NovelToon NovelToon
TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

TERJEBAK HASRAT LIAR KAKAK IPAR KU

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Las Manalu Rumaijuk Lily

Brakkk..!
"Apa yang kakak lakukan?" teriak Laura terkejut,pasalnya kakak iparnya,Lexi menerobos kamarnya lalu mengunci pintu dari dalam.
"Apa yang kulakukan? tentu saja menemui wanita yang berhasil membuatku berhasrat!" kekehnya tidak tahu malu.
"keluar kak!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Las Manalu Rumaijuk Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

9

​Laura terbangun dengan rasa sakit di sekujur tubuh, tetapi ia tidak bisa berlama-lama di ranjang. Ia harus segera mengenakan topengnya. Di rumah mewah ini, di bawah atap kakak iparnya, Lexi, setiap detik adalah sandiwara.

Alex sudah berangkat kerja lebih awal, meninggalkan Laura sendirian, dikelilingi oleh keheningan yang kini terasa seperti jebakan.

​Ia mengenakan gaun rumahan yang sopan, tetapi di lehernya, di bawah lapisan kain, kalung kunci perak itu tetap melingkar—sebuah lambang kepemilikan. Ia tidak lagi menyembunyikannya dari dirinya sendiri; di rumah ini, ia adalah tawanan yang sadar.

​Laura turun ke lantai bawah. Mbok Nah sedang membersihkan ruang tamu. Saat ia berjalan melewati ruang makan, ia melihat Lexi. Lexi tidak mengenakan pakaian kantor. Ia hanya memakai celana training abu-abu dan kaus longgar, duduk santai di sofa ruang keluarga sambil membaca tablet. Dia tampak rileks, tetapi seluruh ruangan memancarkan auranya yang menguasai.

​Lexi mengangkat pandangan. Senyum tipis kemenangan, yang bahkan tidak mencapai matanya, terukir di bibirnya—cukup untuk membuat perut Laura bergolak.

​“Selamat pagi, Nyonya Alex,” sapa Lexi, nadanya datar, tanpa emosi yang dapat didengar orang lain. Namun, penekanan pada julukan "Nyonya Alex" terasa seperti jarum dingin yang menusuk Laura, mengingatkannya pada peran palsu dan statusnya sebagai menumpang di rumah itu.

​“Pagi, Lexi,” balas Laura, suaranya berhasil tetap stabil.

​Sepanjang hari, interaksi mereka murni transaksional, dipenuhi ketegangan yang hanya mereka berdua pahami. Puncaknya terjadi saat Laura sedang mengambil air di dapur. Lexi mengikuti, berdiri di ambang pintu, menghalangi jalan keluar.

​Lexi tidak menyentuh Laura. Ia hanya mengamati, tatapannya membakar.

“Gaun rumahanmu terlalu longgar hari ini, Sayang. Lain kali, aku ingin melihat bentuk lehermu. Aku ingin melihat liontinku.”

​Laura menahan napas, tangannya gemetar memegang gelas. Pria itu tidak pernah berhenti mengendalikan, bahkan pakaian santai yang ia kenakan di rumah. Lexi menarik diri, menyunggingkan senyum sopan ke arah Mbok Nah yang mungkin sedang lewat, dan kembali ke ruang keluarga.

​Malam itu, jamuan makan malam dengan Alex terasa seperti adegan sandiwara opera yang paling melelahkan. Alex, tampak lelah dari pekerjaannya, terlihat ingin bersikap mesra.

​“Aku merindukanmu sepanjang hari,” kata Alex, meraih tangan Laura di atas meja.

​Laura menarik tangannya dengan lembut, berdalih dengan wajah yang dipaksakan menderita, “Aku juga, Sayang. Tapi hari ini aku merasa tidak enak badan. Dan… perutku sedikit kram. Aku rasa aku akan datang bulan sebentar lagi. Aku harus menghindari makanan pedas dan... kegiatan berat.”

​Alex seketika murung. Perintah Lexi, yang tadinya hanya ancaman verbal, kini menjadi tameng Laura dari suaminya sendiri. Perasaan bersalah melilitnya; dia berbohong pada Alex untuk melindungi janin yang mungkin dihasilkan dari perselingkuhannya. Lexi telah meracuni setiap aspek perkawinannya.

​“Maafkan aku, Sayang, aku terlalu kekanakan” kata Alex, nadanya dipenuhi simpati dan kekecewaan yang ia sembunyikan dengan baik. “Mungkin kamu harus tidur lebih awal. Aku akan bekerja di ruang baca.”

Laura tersenyum pahit menanggapi.

​Setelah Alex pergi ke ruang baca, Laura duduk sendirian di sofa ruang keluarga. Ia menyentuh kalung kuncinya lagi.

Perasaan ini, yang tadinya berupa belenggu, kini menjadi sebuah pembenaran. Kuncinya ada padanya.

​Pukul sepuluh malam, ritual itu dimulai lagi.

​Alex tertidur pulas setelah minum obat tidur ringan untuk meredakan stres di ruang bacanya. Laura membersihkan sisa-sisa sandiwara itu. Ia bangkit, tidak lagi gemetar karena rasa takut, tetapi karena penerimaan yang pahit.

​Ia membuka laci, mengambil gaun malam sutra hitam yang sudah ia cuci dan setrika, dan memakainya. Ia tidak menyembunyikan kalungnya.

Ia membiarkan kunci perak itu berkilau samar di bawah cahaya lampu tidur, seperti bintang yang menandai malam yang penuh dosa.

​Di tengah keheningan yang mencekik, suara itu datang. Bukan derap langkah tergesa-gesa. Hanya suara kunci diputar di pintu kamarnya, pelan dan terukur. Lexi ada di rumah.

​Laura beranjak dari ranjang. Ia berjalan ke tengah ruangan, tepat di bawah lampu, dan berbalik menghadap pintu kamar.

​Pintu itu terbuka. Lexi berdiri di sana, menatapnya, bibirnya membentuk senyum kemenangan yang kejam. Ia tidak perlu mengatakan apa-apa. Gerakan Laura sudah menjadi jawabannya.

​Ia telah menunggu, dan kali ini, ia adalah tawanan yang siap menyambut penjaranya.

​“Selamat datang kembali, Tuan,” bisik Laura pada dirinya sendiri, sebuah pengakuan yang menyakitkan di ambang kehancuran moralnya.

​Ia tahu, malam ini, belenggu itu akan dikencangkan, dan ia akan diajarkan lagi untuk mencintai rantainya.

​Lexi mengunci pintu kamar di belakangnya, tetapi kali ini, kunci itu tidak dilempar ke meja rias. Kunci itu dipegangnya erat-erat di tangan, lambang kendali total.

Dia tidak terburu-buru. Tatapannya tertuju pada Laura, yang berdiri di tengah kamar tidur, sendirian di bawah cahaya remang-remang, gaun sutra hitam dan kunci perak di lehernya terlihat jelas.

​“Kamu menunggu,” Lexi berujar, suaranya mengandung nada kepuasan yang dingin. Itu adalah pengamatan, bukan pertanyaan. “Aku suka caramu menyambutku, Sayang. Kamu akhirnya mengerti di mana posisimu.”

​Laura tidak menunduk. Ia menatap mata Lexi, membiarkan hasrat yang bercampur kebencian menyala di matanya. Rasa takut sudah tergantikan oleh kelelahan dan, yang lebih mengerikan, antisipasi.

​Lexi berjalan perlahan, setiap langkah adalah penegasan otoritas. Ia berhenti tepat di depan Laura, begitu dekat sehingga Laura bisa merasakan panas tubuhnya dan aroma maskulin yang kini terasa seperti aroma rumah yang baru.

​Tangannya terangkat, bukan ke wajah Laura, tetapi langsung ke kalung kunci perak itu. Jari-jarinya yang kuat menyentuh dinginnya logam, lalu menggesek kulit Laura di bawahnya. Lexi menarik rantai itu sedikit, memaksa Laura mendongak, menunjukkan lehernya dengan sempurna.

​“Ini bukan hanya janji. Ini pengakuan,” bisik Lexi, suaranya serak dan dalam. “Kamu memakai tanda kepemilikanku, bahkan saat suamimu ada di rumah. Kamu memastikan dia tidak menyentuh milikku.”

​Laura memejamkan mata, kepalanya sedikit miring ke samping, sebuah gerakan penyerahan diri yang tak terucapkan.

​“Aku ingin kau mengatakan padaku, mengapa kamu mengenakan ini?” perintah Lexi.

​Laura membuka mata, kilau liar di dalamnya kini tak tersembunyi lagi. “Karena… ini milikmu. Aku milikmu.”

​Senyum kemenangan Lexi melebar, kejam dan indah. Ia membungkuk, tidak mencium bibir Laura, melainkan sekali lagi mencium kunci di leher Laura, lalu menggigitnya pelan. "Lidahmu sudah belajar kejujuran," gumamnya.

​Ia mencengkeram rahang Laura, memaksanya menatap, dan akhirnya mengklaim bibir Laura dengan ciuman yang menuntut, yang berbeda dari ciuman penuh hasrat sebelumnya. Ciuman ini adalah hukuman dan janji.

​Kisah malam itu berlanjut dengan intensitas yang lebih brutal dan eksplisit dari sebelumnya. Lexi tidak lagi berusaha membujuk; ia menuntut. Ia menggunakan kunci itu sebagai alat dominasi, menarik rantainya saat gairah memuncak, mengingatkan Laura akan belenggu yang mengikatnya.

​Di tengah penyatuan mereka yang menghapus waktu, saat Laura berpegangan pada bahu Lexi, Lexi menekan perut Laura dengan jari-jarinya.

​“Tugasku sudah selesai,” Lexi berbisik, napasnya tersengal. “Tugasmu baru dimulai. Jangan sampai aku kecewa, Sayang. Pastikan benihku tumbuh di sini.”

​Kalimat itu, yang diucapkan di tengah puncak kenikmatan, menghantam Laura seperti sambaran petir. Ia bukan hanya selingkuhan. Ia adalah wadah, dan tujuannya bukan lagi hanya kepuasan, melainkan menghasilkan ahli waris untuk pria yang menghancurkan rumah tangganya. Lexi telah merencanakan ini sejak awal.

​Laura hanya bisa mengerang, perpaduan antara kepuasan, ketakutan, dan realisasi penuh atas nasibnya.

​Jam demi jam berlalu.

Seperti biasa, Lexi memastikan semuanya bersih sebelum fajar. Saat ia mengenakan kausnya, ia memandang Laura, yang terbaring lemas, matanya kosong menatap langit-langit.

​“Aku akan memeriksanya seminggu lagi. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan jika kamu datang bulan,” kata Lexi, suaranya kembali datar dan profesional, seolah-olah ia sedang membahas laporan keuangan.

​Laura hanya bisa mengangguk pelan, terlalu lelah untuk berbicara.

​Lexi berjalan ke pintu, lalu berhenti. Ia melihat kalung di leher Laura, tanda kepemilikan yang kini telah diterima Laura sepenuhnya.

​“Sampai jumpa, Laura. Ingat, kamu tidur di kandang emas, tapi kuncinya ada padaku.”

​Ia menghilang, meninggalkan Laura tenggelam dalam keheningan yang penuh dengan dosa dan ketidakpastian janin yang mungkin tumbuh di rahimnya.

​Bersambung...

1
Sarinah Quinn
kasian Laura Thor tolong lah Laura dari kebejatan lexi🙏🙏🙏
Sarinah Quinn
lanjut lagi thor 🙏
Fitria Syafei
waduh maju kena mundur kena nih 🙄 KK cantik kereen 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!