"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Dua Raja dan Satu Ratu
Di kantor pusat Mally Group, suasana terasa seperti di dalam lemari es. Para karyawan berjalan sambil menunduk, takut jika suara napas mereka akan memicu ledakan kemarahan sang CEO. Adriano tidak jatuh miskin, hartanya masih berlimpah, namun jiwanya terasa melarat.
"Apa ini?! Laporan sampah seperti ini kau serahkan padaku?!" teriak Adriano sambil melempar berkas ke arah sekretarisnya. "Pergi! Perbaiki sekarang atau kau tidak perlu kembali lagi!"
Setelah ruangannya kosong, Adriano terduduk lemas di kursi kebesarannya. Ia membuka laci meja dan mengambil sebuah foto lama. Di sana, Velin tampak sedang tertawa manja sambil memeluk lengannya erat saat mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang dulu Adriano abaikan.
Setetes air mata jatuh di atas permukaan foto itu. "Kau dulu begitu memujaku, Velin... Kenapa aku baru sadar kalau pelukanmu itu jauh lebih berharga daripada semua proyek ini?" memeluk foto itu, "Vel... aku ingin kau kembali di sisiku, aku akan berikan semua yang kamu inginkan vel.."
Tiba-tiba, pintu ruangannya terbuka tanpa ketukan. Mirabella masuk dengan gaya glamor, mencoba tersenyum manis. "Adriano, Sayang, ayo kita makan siang. Aku sudah memesan tempat di—"
"Keluar, Mirabella," potong Adriano dingin tanpa menoleh.
"Tapi Adriano—"
"Aku bilang KELUAR! Jangan pernah pakai parfum itu lagi, baunya membuatku muak!" bentak Adriano. Ia kini membenci aroma parfum Mirabella yang dulu ia sukai, karena baginya, aroma itu adalah pengingat akan pengkhianatannya pada Velin.
...****************...
Malam harinya, saat Adriano sedang menenggak wiski di bar hotel mewah miliknya, seorang pria berpakaian serba hitam dengan aura yang sangat tenang namun mengancam duduk di sampingnya. Pria itu memiliki garis wajah yang mirip dengan klan D'Arcy, namun dengan tatapan yang lebih licik.
"Menangisi wanita yang sudah menjadi milik adikku adalah hal yang sia-sia, Tuan Mally," ujar pria itu dengan suara halus.
Adriano menoleh, matanya merah karena alkohol. "Siapa kau?"
"Namaku Sirius Levon D'Arcy. Kakak angkat Kieran," pria itu memperkenalkan diri sambil menyesap minumannya. "Aku mendengar kau ingin merebut kembali istrimu. Dan aku di sini untuk memberitahumu bahwa... itu sangat mungkin dilakukan."
Adriano tertegun, egonya mulai terpancing. "Kieran membawanya ke pulau yang tidak bisa ditembus. Bagaimana kau bisa membantuku?"
Sirius tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyimpan niat jahat yang sangat dalam. Sirius sebenarnya membenci Kieran karena kakek Evander lebih memilih Kieran sebagai pewaris sah meski Kieran lebih muda. Baginya, Velin adalah alat yang sempurna untuk menghancurkan Kieran.
"Kieran itu kuat, tapi dia lemah jika menyangkut wanita itu. Aku tahu celah di keamanan pulau D'Arcy," bisik Sirius, mendekatkan wajahnya ke telinga Adriano. "Jika kau bekerja sama denganku, aku bisa membuat Velin kembali ke pelukanmu. Bayangkan, kau bisa mendapatkan istrimu lagi, dan aku... aku hanya ingin melihat adikku yang sombong itu kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya."
Adriano menatap Sirius dengan ragu. "Apa jaminannya?"
"Jaminannya adalah kebencianku pada Kieran. Kita punya musuh yang sama, Adriano," sahut Sirius. "Kau ingin cintamu kembali, dan aku ingin tahtaku kembali. Mari kita buat skenario di mana Velin merasa Kieran adalah ancaman baginya, sehingga dia akan berlari kembali padamu dengan sukarela."
Adriano terdiam. Pikirannya dikaburkan oleh rasa kehilangan yang mendalam. Ia tidak sadar bahwa ia sedang membuat kesepakatan dengan iblis yang jauh lebih berbahaya daripada Kieran.
"Baiklah... aku setuju," ujar Adriano akhirnya.
Sirius menyeringai puas. "Bodoh," batinnya. "Setelah aku menggunakanmu untuk mengambil Velin dari Kieran, aku akan melenyapkan kalian berdua."
...****************...
Sementara itu, di Pulau D’Arcy...
Velin sedang duduk di balkon, memperhatikan bintang-bintang sambil memegangi cincin hitam di jarinya. Ia merasa bulu kuduknya meremang tiba-tiba.
"Kenapa perasaanku nggak enak ya?" gumam Velin. "Tadi habis malam pertama yang manis, kok sekarang kayak ada hawa-hawa antagonis baru yang mau muncul? Duh, tolong ya Penulis naskah, aku mau hidup enak jadi Nyonya Mafia, jangan kasih aku plot ribet lagi!"
Kieran muncul dari belakang, memeluk pinggang Velin dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Kenapa melamun?"
"Tuan Kieran, kalau tiba-tiba perasaanku tidak enak, firasatku seperti akan datang seseorang berniat buruk atau berbuat jahat, kalo itu terjadi apa yang bakal kamu lakukan?" tanya Velin asal.
Kieran terdiam sejenak, matanya menajam seolah ia bisa mencium ancaman yang sedang direncanakan Sirius di kejauhan. "Aku akan memastikan dia tidak punya lidah untuk bicara, dan tidak punya tangan untuk menyentuhmu."
Velin menelan ludah. "Oke... galak banget, tapi aku suka."
...****************...
terimakasih 🙏🙏🙏