Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.
Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.
Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?
"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Felysha Anindhita melangkahkan kakinya melewati tumpukan kotak kayu kosong yang dibiarkan tergeletak di samping sebuah restoran kecil yang sudah tutup. Jalan sempit yang ia pilih ini hanya diterangi oleh satu lampu dinding tua yang mengeluarkan bunyi berdengung pelan, seolah-olah mesin di dalamnya sedang berjuang untuk tetap menyala. Ia meraba talitasnya, menyesuaikan posisinya yang sedikit merosot di bahu mantelnya yang berbahan wol halus. Ia tidak menoleh ke belakang, meskipun di dalam rongga dadanya mulai muncul denyut kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan.
Bunyi gesekan kain sweternya dengan bagian dalam mantel terdengar sangat jelas di telinganya setiap kali ia mengayunkan tangan. Felysha menunduk, memperhatikan bayangan tubuhnya sendiri yang memanjang di atas jalanan berbatu. Bayangan itu tampak aneh, seolah-olah ada bayangan lain yang lebih pendek dan lebih cepat bergerak tepat di belakangnya. Ia menghentikan langkahnya secara mendadak. Ia berdiri diam selama tiga detik, menahan napasnya untuk mendengarkan suasana di sekelilingnya.
Sepi. Hanya ada suara angin yang berdesir melewati celah bangunan dan bunyi gemeretak dari pemanas ruangan gedung di sebelahnya. Felysha kembali melangkah, kali ini sedikit lebih cepat. Ia merapatkan kedua lengannya di depan dada, mendekap tas selempangnya seolah benda itu bisa memberikan kehangatan. Ia bisa merasakan tekstur kasar dari kulit tasnya di bawah telapak tangan. Tinggal satu blok lagi, pikirnya. Satu blok lagi dan ia akan sampai di jalan besar yang menuju apartemennya.
Tiba-tiba, dari arah belakang, sebuah suara langkah kaki yang sangat cepat dan beruntun mendekat. Sebelum Felysha sempat berbalik sepenuhnya, sebuah dorongan kuat menghantam bahu kanannya.
Brak!
Tubuh mungil Felysha terhuyung ke arah samping, punggungnya menghantam dinding bangunan yang terbuat dari batu bata kasar. Rasa nyeri yang tajam menjalar dari tulang belikat hingga ke tengkuknya. Ia tersentak, napasnya seolah tertahan di tenggorokan karena kaget yang luar biasa. Ia melihat sesosok pria mengenakan jaket gelap melesat melewatinya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
Felysha meraba bahunya yang terasa kosong. Matanya membelalak saat menyadari tali tas selempangnya sudah tidak lagi melingkar di sana. Ia melihat pria itu sedang berlari menjauh, mendekap tas cokelat miliknya di bawah ketiak.
"Hey! Stop! Kembaliin!" teriak Felysha. Suaranya pecah di tengah lorong yang sunyi.
Ia mencoba berlari mengejar, namun kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Adrenalin yang membanjiri tubuhnya justru membuat ujung jemarinya gemetar hebat. Ia berlari sekuat tenaga, sepatu botnya menghantam aspal dengan bunyi yang tidak beraturan. "Maling! Copet! Tolong!" teriaknya lagi dalam bahasa Indonesia, sebelum ia tersadar dan berteriak dalam bahasa Prancis dengan nada yang panik. "Au voleur! Aidez-moi!"
Pria itu berbelok di ujung gang dengan gerakan yang sangat lincah, menghilang di balik tikungan bangunan apartemen tua. Felysha terus berlari, napasnya mulai tersengal-sengal, keluar sebagai uap putih di udara malam. Saat ia sampai di tikungan tersebut, ia berhenti. Di depannya hanya ada jalanan bercabang yang sepi. Tidak ada jejak pria tadi. Tidak ada suara langkah kaki yang menjauh. Hanya ada keheningan yang menyesakkan dan lampu jalan yang berkedip-kedip di kejauhan.
Felysha menyandarkan kedua tangannya di lutut, membungkuk untuk mengatur napasnya yang memburu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga telinganya berdenging. Ia meraba lehernya, merasakan perih yang tajam di sana. Ternyata tali tasnya sempat menyayat kulit lehernya saat ditarik paksa tadi. Ia menyentuh bagian yang perih itu dengan ujung jari, meraba cairan hangat yang terasa sedikit lengket. Darah.
"Nggak... nggak mungkin..." gumamnya lirih. Suaranya bergetar hebat.
Ia berdiri tegak, menatap ke sekeliling dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Di dalam tas itu ada segalanya. Dompetnya, paspornya, kunci apartemennya, dan yang paling penting adalah sebuah kompartemen kecil berisi foto ayahnya yang tidak pernah ia tinggalkan. Rasa takut mulai menjalar, bukan hanya karena kehilangan harta benda, tapi karena bayangan Julian. Ia bisa membayangkan kemarahan Julian jika tahu ia kehilangan barang-barang yang Julian berikan, apalagi karena ia keluar tanpa izin di jam seperti ini.
Felysha merogoh saku mantelnya dengan gerakan panik. Ia berharap ponselnya masih ada di sana. Syukurlah, benda itu masih ada. Ia mengeluarkannya, menatap layar yang menunjukkan pukul 23.05. Tangannya gemetar begitu hebat sampai ia kesulitan membuka kunci layar. Ia ingin menelepon Julian, tapi ia tahu itu adalah ide terburuk. Ia ingin menelepon polisi, tapi ia tidak tahu harus mulai dari mana di kota yang masih terasa asing ini.
Ia berjalan gontai menuju lampu jalan terdekat, mencoba mencari apakah ada barangnya yang terjatuh di sekitar sana. Matanya menyisir setiap sudut trotoar yang gelap. Ia menemukan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk Menara Eiffel miliknya tergeletak di dekat tempat sampah. Ia memungutnya, menggenggam benda logam kecil itu erat-erat di dalam telapak tangannya sampai ujungnya yang tajam menusuk kulitnya.
Air mata akhirnya jatuh juga. Ia tidak bisa menahannya lagi. Rasa dingin yang tadi terasa segar, kini berubah menjadi rasa dingin yang membunuh. Ia berdiri di tengah trotoar yang sunyi, merasa sangat kecil dan tidak berdaya. Semua keindahan Paris yang ia kagumi beberapa jam lalu kini tampak seperti latar belakang yang kejam bagi kemalangannya. Ia merasa seperti manekin yang baru saja dipreteli perhiasannya, dibiarkan berdiri telanjang di tengah malam yang beku.
Felysha mencoba menenangkan dirinya. Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya yang kasar. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tidak bisa hanya diam di sini. Ia melihat ke arah ujung jalan, di mana cahaya lampu dari sebuah kedai kopi yang masih buka terlihat samar. Ia mulai melangkah ke arah sana, kakinya terseret lemas di atas aspal. Ia memegang lehernya yang masih terasa perih, merapatkan mantelnya yang kini terasa tidak mampu lagi menghalaunya dari rasa menggigil.
Di setiap langkahnya, ia terus menoleh ke belakang, berharap pria tadi kembali dan mengembalikan tasnya. Namun yang ia lihat hanyalah bayangannya sendiri yang tampak semakin rapuh. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan: kebebasan yang ia cari malam ini ternyata harus dibayar dengan harga yang sangat mahal. Ia bukan lagi gadis yang bebas menikmati malam; ia adalah korban yang kini terdampar di kota yang tidak mengenalnya.
Saat ia hampir sampai di depan kedai kopi tersebut, langkahnya terhenti. Ia melihat seorang pria sedang duduk di bangku taman tidak jauh dari sana, mengenakan jaket denim dan topi baseball. Pria itu tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Felysha ingin mendekat dan meminta tolong, tapi rasa trauma yang baru saja ia alami membuatnya ragu. Ia hanya bisa berdiri terpaku di sana, di bawah bayangan lampu jalan, memandangi pria itu dengan tatapan penuh keputusasaan dan harapan yang mulai memudar.
Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil suaranya yang hilang. Ia harus bicara. Ia harus meminta bantuan. Ia melangkah satu per satu mendekati pria tersebut, tangannya yang memegang gantungan kunci Menara Eiffel masih terkepal kuat. Ia tidak tahu siapa pria itu, atau apakah pria itu bisa menolongnya, tapi di tengah kegelapan malam Paris, pria itu adalah satu-satunya manusia yang bisa ia temukan sebelum ia benar-benar menyerah pada rasa takutnya yang luar biasa.