Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegelisahan Kita
Kayson bisa menyentuh apa pun yang dia mau. Mengusap apa pun yang dia inginkan. Menyelipkan jarinya ke dalam rahim terdalamnya. Mengusap kacangnya. Memainkannya seperti yang sudah dia bayangkan berkali-kali.
Kepala Stella terkulai ke belakang. Napasnya makin cepat. Pinggulnya terdorong ke arah Kayson, mengikuti sentuhannya.
Stella begitu responsif. Begitu sensitif. Dia akan mencapai puncak. Kayson akan membuatnya klimaks di sana, dan dia belum pernah merasa segairah ini seumur hidupnya.
Dia mendorong Stella lebih ke atas meja, menggeser tubuhnya, membuka kaki Stella lebih lebar. Lalu dia menunduk dan membawa mulutnya ke sana. Lembut dan hangat. Dia menjilat dan mencium, menikmati Stella sementara Stella berteriak.
Menyebut namanya dan mencapai puncak.
Tentu saja.
Tapi Kayson tidak berhenti. Dia tidak bisa berhenti. Dia sudah terlalu lama menginginkan Stella. Dia terus menjilat dan membelainya dengan jari dan lidahnya saat Stella melengkung ke arahnya.
"Kayson! Gue bakal … Ouhhhhh lagi .…"
Dia ingin Stella klimaks lagi, dan lagi. Sampai yang Stella kenal hanya kenikmatan. Sampai yang Stella kenal hanya dirinya. Semua pria di masa lalu itu akan dilupakan.
Kayson akan menghapus mereka dari ingatannya. Dia memang bukan pacar yang pertama, tapi dia adalah ciuman pertama Stella. Dan dia akan tahu persis bagaimana Stella ingin disentuh dan dibelai, dan dia tidak akan melupakan itu.
Tubuh Stella menegang. Kukunya mencengkeram bahu Kayson. "Kayson, masukin!"
Dia hampir mencapai puncak lagi. Batang Kayson sudah keras sepenuhnya.
Stella menginginkan itu?
Kayson menarik celananya turun dengan cepat. Batangnya yang tegang muncul di hadapan Stella. Dia mendorong masuk, menekan dalam hingga sepenuhnya menyatu.
Semuanya terasa sempurna.
Hangat.
Basah.
Ketat.
Dia menariknya sedikit lalu kembali menghentak.
Keras.
Dalam.
Berulang kali.
Dia terus bergerak saat Stella mencapai puncak, menjerit menyebut namanya lagi, kukunya menggores punggung Kayson, giginya mencengkeram kain kemeja yang masih dia kenakan.
Tidak ada jeda.
Tidak ada keraguan.
Dia sudah terlalu lama menahan diri. Bertahun-tahun. Mungkin seumur hidupnya. Dia selalu menginginkan Stella, selalu mengira Stella tak akan pernah bisa dia miliki.
Sekarang Stella ada dalam pelukannya. Dan batangnya sudah ada di dalam rahim Stella.
Stella pun meneriakkan namanya.
Stella adalah miliknya. Dan dia pun milik Stella. Sepenuhnya. Sejak dulu. Sejak usia tujuh belas tahun, saat dia mencium Stella di bawah hujan.
Klimaksnya datang menghantam, menguasai dirinya, membuatnya kehilangan arah, dan menjadi klimaks paling dahsyat yang pernah Kayson rasakan.
Sisa-sisa kenikmatan itu masih berdenyut saat dia memeluk Stella sekuat yang dia bisa.
Kayson baru saja tidur dengan Stella.
Detak jantungnya perlahan melambat. Napasnya masih berat saat dia menyadari kedua tangannya mencengkeram pinggul Stella erat sekali.
Mungkin terlalu erat. Dia tidak ingin menyakitinya. Seharusnya dia lebih hati-hati, lebih lembut. Dia selalu ingin begitu. Tapi hasratnya tadi meledak, dan sekarang?
"Maaf."
Kata-kata itu keluar begitu saja ketika Kayson berdiri dan menatap Stella.
Mata Stella terpejam, tetapi saat suara Kayson menggema, bulu mata panjangnya terangkat perlahan.
"Maaf kenapa?"
Dia baru saja memuaskan Stella. Di atas meja kerjanya. Dan dia masih hampir sepenuhnya berpakaian.
Stella masih mengenakan kemejanya.
Kayson mulai menarik diri darinya karena sadar dia masih berada di dalam tubuh Stella tanpa pengaman.
"Sial. Gue enggak pakai apa-apa!" Dia mundur dan memasukkan kembali batangnya yang masih tegang ke dalam celana. "Stella?"
"Gue pakai KB. Dan gue bersih."
"Gue juga bersih. Lo enggak perlu khawatir soal itu."
Kayson langsung menerjangnya seperti pria kelaparan. Karena kalau soal Stella, memang itulah dirinya. Lapar. Dia sudah menginginkannya selama bertahun-tahun dan terus menahan dorongan itu.
Lalu Stella datang kepadanya. Stella memilihnya.
Semoga dia tidak merusak semuanya.
"Gue nyakitin lo?"
Stella mengangkat tubuhnya dan kembali duduk di tepi meja. Tadi dia terbaring di atasnya saat dia membawanya ke puncak, dan pemandangan itu tidak akan pernah dia lupakan.
Namun Stella tidak langsung menjawab.
"Stella, gue nyakitin lo?"
"Enggak." Tatapannya menyapu Kayson. "Gue malah pingin lagi."
Dia ingin lagi?
Kayson mencengkeram sisi meja dan menahannya kuat-kuat. Itu satu-satunya cara agar dia tetap bisa mengendalikan diri.
"Lo mau lagi, Kayson? Maksud gue, gue tahu kadang cowok enggak selalu bisa langsung ronde—"
"Gue bisa. Gampang!"
Kalau seorang pria menginginkan seorang perempuan selama dia menginginkan Stella, bangkit untuk ronde ke dua pun bukanlah masalah. Tubuhnya sudah siap. Tegang dan keras, siap lagi dan lagi.
Namun kali ini, dia akan lebih lembut. Kali ini, dia akan menunjukkan perhatiannya.
Kali ini, setidaknya dia akan melepas kemejanya. Itu tujuannya. Dia ingin mengecup dada itu. Ingin menyentuh setiap bagian tubuhnya.
Dan Kayson ingin bercinta dengannya di atas ranjang. Bercinta, bukan berarti sekadar melakukan hubungan ranjang. Karena Stella sangatlah berarti baginya.
Dia mengangkat Stella ke dalam pelukannya dan Stella menghela napas pelan.
"Lo ngapain?"
"Gendong lo."
"Hmm, gue bisa jalan sendiri."
Mereka sudah sampai di tangga.
"Tapi gue suka banget pegang lo kayak gini."
Tubuh Stella pas dalam pelukannya. Hangat dan lembut, meredakan ketegangan dalam dirinya yang bahkan tidak dia sadari selama ini. Selama ini Kayson selalu gelisah.
Padahal yang paling dia butuhkan sudah ada di dekatnya.
Anak tangga keempat berderit di bawah langkahnya.
"Kalau lo sampai jatuhin gue gara-gara lagi sok jadi Rhett Butler, gue enggak bakal maafin lo!"
"Gue enggak bakal pernah bikin lo jatuh." Pelukan Kayson mengerat.
Stella mencondongkan tubuh dan mencium lehernya. Lalu menjilatnya. "Kali ini gue boleh coba?"
Kayson hampir tersandung. "Tentu aja boleh."
Dia menaiki tangga dua kali lebih lambat, sementara tawa Stella yang hangat dan seksi memenuhi telinganya.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di lantai atas, di kamarnya. Karena sejak lama Kayson membayangkan Stella terbaring di ranjangnya. Dia membaringkannya di atas seprai sutra hitam, dan Stella tersenyum kepadanya.
Di hadapannya, tangan Stella bergerak ke bagian depan kemeja yang tadi dia pakai, yang kini jelas sudah menjadi miliknya dan ingin dia simpan selamanya.
Dengan perlahan, Stella membuka kancingnya satu per satu.
Kemeja itu terlepas, memperlihatkan tubuhnya.
Kayson berdiri di sisi ranjang, berulang kali mengingatkan diri sendiri.
Jangan menerkam.
Jangan terlihat putus asa.
Kemeja itu jatuh di samping ranjang.
Dan ....
BAMMBB
...────୨ৎ────...
...Hi....
...Mohon bantuannya untuk beri LIKE di setiap bab yang kalian baca ya, teman-teman....
...Terima kasih....
...────୨ৎ────...