Ziva terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Kirana, di pelaminan setelah sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa sang kakak. Ia harus menikah dengan Baskara, pria yang dianggapnya sebagai penyebab kematian Kirana.
Tanpa cinta dan penuh benci, Ziva mengajukan syarat kejam: pernikahan ini hanya formalitas, tanpa sentuhan, dan harus berakhir dalam satu tahun. Di balik senyum palsu di depan tamu undangan, Ziva bersumpah akan membuat hidup "sang pembunuh" itu seperti neraka. Namun, sanggupkah ia menjaga dinding kebenciannya saat takdir terus mengikat mereka dalam duka yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Siang itu, matahari Jakarta seolah mendukung semangat Mama Baskara yang sedang membara. Ziva, dengan langkah gontai dan tas kecil yang tersampir di bahunya, terpaksa mengikuti langkah lincah sang mertua menyusuri lorong-lorong mal mewah. Ziva mengira mereka hanya akan membeli perlengkapan dapur atau mungkin gorden baru, namun langkah Mama berhenti tepat di depan sebuah butik dengan aroma parfum mawar yang elegan dan pencahayaan temaram yang estetik.
Papan merk butik itu terpampang jelas: Lace & Satin Boutique.
Ziva menelan ludah. Matanya membelalak saat melihat deretan manekin yang mengenakan pakaian tidur tipis dengan bahan sutra dan renda-renda transparan.
"Ma, ini ngapain kita ke toko lingerie ya?" tanya Ziva dengan suara yang sedikit tertahan, berharap telinganya salah dengar atau matanya salah lihat.
Mama Baskara menoleh dengan senyum penuh arti, lalu menarik tangan Ziva masuk ke dalam. "Loh, ya buat baju dinas kamu tiap malam dong, Ziva sayang. Masa istri polisi dinesnya pakai kaos kebesaran terus? Harus ada variasi biar Baskara betah di kamar."
Ziva merasa dunianya seakan berputar. "Aduhh, mati gue," batinnya menjerit. Bayangan dirinya mengenakan kain tipis itu di depan "om-om kaku" seperti Baskara membuat bulu kuduknya meremang karena malu sekaligus ngeri. Jangankan memakai baju seperti itu, tidur di ranjang yang sama saja ia tidak sudi.
"Ma, kayaknya Ziva lebih nyaman pakai piyama katun biasa deh. Lebih... adem," Ziva mencoba mencari alasan logis. Sebagai lulusan ekonomi terbaik, biasanya ia jago berargumen, tapi di depan Mama mertuanya, logika ekonominya seolah menguap begitu saja.
"Hush! Piyama katun itu buat tidur sendiri, Ziv. Kalau sudah berdua, kamu harus pakai yang meningkatkan... tensi," goda Mama sambil mengangkat sebuah nightgown pendek berwarna merah marun dengan punggung terbuka. "Gimana? Ini warna favorit Baskara loh. Dia suka warna yang berani tapi elegan."
Ziva hanya bisa meringis kaku, wajahnya sudah semerah warna baju yang dipegang Mamanya. Ia berpura-pura sibuk melihat deretan hanger lain hanya agar tidak perlu berkomentar lebih jauh.
Selesai memilih beberapa potong pakaian yang menurut Ziva lebih mirip "jaring ikan" daripada baju, mereka duduk di sebuah kafe butik untuk beristirahat. Mama mertuanya langsung mengeluarkan ponsel dari tasnya.
"Kamu sudah chat suami kamu belum? Laporan, Ziva," ucap Mama tiba-tiba sambil menyesap earl grey tea-nya.
Ziva yang sedang asyik mengaduk es kopi susunya tersedak. "Buat apa, Ma? Kan tadi dia juga sudah tahu kita pergi."
"Ya masa buat apa? Biar suami kamu nggak kepikiran lah. Polisi itu kerjanya berat, taruhan nyawa di jalanan. Kalau dia tahu istrinya lagi senang-senang belanja sama Mamanya, hatinya kan jadi tenang, fokus kerjanya juga terjaga," jelas Mama dengan nada bijak namun tetap menyelipkan godaan. "Sini, coba Mama lihat chat-nya."
Ziva membeku. "Ma... kayaknya nggak usah deh. Dia pasti lagi sibuk patroli, nanti malah keganggu."
"Enggak, nggak bakal keganggu. Baskara itu kalau sama urusan kamu, biarpun lagi nangkep penjahat pasti disempetin baca. Ayo, laporan sekarang. Kirim foto kamu yang lagi cantik ini, terus bilang kita lagi belanja 'baju dinas'. Pasti dia langsung semangat pengen cepet pulang," Mama tertawa kecil, matanya berbinar-binar penuh rencana.
Ziva merasa keringat dingin mulai bercucuran. Ia tidak mungkin memberi tahu Mamanya bahwa ia bahkan tidak pernah memulai percakapan di WhatsApp dengan Baskara jika tidak terpaksa. Daftar chat-nya dengan Baskara isinya hanya informasi pendek tentang "Ada paket" atau "Jangan telat pulang ada Ayah."
"Ayo, Ziva. Atau Mama yang telfon dia sekarang?" ancam Mama dengan jenaka.
Dengan tangan gemetar, Ziva akhirnya mengeluarkan ponselnya. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan mencari nama "Baskara" (yang ia simpan dengan nama 'Om Polisi' namun buru-buru ia ganti menjadi 'Mas Baskara' agar tidak dicurigai Mama).
Ziva: Mas, aku lagi belanja sama Mama di Mal.
"Gitu doang? Tambahin dong 'sayang'-nya atau apa gitu," protes Mama yang mengintip dari balik bahu Ziva.
Ziva memejamkan mata, mengumpulkan sisa-sisa kesabarannya. Ia menambahkan satu baris lagi dengan perasaan tertekan.
Ziva: Mama beliin banyak baju. Katanya buat dipake di rumah.
"Bagus! Kirim!" seru Mama puas.
Ziva menekan tombol kirim dengan perasaan campur aduk. Tidak butuh waktu lama, hanya dalam hitungan detik, muncul status 'Online' di bawah nama Baskara. Centang biru langsung menyala.
Baskara: Iya. Terima kasih sudah temani Mama. Pakai saja bajunya kalau kamu suka.
Ziva hampir menjatuhkan ponselnya. "Kalau kamu suka?" batinnya. Baskara pasti tidak tahu baju apa yang dimaksud Mama. Kalau pria itu tahu itu adalah lingerie transparan, Ziva yakin Baskara pun akan merasa canggung setengah mati.
"Tuh kan, dibalas cepet banget! Apa Mama bilang," Mama tersenyum puas. "Nanti malam jangan lupa ya, 'baju dinas'-nya dicoba. Mama mau denger kabar baik besok pagi."
Ziva hanya bisa tersenyum getir, menatap tas belanjaan di sampingnya seolah-olah itu adalah kotak pandora yang berisi bencana. Baginya, belanja hari ini bukan sekadar urusan fashion, tapi awal dari babak baru sandiwara yang semakin rumit dan menguras emosi.
***
Ziva melesat masuk ke dalam kamar utama seolah-olah ada hantu yang mengejarnya. Begitu kakinya menginjak karpet bulu di dalam, ia segera memutar kunci pintu. Cklek. Suara itu memberinya sedikit rasa aman yang semu. Ia bersandar di balik pintu kayu jati yang kokoh itu, napasnya memburu pendek-pendek, sementara dadanya naik turun dengan cepat.
Di tangannya, kantong belanjaan dari butik Lace & Satin terasa seberat beban dosa. Aroma parfum mawar yang menempel di kantong kertas itu kini justru membuatnya mual.
"Gila... Mamanya si om-om beneran gila apa!" maki Ziva dengan suara tertahan. Mata besarnya menatap nanar ke arah kantong tersebut. "Baju dinas katanya? Dinas apaan kalau bentukannya cuma benang-benang transparan kayak gitu!"
Dengan gerakan gusar, Ziva berjalan menuju lemari pakaian besar miliknya. Ia berlutut di depan lemari, membuka pintu paling bawah yang biasanya ia gunakan untuk menyimpan stok kaus kaki dan kain-kain yang jarang dipakai. Ia menyingkirkan tumpukan syal lama, lalu melempar kantong belanjaan itu ke sudut paling gelap di balik tumpukan kain tersebut.
"Aman..." gumamnya pelan sambil mengunci kembali pintu lemari bawah itu. "Tidur aja di sana sampai jamuran. Gue sampai kapan pun nggak sudi ngasih keperawanan gue buat orang kayak dia!"
Ziva duduk bersila di lantai dingin, menatap bayangannya di cermin lemari yang besar. Bayangan seorang gadis yang terjebak dalam pernikahan paksa, duka yang belum usai, dan tuntutan mertua yang tidak masuk akal. Sebagai lulusan ekonomi terbaik, Ziva selalu punya rencana cadangan untuk segala hal, tapi untuk urusan "baju dinas" dan desakan memiliki cucu dari Mama mertuanya, logikanya benar-benar buntu.
Ia teringat kembali percakapannya di WhatsApp tadi. Bayangan status Online di bawah nama Baskara membuatnya merasa tidak nyaman. Iya. Terima kasih sudah temani Mama. Pakai saja bajunya kalau kamu suka.
"Pakai saja bajunya kalau kamu suka?" Ziva meniru ucapan Baskara dengan nada mengejek yang getir. "Lo nggak tahu aja, Bas, kalau lo liat baju itu, lo pasti bakal serangan jantung di tempat. Polisi kaku kayak lo mana kuat liat beginian."
Ziva merangkak naik ke atas tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar. Ia memikirkan Kirana. Kakaknya yang lembut, yang seharusnya berada di posisi ini sekarang. Harusnya Kirana yang belanja dengan Mama Baskara, harusnya Kirana yang tersenyum bahagia mendapatkan baju-baju cantik itu.
"Harusnya lo yang di sini, Kak," bisik Ziva, matanya mulai berkaca-kaca. "Bukan gue yang harus akting jadi istri bahagia setiap detik."
Ketukan pintu kamar yang pelan dan berwibawa membuyarkan lamunan Ziva. Ia tersentak, badannya langsung tegak.
"Ziva? Kamu sudah di dalam?" Suara bariton Baskara terdengar dari balik pintu. Pria itu sepertinya baru saja pulang dan mendapati istrinya sudah mengunci diri.
Ziva berdehem, mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar seperti baru habis menangis. "Iya! Apaan sih? Gue mau tidur, jangan ganggu!"
Hening sejenak. Ziva bisa membayangkan Baskara berdiri kaku di luar sana, mungkin masih mengenakan seragam dinasnya yang rapi namun berbau asap knalpot jalanan.
"Mama telepon aku tadi. Katanya kalian beli banyak barang bagus," ucap Baskara datar. "Mama tanya apa kamu sudah mencoba baju yang baru dibeli tadi."
Ziva membelalak. Sialan! Mama beneran laporan sampai detail begitu?
"Nggak! Belum! Gue capek, mau langsung tidur aja!" teriak Ziva lebih keras. "Sana pergi ke kamar tamu! Jangan berani-berani lo masuk atau tanya-tanya soal baju itu lagi!"
Di luar pintu, Baskara menghela napas panjang. Pria itu menunduk, menatap gagang pintu yang terkunci. Ia sebenarnya penasaran, apa yang membuat Ibunya begitu bersemangat hingga meneleponnya tiga kali saat ia sedang memimpin apel sore tadi. Ibunya terus-menerus mengatakan bahwa Ziva akan terlihat sangat cantik dengan "pilihan spesial" darinya.
Baskara tidak tahu bahwa "pilihan spesial" itu adalah bom waktu yang disembunyikan Ziva di balik tumpukan kaus kaki.
"Ya sudah. Istirahatlah. Aku sudah taruh makanan di meja makan kalau kamu lapar lagi nanti malam," ucap Baskara akhirnya. Suara langkah kakinya perlahan menjauh, menuju ke lantai bawah tempat kamar tamunya berada.
Ziva kembali merebahkan dirinya. Jantungnya masih berdegup kencang. Ia merasa seperti baru saja menyembunyikan barang selundupan narkoba dari seorang inspektur polisi.
"Satu tahun, Ziva. Cuma satu tahun," ia menyemangati dirinya sendiri. "Lo cuma perlu bertahan dari godaan Mama mertua, penolakan HRD, dan... kehadiran si om-om itu di rumah ini."
Ziva menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba memejamkan mata, meskipun ia tahu bayangan "baju dinas" berwarna merah marun itu akan terus menghantui mimpinya malam ini.