Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7.Penjelasan dan Panggilan Yang Tak Dapat Ditolak
Suasana kelas 12-A setelah bel masuk masih tidak sepi seperti biasanya. Meski Bu Keiko belum datang, dengung bisik-bisik masih bergema di beberapa sudut, meskipun jauh lebih tenang daripada tadi pagi. Ren tetap duduk di bangkunya yang berada di pojok belakang, tangan kanannya masih menggenggam buku sketsa resep sambil mata memfokus pada garis-garis tulisan yang ia coretkan sendiri. Namun, ia bisa merasakan bahwa ada beberapa pasang mata yang masih menyelinap ke arahnya – seperti ingin memastikan apakah rumor yang menyebar benar atau tidak.
Sampai suara keras Satria, kapten tim basket kelasnya, memecah ketenangan itu. "Hei Ren! Jangan terus sibuk dengan buku kamu aja dong! Kita lagi bahas kamu lho!"
Ren menoleh perlahan, melihat Satria yang sudah berpindah kursi ke belakangnya dan sedang dikelilingi beberapa teman sekelas. Wajah Satria menunjukkan senyum yang sedikit licik, seolah menemukan kesempatan yang bagus untuk mengajak Ren berbicara. "Kabarnya kamu punya teman masa kecil yang cantik banget datang ke sekolah ya? Bukannya aku mau menggali, tapi foto itu memang cukup mengganggu ya buat beberapa orang."
Ren hanya mengangkat satu alis, tidak memberikan respon yang jelas. Ia kembali menatap buku sketsanya, namun sudah tidak bisa fokus lagi. "Foto itu sudah aku buang. Kalau ada yang masih mau bicara, itu urusan mereka sendiri."
"Ya sudah, tapi kamu juga harus ngerti dong kalau di sekolah gosip itu cepat sekali menyebar," ucap Satria dengan nada yang sedikit lebih rendah, lalu menoleh ke arah pintu kelas yang terbuka. "Lagipula, kamu kan bukan tipe orang yang suka dikelilingi omongan tidak jelas kan?"
Ren mengangguk pelan. Ia memang tidak suka menjadi pusat perhatian karena hal yang tidak penting. Tapi sebelum ia bisa menjawab, langkah kaki yang mengenalinya sudah terdengar mendekat. Hana berjalan masuk ke kelas dengan membawa buku tebal, matanya langsung mencari arah Ren. Ketika melihat beberapa siswa masih berkumpul di dekat meja Ren, ia langsung berjalan cepat ke sana.
"Sudah bel masuk lho! Kalau mau ngobrol bisa ke kantin aja dong!" suara Hana terdengar jelas, membuat beberapa siswa yang sedang berbicara langsung berbalik dan kembali ke kursi masing-masing. Ia berdiri di sisi meja Ren, lalu menaruh buku di atas mejanya dengan lembut. "Kamu kan bilang mau belajar soal matematika bareng? Kok malah sibuk dengan omongan orang lain?"
Ren melihat wajah Hana yang sedikit memerah karena marah, namun ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya. Ia menggeleng perlahan. "Aku tidak sibuk dengan omongan mereka. Cukup fokus aja pada diri sendiri saja sudah cukup capek."
Hana mengangguk, lalu melihat ke arah buku sketsa yang ada di tangan Ren. "Kalau kamu lagi bingung dengan sesuatu, bilang aja padaku ya. Lagipula, catatan matematikaku kan selalu membantu kamu bukan?" ucapnya dengan senyum kecil yang membuat Ren sedikit terkejut.
Sebelum Ren bisa menjawab, pintu kelas tiba-tiba terbuka lebar. Yuki masuk dengan membawa tumpukan buku kuliner, wajahnya menunjukkan ekspresi yang penuh semangat. "Hei Ren! Aku baru dapat buku resep baru dari toko buku khusus. Mau lihat tidak? Ada banyak ide yang bisa kamu pakai buat restoran kamu!"
Suara Yuki membuat beberapa siswa yang masih berada di kelas menoleh ke arah pintu. Hana langsung menatap ke arah Yuki, ekspresi wajahnya sedikit berubah. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari kedekatan Yuki dengan Ren – bukan hanya karena foto yang beredar, tapi karena aura yang terpancar dari Yuki yang seolah sudah mengenal Ren dengan sangat dalam.
Ren berdiri perlahan, melihat wajah Yuki yang penuh semangat. "Kamu datang kesini buat apa? Bukannya kamu ada di kelas 11?"
"Kan aku bilang mau kasih tahu kalau ada buku resep baru kan? Selain itu, aku juga mau bilang kalau Pak Haji dari Asuka Jaya sudah mulai melakukan survei ke beberapa restoran kecil di sekitar Jayapura lho," ucap Yuki dengan suara yang sedikit lebih rendah, lalu melihat ke arah Hana yang masih berdiri di sisi Ren. "Kamu pasti Hana ya? Ren sering bilang kamu orangnya baik dan selalu membantu dia."
Hana sedikit terkejut, tapi segera memberikan senyum yang sopan. "Ya, aku Hana. Senang bertemu denganmu."
Ren melihat kedua gadis yang kini berdiri di depannya, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia tahu bahwa penjelasan yang singkat tidak akan cukup untuk menghilangkan segala kesalahpahaman yang sudah menyebar. Tapi ia juga tahu bahwa kedua orang ini adalah orang-orang yang bisa ia andalkan ketika ada masalah yang datang tidak terduga.
"Sampai jumpa di istirahat ya Ren! Aku punya ide baru buat menu spesial yang mungkin bisa membantu kamu menghadapi Asuka Jaya!" ucap Yuki sebelum kembali keluar kelas dengan langkah cepat.
Hana melihat ke arah Yuki yang sudah pergi, lalu melihat ke wajah Ren yang tampak sedang berpikir dalam-dalam. "Kalau kamu perlu bantuan untuk menjelaskan sesuatu pada orang lain, bilang aja padaku ya. Aku bisa membantu kamu dengan cara yang lebih logis dan tidak mudah disalahpahami," ucap Hana dengan suara yang lembut namun penuh keyakinan.
Ren mengangguk perlahan, rasa terima kasih terasa terpendam di dalam hatinya. Ia tahu bahwa penjelasan yang singkat memang tidak cukup untuk menghilangkan segala omongan yang ada. Tapi setidaknya, ia punya orang-orang yang bisa ia andalkan untuk menghadapi omongan tidak menyenangkan dan tantangan besar yang akan datang.
Tiba-tiba pintu kelas terbuka lagi. Bu Keiko masuk dengan membawa selebaran besar berwarna merah dan emas yang menarik perhatian. "Semuanya diam saja dulu ya! Ada pengumuman penting nih buat kalian semua!"
Suara Bu Keiko yang tegas membuat seluruh kelas langsung terdiam. Ia menyebarkan selebaran itu ke beberapa siswa untuk dibagikan. "Festival 'Pesta Rasa Nusantara' tahun ini akan mengadakan kategori khusus untuk pelajar SMA. Setiap sekolah boleh mengirim satu tim perwakilan. Dan sekolah kita akan memilih tim dari antara kalian yang punya minat dan kemampuan di bidang kuliner serta akademik!"
Ren melihat selebaran yang sudah sampai di mejanya. Di dalamnya tertulis tentang perlombaan yang akan menguji kemampuan memasak sekaligus pengetahuan tentang kuliner nusantara. Ia tahu bahwa ini bukan hanya sekadar lomba sekolah biasa. Ini adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa restoran keluarga mereka layak untuk tetap ada dan berkembang – serta medan perang yang akan membuat Asuka Jaya tidak bisa menganggap remeh mereka begitu saja.
Dunia sekolah yang dulu terasa biasa saja kini benar-benar berubah menjadi medan yang penuh dengan tantangan dan peluang yang tak terduga.