menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
BAB 10: Tahta yang Terbakar dan Harga Sebuah Kehormatan
Pagi yang tenang di apartemen mewah itu seketika berubah menjadi tegang saat jam di dinding menunjukkan pukul sembilan. Ren, yang baru saja menyelesaikan sarapan romantisnya bersama Hana, berdiri dengan tatapan yang kembali menajam. Ia menatap Hana yang masih terbalut jubah mandi putih besar, tampak begitu kontras dengan latar belakang cakrawala Tokyo yang keras.
"Yoto akan mengantarmu pulang," ucap Ren, suaranya kembali ke nada bariton yang rendah dan penuh komando. "Jangan khawatir tentang Kaito. Dia tidak akan berani menyentuhmu selama namaku masih menggantung di atas kepalanya. Tetaplah di dalam rumah, dan jangan angkat telepon dari siapa pun kecuali dariku."
Hana menatap Ren dengan cemas. "Lalu kau? Kau akan menemui ayahmu dengan keadaan seperti ini?"
Ren melirik penampilannya di cermin besar ruang tamu. Ia telah menanggalkan setelan jas tiga potong yang menyesakkan semalam. Kini, ia mengenakan celana kargo hitam dengan banyak saku, kaos putih polos yang melekat ketat di tubuh atletisnya, dan jaket kulit hitam yang memberikan kesan pemberontak. Ia mengambil kacamata hitamnya, menyelipkannya di kerah kaos.
"Aku akan menemuinya bukan sebagai bidak catur yang patuh, tapi sebagai pria yang memiliki dunianya sendiri," jawab Ren singkat. Ia mengecup kening Hana sekali lagi, sebuah ciuman yang terasa seperti janji perlindungan, sebelum melangkah keluar menuju lift pribadi.
Di lobi bawah, Bugatti La Voiture Noire miliknya sudah menderu, suaranya seperti monster yang lapar akan aspal. Ren masuk ke kabin kemudi, menginjak pedal gas, dan meluncur membelah jalanan Minato menuju Mansion Hohenzollern.
Mansion itu berdiri tegak, sebuah monumen kekuasaan yang tak tergoyahkan. Saat Bugatti milik Ren berhenti di depan tangga utama, debu-debu halus berterbangan tertiup angin. Ren keluar, tidak memedulikan tatapan kaku para penjaga berseragam yang membungkuk padanya. Ia melangkah masuk melewati aula besar, suara sepatu boot-nya bergema di atas lantai marmer.
Di ruang tamu utama yang luas, Maximilian von Hohenzollern sudah duduk di kursi kebesaran yang terbuat dari kulit sapi murni. Ruangan itu dipenuhi aroma tembakau mahal dan wibawa yang mencekik. Maximilian tidak mengenakan jas lengkap; ia hanya memakai kemeja sutra abu-abu dengan lengan yang digulung, namun kehadirannya tetap terasa seperti gunung yang siap runtuh.
Maximilian sedang menghisap cerutu, matanya yang tajam menatap putranya yang datang dengan pakaian "rakyat jelata". Ia tidak langsung bicara. Ia hanya menunjuk kursi di seberangnya dengan gerakan dagu yang angkuh.
"Duduk," perintah Maximilian. Suaranya berat, membawa otoritas yang telah membangun kerajaan bisnis di tiga benua.
Ren duduk, menyandarkan punggungnya dengan santai, satu kaki ia tumpukan di atas lutut lainnya. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya tantangan yang sunyi.
Maximilian mengambil bungkus rokok Marlboro hitam dan korek api perak dari meja, lalu melemparkannya ke arah Ren. Benda itu meluncur di atas meja kaca dan ditangkap dengan satu tangan oleh Ren tanpa meleset.
Ren mengambil sebatang rokok, menjepitnya di antara bibir, lalu memantul-mantulkan pemantik perak itu sebelum menyalakannya. Ia menghisap rokok itu dalam-dalam, mengembuskan asapnya tepat ke arah ayahnya—sebuah tindakan pembangkangan yang halus namun sangat nyata. Setelah itu, ia melemparkan kembali bungkus rokok dan korek api itu ke meja, mendarat tepat di depan tangan Maximilian.
"Kau ingin penjelasan tentang semalam, atau kau hanya ingin melihat apakah aku masih bisa menyalakan api sendiri, Ayah?" tanya Ren dingin.
Maximilian menyipitkan mata, bibirnya tersungging membentuk senyum tipis yang mematikan. "Aku tidak peduli kau tidur di mana semalam, Aurelius. Tapi aku peduli saat kau menggunakan aset keluarga untuk menjemput seorang wanita dari pelukan pria lain di depan umum. Kau membuat Hohenzollern terlihat seperti remaja yang sedang jatuh cinta, bukan penguasa."
"Aku tidak menyelamatkannya karena cinta," Ren berbohong, suaranya stabil tanpa getaran sedikit pun. "Aku melakukannya untuk menunjukkan pada Shimada bahwa di Jepang ini, tidak ada yang boleh merasa memiliki sesuatu sebelum aku mengizinkannya. Kaito Shimada terlalu lancang. Menghancurkannya lewat wanita itu adalah cara yang paling merendahkan bagi pria sombong seperti dia."
Maximilian menghisap cerutunya lagi, matanya menyelidiki setiap inci wajah putranya. "Kau bicara dengan otoritas seorang kaisar, tapi berpakaian seperti montir sampah. Kau pikir kau bisa menjalankan dua dunia sekaligus? Kau pikir kau bisa memanjakan emosimu di apartemen itu dan tetap memimpin Hohenzollern Group besok pagi?"
"Aku sudah melakukannya selama dua tahun di Tokyo tanpa kau sadari, Ayah," jawab Ren tajam. "Dunia ini tidak butuh jas mahal untuk tunduk. Mereka butuh seseorang yang tahu kapan harus menekan leher mereka. Dan saat ini, leher keluarga Shimada ada di tanganku."
Maximilian tertawa, sebuah suara kering yang tidak mengandung kebahagiaan. "Bagus. Jika itu memang murni bisnis, maka buktikan. Pernikahan Moretti adalah panggung awal. Besok, aku ingin kau menandatangani pengambilalihan paksa aset energi Shimada. Dan wanita itu... Hana Asuka... jika dia memang hanya alat, maka segera buang dia setelah misimu selesai. Jangan biarkan dia menjadi titik lemah yang bisa digunakan musuhmu."
Ren mengeraskan rahangnya di balik kacamata hitam yang ia pakai kembali. "Aku tahu apa yang harus kulakukan, Ayah. Jangan mendikte caraku mengurus alat-alatku."
Sementara itu, di kediaman keluarga Asuka, Hana melangkah masuk dengan perasaan yang campur aduk. Ia masih mengenakan pakaian rapi yang dipinjamkan dari apartemen Ren, namun hatinya terasa berat. Yoto menurunkannya tepat di depan gerbang dan segera pergi tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Hana di bawah pengawasan ketat penjaga rumahnya sendiri.
Di ruang tengah, Daichi Asuka sudah menunggu. Ia berdiri di dekat jendela, menyesap teh hijaunya dengan tenang. Tidak ada kemarahan di wajahnya, yang justru membuat Hana merasa ngeri.
"Kau pulang, Hana," ucap Daichi tanpa berbalik.
Hana berhenti di tengah ruangan. "Ya, Ayah. Maaf aku... aku terlambat."
Daichi berbalik perlahan. Matanya menatap Hana dari atas ke bawah, seolah sedang memeriksa kualitas sebuah barang yang baru saja dikembalikan oleh penyewa. "Kaito sudah menghubungiku semalam. Dia sangat terguncang. Dia bilang Aurelius Renzo meminjammu secara pribadi untuk urusan bisnis."
Hana menunduk, tangannya meremas ujung tasnya. "Begitulah. Ada beberapa hal tentang kontrak yang harus dibahas."
Daichi melangkah mendekat, bibirnya membentuk senyum yang sangat aneh—senyum yang penuh dengan ambisi yang menjijikkan. "Aurelius Renzo adalah pria paling berkuasa di dunia ini, Hana. Jauh melampaui Kaito. Bahkan ayahnya, Maximilian, adalah orang yang bisa menghancurkan negara dalam semalam."
Daichi berhenti tepat di depan Hana, merendahkan suaranya hingga terasa seperti bisikan ular. "Jadi, katakan pada Ayah... bagaimana rasanya? Semalam... apakah itu 'enak'?"
Hana tersentak. Kepalanya mendongak dengan mata terbelalak. Rasa mual seketika naik ke tenggorokannya. Ia merasa seolah-olah ayahnya baru saja menelanjanginya di tengah ruangan itu.
"Apa... apa yang Ayah bicarakan?" suara Hana bergetar karena rasa tidak percaya.
Daichi tertawa kecil, menepuk bahu Hana dengan santai. "Jangan berpura-pura lugu, Hana. Kita berdua tahu bagaimana dunia ini bekerja. Kaito bilang kau menghabiskan sepanjang malam di apartemen pribadinya. Jika seorang pria seperti Aurelius mengosongkan jadwalnya hanya untukmu, itu bukan hanya soal kontrak kertas. Jadi, apakah dia puas? Jika kau bisa membuat pria itu bertekuk lutut di bawah kakimu, kita tidak butuh keluarga Shimada lagi. Kau bisa membawa Asuka Group menuju puncak dunia hanya dengan satu malam yang 'enak' bersamanya."
Hana merasa seluruh dunianya runtuh. Ia menatap ayahnya—pria yang seharusnya melindunginya, namun kini justru membicarakan kehormatannya seolah-olah itu adalah nilai saham yang sedang naik.
"Ayah menjualku?" bisik Hana, air mata mulai menggenang. "Semalam Ayah memaksaku dengan Kaito, dan sekarang Ayah memujiku karena aku menghabiskan malam dengan Aurelius? Apakah aku hanya... pelacur korporat di mata Ayah?"
"Jaga bicaramu, Hana!" suara Daichi meninggi, meski tetap terkendali. "Aku sedang membicarakan kelangsungan hidup keluarga kita! Jika kau bisa mendapatkan hati—atau setidaknya perhatian—Aurelius Renzo, kau akan menjadi wanita paling berkuasa di Jepang! Lupakan Kaito. Pria itu sudah habis jika Aurelius menginginkanmu."
Hana mundur selangkah, tangannya gemetar hebat. Ia teringat kelembutan Ren di apartemen pagi tadi. Ren memperlakukannya seperti manusia, seperti wanita yang dicintai. Namun di sini, di rumahnya sendiri, ayahnya hanya peduli pada seberapa "enak" ia bisa melayani seorang penguasa demi keuntungan bisnis.
"Ayah tidak tahu apa-apa," desis Hana dengan suara yang dingin. "Ayah tidak tahu siapa dia sebenarnya, dan Ayah tidak berhak membicarakan apa yang terjadi semalam seolah-olah itu adalah transaksi."
Hana berbalik dan berlari menuju kamarnya, mengabaikan teriakan ayahnya yang memanggil namanya. Ia masuk ke kamar, mengunci pintu, dan jatuh terduduk di lantai. Ia memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya.
Di satu sisi, ia merasa sangat mencintai Ren—pria yang baru saja memberinya kehangatan sejati. Namun di sisi lain, ia menyadari bahwa identitas Ren sebagai Aurelius telah mengubahnya menjadi mangsa bagi semua orang, termasuk ayahnya sendiri.
Di Mansion Minato, Ren mematikan rokoknya di asbak perak dengan tekanan yang kuat. Ia berdiri, menatap ayahnya untuk terakhir kalinya sebelum pergi.
"Aku akan membereskan Shimada besok," ucap Ren datar. "Tapi ingat ini, Ayah. Jangan pernah menyentuh bidak caturku tanpa izinku. Karena jika kau melakukannya, aku tidak akan segan untuk meruntuhkan seluruh papan catur yang kau bangun selama lima puluh tahun ini."
Ren berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Maximilian yang terdiam menatap punggung putranya. Badai besar sedang menuju Tokyo, dan kali ini, tidak ada satu pun penguasa yang akan selamat saat sang kaisar muda memutuskan untuk membakar segalanya demi satu wanita yang kini sedang menangis dalam diam.