"Kau!!" Claudya terlonjak kaget melihat Vincent berjalan cepat ke arahnya. Ia berhenti tepat di depan wajahnya, napasnya terdengar berat.
"Pulang sekarang bersamaku!" Nada itu menggema seperti ancaman di telinga Claudya, tatapannya pun tak kalah mengerikan.
"Apa dia pacarmu?" Daniel bertanya, nada usilnya mirip Vanya yang suka memancing masalah.
"Tidak." Claudya langsung menjawab. Mendengar itu, emosi Vincent makin meletup, namun ia menahannya, tidak ingin membuat keributan di tempat umum.
"Ayo pulang!!" Nada suaranya kembali menusuk. Kali ini, tangan Claudya sudah berada dalam genggamannya, kuat dan tak memberi ruang untuk mengelak.
Ia tahu ia tak bisa berkutik. Membuat keributan bukan opsi. Terpaksa Claudya berdiri, mengikuti tarikan Vincent. Daniel ikut berdiri, menatap keduanya. Claudya seolah tertangkap basah sedang selingkuh.
Tangan Claudya digenggam erat oleh Vincent, tangan lainnya menggenggam tas. Bersiap untuk pergi.
"Maafkan aku, Daniel. Aku harus pergi. Lain kali aku akan berkunjung."
"Tidak akan!" potong Vincent tajam, menatap Claudya lalu beralih ke Daniel.
Vincent menyeretnya halus namun tegas, menuruni anak tangga dan keluar dari restoran. Begitu sampai di luar, Claudya berhenti mendadak, membuat Vincent ikut berhenti. Dengan kasar ia melepaskan genggaman tangan itu.
"Aku bisa jalan sendiri!!" Claudya mendahului Vincent, masuk ke mobil tanpa menunggu.
Vincent tersenyum samar melihat Claudya yang tetap menurut meski sedang marah.
Mobil melaju, dan di tengah perjalanan, amarah Claudya akhirnya meledak.
"Kau ini kenapa?!!" teriaknya. Vincent tetap diam, matanya fokus ke jalan. Seolah tak peduli dengan amarah Claudya.
"Kau selalu berbuat sesukamu!! Kau memaksaku!! Memerintahku!! Memarahiku!! Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku!!"
Claudya meluapkan semua yang mengganjal di dadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18.18 Gengsi
Sudah satu minggu Vincent menyibukkan diri dengan banyak pekerjaannya, ia benar-benar pekerja keras. Selama satu minggu ini juga, ia selalu menahan keinginannya untuk bertemu Claudya. Setiap ia ingin bertemu Claudya ia selalu mengalihkannya untuk bertemu Luna.
Pagi ini tiba-tiba Gita masuk ke ruangannya.
"Vin, perusahaan X memajukan pertemuannya hari ini di restoran B." Ucap Gita.
"Boleh. Lo ikut gue." Vincent menerima semua perubahan jadwal, sekalipun itu perubahan yang mendadak.
Gita mengangguk dan kembali keruangannya. Ia harus mempersiapkan bahan untuk bertemu kliennya.
Vincent mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, ia asik mengobrol dengan Gita. Hingga tak sadar mereka sudah tiba di restoran Bali Claudya.
"Kita kesini?" Tanya Vincent tidak yakin.
"Iya..memangnya kenapa?" Tanya Gita menyelidik. Vincent hanya menggelengkan kepalanya dan turun dari mobil.
Mereka di sambut oleh salah satu karyawan Claudya dengan sangat ramah, lalu karyawan mengarahkan mereka ke ruang VVIP yang sudah di reservasi. Saat berjalan mengikuti karyawan, Vincent melihat Claudya sedang bersama Daniel.
Mereka mengobrol hangat, dari sudut pandang Vincent mereka terlihat sangat dekat. Menyadari Vincent terpaku, Gita mengikuti arah pandang Vincent. Ia tersenyum melihat reaksi Vincent.
"Cemburu hmm?" Gita mengejutkan Vincent.
"Tidak." Ucap Vincent berlalu masuk ke ruangan VVIP.
Vincent berpesan kepada karyawan yang mengantarnya. Ia membicarakan sesuatu dan karyawan itu mengangguk.
......................
Sudah tiga hari Daniel terus mengunjungi Claudya. Mereka berbagi cerita dan ilmu. Dan sudah beberapa kali juga Daniel mengajak Claudya untuk berkunjung ke restorannya, namun selalu berakhir dengan penolakan.
"Maafkan aku. Aku sedang sibuk, lain kali saja." Begitulah cara Claudya menolaknya.
Daniel tidak memaksa. Ia mengerti jika Claudya harus memantau restorannya yang baru seumur jagung. Mereka melanjutkan obrolan seputar bisnis. Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba salah seorang karyawan menghampiri dan menyela pembicaraan mereka.
"Permisi Bu" ucap karyawan dengan sopan.
"Ya ada apa?" Jawab Claudya pelan.
"Maaf Bu, pelanggan yang berada di ruang VVIP meminta Ibu untuk ke ruangannya" Karyawan itu menyampaikan pesan dari Vincent. Claudya memenuhi panggilan itu dan meninggalkan Daniel.
Claudya berjalan dengan anggun, ia masuk ke ruang VVIP dan tersenyum melihat Gita.
"Gita...haaaiii" Claudya menyapa Gita ramah. Begitupun sebaliknya. Claudya tidak menyapa Vincent, ia bahkan tidak melihatnya.
Sementara Vincent hanya diam memperhatikan Claudya.
"Kau memanggilku? Ada apa?" Tanya Claudya. Gita melirik Vincent yang hanya diam.
"Tidak. Aku tidak memanggilmu, mungkin Vincent yang memanggilmu." Ucap Gita tersenyum.
Claudya melirik Vincent yang masih terdiam. Melihat tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Vincent, Claudya akhirnya mengalah.
"Ada yang bisa saya bantu pak Vincent Felix?" Tanya Claudya.
"Aku pesan semua menu yang best seller" ucap Vincent menatap Claudya.
"Baik. Apa ada lagi?" Tanya Claudya lagi. Vincent menggelengkan kepala pelan.
Claudya berpindah pada Gita, "Kau mau minum apa Git?"
"Aku mau jus mangga saja." Jawab Gita dan Claudya mengangguk lalu undur diri.
Tak lama kemudian, Claudya kembali masuk untuk mengantar semua pesanan yang Vincent inginkan. Tak di sangka Daniel malah membantunya.
Vincent menatap Claudya tajam, entah apa arti tatapan itu. Claudya menyadarinya namun ia hanya diam saja.
"Selamat menikmati" ucap Claudya lalu pergi.
Vincent mengamati sikap Daniel pada Claudya. Sesaat Claudya menghilang di balik pintu, pintu kembali terbuka dan ternyata klien mereka sudah tiba.
Vincent dan Gita menyambut tamu ramah. Perbincanganpun di mulai, mereka menemukan titik terang dan membuat kesepakatan. Tak butuh waktu lama untuk mencapai kesepakatan. Vincent menjamu tamunya untuk menikmati hidangan yang sudah ia pesan. Lagi-lagi masakan di restoran Claudya di puji karena benar-benar memanjakan lidah pengunjung.
Setelah selesai, Vincent meminta Gita untuk pulang terpisah karena ia masih ada urusan. Gita mengangguk dan pergi. Vincent masih berada di ruang VVIP, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Gue butuh informasi tentang seseorang, gue kirim detailnya. Gue mau secepatnya." Ucap Vincent memerintah, lalu mengakhiri panggilannya.
Vincent keluar dari ruangan VVIP, ia mencari keberadaan Claudya, namun tak ia temukan. Ia menaiki tangga menuju lantai dua dimana kantor Claudya berada.
Vincent mengetuk pintu kantor. Namun tak ada jawaban. Ia kembali turun dan menanyakan keberadaan Claudya kepada salah satu staffnya.
"Dimana Claudya?" Tanya Vincent pelan.
"Ibu Claudya bersama Pak Daniel, Pak. Baru saja keluar"
"Apa mereka pergi setiap hari?" Tanyanya lagi.
"Tidak pak. Baru hari ini Ibu Claudya pergi bersama Pak Daniel. Tetapi Pak Daniel hampir setiap hari kesini." Karyawannya berkata jujur.
"Baiklah, terimakasih." Vincent memberi beberapa tips kepada karyawan tersebut lalu ia pergi meninggalkan restoran Claudya.
Di perjalanan, Vincent berulang kali mencoba menghubungi Claudya. Dua kali panggilannya tak diangkat. Entah kenapa, setiap memikirkan Daniel, ada rasa tidak nyaman yang menyelinap. Ia meradang sendiri, pikirannya lari ke hal-hal yang tidak-tidak.
Ia akhirnya menghubungi Vanya.
"Van… lo telepon Daniel sekarang! Kabarin gue setelahnya."
Nada Vincent terdengar jelas memerintah. Ia meminta Vanya mengecek keberadaan Daniel.
Namun ia belum menyerah. Ia kembali menekan nomor Claudya. Kali ini, panggilannya di jawab.
"Kau di mana? Kenapa tidak menjawab panggilanku!" suara Vincent langsung meninggi, memarahinya tanpa sadar.
"Kenapa mencariku?!" Claudya balik kesal. Sudah berapa kali Vincent memarahinya seperti ini.
Vincent terdiam. Lidahnya kelu. Ia mengkhawatirkan Claudya, tapi saat ditanya langsung, ia justru tak bisa mengungkapkannya.
"Aku hanya memastikan jika kau masih hidup." jawabnya asal dan itu jelas membuat Claudya makin tersulut.
"Bukannya kalau aku menghilang harusnya kau senang? Kenapa mencariku? Kau membenciku, tapi masih peduli padaku. Aneh sekali." Suara Claudya bergetar kesal sebelum ia menutup telepon begitu saja.
Vincent memukul setir pelan, frustasi. Lalu ia melempar ponselnya ke kursi samping, dadanya sesak oleh campuran marah dan… takut kehilangan. Tapi tak bisa memgungkapkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung
jangan lupa like, subcribe, koment dan vote
Terimakasih 🙏 sarang heong 🫰🏻