Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Aku melangkah menuju kamar mandi, membiarkan kucuran air panas mengguyur tubuhku yang kaku. Di bawah pancuran air, aku menangis sejadi-jadinya—bukan karena benci, tapi karena rasa sesak yang akhirnya meledak. Tiga tahun aku hidup dalam kepalsuan, membangun kesuksesan di atas fondasi dendam yang salah alamat.
Setelah merasa sedikit lebih tenang, aku keluar dengan mengenakan jubah mandi. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela besar yang memperlihatkan hiruk pikuk kota Jakarta. Pikiranku melayang pada Arlan. Betapa hancurnya dia saat itu, ditinggalkan oleh wanita yang ia cintai tanpa diberi kesempatan bicara, sementara ia sendiri terjebak dalam skenario iblis Harva.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu apartemenku memecah keheningan. Ketukannya pelan namun konsisten.
Aku waspada. Bang Haris bilang dia akan mengurus semuanya, tapi siapa yang datang sepagi ini? Aku meraih ponselku yang tadi dimatikan oleh Bang Haris, lalu menyalakannya. Layar menyala dan ratusan notifikasi masuk, namun mataku tertuju pada satu pesan yang baru saja tiba.
[Nomor Tidak Dikenal]:
"Aku ada di depan pintumu. Kita perlu bicara soal Harva. Aku punya sesuatu yang tidak ada di flashdisk Siska."
Jantungku berdegup kencang. Aku berjalan perlahan menuju pintu, mengintip melalui peep hole. Di luar sana, berdiri seorang pria dengan pakaian kasual, topi diturunkan rendah hingga menutupi sebagian wajahnya. Tapi aku mengenali postur itu. Dia adalah Doni, asisten pribadi Harva yang selama ini selalu mengekor di belakang pria itu.
Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu sedikit, tanpa melepas rantai pengaman.
"Apa lagi yang diinginkan bosmu?" desisku tajam.
Pria itu mendongak, matanya tampak gelisah. "Rania, aku tidak datang atas perintah Harva. Aku datang karena aku tidak tahan lagi melihatnya menghancurkan hidup orang. Aku tahu tentang kejadian di Jogja, karena akulah yang disuruh Harva untuk memantau keberangkatanmu ke kost Arlan malam itu agar durasinya pas."
Aku terpaku. Napasku tertahan.
"Harva gila, Rania. Dia punya rekaman asli dari CCTV tersembunyi yang dia pasang sendiri di kamar kost Arlan jauh sebelum malam itu. Dia tidak hanya menjebak Arlan, dia ingin memastikan dia punya 'kartu as' jika suatu saat Siska berkhianat. Dan sekarang, dia berencana menghapus semua jejak digitalnya sebelum kamu sempat lapor polisi."
Doni menyodorkan sebuah kartu memori kecil padaku. "Ini salinannya. Aku mencurinya dari brankas pribadinya pagi ini sebelum dia sampai di kantor. Gunakan ini. Selamatkan Arlan, dan tolong... jangan biarkan Harva tahu aku yang memberikannya padamu."
Belum sempat aku bertanya lebih jauh, Doni sudah berbalik dan menghilang di lorong apartemen.
Aku menutup pintu dengan tubuh yang lemas. Di tanganku sekarang ada bukti yang lebih kuat dari sekadar video Siska. Ini adalah bukti konspirasi tingkat tinggi yang bisa menyeret Harva ke balik jeruji besi.
Namun, saat aku hendak menyembunyikan kartu memori itu, sebuah pesan suara masuk ke ponselku. Dari Harva.
"Rania, sayang... kamu mungkin punya video Siska. Tapi tahukah kamu? Saham mayoritas perusahaan ayahmu baru saja berpindah tangan ke perusahaanku pagi ini. Satu laporan polisi darimu, maka ayahmu akan jatuh miskin dalam semalam. Pilihan ada di tanganmu. Mari kita bicara di kantorku jam satu siang ini. Tanpa abangmu, tanpa polisi."
Aku terduduk di lantai. Harva tidak hanya menghancurkan cintaku, dia sekarang menyandera keluargaku.
Tanganku meremas kartu memori itu. Aku menatap cermin di lorong, melihat sosok wanita yang selama tiga tahun ini disebut "Ratu Es". Kali ini, aku tidak akan menjadi dingin karena terluka. Aku akan menjadi dingin untuk menghancurkan.
"Kamu salah pilih lawan, Harva," bisikku pada bayanganku sendiri.
Aku segera meraih ponsel kembali, tapi bukan untuk menghubungi polisi. Aku menghubungi Arunika.
"Nika, hubungi semua koneksi media yang kamu punya. Kita tidak akan bermain di pengadilan hari ini. Kita akan bermain di pengadilan publik. Dan satu lagi... aku butuh kamu mencari tahu siapa pengacara paling kejam yang pernah menangani kasus korporasi."
Aku tidak akan membiarkan Harva menang lagi. Hari ini, pengkhianatan tiga tahun lalu akan dibayar lunas dengan kehancuran total sang dalang.