NovelToon NovelToon
Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Aroma Harapan Di Balik Loyang Kue

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan / Single Mom / Tamat
Popularitas:442
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Setiap hari sebelum fajar menyingsing, dapur kecil itu sudah mengepulkan asap. Di sana, seorang ibu bergelut dengan tepung, mentega, dan panasnya oven tua untuk menciptakan ribuan keping kue. Bagi orang lain, itu hanyalah camilan manis, namun bagi sang ibu, setiap loyang adalah taruhan untuk masa depan anaknya.

tangan yang melepuh terkena minyak panas, punggung yang semakin membungkuk karena beban keranjang, dan jam tidur yang dikorbankan demi recehan rupiah. Melalui sudut pandang sang anak, kita diajak melihat bagaimana sebuah pengorbanan tanpa pamrih perlahan-lahan merajut mimpi yang mustahil menjadi nyata. Sebuah kisah melankolis tentang cinta yang dipanggang dalam kesabaran dan ketulusan yang tak bertepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam pertama

Pintu kamar hotel yang didekorasi dengan kelopak mawar itu tertutup perlahan, meninggalkan hiruk-pikuk pesta di belakang mereka. Keheningan yang nyaman tiba-tiba menyelimuti ruang itu.

Satria menghela napas panjang, melonggarkan dasinya yang terasa mencekik sejak pagi. Ia menoleh ke arah Alana yang sedang duduk di tepi ranjang, berusaha menjangkau ritsleting di punggung gaunnya yang sulit dibuka.

"Sini, biar aku bantu," ucap Satria lembut.

Tangan Satria yang hangat menyentuh kulit Alana saat ia menurunkan ritsleting itu dengan hati-hati. Ada getaran halus yang dirasakan Alana, bukan karena dingin, tapi karena kesadaran penuh bahwa pria di belakangnya ini sekarang adalah suaminya.

Setelah berganti pakaian dengan handuk dan piyama yang lebih santai, mereka duduk berdua di balkon kamar yang menghadap ke lampu-lampu kota. Tidak ada aksi yang meledak-ledak, hanya ada dua jiwa yang merasa akhirnya mereka sampai di rumah.

"Masih terasa seperti mimpi, ya?" gumam Alana sambil menyesap segelas air putih.

Satria menggeser kursinya lebih dekat, merangkul bahu Alana. "Bukan mimpi, Lan. Kamu bisa mencubitku kalau tidak percaya."

Alana tertawa kecil dan benar-benar mencubit lengan Satria pelan. Mereka tertawa bersama, sebuah tawa lepas yang hanya milik mereka berdua. Rasa canggung yang sempat muncul karena status baru ini perlahan mencair berganti dengan rasa aman yang dalam.

Satria menangkup wajah Alana, menatap matanya dalam-dalam di bawah cahaya lampu temaram. "Malam ini tidak ada pesta, tidak ada tamu, hanya kita. Aku ingin kamu tahu bahwa aku akan selalu ada di sampingmu, tidak hanya saat kamu cantik seperti tadi di pelaminan, tapi juga saat kamu bangun tidur dengan rambut berantakan besok pagi."

Alana tersenyum, menyandarkan keningnya ke kening Satria. "Dan aku akan ada di sana untuk membuatkan kopi yang lebih enak dari kafe tempat kita bertemu."

Malam itu ditutup dengan kehangatan pelukan dan doa syukur yang mereka panjatkan bersama, memulai perjalanan panjang sebagai satu kesatuan.

******

Malam semakin larut, dan suasana di dalam kamar terasa semakin tenang. Setelah percakapan di balkon, mereka memutuskan untuk benar-benar beristirahat. Namun, bagi pasangan yang baru saja sah, setiap hal kecil terasa berbeda malam itu.

Alana duduk di depan meja rias, menghapus sisa riasan yang menempel di wajahnya. Satria muncul di belakangnya, tanpa kata, ia mengambil sisir dan mulai membantu Alana menguraikan rambutnya yang tadi disanggul ketat.

"Tadi aku sempat khawatir kamu akan pingsan karena mahkota itu terlihat sangat berat," canda Satria sambil menyisir rambut Alana dengan gerakan yang sangat lembut.

Alana terkekeh, menatap pantulan Satria di cermin. "Hampir. Tapi melihatmu berdiri di sana membuatku lupa dengan beratnya mahkota ini."

Saat mereka akhirnya merebahkan diri di tempat tidur, rasa canggung itu kembali muncul sesaat. Ini adalah pertama kalinya mereka berbagi ruang yang begitu pribadi. Satria menarik selimut untuk mereka berdua, lalu berbaring menyamping menghadap Alana.

Ia meraih tangan Alana, mengusap ibu jarinya di atas cincin pernikahan yang melingkar di sana. "Tanganmu masih dingin," bisik Satria. Ia kemudian membawa tangan Alana ke dadanya, membiarkan Alana merasakan detak jantungnya yang berdegup tenang namun pasti.

Dalam remang lampu tidur, Alana bisa merasakan kehangatan tubuh Satria di sampingnya. Tidak ada lagi jarak. Tidak ada lagi kata "pulang ke rumah masing-masing" setelah pertemuan mereka berakhir.

"Terima kasih sudah menjadi suamiku, Satria," bisik Alana pelan.

Satria mendekat, mengecup kening Alana dengan lembut dan lama, seolah sedang menyegel janji suci mereka sekali lagi dalam keheningan malam. "Tidurlah, Alana. Besok pagi, saat kamu membuka mata, aku akan tetap di sini. Dan lusa. Dan selamanya."

Keheningan malam itu bukan lagi kesunyian yang sepi, melainkan kesunyian yang penuh dengan rencana masa depan. Mereka pun terlelap dalam pelukan, memulai mimpi pertama mereka di bawah atap yang sama.

******

Di bawah temaram lampu kamar yang mulai redup, Alana dan Satria masih terjaga. Meskipun tubuh mereka lelah setelah seharian berdiri di pelaminan, pikiran mereka terlalu penuh dengan kebahagiaan untuk langsung terlelap. Mereka berbaring berdampingan, berbagi bantal yang sama, saling menatap dalam posisi miring.

"Ingat tidak," bisik Satria, suaranya parau karena lelah namun terdengar sangat lembut, "hari kedua kita bertemu di kafe itu? Aku sebenarnya sudah menyiapkan tiga topik pembicaraan di ponselku karena takut suasananya canggung."

Alana tertawa kecil, menyandarkan wajahnya di lipatan lengan. "Pantas saja bicaramu waktu itu melompat-lompat dari soal cuaca ke soal sejarah kopi. Aku pikir kamu pria yang sangat aneh tapi menarik."

Satria tersenyum, tangannya bergerak merapikan anak rambut yang menutupi mata Alana. "Aku hanya tidak ingin kamu merasa terganggu. Tapi ternyata, diam bersamamu pun rasanya sudah nyaman."

Alana menarik napas dalam, menghirup aroma sabun yang segar dari tubuh Satria. "Sekarang kita tidak perlu lagi janji bertemu di kafe. Kita akan bangun di ruangan yang sama setiap hari."

"Apa hal pertama yang ingin kamu lakukan besok pagi?" tanya Satria.

Alana berpikir sejenak, lalu tersenyum lebar. "Melihatmu bangun tidur. Aku ingin tahu apakah wajahmu tetap terlihat 'galak' seperti saat pertama kali aku melihatmu duduk di pojok jendela itu."

Satria tertawa pelan, lalu menarik Alana lebih dekat ke dalam pelukannya. "Wajahku mungkin galak, tapi hatiku sudah kamu kunci di pojok kafe itu selamanya."

Percakapan mereka perlahan melambat. Kantuk mulai menjemput, namun pegangan tangan mereka justru semakin erat. Di kamar yang tenang itu, hanya terdengar detak jam dinding dan napas mereka yang teratur.

"Selamat malam, Istriku," bisik Satria tepat di telinga Alana.

"Selamat malam, Suamiku," balas Alana dengan mata terpejam, merasa sangat aman di dalam dekapan pria yang kini menjadi pelabuhan terakhirnya.

Malam itu, cerita mereka bukan lagi tentang "aku" dan "kamu", melainkan tentang "kita" yang sedang mengawali bab pertama dalam sebuah buku panjang yang indah.

**"""

Dalam keheningan malam yang semakin larut, Alana memiringkan tubuhnya, menatap lekat garis wajah Satria yang diterpa cahaya lampu tidur yang kekuningan. Ia masih ingin bicara, masih ingin memastikan bahwa semua ini bukan sekadar bunga tidur.

"Satria," panggil Alana pelan, jemarinya memainkan ujung selimut. "Nanti, kalau kita sudah punya rumah sendiri, aku ingin ada satu sudut yang mirip dengan kafe itu. Kursi kayu, jendela besar, dan aroma kopi di pagi hari."

Satria tersenyum, matanya yang mulai sayu karena kantuk kembali terbuka. Ia meraih tangan Alana, mengecup punggung tangannya berkali-kali. "Tentu. Kita akan buat sudut favoritmu di mana saja. Tapi satu syaratnya: tidak boleh ada orang asing yang boleh duduk di sana kecuali aku."

Alana tertawa renyah, sebuah tawa kecil yang hanya bisa didengar di antara empat dinding kamar mereka. "Cemburu pada kenangan sendiri?"

Satria kemudian berbisik, seolah sedang membagikan rahasia paling besar dalam hidupnya. "Tahu tidak, Lan? Sebenarnya Selasa itu bukan hari liburku. Aku sengaja mengambil cuti setengah hari hanya untuk memastikan aku mendapatkan kursi di pojok itu sebelum kamu datang. Aku hanya ingin memastikan kamu punya alasan untuk menyapaku."

Alana tertegun. Ia baru tahu perjuangan kecil itu sekarang. "Jadi, selama berbulan-bulan itu..."

"Iya, itu semua rencana," potong Satria sambil menyeringai tipis. "Dan melihatmu memakai cincin ini sekarang, itu adalah rencana paling berhasil yang pernah kubuat."

Setelah rahasia-rahasia kecil itu terungkap, mereka terdiam sejenak. Namun, itu bukan diam yang kaku. Itu adalah diamnya dua orang yang sudah saling memahami tanpa perlu banyak kata.

Alana menyusupkan kepalanya ke dada bidang Satria, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini menjadi irama pengantar tidurnya.

"Jangan pernah berubah ya, Sat," gumam Alana hampir tak terdengar.

Satria memeluknya lebih erat, mencium kening Alana dengan penuh penekanan seolah sedang memberikan janji tanpa suara. "Tidak akan, Alana. Tidurlah, duniaku sekarang sudah lengkap di sini."

Malam itu benar-benar menjadi saksi bisu, bagaimana sebuah pertemuan sederhana di kursi pojok kafe bisa berujung pada janji setia yang akan mereka jaga hingga rambut memutih.

1
falea sezi
lo uda end kah
falea sezi
ini MC nya cwek apa cowok
erin: izin cewe kak 🙏
total 1 replies
falea sezi
seru moga bagus ampe ending q ksih hadiah biar g kosong
erin: semoga menikmati yah kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!