NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 : Hari Libur yang Tak Direncanakan

Pagi di Akademi Duskveil terasa berbeda pada hari itu.

Tidak ada suara latihan sihir di halaman.

Tidak ada murid yang terburu-buru menuju kelas.

Hari itu adalah hari libur mingguan.

Langit tampak cerah tanpa awan, dan sinar matahari menyinari menara-menara batu akademi dengan hangat. Beberapa murid berjalan santai di taman, sementara yang lain memilih tidur lebih lama di asrama.

Namun di aula makan—

Arkan sudah duduk sendirian di salah satu meja.

Di depannya hanya ada secangkir teh hangat dan sepotong roti.

Ia tidak benar-benar lapar.

Pikirannya masih dipenuhi satu hal.

Nyanyian Malam.

Melodi itu masih ada di kepalanya.

Tidak keras.

Namun cukup jelas untuk mengingatkannya bahwa sesuatu sedang menunggu di balik bayangan.

Arkan memandang ke luar jendela besar aula.

Di kejauhan terlihat hutan yang membatasi akademi dengan dunia luar.

Ia berpikir pelan.

Mungkin ada sesuatu di luar akademi…

Mungkin jawaban tentang nyanyian itu tidak hanya ada di sini.

Tiba-tiba seseorang menarik kursi di depannya.

“Pagi.”

Arkan menoleh.

Leyna duduk di hadapannya sambil tersenyum kecil.

“Pagi,” jawab Arkan.

Leyna mengambil sebuah apel dari meja dan menggigitnya.

Beberapa detik mereka hanya duduk dalam diam.

Lalu Leyna bertanya santai,

“Jadi… kau mau ke mana hari ini?”

Arkan mengangkat alis.

“Maksudmu?”

“Ini hari libur,” kata Leyna.

“Sebagian besar murid keluar dari akademi untuk jalan-jalan.”

Ia menatap Arkan.

“Kau punya rencana?”

Arkan menjawab singkat,

“Aku akan mencari tahu lebih banyak tentang Nyanyian Malam.”

Leyna menghela napas kecil.

“Tentu saja.”

Ia tersenyum tipis.

“Jawaban yang sangat Arkan.”

Arkan meminum tehnya.

“Itu penting.”

Leyna tidak membantah.

Ia hanya memandang Arkan beberapa detik.

Lalu berkata,

“Aku ikut.”

Arkan langsung menatapnya.

“Tidak.”

Leyna berkedip.

“Apa?”

Arkan berkata datar,

“Ini mungkin berbahaya.”

Leyna menyilangkan tangan.

“Arkan.”

“Aku sudah terlibat sejak awal.”

Ia menatapnya tajam.

“Kau tidak bisa tiba-tiba mengatakan aku tidak boleh ikut.”

Arkan terdiam beberapa saat.

Leyna menambahkan,

“Lagipula…”

Ia tersenyum kecil.

“…aku penasaran.”

Arkan menghela napas pelan.

Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata,

“Baiklah.”

Leyna tersenyum lebar.

“Bagus.”

“Kalau begitu kita berangkat setelah sarapan.”

...----------------...

Beberapa waktu kemudian—

Arkan dan Leyna keluar dari gerbang Akademi Duskveil.

Jalan batu panjang mengarah ke sebuah kota kecil yang berada tidak jauh dari akademi.

Kota itu sering dikunjungi murid-murid saat hari libur.

Namanya Kota Velmora.

Perjalanan mereka memakan waktu sekitar dua puluh menit berjalan kaki.

Selama perjalanan—

Leyna berbicara jauh lebih banyak daripada Arkan.

“Kau tahu,” katanya sambil berjalan di sampingnya, “aku jarang keluar dari akademi.”

Arkan menoleh sedikit.

“Kenapa?”

Leyna mengangkat bahu.

“Latihan sihir.”

“Tugas.”

“Hal-hal membosankan.”

Ia tersenyum.

“Jadi ini seperti liburan kecil.”

Arkan hanya mengangguk pelan.

Namun entah kenapa—

Ia tidak merasa terganggu dengan banyaknya kata-kata Leyna.

Biasanya ia lebih suka berjalan sendirian.

Namun hari itu terasa berbeda.

Ketika mereka akhirnya sampai di Velmora—

Kota itu sudah cukup ramai.

Pasar kecil dipenuhi pedagang.

Aroma makanan dari berbagai kedai memenuhi udara.

Beberapa murid dari akademi terlihat berjalan di antara kerumunan.

Leyna langsung tampak bersemangat.

“Wow.”

Arkan menatapnya.

“Kau terlihat seperti anak kecil.”

Leyna menyikut lengannya.

“Diam.”

Namun ia tertawa kecil.

Awalnya—

Tujuan mereka jelas.

Mencari informasi tentang Nyanyian Malam.

Mungkin ada toko buku tua.

Atau penjual artefak sihir.

Namun rencana itu berubah sangat cepat.

“Arkan, lihat!”

Leyna berhenti di depan sebuah toko pakaian.

Beberapa jubah sihir berwarna indah tergantung di jendela.

“Ayo masuk sebentar.”

Arkan menghela napas.

“Hanya sebentar.”

Namun “sebentar” itu berubah menjadi hampir setengah jam.

Leyna mencoba berbagai jubah.

Sementara Arkan hanya berdiri di sudut toko menunggu.

“Bagaimana yang ini?” tanya Leyna sambil mengenakan jubah hijau tua.

Arkan melihatnya sebentar.

“Bagus.”

Leyna memutar mata.

“Kau bahkan tidak benar-benar melihat.”

Namun ia tetap tersenyum.

Setelah itu—

Mereka pergi ke kedai makanan.

Leyna memesan berbagai makanan ringan.

“Ini enak,” katanya sambil memberikan Arkan sepotong roti manis.

Arkan sebenarnya tidak terlalu lapar.

Namun ia tetap mencobanya.

Dan ternyata memang cukup enak.

Tanpa mereka sadari—

Hampir dua jam berlalu.

Dan mereka belum mencari satu pun informasi tentang Nyanyian Malam.

Leyna akhirnya tertawa.

“Kita benar-benar gagal menjalankan rencana awal.”

Arkan memandang jalan kota yang ramai.

“Sepertinya begitu.”

Namun ia tidak terlihat kesal.

Justru—

Ia merasa cukup tenang.

Hal yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini.

Saat mereka berjalan melewati alun-alun kota—

Seseorang tiba-tiba memanggil mereka.

“Hei!”

Arkan menoleh.

Seorang pemuda berambut terang melambaikan tangan sambil berjalan mendekat.

Solan.

Ia tampak terkejut melihat mereka berdua.

“Wah.”

Solan menyeringai lebar.

“Ini pemandangan yang menarik.”

Leyna mengangkat alis.

“Apa maksudmu?”

Solan menunjuk mereka berdua.

“Arkan dan Leyna.”

“Berjalan bersama di kota.”

Ia menyilangkan tangan.

“Apakah aku baru saja menemukan sesuatu yang sangat menarik?”

Leyna langsung mengerti arah pembicaraan itu.

“Jangan mulai.”

Solan tertawa.

“Kalian sedang berkencan?”

Arkan menghela napas pelan.

“Tidak.”

Leyna memukul lengan Solan.

“Jangan sembarangan bicara!”

Solan tertawa keras.

“Ah, jadi benar!”

Leyna memukulnya lagi.

“Tidak benar!”

Namun pipinya sedikit memerah.

Solan memperhatikan itu.

Lalu tertawa semakin keras.

“Ini luar biasa.”

Arkan hanya berdiri di samping mereka dengan ekspresi datar.

Namun jauh di dalam dirinya—

Ia merasa suasana hari itu cukup aneh.

Ia biasanya tidak suka keramaian.

Tidak suka percakapan yang tidak penting.

Namun hari itu—

Ia merasa tenang.

Mungkin karena hari itu tidak dipenuhi bayangan misterius.

Tidak dipenuhi rahasia keluarga Noctis.

Hanya—

Hari libur biasa.

Solan akhirnya berkata sambil masih tertawa,

“Baiklah, aku tidak akan mengganggu kalian lebih lama.”

Ia melambaikan tangan.

“Selamat berkencan!”

Leyna langsung melemparkan sebuah apel kecil ke arahnya.

Solan dengan mudah menangkapnya.

“Terima kasih untuk hadiahnya!”

Ia kemudian berjalan pergi sambil tertawa.

Leyna menghela napas panjang.

“Dia menyebalkan.”

Arkan berkata pelan,

“Dia memang seperti itu.”

Leyna menatap Arkan.

“Jangan bilang kau percaya dengan omongannya.”

Arkan menjawab tenang,

“Tidak.”

Leyna tampak lega.

Namun pipinya masih sedikit merah.

Beberapa saat kemudian—

Mereka melanjutkan berjalan di kota.

Matahari mulai condong ke barat.

Hari itu benar-benar berubah menjadi hari libur santai.

Tanpa mereka sadari—

Mereka hampir lupa sepenuhnya tentang tujuan awal mereka.

Tentang Nyanyian Malam.

Tentang Gerbang Bayangan.

Namun jauh di dalam pikirannya—

Arkan masih bisa mendengar melodi itu.

Sangat pelan.

Seperti bayangan yang menunggu di balik cahaya.

Dan entah kenapa—

Hari yang tenang itu membuatnya merasa bahwa kedamaian seperti ini…

Mungkin tidak akan bertahan lama.

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!