Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokumen Berdarah dan Kebenaran yang Pahit
Di markas besar militer, suasana terasa mencekam. Ajudan Kael masuk ke ruang kerja pribadi Eisérre dengan langkah terburu-buru. Wajahnya tegang, dan di tangannya terdapat sebuah map kulit berwarna hitam yang disegel dengan lilin merah—tanda dokumen dengan klasifikasi paling rahasia.
Eisérre sedang berdiri membelakangi pintu, menatap peta wilayah perbatasan di dinding. Ia tidak menoleh saat Kael masuk, namun auranya yang dingin sudah cukup membuat Kael menunduk hormat.
"Jenderal," suara Kael rendah. "Laporan dari unit intelijen bayangan sudah selesai. Ini adalah biodata lengkap gadis di paviliun... dan kronologi asli kecelakaan itu."
Eisérre berbalik perlahan, matanya yang sebiru danau malam kini tampak sangat gelap. Ia menyambar map itu dan membukanya dengan kasar.
ISI DOKUMEN INTELIJEN:
Identitas Asli: Geneviève d’Orléans.
Gelar: Putri Mahkota Kerajaan d’Orléans, Calon Ratu Pertama.
Keahlian Khusus: Lulusan terbaik Akademi Kedokteran Kerajaan, Spesialis Forensik dan Patologi. Bisa menggunakan senjata api serta pisau lempar perak dan juga ahli beladiri.
Status Terakhir: Dinyatakan hilang dalam ledakan bom di wilayah perbatasan Valois saat melakukan misi kemanusiaan rahasia.
Daftar Pelaku Sabotase: Laporan itu menyebutkan beberapa nama petinggi militer faksi oposisi yang bekerja sama dengan pihak luar. Mereka tidak ingin Geneviève naik tahta karena kecerdasannya dianggap berbahaya bagi bisnis gelap mereka di perbatasan. Bom itu bukan kecelakaan perang; itu adalah upaya pembunuhan berencana yang rapi.
Eisérre mencengkeram pinggiran meja hingga kayu ek yang kokoh itu sedikit berderit. Rahangnya mengeras. Ia membaca bagian di mana Geneviève digambarkan sebagai wanita yang sangat vokal menentang korupsi militer—seorang wanita yang kuat, berani, dan tak kenal takut.
Sangat jauh berbeda dengan sosok "Ève" yang lemah lembut dan penurut di paviliunnya saat ini.
"Jenderal," Kael angkat bicara dengan ragu. "Jika Raja Alaric tahu kita memegang dokumen ini dan tidak segera menyerahkan Sang Putri, kita semua akan dianggap sebagai kaki tangan pemberontak. Nyawa Anda taruhannya."
Eisérre tertawa kecil—sebuah tawa yang kering dan mengerikan. "Mati konyol, ya? Ibuku baru saja mengatakannya semalam."
Eisérre menutup map itu dan menyulut korek api, membakar surat tugas asli para pelaku sabotase agar tidak ada jejak lain, namun ia menyimpan biodata Geneviève.
"Kael, tutup mulutmu. Singkirkan semua informan yang terlibat dalam penyusunan laporan ini. Tidak boleh ada satu pun dokumen yang keluar dari ruangan ini," perintah Eisérre dingin.
"Tapi Jenderal... bagaimana dengan dalangnya? Apa Anda akan membiarkan mereka?"
Eisérre menatap Kael dengan tatapan yang sangat tajam. "Aku akan menghabisi mereka satu per satu dengan tanganku sendiri. Bukan atas nama kerajaan, tapi karena mereka berani menyentuh milikku. Tapi ingat, Geneviève tidak boleh kembali ke istana. Di sana dia adalah target. Di sini... dia adalah ratuku."
Eisérre kembali ke paviliun malam itu dengan perasaan yang berkecamuk. Ia tahu sekarang siapa wanita yang ia cintai: seorang calon ratu yang cerdas dan berbahaya. Ia menyadari bahwa ia bukan sekadar menyembunyikan seorang gadis, tapi ia sedang mencuri sejarah sebuah bangsa.
Saat ia masuk ke paviliun dan melihat Geneviève sedang tersenyum manis menyambutnya—senyuman "palsu" yang belum disadari Eisérre—Eisérre merasa ketakutan yang luar biasa untuk pertama kalinya.
Jika kau tahu siapa dirimu, Ève... apakah kau akan tetap menatapku dengan mata selembut ini? Ataukah kau akan membedah hatiku sekejam kau membedah mayat di ruang otopsimu?