NovelToon NovelToon
Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Suamiku Menyesal Setelah Mengusirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Amirur Rijal

Selama tiga tahun, Rania menjadi istri yang sempurna. Ia menelan hinaan keluarga suaminya, berpura-pura tidak mendengar bisikan yang menyebutnya wanita miskin yang hanya menempel pada kekayaan keluarga mereka.
Namun kesabaran itu berakhir di satu malam hujan. Suaminya sendiri… mengusirnya dari rumah. Tanpa mereka sadari, wanita yang mereka hina selama ini menyimpan rahasia besar,
Rania bukan wanita biasa. Ia adalah pewaris tunggal dari keluarga Hartono, salah satu keluarga paling berpengaruh di negeri ini. Ketika kebenaran mulai terungkap, semuanya berubah. Orang-orang yang dulu merendahkannya mulai menyesal. Dan pria yang pernah mengusirnya dari rumah… kini memohon agar ia kembali. Tapi setelah semua luka yang ia rasakan,
masih adakah tempat di hatinya untuk pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amirur Rijal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Balasan Pertama

Bab 13

Balasan yang Tak Terduga

Kabar pembatalan kerja sama dengan Hartono Group menyebar cepat di perusahaan Adrian.

Suasana kantor yang sebelumnya penuh harapan berubah menjadi lebih tegang.

Beberapa karyawan terlihat berbisik di lorong.

Proyek itu bukan sekadar kerja sama biasa.

Itu adalah proyek yang bisa memperbaiki kondisi keuangan perusahaan dalam waktu singkat.

Di ruang kerjanya, Adrian berdiri di depan jendela besar sambil menatap kota di luar.

Clara masuk tanpa mengetuk.

Ia meletakkan beberapa dokumen di meja.

“Direksi mulai khawatir,” katanya.

Adrian tidak menoleh.

“Wajar.”

Clara menyilangkan tangannya.

“Mereka ingin tahu apa rencana kita sekarang.”

Adrian akhirnya berbalik.

“Apa menurutmu kita hanya punya satu pilihan?”

Clara mengangkat alis.

“Maksudmu?”

Adrian berjalan menuju meja dan membuka salah satu dokumen.

“Kita masih punya beberapa proyek yang bisa dikembangkan.”

Clara menatapnya beberapa detik.

“Kau tidak akan mencoba berbicara dengan Rania lagi?”

Pertanyaan itu membuat ruangan menjadi sunyi.

Adrian menutup dokumen itu perlahan.

“Apa gunanya?”

Clara tersenyum tipis.

“Entahlah.”

Ia duduk di kursi di depan meja Adrian.

“Kadang keputusan bisnis juga dipengaruhi oleh hal lain.”

Adrian menatapnya tajam.

Clara melanjutkan,

“Apalagi jika yang membuat keputusan adalah seseorang dari masa lalu.”

Adrian tidak menjawab.

Namun dalam pikirannya, ia tahu satu hal.

Keputusan Rania terasa terlalu tiba-tiba.

Seolah ada sesuatu yang sengaja ia sembunyikan.

Di sisi lain kota.

Rania sedang duduk di ruang kerjanya ketika Arsen masuk tanpa mengetuk.

Ia membawa dua cangkir kopi.

“Sepertinya hari ini cukup ramai di dunia bisnis,” katanya sambil meletakkan salah satu cangkir di meja Rania.

Rania tidak mengangkat kepalanya dari dokumen.

“Karena keputusan tadi?”

Arsen duduk di kursi di depan meja.

“Bukan hanya itu.”

Ia tersenyum kecil.

“Banyak orang penasaran kenapa kau tiba-tiba membatalkan kerja sama yang hampir disetujui.”

Rania akhirnya menutup dokumen itu.

“Karena risikonya terlalu besar.”

Arsen tertawa pelan.

“Kau tahu aku tidak akan percaya jawaban itu.”

Rania menatapnya dengan tenang.

“Apa menurutmu aku berbohong?”

Arsen mengangkat bahu.

“Tidak.”

Ia menyesap kopinya.

“Tapi aku yakin itu bukan satu-satunya alasan.”

Ruangan menjadi sedikit sunyi.

Beberapa detik kemudian Rania berkata,

“Kadang keputusan yang benar memang terlihat aneh bagi orang lain.”

Arsen menatapnya lama.

“Apakah ini benar-benar keputusan yang benar?”

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Namun Rania tidak menjawab.

Ia hanya kembali membuka dokumen di mejanya.

Arsen akhirnya berdiri.

“Baiklah.”

Ia berjalan menuju pintu.

Namun sebelum keluar ia berkata,

“Adrian tidak terlihat seperti orang yang akan menyerah begitu saja.”

Pintu tertutup.

Rania tetap duduk di kursinya.

Namun tangannya berhenti menulis.

Nama itu kembali muncul di pikirannya.

Malam hari.

Lampu-lampu kota mulai menyala.

Adrian masih berada di kantor.

Hampir semua karyawan sudah pulang.

Ruangan itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Ia sedang membaca laporan proyek ketika ponselnya bergetar.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Adrian membuka pesan itu.

Isinya hanya satu kalimat.

“Jika kau masih ingin menyelamatkan perusahaanmu, datanglah ke alamat ini besok pagi.”

Di bawahnya ada alamat sebuah kafe kecil di pusat kota.

Adrian mengerutkan kening.

Tidak ada nama pengirim.

Namun sesuatu tentang pesan itu terasa aneh.

Ia menatap layar ponselnya beberapa detik.

Lalu akhirnya menghela napas pelan.

“Menarik,” gumamnya.

Keesokan paginya.

Kafe kecil yang disebutkan dalam pesan itu tidak terlalu ramai.

Tempatnya sederhana, jauh dari gedung-gedung besar perusahaan.

Adrian masuk dan melihat sekeliling.

Beberapa pelanggan duduk di meja mereka.

Namun di sudut ruangan, ada seseorang yang sudah menunggunya.

Seorang pria dengan jas abu-abu.

Adrian berjalan mendekat.

Pria itu tersenyum kecil.

“Terima kasih sudah datang.”

Adrian duduk di kursi di depannya.

“Kau yang mengirim pesan itu?”

Pria itu mengangguk.

“Aku bekerja untuk Hartono Group.”

Adrian mengangkat alis.

“Kalau begitu kenapa kita bertemu di sini?”

Pria itu mencondongkan tubuh sedikit.

“Karena ada sesuatu yang perlu kau ketahui.”

Adrian menunggu.

Pria itu berkata pelan,

“Keputusan Direktur Rania untuk membatalkan kerja sama itu…”

Ia berhenti sebentar.

“…tidak sepenuhnya karena alasan bisnis.”

Adrian menatapnya tajam.

“Maksudmu?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Ada seseorang yang menekan direksi untuk menolak proyek itu.”

Ruangan terasa lebih sunyi.

Adrian bertanya dengan suara rendah,

“Siapa?”

Pria itu mengambil amplop kecil dari tasnya dan meletakkannya di meja.

“Jawabannya ada di dalam sini.”

Adrian menatap amplop itu beberapa detik.

Lalu mengambilnya.

Ketika ia membuka amplop itu, ekspresinya berubah sedikit.

Karena nama yang tertulis di dalam dokumen itu adalah seseorang yang sangat ia kenal.

Clara.

Adrian menutup amplop itu perlahan.

Untuk pertama kalinya sejak proyek ini dimulai…

Ia menyadari bahwa permainan ini jauh lebih rumit dari yang ia kira.

Bab 13 (Lanjutan)

Permainan yang Tersembunyi

Adrian menatap amplop di tangannya cukup lama.

Nama yang tertulis di dalam dokumen itu masih terasa tidak masuk akal.

Clara.

Ia menutup kembali amplop itu dengan pelan lalu meletakkannya di atas meja kafe.

Pria di depannya memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

Akhirnya Adrian berkata pelan,

“Kenapa kau memberitahuku ini?”

Pria itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

“Karena aku tidak suka melihat permainan kotor dalam bisnis.”

Adrian menatapnya tajam.

“Permainan seperti apa?”

Pria itu mengambil cangkir kopi di depannya lalu menyesap sedikit sebelum menjawab.

“Beberapa hari sebelum rapat terakhir, seseorang datang menemui salah satu anggota direksi Hartono Group.”

Adrian tidak bergerak.

Ia hanya menunggu penjelasan berikutnya.

Pria itu melanjutkan,

“Orang itu membawa beberapa laporan tambahan tentang perusahaanmu.”

“Laporan yang menunjukkan bahwa proyek itu memiliki risiko jauh lebih besar dari yang terlihat.”

Adrian mengerutkan kening.

“Dan laporan itu palsu?”

Pria itu mengangkat bahu.

“Tidak sepenuhnya.”

“Beberapa data memang benar.”

“Tapi cara penyajiannya membuat proyek itu terlihat jauh lebih berbahaya.”

Adrian mulai memahami arah cerita ini.

“Dan orang yang membawa laporan itu…”

Pria itu menatap Adrian langsung.

“…adalah Clara.”

Ruangan kafe terasa semakin sunyi.

Adrian mengingat semua percakapan mereka beberapa hari terakhir.

Cara Clara selalu berbicara tentang Rania.

Cara ia tampak tertarik dengan keputusan proyek itu.

Semua tiba-tiba terasa berbeda.

Adrian akhirnya berkata,

“Kenapa dia melakukan itu?”

Pria itu tersenyum tipis.

“Itu yang harus kau cari sendiri.”

Ia berdiri dari kursinya.

“Tugasku hanya menyampaikan informasi.”

Adrian menatapnya.

“Kau belum menjawab satu hal.”

Pria itu berhenti.

“Kenapa kau membantu aku?”

Pria itu berpikir sebentar sebelum menjawab.

“Karena aku tidak suka melihat seseorang dijatuhkan dengan cara yang tidak jujur.”

Ia menepuk meja pelan.

“Anggap saja ini keseimbangan kecil dalam dunia bisnis.”

Setelah mengatakan itu, ia berjalan keluar dari kafe.

Adrian tetap duduk di kursinya.

Tangannya masih memegang amplop itu.

Beberapa pelanggan di kafe tidak menyadari apa yang baru saja terjadi.

Namun bagi Adrian, informasi ini bisa mengubah segalanya.

Sementara itu di kantor perusahaan Adrian.

Clara sedang duduk di ruang kerjanya.

Ia melihat laporan keuangan di laptopnya dengan ekspresi serius.

Pintu ruangannya diketuk.

“Masuk.”

Sekretarisnya masuk dengan membawa beberapa berkas.

“Nona Clara, rapat direksi dimajukan ke sore ini.”

Clara mengangguk.

“Baik.”

Sekretaris itu menaruh berkas di meja lalu keluar lagi.

Clara menyandarkan tubuhnya ke kursi.

Ia melihat layar laptopnya beberapa detik sebelum akhirnya menutupnya.

Di dalam pikirannya, semuanya berjalan sesuai rencana.

Kerja sama dengan Hartono Group sudah batal.

Artinya…

Perusahaan Adrian masih berada dalam posisi sulit.

Dan ketika perusahaan berada dalam tekanan…

Banyak keputusan besar akan dibuat.

Clara tersenyum kecil.

Ia sudah memikirkan langkah berikutnya.

Namun tiba-tiba pintu ruangannya terbuka lagi.

Kali ini Adrian yang masuk.

Clara sedikit terkejut.

“Kau sudah kembali?”

Adrian menutup pintu di belakangnya.

“Ya.”

Ia berjalan menuju meja Clara dengan langkah tenang.

Clara memperhatikan wajahnya.

“Ada sesuatu yang terjadi?”

Adrian tidak langsung menjawab.

Ia meletakkan amplop dari kafe tadi di atas meja Clara.

Clara menatap amplop itu.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Clara mengambil amplop itu lalu mengeluarkan dokumen di dalamnya.

Ketika matanya membaca nama yang tertulis di sana…

Ekspresinya berubah sedikit.

Namun hanya sebentar.

Ia meletakkan dokumen itu kembali ke meja.

“Dari mana kau mendapatkan ini?”

Adrian menatapnya.

“Jadi ini benar?”

Clara menghela napas pelan.

“Aku tidak tahu apa yang kau maksud.”

Adrian menunjuk dokumen itu.

“Laporan yang kau kirim ke direksi Hartono Group.”

Ruangan menjadi sunyi.

Clara menatap Adrian beberapa detik.

Lalu akhirnya tersenyum tipis.

“Kalau memang aku yang melakukannya, apa masalahnya?”

Adrian mengerutkan kening.

“Kau mencoba menggagalkan proyek perusahaan kita sendiri.”

Clara berdiri dari kursinya.

“Perusahaan kita?”

Ia tertawa kecil.

“Adrian, jangan berpura-pura seolah kau tidak tahu situasi sebenarnya.”

Ia berjalan mendekat.

“Proyek itu terlalu berisiko.”

Adrian menatapnya tajam.

“Itu bukan alasan sebenarnya.”

Clara tidak langsung menjawab.

Namun senyum di wajahnya perlahan memudar.

Akhirnya ia berkata dengan nada pelan,

“Kau benar.”

Adrian menunggu.

Clara melanjutkan,

“Aku memang tidak ingin kerja sama itu terjadi.”

“Kenapa?”

Clara menatapnya langsung.

“Karena jika proyek itu berjalan…”

Ia berhenti sebentar.

“…Rania akan kembali masuk ke dalam hidupmu.”

Kata-kata itu menggantung di udara.

Adrian tidak menyangka jawaban itu.

Clara tersenyum pahit.

“Tiga tahun aku bekerja di perusahaan ini.”

“Tiga tahun aku melihatmu membangun semuanya dari nol.”

Ia menatap Adrian lebih dalam.

“Dan tiba-tiba wanita itu muncul lagi.”

Adrian berkata dengan nada datar,

“Ini bukan tentang Rania.”

Clara tertawa kecil.

“Benarkah?”

Ia mengambil dokumen di meja lalu mengangkatnya sedikit.

“Kalau begitu kenapa kau terlihat begitu peduli dengan keputusan yang ia buat?”

Adrian tidak menjawab.

Clara melanjutkan dengan suara lebih tenang.

“Aku hanya melindungi apa yang sudah kita bangun.”

Ruangan kembali sunyi.

Namun di balik semua percakapan itu…

Adrian mulai menyadari satu hal.

Permainan ini belum selesai.

Dan orang-orang di sekitarnya mungkin memiliki tujuan yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.

1
Amirur Rijal
siap, makasih
Lena mula
Semangat terus nulisnya ya kak💪🙂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!