"Siniin," pinta Dara.
"Cium dulu."
Dara melotot, "lih, siniin!"
"Iya, tapi cium dulu." Rafa menunjuk ke arah pipinya.
Dara mengulum bibir. Malu, dia mulai mendekatkan wajahnya. Hingga saat bibirnya hampir mengenai pipi Rafa, suaminya itu malah menoleh dan akhirnya bibir Dara mendarat di bibir Rafa.
Andara Maheswari (17 tahun) tidak menyangka jika sosok pacar yang dia kira tulus dan juga mencintainya ternyata bertahan dengannya hanya atas dasar rasa kasihan semata.
Dara dihina, diputuskan, atau mungkin lebih tepatnya dibuang oleh pacarnya. Braden selingkuh darinya.
Tidak cukup sampai disitu, sampai di rumah dia pun harus menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Kepahitan hidupnya seakan terus berlanjut. Dia terpaksa harus menerima perjodohan dan menikah dengan pria yang sama sekali tidak dia kenal demi menebus hutang yang dimiliki oleh ayahnya.
Dara tidak menyangka, jika pria yang dijodohkan dengannya adalah salah satu guru di sekolahnya. Pria dingin serta jutek yang membenci
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Paginya, Dara hampir saja bangun kesiangan. Dia langsung bergegas ke kamar mandi dan turun ke lantai bawah.
Semalam dia susah tidur karena kepikiran sama cerita Oma Atira tentang masa lalu Rafa.
Ada rasa kasihan dalam hatinya karena Rafa harus melalui dan mengalami hal yang menyakitkan seperti itu.
Kalau dilihat dari luar, hidup Rafa terlihat sangat sempurna. Menjadi cucu dari seorang pengusaha. Bahkan bisa dibilang Rafa itu pewaris tunggal. Hanya saja lebih memilih untuk menjalani karir sesuai dengan keinginan hatinya. Mungkin lebih tepatnya sesuai dengan kenangan dia bersama masa lalunya. Hanya saja Dara belum tahu mengenai hal itu.
Ternyata, di balik kesempurnaan sosok pria tampan itu, ada lubang besar di hatinya. Rafa kehilangan kedua orang tua sekaligus akibat kecelakaan tragis, juga wanita yang sangat dicintainya tewas dalam insiden serupa.
Semua kehilangan itu terjadi tepat di depan matanya, mengoyak jiwanya.
Tekanan dari keluarga Khaylila, yang menuding Rafa sebagai penyebab meninggalnya Khaylila, semakin memperdalam luka dan trauma yang tak kunjung hilang.
Di setiap geraknya, ada bayang-bayang kesedihan yang tertanam erat dalam relung hatinya, menciptakan kebekuan jiwa yang sulit untuk dia lepaskan.
Di lantai bawah, saat Dara hendak memasak, Rafa datang dari luar dengan setelan seperti kemarin pagi. Hanya saja kali ini jaket dan celana pendeknya beda warna.
Akibat kejadian kemarin, keduanya jadi merasa canggung. Terutama Dara yang tidak bisa menyembunyikan kecanggungan tersebut. Apalagi kejadian kemarin akibat ulahnya juga yang pake tersandung segala.
Gadis cantik itu tidak berani melihat ke arah Rafa apalagi ke wajah suaminya itu.
Berbeda dengan Rafa yang bisa menyembunyikan kecanggungan dibalik raut wajah datarnya.
Rafa memberikan kantong plastik warna putih yang berisi dua bungkus sterofoam kepada Dara.
"Emm ... Tadi ada kang nasi uduk. Udah kakek-kakek, kasian. Jadi gak usah masak, sarapan ini aja," ucapnya.
Dara mengangguk, menerima kantong plastik itu dan menyimpannya di meja makan.
"Emm ... mau langsung makan di sini apa pindahin ke piring?" tanya Dara. Dia terpaku melihat jakun pria tampan yang merupakan suaminya itu terlihat bergerak-gerak karena Rafa sedang minum.
Rafa menggeleng dan menelan air putih yang barusan dia minum.
"Di situ aja biar. Ganti sendoknya aja jangan yang plastik itu," ucapnya.
Masih berada di dekat lemari es, Rafa memperhatikan semua gerakan istri kecilnya yang sedang mengeluarkan sterofoam dari kantong plastiknya.
Rafa tersenyum tipis mengingat kejadian kemarin. Memang bukan yang pertama, tapi bagi Rafa, efek sampingnya sungguh nyata dan berbeda. Dan itu hanya menempel saja.
Tahu istri kecilnya merasa canggung dan gugup saat melihatnya, Rafa pun berjalan mendekat ke arah Dara yang kini sedang mencuci tangan di wastafel.
"Ya ampun!" Dara memekik kaget saat dia berbalik dan Rafa sudah ada di belakangnya.
Dara bergeser ke kanan, tapi Rafa pun ikut bergeser. Begitu juga dengan saat dia bergeser ke kiri, Rafa pun ikutan.
"Apa kemarin adalah yang pertama bagimu?" tanya Rafa.
Dara mengangkat kepalanya, sedikit mendongak karena tingginya hanya sebatas da-da sang suami.
"Apaan?" tanya Dara tak mengerti.
"Ck. Ciuman kemarin, itu yang pertama bagimu?"
Kedua mata Dara melotot dibarengi dengan wajah bersemu merah. Dia sejak tadi menghindar dan tidak ingin mengingat kejadian memalukan kemarin, tapi Rafa malah membahasnya.
Dara mundur hingga tubuhnya mentok ke meja wastafel saat Rafa malah berjalan maju. Kini jarak di antara keduanya hanya beberapa senti saja.
"O-Om mau apa?" tanya Dara gugup.
"Jawab pertanyaan saya, Dara!" desak Rafa.
Dara memejamkan matanya sejenak lalu menatap Rafa dengan berani. "Enggak kok. Kemarin bukan yang pertama. Kenapa emangnya?"
Entah mengapa Rafa kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulut Dara. Tapi melihat bola mata Dara yang bergerak-gerak, dia tahu kalau istrinya itu sedang berbohong.
Rafa menyeringai tipis.
"Benarkah?"
Melihat seringai tipis di wajah Rafa, Dara langsung merasa gugup kembali. Dia memejamkan mata saat hembusan napas Rafa terasa menerpa kulit wajahnya.
Rafa yang memang sengaja mendekatkan wajahnya tersenyum melihat kedua mata Dara yang memejam erat. Tatapannya tertuju pada bibir Dara.
Buru-buru Rafa mundur dan menggelengkan kepalanya. Tanpa mengatakan apa pun, Rafa bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Dara membuka matanya saat merasa Rafa sudah pergi. Dia menghembuskan napas berat dan sesaat kemudian menggelengkan kepalanya cepat.
"Lo mikir apa, Dara? Lo kecewa karena Rafa gak jadi ngelakuin hal yang lo pikirin tadi?" gumamnya.
Keduanya kini sudah sama-sama siap dengan seragam masing-masing. Dara dengan seragam putih abu nya. Rafa dengan setelan mengajarnya.
Dara baru sadar, selama ini Rafa sering menggunakan pakaian warna hitam atau warna lain yang dominan tidak cerah.
Dara mengedikkan bahunya, untuk apa juga dia memikirkan pakaian suaminya. Ya ... meski sebenarnya dia tentu harus tahu karena dia adalah istrinya.
Sambil sarapan, Rafa diam-diam terus memperhatikan bibir tipis merah muda yang nampak bergerak-gerak karena sedang mengunyah.
Selesai sarapan, Rafa melarang Dara untuk pergi menggunakan ojol. Dia mengajak Dara untuk berangkat bareng lagi.
"Di sekolah, semua orang udah tau kamu saudara saya. Jadi untuk apa takut?" ujar Rafa.
"Siapa juga yang takut? Enggak, kok. Tapi aku emang mau naik ojol aja!" sahut Dara.
Dara memang tidak takut dengan anggapan semua murid di sekolah, kini dia lebih takut dengan sosok Rafa. Takut Rafa melakukan hal yang seperti di dapur tadi. Membuat jantungnya tidak aman saja.
"Kamu takut dengan saya?" tanya Rafa.
"Hahaha." Dara tertawa keras. "Enggak, lah! Takut kenapa emangnya?" kilahnya.
"Takut saya cium misalnya?"
Kedua mata Dara kembali melotot. Buru-buru dia pergi dan memutuskan untuk memesan ojol di depan saja. Namun, baru saja dua langkah, tas yang dia pakai ditarik oleh Rafa.
"Iih. Lepasin!"
"Saya gak akan cium kamu kalau itu yang kamu takutin. Sekarang masuk!" titah Rafa yang sudah membuka pintu mobil.
Dara memicingkan matanya. "Beneran?" tanyanya memastikan.
"Hm."
"Awas lho."
"Astaga. Padahal kemarin kan kamu yang cium saya dulu-mmph!"
Dara langsung menutup mulut Rafa menggunakan kedua tangannya. "Gak usah diingetin juga!" ucapnya kemudian masuk, duduk dan memakai sabuk pengaman dengan wajah cemberut.
Rafa tertawa pelan, tingkah istrinya sungguh menggemaskan. Mungkin Rafa tidak sadar, kalau semenjak dekat dengan Dara, dia jadi sering tersenyum dan tertawa.
Di perjalanan, kedua mata Dara menajam saat dia tidak sengaja melihat Ayah Aldi keluar dari toko bunga dengan seorang wanita.
Ini tuh masih pagi, biasanya Ayah Aldi jam segini baru berangkat dari rumah untuk pergi kerja. Tapi sekarang? Jam segini Ayah Aldi sudah diluar dan bersama seorang wanita pula.
Apalagi, bisa Dara lihat kalau keduanya nampak tertawa bahagia.
"Ayah masih kayak gitu?" batin Dara.
Wajah Dara berubah murung dan Rafa pun menyadarinya. Ingin bertanya, tapi Rafa gengsi.
"Emm ... pulang sekolah nanti, aku izin mau ke rumah mama, boleh?" tanya Dara.
Rafa terdiam sejenak. Dia mengira Dara murung karena merindukan kedua orang tuanya.
Dara ingin memastikan kondisi sang ibu yang kalau di telpon atau chat selalu mengatakan baik-baik saja. Namun, melihat hal barusan, dia yakin kalau ibunya berbohong.
"Tentu, nanti kita pergi bareng," balas Rafa. Dia merasa harus ikut dan mengunjungi sang mertua. Bukan hanya orang tua Khaylila yang rutin dia kunjungi, meski selalu mendapat penolakan serta hinaan tentunya.
Dara menatap Rafa dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Beneran?"
Rafa menoleh sebentar dan kembali fokus melihat jalan di depan. "Tentu saja."
"Makasih," ucap Dara lalu menghapus bulir bening yang jatuh di pipinya.
"Dia kenapa menangis? Apa sebegitu bahagianya akan bertemu dengan ibunya?" batin Rafa heran.
Padahal Dara sedih karena kelakuan ayahnya.
Dara jadi pesimis. Ibunya saja yang cantik, diselingkuhi seperti itu. Orang tuanya saja yang menikah karena saling cinta, Ayah Aldi bisa berpaling. Apalagi dia dan Rafa yang menikah karena terpaksa?
"Apa dia juga bakal ngelakuin hal yang sama kayak ayah?" batin Dara.
Dara menggelengkan kepalanya pelan. Dia tidak ingin memikirkan hal itu sekarang. Dara memegang paper bag yang dia bawa dengan erat dan Rafa baru menyadari kalau Dara membawa paper bag sejak tadi.
"Itu apa?" tanya Rafa. Mulai suka basa-basi dan terkesan kepo.
"Jaket milik Aiden. Mau aku balikin," jawab Dara dan wajah Rafa pun berubah masam seketika.
"Nih jaketnya. Makasih banyak ya," ucap Dara sambil memberikan paper bag kepada Aiden.
Aiden tersenyum dan menerima paper bag itu. "Iya, sama-sama. Emm ... pulang sekolah nanti ada acara?" tanya Aiden.
Dara mengangguk. Karena memang dia kan sudah ada rencana akan pergi mengunjungi sang ibu bersama Rafa nanti.
Aiden menggaruk kepala bagian belakangnya. Tadinya dia ingin mengajak Dara pergi main dulu. Tapi sepertinya dia harus mencari waktu dan hari lain.
"Gue ke kelas dulu ya. Sekali lagi makasih," ucap Dara, melambaikan tangan dan masuk ke dalam kelas.
Aiden balas melambaikan tangan meski Dara tidak melihatnya. Pemuda tampan itu
tersenyum tipis, memegang dada yang berdebar kencang dan dia yakin itu karena Dara.
Hari itu, Dara menjalani aktivitasnya di sekolah dengan wajah murung. Tidak ada semangat sama sekali karena dia terus kepikiran pada sang ibu.
Sudah kirim pesan juga pada sang ibu, dan ibunya itu langsung membalas dengan sebuah foto rangkaian bunga di dalam vas bening.
Ibunya memang suka sekali merangkai bunga. Pernah ingin buka usaha toko bunga juga, tapi dilarang oleh Ayah Aldi. Katanya seorang istri tuh diam di rumah saja. Biar suami yang cari uang.
Bebi yang izin tidak masuk karena ada urusan keluarga membuat Dara tambah murung karena merasa tidak ada teman yang bisa dia ajak cerita.
[Lo besok masuk, 'kan?] send
[Iya. Besok masuk. Kangen banget keknya gue gak masuk sehari doang juga]
Dara mencebik membaca balasan pesan dari Bebi. Sekarang sudah masuk jam istirahat kedua, dan dia rasanya malas sekali untuk sekedar pergi ke kantin.
"Males tapi lapar," gumam Dara.
Bukannya tidak ada juga yang mengajak dia pergi ke kantin bareng. Hanya saja ... Dara yang pada awalnya sudah merasa tidak nyaman dengan teman-teman sekelasnya yang kerap memandang jijik saat penampilannya masih culun waktu itu jadi malas untuk meladeni mereka.
Rasa lapar yang menggigit perut Dara membuatnya terpaksa keluar kelas, hendak membeli makan di kantin. Tapi, begitu kaki melangkah ke luar ruang kelas, tubuhnya terhempas, didorong oleh seseorang yang tidak lain adalah Monica.
"Apa sih lo?!" Dara kesal, sambil menatap tajam Monica.
"Gue ingetin sekali lagi ya. Gue gak bakal biarin Braden balik lagi sama lo!" ungkap Monica dengan nada pedas.
Dara mendengus dan memutar bola matanya, tak ingin membuang banyak energi untuk Monica. Namun, dalam sekejap, otaknya bekerja, meraba kalimat yang barusan terlontar dari mulut Monica.
"Apa kata lo barusan? Balik lagi? Jadi ...."
Monica menyunggingkan senyum misterius, berdiri di depan Dara sambil melipat kedua tangan di dada.
"Dulu mungkin gue bisa kalah dari lo dalam segala hal. Tapi sekarang, di sini, gue tetap bakal selangkah lebih maju dari lo!" ucapnya lantang, penuh percaya diri.
Setelah mengatakan hal itu, Monica berbalik dan pergi meninggalkan Dara yang diam dengan segala pikirannya.
"Siapa dia sebenarnya?" gumam Dara.
Jam pelajaran terakhir usai, semua murid langsung bergegas keluar dari kelas. Begitu juga dengan Dara yang berdiri dan memakai tas gendongnya.
Ponselnya bergetar ada pesan masuk dari Rafa. Dara mendengus karena lupa mengganti nama kontak suaminya itu.
[Saya tunggu di parkiran.]
Dara pun hanya membalas dengan kata 'Ya' saja. Dia berjalan keluar dari kelas seorang diri.
Dari kejauhan, Braden melihat Dara tapi dia tidak bisa menemui mantan kekasihnya itu. Monica akhir-akhir ini sering menempel padanya dan itu cukup membuatnya jengah.
Dara langsung masuk ke mobil milik Rafa. Mengabaikan tatapan beberapa murid yang mungkin merasa heran karena dia masuk ke mobil guru yang jadi idola mereka.
"Katanya sih mereka saudara," celetuk siswi kelas XI
"Oh. Pantesan."
"Mau ada yang dibeli dulu?" tanya Rafa.
Dara terdiam sejenak dan mengangguk. "Ada sih, makanan kesukaan ibu. Tapi harus muter dulu," ucapnya.
"Gak apa-apa. Kita ke sana aja dulu," jawab Rafa.
Dara tersenyum senang. Dia sangat suka kalau Rafa sedang dalam mode baik seperti ini.
"Ada lagi?" tanya Rafa saat keduanya sudah keluar dari toko kue legendaris yang cabangnya sudah ada di mana-mana.
Dara menggeleng. "Gak ada. Om kan itu juga beli buat ibu. Udah banyak ini."
Rafa mengambil kantung plastik berisi kue yang dibawa oleh Dara dan menyimpannya di kursi belakang. Keduanya kembali masuk ke dalam mobil dan pergi setelah memberikan uang parkir kepada bapak-bapak tua yang memakai rompi orange.
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, keduanya pun sampai di depan rumah berlantai dua yang kini hanya ditinggali berdua oleh kedua orang tua Dara.
Emm ... bertiga deh sama ART yang bekerja di sana.
Dara berjalan lebih dulu, membiarkan sang suami membawa makanan yang tadi mereka beli.
Dara melirik ke arah mobil Ayah Aldi yang ada di dekat garasi. Itu artinya, sang ayah sedang ada di rumah 'kan sekarang?
Pintu depan sudah terbuka, namun langkah Dara terhenti saat mendengar keributan yang berasal dari dalam rumah. Begitu juga dengan Rafa, dia yang sudah berdiri di samping Dara turut mendengar percekcokan antara ayah dan ibu mertuanya.