Cheon Ma-ryong bangun dalam tubuh Namgung Jin yang sekarat setelah diserang pembunuh bayaran. Dengan kecerdikan dan pengetahuannya selama ribuan tahun, ia mulai membangun kekuatan dari nol. Ia menghadapi intimidasi kakak tirinya (Namgung So-ho) dan intrik ibu tiri (Nyonya Kim) yang ternyata dalang percobaan pembunuhan. Ia berhasil merekrut Tetua Pyo sebagai sekutu dan bahkan mengubah Pemburu Kwon (pembunuh bayaran) menjadi mata-matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: MALAM PEMBURUAN
Perpustakaan Klan Namgung di malam hari adalah tempat yang sunyi.
Rak-rak buku menjulang seperti pohon-pohon mati di hutan kertas. Cahaya rembulan masuk melalui celah-celah jendela, menciptakan garis-garis perak di lantai kayu. Debu menari-nari perlahan di udara, seperti hantu yang menari waltz abadi.
Namgung Jin duduk di sudut ruangan, membelakangi rak buku tertinggi. Dari posisi ini, ia bisa melihat semua pintu masuk—depan, belakang, dan jendela kecil di lantai dua. Tubuhnya masih lemah, tapi matanya bergerak konstan, memindai setiap sudut.
Tetua Pyo telah pergi. Sebelum pergi, pria tua itu berkata, "Aku akan mengalihkan perhatian para penjaga. Tapi aku tidak bisa melindungimu jika mereka menemukanmu di sini."
"Aku tidak butuh perlindungan."
"Kau bocah sombong."
"Aku realis."
Sekarang, ia sendirian.
"Mari kita hitung." Ia berbicara pada diri sendiri—kebiasaan lama saat menyusun strategi. "Pemburu Kwon lumpuh sementara. Efek racun palsu akan hilang dalam satu jam. Setelah itu, ia akan marah. Dan orang marah mencari target dengan dua cara: mengejar ke tempat yang paling mungkin, atau menunggu di tempat yang paling berarti."
Tempat yang paling berarti.
Paviliun ibunya.
Simma di dada Namgung Jin berdenyut keras. Rasa cemas—bukan miliknya—mengalir deras.
"Tenang. Aku sudah pikirkan itu."
Sebelum lari ke perpustakaan, ia sempat melewati paviliunnya dan meninggalkan pesan singkat untuk ibunya. Hanya tiga kata, digores dengan arang di dinding kamar:
"JANGAN KELUAR. PERCAYA."
Ibunya wanita cerdas. Ia akan mengerti. Ia akan tetap diam di dalam, mengunci pintu, dan berpura-pura tidur.
Tapi tetap saja, Simma ini tidak tenang.
"Bocah sialan, kau membuatku stres."
---
Satu jam berlalu.
Tidak ada suara aneh dari luar. Para penjaga masih berpatroli seperti biasa. Suara jangkrik masih terdengar ritmis. Semuanya normal.
Terlalu normal.
Namgung Jin tahu bahwa dalam situasi seperti ini, normal adalah tanda bahaya. Pemburu Kwon bukan tipe orang yang menyerah. Ia akan datang. Hanya masalah waktu.
Lima menit kemudian, suara itu datang.
Bukan suara langkah. Bukan suara pintu dibuka. Tapi suara samar—sangat samar—seperti angin yang berdesir melewati celah sempit.
Namgung Jin tersenyum.
"Dia pintar. Masuk lewat atap."
Ia tidak bergerak. Hanya menunggu.
Di atas, di loteng perpustakaan, sesosok bayangan hitam meluncur turun dengan senyap. Pemburu Kwon—matanya merah marah, tapi gerakannya tetap terkendali. Racun palsu itu telah hilang, tapi rasa malunya belum.
"Bocah sialan... kau pikir kau bisa bersembunyi dariku?"
Ia turun ke lantai satu, matanya menyapu ruangan. Gelap, tapi ia bisa melihat dengan baik—keahlian seorang pembunuh malam.
Tidak ada siapa pun.
"Mana dia?"
"Di sini."
Suara itu datang dari belakang.
Pemburu Kwon berbalik cepat. Di ambang pintu belakang, berdiri Namgung Jin. Bocah itu tersenyum—senyum yang membuat bulu kuduknya merinding.
"Kau menungguku?"
"Tentu."
"Bodoh! Kau pikir kau bisa mengalahkanku?"
"Aku tidak perlu mengalahkanmu." Namgung Jin melangkah mundur, keluar pintu. "Aku hanya perlu membuatmu mengejarku."
Ia berlari.
Pemburu Kwon menggeram, lalu melesat mengejar.
---
Malam itu, di kompleks Klan Namgung, sebuah perburuan terjadi.
Namgung Jin berlari memasuki halaman belakang—daerah yang jarang dijaga karena dianggap tidak penting. Di sini, gudang-gudang tua dan bangunan usang berjejer tak terurus. Rumput liar tumbuh setinggi pinggang.
Ia tahu persis di mana harus berlari. Ingatan Namgung Jin asli—yang selama enam belas tahun bermain di tempat-tempat terlarang ini—memberinya peta mental yang sempurna.
Di belakangnya, Pemburu Kwon mendekat. Pria itu cepat—jauh lebih cepat. Hanya masalah waktu sebelum tertangkap.
Tapi Namgung Jin tidak berniat lari selamanya.
Ia berbelok tajam ke kiri, memasuki gudang penyimpanan peralatan usang. Di dalam, gelap gulita. Bau karat dan debu memenuhi hidung.
Pemburu Kwon berhenti di pintu masuk, curiga.
"Jebakan?"
"Mungkin." Suara Namgung Jin bergema dari dalam. "Tapi kau tidak akan pernah tahu kalau tidak masuk."
Pemburu Kwon menyeringai. "Anak lancang. Aku akan merobek mulutmu."
Ia masuk.
Di dalam, gelap. Hanya sinar rembulan yang masuk melalui lubang di atap. Tapi matanya yang terlatih bisa melihat dengan cukup baik.
Ia melihat Namgung Jin berdiri di sudut, dikelilingi tumpukan besi tua.
"Mati kau!"
Ia menyerang.
Tapi kakinya tiba-tiba terasa sakit. Sesuatu yang tajam menusuk telapak kakinya.
"Apa—?!"
Ia menunduk. Di lantai, berserakan paku-paku berkarat. Bukan paku biasa—pakunya diatur sedemikian rupa sehingga tersembunyi di balik debu dan rerumputan kering.
"Jebakan sialan!"
Ia mencabut paku itu, tapi kakinya sudah terluka. Tidak parah, tapi cukup untuk memperlambat.
Di sudut, Namgung Jin tersenyum.
"Selamat datang di gudangku."
---
Pemburu Kwon marah besar.
Dengan kaki terluka, ia tetap menyerang. Cakar tangannya menyambar, tapi Namgung Jin sudah bergerak. Bocah itu berlari di antara tumpukan besi, menggunakan rongsokan sebagai tameng.
"Berlari seperti tikus!"
"Tikus yang lebih pintar dari kucing."
Pemburu Kwon mengejar, tapi setiap langkahnya harus hati-hati. Lantai gudang ini penuh jebakan—paku, besi tajam, bahkan beberapa perangkap tikus tua yang sudah berkarat. Semua ditempatkan dengan cerdik, memanfaatkan apa yang ada.
"Sialan! Kapan kau sempat memasang semua ini?!"
"Aku tidak memasangnya." Suara Namgung Jin dari balik tumpukan besi. "Aku hanya mengatur ulang apa yang sudah ada."
Pemburu Kwon menggeram frustrasi. Ia adalah pembunuh bayaran berpengalaman, pernah membunuh puluhan target. Tapi target kali ini... target ini tidak seperti biasanya.
Bocah ini tidak pernah menyerang. Ia hanya bertahan, melarikan diri, dan memasang jebakan. Tapi setiap jebakan, sekecil apa pun, dirancang untuk memperlambat, melemahkan, menguras tenaga.
Dan perlahan tapi pasti, strategi itu bekerja.
Pemburu Kwon mulai kehabisan napas. Lukanya tidak parah, tapi banyak—luka kecil di kaki, di tangan, di pinggang. Darah menetes di setiap langkah. Racun karat mulai meresap, membuatnya pusing.
"Cukup!" Ia berteriak. "Keluar dan bertarung seperti pria!"
"Bertarung seperti pria?" Tawa kecil terdengar. "Kau pembunuh bayaran yang menyerang bocah enam belas tahun. Dan kau bicara tentang kehormatan?"
Pemburu Kwon terdiam.
Di sudut gelap, Namgung Jin melangkah keluar dari bayangan. Wajahnya pucat, napasnya tersengal—lari terus-menerus juga menguras tenaganya. Tapi matanya... matanya bersinar tenang.
"Kau sudah kalah, Pemburu Kwon."
"Omong kosong! Aku masih bisa—"
Ia mencoba melangkah, tapi kakinya lemas. Racun karat—tidak mematikan, tapi cukup untuk melumpuhkan sementara.
"Apa... apa ini?"
"Tetanus ringan. Efek paku berkarat." Namgung Jin melangkah mendekat, perlahan. "Kau tahu, di dunia persilatan, orang terlalu fokus pada jurus-jurus hebat dan pedang tajam. Mereka lupa bahwa benda paling sederhana bisa menjadi senjata paling mematikan."
Ia berhenti dua langkah dari Pemburu Kwon.
"Paku berkarat. Air kotor. Makanan basi. Semua bisa membunuh sama efektifnya dengan pedang pusaka."
Pemburu Kwon jatuh berlutut. Ia menatap bocah di depannya dengan campuran takut dan tidak percaya.
"Kau... kau bukan manusia. Kau iblis."
"Banyak yang bilang begitu."
Namgung Jin menunduk, menatapnya dari atas. "Sekarang, kau punya dua pilihan. Satu, kau mati di sini, perlahan-lahan, karena racun dan kehabisan darah. Atau dua, kau bekerja untukku."
"Bekerja... untukmu?"
"Aku butuh mata-mata. Seseorang di luar klan yang bisa mengawasi musuh-musuhku. Kau punya koneksi, pengalaman, dan yang paling penting—kau sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi lawanku." Ia tersenyum. "Kau tidak ingin mengalaminya lagi, kan?"
Pemburu Kwon gemetar.
Dia telah membunuh puluhan orang. Dia tidak takut mati. Tapi bocah ini... bocah ini membuatnya takut dengan cara yang berbeda. Bukan karena kekuatan, tapi karena kecerdasannya yang dingin dan kejam.
"Apa jaminanku kau tidak akan membunuhku setelah ini?"
"Tidak ada jaminan." Namgung Jin mengangkat bahu. "Tapi kau tahu, aku butuh orang sepertimu. Dan aku selalu menjaga asetku."
Ia mengeluarkan botol kecil—mirip dengan yang ia gunakan sebelumnya.
"Ini penawarnya. Untuk racun karat itu."
Pemburu Kwon menatap botol itu. Lalu menatap Namgung Jin. Lalu menunduk.
"Apa yang kau mau aku lakukan?"
Namgung Jin tersenyum.
Langkah ketiga selesai.
---
Satu jam kemudian, Namgung Jin kembali ke perpustakaan.
Pemburu Kwon telah pergi, dengan perjanjian rahasia di antara mereka. Pria itu akan kembali ke dunianya, menjadi mata-mata yang tidak terduga.
Di perpustakaan, Tetua Pyo sudah menunggu dengan wajah cemas.
"Kau selamat?"
"Tentu." Namgung Jin duduk, mengambil napas panjang. "Tapi aku butuh air."
Tetua Pyo memberinya teko air. "Apa yang terjadi dengan pembunuh itu?"
"Dia... pergi."
"Pergi? Kau membunuhnya?"
"Tidak. Tapi dia tidak akan kembali."
Tetua Pyo mengamatinya dengan tatapan tajam. "Kau benar-benar bocah aneh. Pembunuh bayaran level menengah, dan kau—bocah tanpa kekuatan—bisa membuatnya pergi?"
"Otak lebih kuat dari otot, Tetua."
Tetua Pyo ingin bertanya lebih banyak, tapi ia tahu tidak akan mendapat jawaban. Pria tua itu menghela napas.
"Ada kabar lain. Besok pagi, utusan Delapan Sekte Besar akan tiba. Kepala klan mengadakan jamuan makan malam. Dan kau... diundang."
Namgung Jin mengerutkan kening. "Diundang? Aku?"
"Kepala klan yang minta. Entah mengapa."
Simma di dada berdenyut—campuran antara harapan dan takut. Harapan Namgung Jin asli bahwa ayahnya akhirnya mengakui keberadaannya. Takut bahwa ini mungkin jebakan lain.
"Aku akan datang."
"Kau yakin? Ini mungkin—"
"Aku tahu risikonya." Namgung Jin berdiri. "Tapi dalam politik, undangan adalah penghargaan. Menolak adalah penghinaan. Aku tidak bisa menghina Delapan Sekte Besar."
Ia melangkah menuju pintu.
"Jin-ah."
Ia berhenti.
"Hati-hati." Suara Tetua Pyo tulus. "Dunia di luar klan ini lebih kejam dari yang kau bayangkan."
Namgung Jin tersenyum—senyum yang tidak bisa diartikan.
"Aku tahu, Tetua. Aku tahu."
---
Kembali di paviliun reot, Nyonya Yoon menyambutnya dengan tangis haru.
"Jin-ah! Jin-ah! Ibu khawatir sekali!"
Ia memeluk putranya erat, tidak peduli bahwa baju Namgung Jin kotor dan penuh debu.
"Maaf, Ibu. Aku terlambat pulang."
"Ibu lihat pesanmu. Ibu... Ibu hanya bisa berdoa." Air matanya jatuh. "Ibu tidak tahu apa yang terjadi, tapi Ibu tahu kau dalam bahaya. Ibu... Ibu tidak sanggup kehilanganmu."
Simma di dada berdenyut—sakit, rindu, takut. Semua bercampur.
Cheon Ma-ryong—Iblis Murim—merasakan sesuatu yang asing di dadanya. Sesuatu yang hangat, tapi juga menyakitkan.
Ia tidak pernah punya ibu.
Tapi sekarang, ia merasakan apa rasanya memiliki satu.
"Aku tidak akan kemana-mana, Ibu." Suaranya lembut—lembut yang tidak pernah ia gunakan pada siapa pun selama ribuan tahun. "Aku janji."
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun, Iblis Murim tidur dengan perasaan tenang.
---