Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#1
Langit London sore itu semu kelabu, mengirimkan rintik hujan yang mengetuk kaca jendela Mayfair Mansion dengan nada yang monoton dan dingin. Di dalam aula utama yang diterangi lampu kristal raksasa, aroma bunga lili putih—bunga favorit keluarga bangsawan Inggris terasa mencekik paru-paru Ezzvaro Manafe (26 th). Baginya, bau harum itu kini tak ubahnya aroma formalin di ruang otopsi; menyamarkan kebusukan yang tersembunyi di balik kemewahan.
Ezzvaro berdiri mematung di dekat perapian marmer yang menyala, mencoba mencari kehangatan yang gagal menembus dingin di hatinya. Jemarinya yang panjang mencengkeram gelas kristal berisi scotch tanpa es, kuku-kukunya memutih menahan tekanan. Matanya yang tajam dan kelam menatap lurus ke arah pintu ganda berbahan jati di ujung ruangan, seolah mengharapkan monster keluar dari sana.
Di sampingnya, Tharzeo (28 th), sang putra sulung yang selalu tampak tenang dan otoriter, menyesap minumannya dengan ekspresi datar yang sulit dibaca. Tharzeo adalah pilar kastil Manafe; dingin, manipulatif, dan nyaris tidak manusiawi.
"Ayah sudah gila," desis Ezzvaro. Suaranya rendah, parau, nyaris tenggelam oleh alunan kuartet gesek di sudut ruangan yang memainkan komposisi melankolis.
"Ayah tidak gila, Ez. Dia hanya pragmatis," sahut Tharzeo tanpa menoleh, suaranya sedatar garis makam. "Menikahi Renata Batistuta adalah cara tercepat menyatukan dua dinasti tanpa harus menumpahkan darah di bursa saham. Kasta kita dan mereka sekarang adalah satu. Keuntungan triwulan depan akan melonjak drastis."
"Tanpa memberitahu kita? Dia memanggil kita pulang dari kantor pusat hanya untuk menyaksikan pengumuman pernikahan yang sudah terjadi tadi pagi? Kita seperti pion di papan caturnya sendiri!" Ezzvaro terkekeh sinis, sebuah tawa yang kering, penuh luka, dan berbahaya. Baginya, ini bukan bisnis. Ini adalah invasi terhadap privasinya.
Pintu besar itu terbuka dengan dentuman pelan namun berwibawa.
Fank Manafe melangkah masuk dengan setelan tuxedo yang sempurna, menjahit citra penguasa yang tak terbantahkan. Di lengannya, seorang wanita anggun dengan gaun beludru hitam tersenyum tipis—Renata Batistuta, janda konglomerat tekstil yang kini resmi menjadi Nyonya Manafe yang baru.
Namun, bukan aura kekuasaan Fank atau kecantikan matang Renata yang membuat jantung Ezzvaro berhenti berdetak selama satu detik yang menyakitkan. Gelas kristal di tangannya nyaris terlepas.
Di belakang pasutri baru itu, seorang wanita dengan gaun sutra berwarna merah darah melangkah masuk. Warna gaun itu begitu kontras dengan kulit porselennya, seolah-olah dia baru saja melangkah keluar dari genangan darah.
Gabriel Batistuta (25 th).
Dunia seolah melambat, lalu berhenti berputar. Ezzvaro merasakan dadanya dihantam godam yang sangat berat, membuatnya sesak napas. Kenangan-kenangan yang ia kubur dalam-dalam di dasar neraka pribadinya selama tiga tahun terakhir mendadak meledak ke permukaan, menghantamnya dengan kekuatan tsunami.
Bau parfum mawar yang memabukkan namun mematikan, tatapan mata cokelat yang dulu memujanya namun kini sedingin belati, dan luka menganga yang belum pernah benar-benar sembuh.
Gabriel adalah cinta pertamanya, obsesinya, sekaligus kehancurannya sejak bangku High School. Mereka adalah pasangan emas yang diagungkan di kampus, the 'it' couple yang membuat iri semua orang. Hingga kecemburuan Gabriel yang berlebihan, sesuatu yang melampaui batas kewarasan—mengubah segalanya menjadi neraka yang membara.
Tuduhan selingkuh yang tak berdasar, pertengkaran hebat di bawah hujan badai London yang menghapus air mata mereka, dan harga diri Ezzvaro yang akhirnya patah membuat pria itu memilih pergi ke cabang perusahaan di New York untuk melarikan diri. Mereka berpisah dalam kondisi labil, penuh amarah, saling mengutuk, dan tanpa kata maaf yang tuntas.
Kini, wanita yang paling ia hindari di muka bumi ini, wanita yang namanya masih sanggup membuat tangannya bergetar, berdiri di sana. Bukan sebagai musuh, bukan sebagai mantan kekasih.
Tapi sebagai saudarinya. Takdir sedang meludah tepat di wajah Ezzvaro.
"Kenalkan anak-anak," suara Fank Manafe menggema, berat dan penuh otoritas, memecah keheningan yang menyesakkan di aula itu. "Ini Renata, istriku. Dan ini putrinya, Gabriel. Mulai hari ini, mereka adalah bagian dari Manafe. Gabriel akan menempati sayap timur mansion ini bersama kalian."
Sayap timur. Area pribadi Ezzvaro dan Tharzeo. Fank baru saja meletakkan dinamit di tengah-tengah hidup Ezzvaro dan menyalakan sumbunya.
Gabriel menatap Ezzvaro. Pria itu mencari-cari. Mencari sisa-sisa binar cinta, kemarahan yang meluap-luap, atau setidaknya keterkejutan. Namun, tidak ada. Yang ada hanya tatapan kosong, dingin, asing, dan penuh penghinaan. Seolah-olah mereka adalah dua orang asing yang tidak pernah berbagi napas, keringat, dan janji suci di masa lalu. Permainan topeng Gabriel begitu sempurna, dan itu membuat darah Ezzvaro mendidih.
"Selamat malam, Kak Tharzeo. Kak Ezzvaro," ucap Gabriel. Suaranya halus, merdu, namun setajam sembilu yang diiriskan ke kulit Ezzvaro. Kata 'Kak' yang keluar dari bibir ranum yang dulu sering diciumnya itu terdengar seperti sebuah penistaan, sebuah cara kejam untuk menegaskan batasan baru di antara mereka.
Tharzeo mengangguk sopan, ekspresinya tetap poker face, meskipun matanya yang tajam sempat melirik ke arah adiknya, menyadari ketegangan yang nyaris kasat mata. Sementara Ezzvaro hanya mampu menatap Gabriel dengan rahang yang mengatup rapat, giginya bergemeletuk menahan campuran antara amarah, gairah yang salah tempat, dan rasa sakit yang menghancurkan.
"Ezzvaro, tidak ada sambutan untuk adik barumu?" tegur Fank dengan nada memperingatkan, matanya menyipit menatap putra bungsunya.
Ezzvaro memaksa kakinya bergerak. Ia melangkah maju satu tindak, menerobos zona nyaman Gabriel. Aroma mawar yang familiar—bau yang dulu mendatangkan kedamaian, kini mendatangkan hasrat untuk menghancurkan—menyerang indranya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat sedikit getaran di jemari Gabriel yang memegang tas kecilnya, satu-satunya tanda bahwa wanita itu tidak sepesat es seperti penampilannya. Namun wajah wanita itu tetap datar, menantangnya.
Ezzvaro membungkuk sedikit, mendekatkan bibirnya ke telinga Gabriel.
"Selamat datang di neraka, Gabriel," bisik Ezzvaro, suaranya begitu pelan, serak oleh emosi, hingga hanya Gabriel yang bisa mendengarnya di tengah keriuhan kuartet gesek. Itu bukan sambutan, itu adalah deklarasi perang.
Gabriel tidak gentar. Dia tidak mundur setapak pun. Alih-alih ketakutan, ia justru menyunggingkan senyum miring yang provokatif, senyum yang dulu selalu berhasil menekuk lutut Ezzvaro, namun kini membuat pria itu ingin mencengkeram lehernya.
"Aku sudah terbiasa dengan api, Ezzvaro," balas Gabriel berbisik, suaranya jernih tanpa getaran. "Jadi, nerakamu tidak akan terasa panas bagiku. Malah mungkin, aku yang akan membakar mu duluan."
***
Malam itu, jamuan makan malam di meja jati raksasa berlangsung seperti sandiwara kelas atas. Cahaya lilin memantul di sendok perak, menciptakan bayangan-bayangan yang menari di dinding, seolah mengejek ketegangan di meja itu. Fank dan Renata sibuk membicarakan penggabungan aset, ekspansi pasar ke Asia, dan bagaimana pernikahan ini akan mendominasi berita utama besok. Tharzeo sesekali menimpali dengan analisis bisnis yang tajam dan akurat.
Namun bagi Ezzvaro dan Gabriel, meja makan itu adalah medan perang yang senyap namun mematikan. Ezzvaro duduk tepat di depan Gabriel. Posisi terburuk yang bisa dibayangkan.
Setiap kali mata mereka bertemu di sela-sela denting sendok dan garpu, ada kilatan masa lalu yang terlempar, seperti proyektor film rusak yang memutar ulang trauma. Tawa renyah mereka di perpustakaan kampus saat membolos kelas, ciuman pertama yang panas dan kikuk di belakang stadion di bawah guyuran hujan gerimis, hingga teriakan histeris Gabriel yang menuduhnya selingkuh dengan sekretaris-nya dulu.
Sebuah kesalahpahaman fatal yang tidak pernah Gabriel beri kesempatan untuk Ezzvaro jelaskan. Cemburu buta Gabriel telah membutakan logikanya, menghancurkan kepercayaan yang mereka bangun, dan memaksa Ezzvaro pergi dengan hati hancur untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya. Dan kini, wanita yang menghancurkannya itu duduk di sana, memotong steaknya dengan anggun seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Ezzvaro tidak menyentuh makanannya. Ia terus menuang wine merah ke gelasnya, meminumnya seolah itu air putih, mencoba mematikan rasa terbakar di dadanya dengan alkohol. Matanya tidak pernah lepas dari Gabriel, menelanjangi wanita itu dengan tatapan penuh kebencian dan gairah yang menyiksa. Gabriel, sebaliknya, makan dengan tenang, mengobrol ringan dengan Renata dan Tharzeo, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Ezzvaro, yang justru semakin menyulut amarah pria itu.
Usai makan malam yang terasa seperti siksaan abadi, Ezzvaro langsung beranjak. Ia tidak tahan lagi berada di ruangan yang sama dengan Gabriel dan kepura-puraannya. Ia menunggu di lorong remang-remang menuju sayap timur, tempat yang kini, secara tragis, menjadi area pribadi mereka bertiga.
Saat Gabriel melangkah masuk ke lorong, sendirian, Ezzvaro bergerak cepat. Ia mencengkeram lengan Gabriel, tidak cukup kuat untuk memar, tapi cukup kuat untuk menunjukkan dominasinya, lalu mendorongnya kasar ke dinding kayu ek yang dingin.
"Apa yang kau lakukan di sini, Gab? Kau tahu ini gila, kan?" Ezzvaro menyudutkan Gabriel, mengurung wanita itu dengan kedua lengannya di sisi kepala Gabriel. Napasnya memburu, bau alkohol dan amarah menguar dari dirinya. Wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Gabriel, begitu dekat hingga ia bisa merasakan kehangatan kulit wanita itu yang dulu sangat ia puja.
Gabriel menatapnya tanpa emosi. Tatapannya datar, seolah dia sedang menatap dinding, bukan pria yang pernah menjadi pusat semestanya.
"Apa yang kulakukan? Aku hanya mengikuti ibuku. Sama seperti kau yang selalu mengikuti perintah ayahmu," jawab Gabriel dingin, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Ini murni bisnis bagi mereka, Ezzvaro. Jangan kekanak-kanakan."
"Kau tahu kita tidak bisa tinggal di bawah atap yang sama. Tidak setelah apa yang terjadi," desis Ezzvaro, suaranya bergetar oleh campuran kemarahan dan keputusasaan. "Kau mencintaiku dengan cara yang sakit, Gab. Dan sekarang kau kembali sebagai saudariku? Ini adalah lelucon paling sakit dari tuhan."
"Apa yang terjadi?" Gabriel tertawa kecil, suara tawa yang dulu sangat dicintai Ezzvaro, yang dulu terdengar seperti lonceng angin, kini terdengar seperti racun yang menjalar ke nadinya. "Oh, maksudmu saat kau mencampakkanku karena kau terlalu pengecut untuk membuktikan kesetiaanmu? Saat kau memilih lari ke New York daripada memperbaiki hubungan kita?"
Mata Gabriel berkilat, sisa-sisa luka lama mulai bermunculan di balik topeng esnya. "Itu sudah lama sekali, Ezzvaro. Kita bukan remaja labil yang terobsesi satu sama lain lagi. Waktu mengubah segalanya. Sekarang, kau hanya kakak tiriku yang membosankan dan pemabuk. Jadi, tolong menyingkir dari hadapanku."
"Kau masih menuduhku setelah bertahun-tahun? Kau masih berpegang pada fantasi sakitmu itu? Aku tidak pernah berselingkuh, Gabriel! Tidak pernah!" Ezzvaro berteriak pelan, frustrasi karena dinding pertahanan Gabriel yang tak tertembus.
"Dan kau masih dengan kesombonganmu yang merasa paling benar?" Gabriel mendorong dada Ezzvaro dengan kuat, menggunakan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari kurungan pria itu. Ezzvaro yang setengah mabuk terhuyung mundur selangkah.
Gabriel memperbaiki tatanan rambutnya dengan jengkel, menatap Ezzvaro dengan tatapan jijik yang dibuat-buat. "Minggir. Aku ingin istirahat. Hari ini sangat melelahkan, harus berpura-pura bahagia di depan ibuku dan ayahmu yang mengerikan itu."
Gabriel melangkah menuju pintunya, yang berada tepat di sebelah pintu kamar Ezzvaro. Dia berhenti sebentar, memegang gagang pintu, lalu menoleh ke arah Ezzvaro dengan senyum miring yang provokatif.
"Dan satu lagi, Ezzvaro. Karena kita sekarang 'keluarga', tolong hormati privasiku. Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa mengetuk. Aku tidak ingin 'kakak'ku melihat hal-hal yang tidak seharusnya dia lihat. Itu akan sangat... awkward."
BLAM!
Gabriel masuk ke kamarnya dan membanting pintu tepat di depan wajah Ezzvaro. Suara dentuman pintu itu bergema di lorong yang sunyi, seperti suara palu hakim yang menjatuhkan vonis hukuman mati bagi ketenangan pikiran Ezzvaro.
Di luar, hujan London semakin deras, seolah langit ikut menangisi kegilaan yang terjadi di dalam mansion mewah itu. Petir menyambar, menerangi wajah Ezzvaro yang frustrasi selama sepersekian detik.
Pria itu menyandarkan keningnya di pintu kamar Gabriel yang dingin. Ia memejamkan mata, mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, mencoba mengusir bayangan Gabriel yang menari-nari di benaknya. Ia bisa mencium aroma mawar yang samar menembus celah pintu, menyiksanya.
Ia tahu, pernikahan orang tua mereka adalah sebuah konspirasi—sesuatu yang berlebihan, melampaui batas kewarasan, sebuah dosa yang dipaksakan atas nama kasta dan kekuasaan. Fank Manafe dan Renata Batistuta telah menciptakan monster dengan menyatukan mereka di bawah satu atap.
Karena di balik kasta yang sama, status saudara yang baru, dan kepura-puraan dingin di wajah mereka, ada bara obsesi dan luka yang belum sepenuhnya padam. Bara yang kini disiram bensin oleh kedekatan yang dipaksakan ini. Dan di rumah ini, di Mayfair Mansion yang terkutuk ini, api itu bisa meledak kapan saja, membakar habis tidak hanya mereka berdua, tapi seluruh kerajaan Manafe yang diagungkan itu hingga menjadi abu.
Ezzvaro tahu dia harus pergi, tapi kakinya terasa terpaku di depan pintu itu. Dia membenci Gabriel, tapi lebih dari itu, dia membenci fakta bahwa dia masih menginginkan wanita itu, dengan cara yang lebih gelap, lebih berbahaya, dan lebih salah dari sebelumnya.
Perang baru saja dimulai, dan Ezzvaro takut, dialah yang akan kalah pertama kali.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍