NovelToon NovelToon
Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Istri Dadakan Tuan Arrafiy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Pengkhianatan
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Arsy Raihana Syahira percaya hidupnya akan sempurna. Pernikahan yang tinggal menghitung hari mendadak batal, setelah ia memergoki calon suaminya sendiri berselingkuh dengan sahabat yang selama ini ia percayai dengan sepenuh hati.

Belum sempat Arsy bangkit dari keterpurukan, cobaan lain kembali menghantam. Ayahnya mengalami serangan jantung dan terbaring kritis setelah mengetahui pengkhianatan yang menimpa putri kesayangannya. Dalam satu waktu, Arsy kehilangan cinta, kepercayaan, dan hampir kehilangan orang yang paling ia cintai.

Di tengah kehancuran itu, datanglah Syakil Arrafiy—CEO sekaligus teman semasa sekolah, dan lelaki yang diam-diam telah mencintai Arsy sejak lama. Mendengar kabar tentang Arsy, Syakil datang ke rumah sakit tanpa ragu. Di hadapan ayah Arsy yang terbaring lemah, Syakil mengucapkan sebuah permohonan yang tak pernah Arsy bayangkan sebelumnya: melamar Arsy sebagai istrinya.

Maukah Arsy menerima lamaran pernikahan dari laki laki yang telah lama mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

“Kau tidak perlu khawatir, nak,” potong Pak Rahman dengan lembut. “Aku tahu Arsy. Dia mungkin keras kepala, dan hatinya masih sangat terluka. Tapi aku ingin dia tahu bahwa dia tidak lagi sendirian.”

Syakil mengangguk pelan. Wajahnya terlihat tenang, tapi matanya menyimpan kilau yang sulit disembunyikan.

“Saya akan menunggu,” ucap Syakil dengan mantap. “Apa pun keputusan Arsy.”

Pak Rahman tersenyum tipis.

“Itu jawaban yang tepat,” katanya. “Cinta yang baik tidak pernah memaksa.”

Syakil tersenyum kecil. Dalam hatinya, ada harapan yang tumbuh, bercampur dengan rasa cemas yang sama besarnya. Ia tahu bahwa jalan yang akan ia tempuh tidak mudah. Namun untuk Arsy, ia akan selalu siap. Tak lama kemudian, kelopak mata Pak Rahman kembali terasa berat. Tubuhnya tampak semakin lelah. Syakil menyadari itu.

“Bapak sebaiknya istirahat,” ucapnya pelan. “Saya akan keluar sebentar.”

Pak Rahman mengangguk kecil. Tangannya perlahan melepas genggaman Syakil.

“Terima kasih, Nak,” ucapnya sebelum kembali memejamkan mata. “Sudah mau menjaga Arsy.”

Syakil berdiri perlahan, membetulkan posisi selimut Pak Rahman dengan hati-hati, lalu melangkah menjauh. Sebelum keluar, ia sempat melirik ke arah sofa tempat Arsy masih terlelap. Hatinya terasa lembut sekaligus nyeri melihat wajah itu.

“Aku akan menunggumu,” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Pintu ruang IGD tertutup pelan di belakang Syakil. Begitu berada di lorong, aura tubuhnya berubah. Wajah yang tadi tampak lembut kini mengeras. Rahangnya mengencang, sorot matanya kembali dingin dan tajam. Omar sudah berdiri di sana, bersandar pada dinding dengan tangan terlipat di dada. Begitu melihat Syakil keluar, ia langsung meluruskan tubuhnya.

“Tuan,” sapa Omar singkat.

Syakil tidak langsung menjawab. Ia berjalan beberapa langkah ke arah jendela lorong, menatap ke luar sejenak, lalu berbalik menghadap Omar.

“Apa yang kamu dapat?” tanya Syakil tanpa basa-basi. Membuat Omar menghela napas pelan sebelum berbicara.

“Informasi lengkap tentang Radit sudah saya terima.”

Syakil mengangguk kecil.

“Bicaralah.”

Omar melangkah sedikit lebih dekat, memastikan lorong cukup sepi.

“Radit Pradana,” mulai Omar. “Usia tiga puluh dua tahun. Seorang dokter spesialis penyakit dalam. Saat ini bekerja di salah satu rumah sakit swasta ternama di Jakarta.” Syakil menyipitkan matanya. “Dia bukan berasal dari keluarga berada,” lanjut Omar. “Ayahnya seorang buruh pabrik, ibunya penjahit. Biaya kuliahnya sebagian besar ditanggung oleh beasiswa dan sebagian lagi dari bantuan Arsy.”

Jantung Syakil berdegup lebih keras.

“Arsy?” ulang Syakil dengan dingin.

“Iya,” jawab Omar. “Arsy yang menemaninya dari nol. Saat Radit masih koas, Arsy yang membantunya secara finansial. Membelikan buku. Membayar biaya tambahan. Bahkan membantu mencarikan relasi agar Radit bisa magang di rumah sakit besar.” Omar berhenti sejenak untuk menatap wajah Syakil yang semakin mengeras. “Dengan kata lain,” lanjutnya, “posisi Radit sekarang tidak akan pernah ada tanpa Arsy.”

Syakil mengepalkan tangannya.

“Lalu selingkuhannya?” tanyanya rendah, membuat Omar menarik napas. “Perempuan yang menjadi selingkuhannya bernama Nadira Anindya. Sahabat dekat Arsy sejak SMA.” Nama itu jatuh seperti racun. “Hubungan mereka sudah berlangsung sekitar enam bulan,” lanjut Omar. “Dimulai saat Arsy sibuk mengurus persiapan pernikahan dan kondisi kesehatan ayahnya mulai menurun.”

Syakil tertawa kecil tanpa humor.

“Enam bulan,” gumam Syakil dengan nada tak percaya. “Dan Arsy tidak tahu apa-apa?”

“Tidak, Tuan,” jawab Omar. “Radit dan Nadira sangat rapi menyembunyikannya.”

Suasana hening menyelimuti mereka sejenak.

Syakil menutup matanya sebentar, mencoba menahan gejolak amarah yang kembali naik ke permukaan. Bayangan Arsy yang tersenyum, yang percaya sepenuh hati, yang menaruh hidupnya pada lelaki itu—semuanya membuat dadanya terasa seperti diremas.

“Cukup,” ucap Syakil akhirnya. Suaranya rendah dan berbahaya. “Aku sudah mendengar lebih dari cukup.” Ia menatap Omar dengan tajam. “Aku ingin Radit merasakan apa yang Arsy rasakan.”

Omar mengernyit.

“Maksud Tuan?”

“Aku ingin membalas semua rasa sakit yang ia buat kepada Arsy,” jawab Syakil dengan nada dingin. “Aku ingin menghancurkannya.”

Omar terdiam beberapa detik sebelum bertanya dengan hati-hati, “Menghancurkan dalam arti?”

Syakil mendekat selangkah. Sorot matanya terlihat gelap.

“Kariernya,” katanya. “Namanya, dan juga hidup yang ia banggakan sebagai dokter.”

Omar menarik napas panjang.

“Tuan,” ucapnya perlahan. “Dengan segala hormat, itu tidak mudah dilakukan. Tuan tidak memiliki pengaruh langsung di Indonesia. Dunia medis sangat tertutup. Radit punya reputasi yang baik dan pengaruh yang kuat.”

Syakil menatap Omar dengan tajam.

“Aku tidak peduli,” jawab Syakil tanpa ragu. “Lakukan apa pun caranya supaya Radit hancur.”

Omar terdiam, jelas mempertimbangkan permintaan tuannya itu.

“Pengaruh Tuan ada di Kairo,” lanjut Omar. “Bukan di sini.”

Syakil tersenyum tipis—senyum yang tidak pernah membawa hal baik bagi siapa pun yang mengenalnya.

“Kalau begitu,” ucapnya tenang namun mengandung ancaman, “gunakan pengaruh dan koneksi yang kumiliki di Kairo.”

Omar membelalakkan mata sedikit.

“Apa tuan serius?”

“Sangat serius,” jawab Syakil. “Aku ingin Radit kehilangan semua yang ia banggakan. Kariernya. Reputasinya. Hidup tenangnya.”

Syakil menatap lurus ke depan. “Dia sudah menghancurkan Arsy,” lanjut Syakil dengan dingin. “Dan untuk itu, aku akan menghancurkan dunianya.”

Omar menunduk pelan.

“Baik, Tuan,” jawabnya akhirnya. “Saya akan melakukan apa pun yang diperlukan.”

Syakil mengangguk kecil.

“Lakukan,” ucapnya singkat. “Apa pun caranya.”

Lorong rumah sakit kembali sunyi setelah perintah itu diucapkan. Omar masih menunduk beberapa detik setelah Syakil menyelesaikan kalimatnya. Ia mengenal tuannya dengan baik, jika nada suara Syakil sudah sedingin itu, maka keputusan yang diambilnya tidak akan berubah. Namun justru karena itulah Omar merasa perlu berpikir lebih jauh.

“Tuan,” ucap Omar akhirnya, memecah keheningan. Suaranya tetap terdengar sopan namun lebih berhati-hati. “Ada satu hal yang perlu saya sampaikan.”

Syakil tidak langsung menoleh. Ia masih berdiri menghadap ke jendela lorong dan menatap ke luar tanpa benar-benar melihat apa pun. Satu tangannya masuk ke saku celananya, bahunya tegap, seluruh tubuhnya memancarkan aura seseorang yang sedang menahan amarah dalam level paling berbahaya, amarah yang tidak terlihat namun siap meledak kapan saja.

“Katakan,” jawab Syakil dengan singkat dan membuat Omar menarik napas dalam-dalam.

“Jika tujuan Tuan adalah menghancurkan karier Radit sebagai dokter, maka jalan paling cepat dan paling bersih bukan lewat tekanan dari luar.”

Syakil akhirnya menoleh. Sorot matanya berubah tajam dan fokus.

“Lalu?”

Omar melangkah satu langkah lebih dekat.

“Kuasa terbesar dalam dunia medis bukan ada di asosiasi, bukan juga di pemerintah. Tapi di pemilik rumah sakit.”

Syakil terdiam. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena tidak paham, melainkan karena ia sedang memproses kemungkinan itu dengan kecepatan tinggi.

“Rumah sakit tempat Radit bekerja,” lanjut Omar, suaranya kini lebih mantap, “adalah rumah sakit swasta. Pemiliknya seorang pengusaha lokal. Usianya sudah tidak muda lagi dan beberapa bulan terakhir terdengar ingin melepas sebagian asetnya.”

1
Greta Ela🦋🌺
Ada ya laki2 gila kayak gini
Greta Ela🦋🌺
Itulah karma
Greta Ela🦋🌺
Dari pada kau udah buat bapak orang kena serangan jantung
Greta Ela🦋🌺
Si Radit stres
Greta Ela🦋🌺
Syukurlah sang ayah gak kenapa napa
Nonà_syaa.
Jdi ke inget nnek ku yg sdh ga ada ,
dpsng alat monitor jantung, aku yg bntu jaga di rs tiap mlm/Pray//Cry/
Greta Ela🦋🌺
Hayo looo minta maaf pun tak akan bisa menghapus rasa sakit itu
Greta Ela🦋🌺
Udahlah Radit terima lah kenyataan itu
Greta Ela🦋🌺
Karma kau ini Radit
Greta Ela🦋🌺
Nah Radittt mampusss loee
Greta Ela🦋🌺
Ada apakah ini?
Greta Ela🦋🌺
Iya wajar sih Arsy takut begini
Nabila Bilqis
lagi tegang²nya💪😍
Nabila Bilqis
lanjut thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: iya kak siap terima kasih udah mampir ya kak😍🙏
total 2 replies
Nonà_syaa.
Up lgi kk😍
vita
bagus
Greta Ela🦋🌺
Nah kan langsung direstuin
Greta Ela🦋🌺
Pak tolongggg jangan pergii
Lihat anakmu pak😭
Greta Ela🦋🌺
Kamu nyalahin diri sendiri mulu lah Arsy
Kami lah nyalahin si Radit
Greta Ela🦋🌺
Ayahnya kapan bangun sih😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!