NovelToon NovelToon
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Lelaki/Pria Miskin / Trauma masa lalu / Romantis / Slice of Life
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Towang Risawang

Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.

Dihina. Ditolak. Dilupakan.

Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.

Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.

Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.

Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?

Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:

Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.

Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.

SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 Tekad Membara, Kelelahan Nyata

Mata Siman berbinar, tatapannya lekat ke Murni. Jantungnya berdesir hebat. Rasa takut akan omongan Dina perlahan memudar, berganti menjadi sebuah kekuatan yang beresonansi dari dalam dirinya sendiri. Kebahagiaan yang luar biasa. Akik di jarinya kini memancarkan cahaya biru terang, sebuah konfirmasi diam-diam yang ia rasakan. Ini semua bukan lagi hanya sekadar ‘keberuntungan’. Ini adalah jejak takdir, sebuah anugerah, yang telah membimbingnya sejauh ini. Dan Murni adalah bagian darinya, tak terpisahkan.

Di penghujung malam, seusai semua pekerjaan beres dan Murni pulang, Siman merenung sendirian di ruangan kursus desain yang sepi. Komputer masih menyala, menampilkan logo terakhir yang ia buat: logo sederhana untuk toko kelontong Bu Juju, yang tampak jauh lebih profesional dari perkiraan awalnya. Instruktur Harun memang telah mengirimkan email pujian lagi, yang entah kenapa, selalu mampir di akhir sesi setiap Siman selesai kelas.

Pujian Harun bukan lagi hanya basa-basi, melainkan pengakuan serius atas talenta Siman. 'Saya belum pernah melihat ada anak muda dengan bakat alami seperti Anda, Siman. Kemampuan Anda dalam memahami estetika dan menerjemahkan visi itu luar biasa. Terus kembangkan, ya. Dunia digital menanti Anda. Saya juga tidak pernah ragu dengan orang-orang hebat yang bisa mengubah takdir.' Tulisan itu begitu dalam, menampar wajah Siman. Betul sekali. Siman juga yakin. Karena Siman bukan saja punya Murni. Ada akik di dalamnya. Akik yang Siman miliki itu memberinya bisikan kuat.

"Bakat yang terpendam," gumam Siman, memandang jarinya yang terukir akik. Sebuah senyum tipis, tulus, akhirnya merekah. Ia tak peduli lagi akan bisikan internal. Kini, ia ingin mengejar impiannya. Tidak akan lagi meragukan Murni yang ia miliki saat ini, Siman tidak akan menyerah, ia sudah membuktikan diri dari pelajaran Murni semalam. Keberanian dirinya, dan kemampuan untuk menghadapi semua orang di dunia ini.

Ia yakin bahwa semuanya akan kembali seperti yang sudah ada, ia ingin belajar.

Namun, di saat ia merasa tenang itu, tiba-tiba akiknya berdenyut aneh, kali ini dingin menusuk, berbeda dari sensasi hangat yang selalu ia rasakan. Ada semacam peringatan, semacam isyarat tak terlihat yang memusatkan pandangannya ke arah pintu ruangan kursus yang sedikit terbuka.

Sejenak, Siman merasa merinding. Tidak ada suara, tidak ada hembusan angin. Tapi sensasi itu terasa begitu kuat, seolah ada "sesuatu" atau "seseorang" yang tengah mengawasinya, bahkan mengamatinya dengan saksama. Mata Siman terpaku ke arah sana. Bulu kuduknya berdiri. Sebuah insting yang dulu pernah menyelamatkan nyawanya. Tapi kali ini bukan lagi insting, Siman seperti dapat melihat bayangan.

Lalu, sebuah suara melintas. Bukan suara jelas, hanya bisikan yang entah datang dari mana, sangat dekat, seperti berada persis di samping telinganya. Dingin, menusuk, dan... begitu akrab.

"Keren juga anak desa sekarang, ya? Semakin aku benci melihat keberaniannya..."

Bulu kuduk Siman langsung meremang hebat, akiknya dingin mencengkeram. Suara itu… suara itu sangat ia kenali.

"Ternyata, jejak sampah selalu tercium di mana pun..."

Siman tidak tersentak, tetapi matanya menajam. Ia mematikan monitor, menyambar tasnya, dan bergegas menuju pintu. Langkahnya tegap, tanpa ragu, langsung ke tempat sumber suara tadi. Tapi ketika ia tiba, hanya kegelapan yang menyambut. Kosong.

Siman mengepalkan tangannya, membiarkan akik itu mencengkeram erat kulitnya, dinginnya menenangkan amarah yang membakar. Ia memandang ke ujung koridor yang gelap, dan tanpa ragu, melontarkan kalimatnya, keras dan penuh tantangan. Tidak, ini bukan lagi anak pinggir rel yang takut.

"Dina. Kamu benar-benar berani, ya menguntitku? Akan kubuktikan, sampah sepertimu, memang tidak akan pernah berharga lagi!"

Dua hari berlalu sejak Siman bersumpah dalam hati untuk menunjukkan Dina siapa dia sebenarnya. Tekad itu masih membara, memberinya energi aneh setiap kali bayangan wajah angkuh gadis itu melintas. Namun, di antara kilatan semangat itu, terselip pula kelelahan yang nyata. Jam di sudut kanan bawah layar monitor menunjukkan pukul sembilan malam. Siman masih sendirian di ruangan kursus, satu-satunya yang tersisa di kelas, ditemani gemuruh kipas CPU yang terus mendengung. Meja-meja kosong di sekelilingnya menatapnya, seolah mengejek dengan kesunyian.

Ia menyandarkan punggung, mengusap lelah wajahnya. Rasa dingin mencengkeram akiknya. Sebuah situs web freelance masih terbuka di peramban, menampakkan deretan proyek desain grafis dengan penawaran harga yang—menurut Siman—konyol. Begitu sedikit. Atau ia yang terlalu banyak berharap?

"Cih, saingannya berat begini," gumam Siman, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya menelusuri komentar-komentar dari para desainer lain. Semuanya adalah orang-orang berpengalaman, dengan portofolio yang tampak profesional, berderet di sana seperti bintang-bintang yang tak bisa ia raih. Ada gurat kecemasan di hatinya. Haruskah dia terus berharap pada "bantuan" akik, atau dia memang harus bergantung pada dirinya sendiri? Bukankah ia ingin menunjukkan diri kepada Murni? Atau ini hanyalah harapan kosong? Siman menelan ludah, kecemasannya mulai menanjak.

Jemari kurusnya mengelus permukaan akik di jari manis. Sensasinya kembali, bukan kehangatan, melainkan semacam dorongan yang tenang, namun jelas. Seperti suara lembut yang berbisik, memintanya untuk tidak menyerah. Siman akhirnya tersentak. Tidak. Dia tidak boleh putus asa. Kata-kata hinaan Dina akan menjadi motivasinya. Murni percaya padanya. Dia tidak boleh mengalah hanya karena Dina!

"Man, masih di sini saja?"

Siman tersentak. Suara bariton yang familiar itu membuat tubuhnya sedikit tegang. Rido, teman kursus paling senior, berdiri di ambang pintu ruangan. Raut wajahnya datar, seperti biasa. Di tangannya, sebotol minuman soda dingin.

"Oh, Rido." Siman mencoba terdengar santai, buru-buru menutup situs freelance itu. Rasa malu tiba-tiba merayapi dirinya. "Iya nih, masih ada yang perlu kutuntaskan."

Rido terkekeh pelan. "Sibuk betul kamu. Itu apa tadi? Situs freelance ya? Sudah berhasil dapat proyek?" Ia melangkah masuk, mendudukkan diri di meja Siman, tanpa diminta. Matanya tertuju pada layar monitor Siman. "Nggak usah malu, Siman. Semua orang pasti cari uang, apalagi setelah Pak Harun cerita bagaimana perjuanganmu di sini."

Wajah Siman memanas. Pak Harun memang sudah sering memuji dan merekomendasikannya, tetapi mendengar dari orang lain secara langsung selalu memberinya rasa canggung. "Nggak begitu, Rido. Aku… aku belum dapat apa-apa. Saingannya kan jago-jago semua." Siman berbohong. Ia ingin sedikit menyembunyikan perjuangan ini agar Murni saja yang tahu. Rasa malu juga menyertainya bila semua orang tahu apa yang sedang ia lakukan.

Rido menggeleng. "Itu kamu yang merendah. Jangan salah, ya. Pak Harun itu bilang, di antara semua murid, cuma kamu yang paling jenius idenya. Aku yakin kamu bakal dapat kalau berusaha lebih keras. Dan jangan terlalu bergantung sama akimu itu, kamu juga kan pintar, Man. Itu cuma akal-akalan Pak Harun untuk tidak membela kamu saat dikira orang gila oleh temannya. Apa jangan-jangan itu akiknya Pak Harun ya?" Rido tertawa lepas. Suaranya bergema. Tiba-tiba saja rasa lelah Siman perlahan menguap begitu saja. Ini adalah momen untuk tidak meladeni Rido, justru ini adalah kesempatan.

***

1
Roynaldi Ananda
gak jadi nerusin bacanya kurang sip kelihatannya
Roynaldi Ananda
kok seperti pemaksaan alur cerita ini thor? gak wajib murni menanyakan soal cincin itu kecuali mc nya bawa motor atau mobil baru bisa ditanyakan dari mana asalnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!