Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Cahaya lampu sorot dari speedboat itu menyilaukan mata. Deru mesinnya dimatikan secara mendadak saat lambungnya berbenturan pelan dengan ban karet di pinggiran dermaga ulin.
Anya berdiri di ambang pintu geser vila, otot-ototnya menegang sempurna. Tangan kanannya sudah mencengkeram erat gagang panci teflon anti-lengket yang ia sembunyikan di balik punggungnya. Jantungnya berdebar liar, bersiap untuk menghantam kepala siapa pun musuh yang berani turun dari kapal itu.
Di belakangnya, Ragas berdiri dengan wajah pucat, tangannya gemetar memegang sebuah vas bunga antik sebagai senjata darurat yang menyedihkan.
Sesosok pria jangkung melompat turun dari speedboat ke atas dermaga kayu. Pria itu mengenakan kemeja sutra bermotif floral yang mencolok, kacamata hitam di tengah malam buta, dan celana putih linen yang ujungnya digulung sembarangan.
Di kedua tangannya... pria itu tidak membawa senjata otomatis atau pedang samurai. Melainkan, menenteng selusin kantong belanjaan kertas tebal (paper bag) dari merek-merek desainer ternama dunia: Hermes, Chanel, Gucci, dan Dior.
Anya menyipitkan matanya. Genggamannya pada gagang panci sedikit mengendur karena kebingungan. Pembunuh bayaran mana yang datang membawa suvenir belanjaan dari mal?
"Anyaaa! Ragas!"
Suara lengkingan ceria membelah kesunyian malam pulau itu. Pria jangkung itu melambai-lambaikan salah satu tas Hermesnya dengan heboh, nyaris membuat tas mahal itu tercebur ke laut.
"Si Kaku sialan itu benar-benar menguras tenagaku sampai habis!" keluh pria itu dengan nada manja sambil berjalan tertatih menyusuri dermaga kayu. "Kalian tahu? Punggungku rasanya seperti baru saja digilas traktor! Untung saja aku sempat mampir ke spa premium dan memborong setengah isi mal sebelum ke sini!"
Anya menjatuhkan panci teflonnya ke lantai kayu teras hingga menimbulkan bunyi dentang yang keras. Mulutnya terbuka lebar, nyaris mencapai lantai. Kaki gadis tomboy itu lemas seketika, dan ia merosot duduk di atas sofa rotan di dekatnya.
Itu bukan Kaelan sang Bos Es. Itu adalah Milo.
Dan yang membuat Anya nyaris pingsan adalah sosok kedua yang menyusul turun dari speedboat.
Seorang pria muda berwajah tampan dengan setelan jas abu-abu yang rapi, namun terlihat sangat kewalahan karena ia juga membawa dua koper besar dan beberapa kotak sepatu limited edition. Pria itu adalah Rico, tangan kanan sekaligus sahabat paling setia Kaelan di klan Obsidian. Rico adalah satu dari sedikit orang—selain Ragas dan kini, Anya—yang mengetahui rahasia kepribadian ganda Kaelan.
"Tuan Milo, pelan-pelan! Jalanannya licin!" seru Rico, napasnya terengah-engah mengejar langkah lebar bosnya yang sedang mode "sosialita".
Rico menatap ke arah teras dan melihat Anya yang sedang shock berat. Ia tersenyum tipis, senyuman lelah dari seorang pria yang baru saja membantu bosnya membantai musuh, lalu langsung diseret oleh alter ego bosnya itu untuk pergi shopping.
"Nyonya Anya," sapa Rico sopan sambil membungkuk sedikit saat mencapai teras, meletakkan koper-koper itu. "Maafkan kedatangan kami yang tiba-tiba. Setelah insiden di gudang selatan selesai, tubuh fisik Tuan Kaelan mencapai batas kelelahannya. Beliau... 'tertidur' di dalam mobil perjalanan pulang."
"D-dan... dia?" Anya menunjuk Milo dengan jari telunjuk yang gemetar, masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria bertubuh kekar, dengan tato gagak di bahu yang mengintip dari balik kemeja bunganya, sedang sibuk mengecek isi tas belanjanya dengan mata berbinar.
Rico menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Ya. Tuan Milo mengambil alih. Dan hal pertama yang beliau minta saat membuka mata bukanlah laporan korban jiwa, melainkan... sesi pijat refleksi seluruh tubuh di spa eksklusif langganannya, dan kartu kredit black card Tuan Kaelan."
Anya tidak tahu apakah ia harus menangis lega karena Kaelan selamat dari perang berdarah itu, atau tertawa guling-guling melihat tingkah ajaib Milo yang menjadikan healing pasca-perang dengan belanja barang branded.
"Anya!" Milo tiba-tiba melompat menghampiri sofa, menjatuhkan semua tas belanjaannya ke lantai, lalu memeluk gadis itu erat-erat. Aroma minyak pijat aromaterapi beraroma lavender dan vanila langsung menusuk hidung Anya.
"Kau aman! Syukurlah!" Milo mengusap-usap punggung Anya dengan penuh kasih sayang. "Si Kaku itu benar-benar gila, tahu tidak? Dia menembak lutut pamannya sendiri! Lutut! Ugh, membayangkannya saja membuatku mual. Untung saja aku langsung memesan paket spa pijat batu panas, kalau tidak, ototku pasti sudah kram semua!"
Anya, yang tadinya tegang luar biasa bersiap membunuh orang dengan panci, kini membalas pelukan pria berbadan besar itu dengan canggung. Ia menepuk punggung Milo pelan.
"K-kau... kau tidak terluka, kan, Milo? Maksudku, Kaelan tidak terluka?" tanya Anya, matanya menyapu tubuh pria itu, mencari noda darah atau perban.
Milo melepaskan pelukannya, menangkup wajah Anya dengan kedua tangannya yang besar. "Tentu saja tidak! Si Kaku itu sangat pandai menghindar. Yang terluka parah itu malah kartu kreditnya!"
Milo tertawa renyah, lalu berbalik dan mulai membongkar tas-tas belanjaannya dengan antusiasme anak kecil di pagi Natal.
"Lihat ini, Anya! Aku membelikanmu hadiah!" seru Milo, menarik keluar sebuah kotak pipih memanjang berlogo desainer terkenal. "Saat melihat gaun ini di patung manekin, aku langsung tahu ini sangat cocok dengan kulit glowing-mu dan rambut edgy-mu itu! Buka! Buka cepat!"
Anya menerima kotak itu dengan tangan ragu-ragu. Ia menoleh ke arah Rico dan Ragas yang hanya bisa tersenyum pasrah melihat kelakuan bos mereka. Preman pasar yang terbiasa memakai kaus oblong sepuluh ribuan ini perlahan membuka pita kotak tersebut.
Di dalamnya, terlipat rapi sebuah gaun malam berbahan sutra asli berwarna emerald green (hijau zamrud) yang sangat mewah. Gaun itu memiliki potongan asimetris yang modern, bagian punggung yang terbuka elegan, dan aksen slit (belahan) tinggi di bagian paha. Bukan gaun putri yang menye-menye, melainkan gaun yang memancarkan aura seorang dewi pejuang yang anggun namun mematikan.
"Milo..." suara Anya tercekat. Ia mengangkat gaun itu, kain sutranya terasa begitu dingin dan lembut di kulit kasarnya. "Ini... ini indah sekali. Tapi... ini pasti sangat mahal. Dan seleramu ternyata... tidak norak."
Milo berkacak pinggang, pura-pura tersinggung. "Hei! Aku memang suka warna merah muda, tapi aku punya selera fashion yang luar biasa tajam! Si Kaku itu saja yang tidak pernah mau mendengarkan saranku soal gaya berpakaiannya yang membosankan itu!"
Milo menarik tangan Anya, memaksa gadis itu berdiri. "Ayo, Anya! Kau harus mencobanya sekarang juga! Aku juga membelikan sepasang stiletto hitam beraksen paku (studs) untuk melengkapi gayamu! Malam ini kita rayakan kemenangan si Kaku dengan pesta fashion show kecil-kecilan di ruang tengah!"
Anya hanya bisa pasrah diseret oleh Milo menuju kamarnya, meninggalkan panci teflonnya yang tergeletak menyedihkan di lantai teras.
Rico dan Ragas bertukar pandang, lalu tertawa pelan bersama. Ketegangan berdarah yang menyelimuti klan Obsidian malam ini telah sirna, tergantikan oleh keriuhan alter ego sang bos mafia yang sedang asyik mendandani istrinya.
Malam yang panjang ini ditutup bukan dengan suara peluru, melainkan dengan suara tawa renyah Anya yang terpaksa berjalan seperti supermodel amatiran di depan Milo yang bertindak bak juri kompetisi kecantikan.