-benar harus jadi pelayan laundry.
"Sarah, bersabarlah dulu. Fandi akan pikirkan caranya!"
"Huhhh!"
***
Bersambung...
Khawatir jika kelamaan di rumah itu, keburu bau bangkai..
Dan Fandi pun sudah di cerai..
Kini kehidupan mereka sudah tercerai berai..
Kira² apa selanjutnya yg terjadi..?
Yuk ahh.. Bab berikutnya kita baca lagi.. 🏃♀️🏃♀️😁
Ternyata Ratih sudah mengetahui semuanya..
Dan apa yang terjadi..? Terkejut dong pastinya.. 🤭
Apa lagi Bi Erma, sudah tak mampu lagi berkata untuk menolak fakta..
Karena Ratih punya CCTV yg tersembunyi, dan tak di ketahui oleh mereka bertiga..
Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya..?
Yuk.. Mari kita baca bab selanjutnya.. 🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Harta melimpah..
Ternyata hasil korupsi..
Kasih nafkah anak istri pake uang haram, parah dahh.. 🤦🏻♀️
Kau kira kebusukan bisa kau tutupi selamanya..?
Kau kira kebenaran tak akan menemukan jalannya..?
Mungkin saja kau terbebas saat ini, tapi lihat saja nanti, tunggu saja waktu nya tiba..
Kau akan berada di tempat mu yg seharusnya, yaitu penjara.. 😏