Setelah setahun menikah Jira baru tahu alasan sesungguhnya kenapa Bayu suaminya tidak pernah menyentuh dirinya.
Perjalanan bisnis membuat Jira mengetahui perselingkuhan suaminya. Pengkhianatan yang Bayu lakukan membuat Jira ingin membalas dengan hal yang sama.
Dia pun bermain dengan Angkasa, kakak iparnya. Siapa sangka yang awalnya hanya bermain lama kelamaan menimbulkan cinta diantara mereka. Hingga hubungan terlarang itu menghasilkan benih yang tumbuh di rahim Jira.
Bagaimanakah nasib pernikahan Jira dan Bayu? Dan bagaimana kelanjutan hubungan Angkasa dengan Jira?
Ikuti terus kisah mereka ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss ning, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Beberapa saat di dalam toilet
Jira mual dan dia memuntahkan semua isi perutnya. Entah kenapa memakan makanan tadi membuat perutnya terasa di aduk-aduk. Terlebih saat mencium aroma nasi dari kepulan asap yang masih panas.
Kepalanya terasa sedikit pusing. Ditambah lagi melihat kelakuan Selly membuat pusing dikepala bertambah saja.
Jira berkumur-kumur mencuci mulut di wastafel toilet. Lalu sedikit memoles kembali wajahnya agar tidak terlihat pucat.
Pintu toilet terbuka. Terlihat Selly masuk membawa tas branded nya. Jira melihat dari pantulan cermin. Enggan menatap Selly secara langsung.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Jira to the point.
"Hahaha." Selly tertawa puas.
"Come on baby, kau tahu pasti apa yang aku inginkan."
Jira berdecih. "Kau tidak akan pernah mendapatkan dia."
"Oh ya. Kau ingat semua lelaki sebelum-sebelumnya. Bahkan suamimu sangat tunduk padaku waktu itu." dengan pongah Selly berkata demikian.
Tangan Jira terkepal mengingat semua itu. Namun dia tidak boleh kalah kali ini. Memejamkan mata sedetik lalu meraup oksigen sebanyak-banyaknya Jira pun berbalik menatap Selly.
"Kita liat saja kau atau aku yang bakal kalah. Tapi kurasa sudah kelihatan dengan jelas jika kau akan gagal. Jadi aku sarankan lebih baik kau menyerah sekarang daripada nanti menangis karena kalah."
Jira berjalan dua langkah ke depan mensejajarkan tubuhnya dengan Selly. Berbisik tepat di dekat daun telinga Selly. "Lebih baik kau periksakan kesehatan mu lebih dulu. Takut ada penyakit kelamin. Iiiiihhh takut. Jangan sampai kau terkena HIV/AIDS. Karena kak Angkasa tidak suka wanita berpenyakit."
Setelah mengucapkan itu Jira pergi. Meninggalkan Selly tanpa berbalik menatap wanita itu. Sudah cukup selama ini dia mengalah. Bukan berarti Selly bisa terus melakukan hal yang sama berulang-ulang. Kali ini Jira akan berjuang mempertahankan apa yang akan menjadi miliknya.
***
Di ruangan VIP restoran
"Kau okay."
"Yes, I'am okay."
Angkasa merasa lega saat melihat Jira kembali dalam keadaan baik-baik saja. Perasaan was-was yang dia rasakan kini hilang saat melihat wajah Jira.
"Apa dia berbuat masalah?"
"Sedikit. Tapi aku bisa mengatasinya."
Bastian tersenyum. Dia mempunyai ide yang sangat bagus.
"Ayo pergi. Sudah selesai kan. Kita tinggalkan wanita itu. Untuk apa kita menunggunya."
"Benar juga." pikir Stevan.
Angkasa dan Jira saling pandang. Kemudian mengangguk setuju dengan ide Bastian. Jadilah mereka berempat pergi meninggalkan ruangan sebelum Selly kembali.
***
"Sial, dasar Jira sialan. Aku akan terus menghancurkan hidupmu." teriak Selly tanpa mempedulikan pelayan yang menatapnya dengan penuh keheranan.
"Dasar sinting." batin sang pelayan saat melihat Selly berteriak seperti orang tidak waras.
Selly memutuskan untuk kembali ke perusahaan milik Stevan. Tanpa mengetuk pintu wanita itu langsung masuk begitu saja.
Stevan dan Bastian yang sedang berdiskusi mengalihkan pandangan saat mendengar pintu terbuka dengan kasar.
"Bisa sopan gak sih perempuan kok kasar." sindir Bastian. Lelaki itu benar-benar tidak suka dengan Selly.
"Tutup mulutmu. Kau hanya seorang asisten."
"Dan kau hanya sekretaris dadakan yang tidak kompeten. Bisanya cuma.....Ah sudahlah."
"Aku akan membuat surat kontraknya lebih dulu. Sebelum Angkasa menandatanganinya." ucap Bastian kepada Stevan. Lelaki itu mengangguk lalu Bastian keluar tanpa melihat Selly yang terus menatap dirinya dengan tatapan membunuh.
"Hati-hati bola matamu keluar dari tempatnya." ledek Bastian membuat Selly bertambah semakin kesal.
"Kau."
Selly melipat kedua tangan di dada. Dia marah. Dia sangat kesal saat semua orang meninggalkan dirinya di restoran tadi. Dan kekesalannya semakin bertambah dengan kelakuan Bastian barusan.
Stevan diam sambil memeriksa beberapa dokumen penting di mejanya. Sebelum kemudian berkata dengan singkat. " Kenapa? Ada yang ingin kau sampaikan?"
"Kenapa kau meninggalkanku disana?"
"Karena meeting selesai dan kau terlalu lama di dalam toilet."
Ada benarnya juga ucapan Stevan. Dia terlalu lama mengatur emosinya akibat ulah Jira. Dan lagi-lagi Jira menjadi kambing hitam atas kesalahan yang tidak ia lakukan.
"Kau mau bekerja atau pulang? Jika ingin kerja cari Bastian dia akan mengajarimu pekerjaan sebagai sekretaris."
"Ogah, lebih baik aku pulang daripada harus berduaan dengan Bastian. Si manusia LGBT."
"Kenapa? Apa karena kau tidak bisa membuat miliknya bangkit dan memuaskan mu?" Stevan menatap sinis ke arah Selly.
Selly tidak menjawab dia berbalik hendak pulang. Saat baru memegang handle pintu Stevan memperingati wanita itu.
"Lebih baik kau berhenti. Atau kau sendiri yang akan malu."
Selly menoleh dan menjawab dengan lantang. "Tidak akan."
Setelah itu dia keluar dan membanting pintu dengan keras.
Stevan terlonjak kaget karena kerasnya suara yang ditimbulkan akibat bantingan pintu tadi. Dia mengelus dadanya. "Dasar keras kepala."
**
Hari ini Jira lebih banyak diam. Tubuhnya terasa lemas. Rasanya ingin tidur namun dia harus profesional bekerja.
Dia menyandarkan kepala di meja beralaskan dua lengannya yang dilipat. Tiba-tiba datang Bayu. Lelaki itu langsung berdiri di hadapan Jira. Melihat ada orang Jira pun langsung mengangkat kepalanya.
"Ada apa?"
"Apa ini?" mata Jira menyipit. Menerima kertas pemberian Bayu. Disana ada logo pengadilan negeri Jakarta.
Sudah pasti itu adalah gugatan cerai darinya.
"Apa kau tidak bisa membaca? Ini adalah gugatan cerai dari ku."
"Aku tidak setuju."
"Kau ini aneh sekali. Kau yang berkhianat kau yang tidak setuju."
Bayu melembut. Dia berjongkok menggenggam tangan Jira. Tangan putih yang terasa lembut. Rasanya Bayu ingin membawa Jira ke dalam pelukannya.
Dia buta selama ini. Buta karena terhasut oleh omongan Selly. Mengatakan jika Jira sudah tidak perawan. Jira sudah banyak dijamah oleh lelaki lain. Dan masih banyak lagi fitnah-fitnah yang Selly berikan untuk Jira. Namun kenyataannya tidak begitu.
Menyesal. Sungguh Bayu menyesal. Seandainya waktu bisa diulang dia akan berusaha mencintai Jira.
Sekarang yang harus dia lakukan adalah membujuk Jira supaya mau kembali kepada dirinya.
"Jira, bisakah kau memberiku kesempatan. Aku berjanji tidak akan mengecewakan mu lagi. Tolong beri kesempatan untuk pernikahan kita agar tidak berakhir. Aku bersumpah akan selalu setia padamu."
"Tidak bisa." bukan Jira yang menjawab melainkan sosok lelaki yang menjadi pemimpin di perusahaan itu.
Mata Angkasa terasa panas saat melihat tangan Bayu menggenggam tangan Jira. Dia tidak suka apa yang sudah menjadi miliknya disentuh oleh orang lain.
"Kak, ini urusan kita. Jadi kumohon jangan ikut campur." Bayu tidak suka Angkasa ikut campur dalam urusan rumah tangganya.
Angkasa menatap Jira. Wanita itu terlihat pucat. "Apa dia sakit?"
"Bayu pergilah. Aku sedang bekerja. Kita bicarakan nanti di pengadilan saja."
Bayu menggeleng dia tidak setuju. "Kita bicara setelah kau pulang kerja. Aku akan menunggumu di restoran seberang."
Jira menghela nafas. Malas berdebat. Dia tidak mengiyakan juga tidak menolak. Kepalanya terasa berat. Rasanya pusing mendengar ocehan Bayu.
"Sekarang pergilah."
Bayu dengan terpaksa meninggalkan perusahaan. Dia menatap Angkasa dengan tidak suka. Lelaki itu seperti menyimpan rasa kepada Jira. Sebab dari sorot matanya nampak ketidak relaan saat dia mendekati Jira kembali.