Bagaimana rasa nya tak mendapatkan kasih sayang dari orangtua sedari kecil, selalu di bedakan dengan saudari kembar nya yang gemilang namun pada akhir nya ia di paksa menikah sebagai penebusan hutang keluarga nya. Hal menyakitkan itulah yang di rasakan oleh Aira.
×××××××
"Jaminan? Ayah menjualku? Ayah menjual anak kandung Ayah sendiri hanya untuk menutupi hutang-hutang konyol itu?"
"Jangan sebut itu menjual!" teriak Ratna, berdiri dari kursinya.
"Ini adalah pengorbanan! Kau seharusnya bersyukur. Aristhide itu kaya raya, tampan, dan berkuasa. Banyak wanita di luar sana yang rela merangkak hanya untuk mendapatkan perhatiannya. Kau hanya perlu tinggal di sana, melayaninya, dan memastikan dia puas dengan kesepakatan ini."
Penasaran bagaimana perjalanan Aira, baca di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rmauli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan di Atas Takhta
Udara di aula utama kediaman Narendra mendadak terasa dingin dan statis, seolah-olah listrik statis memenuhi ruangan. Pintu besar ganda yang terbuat dari perunggu terbuka perlahan, menampakkan sosok Aristhide Malik yang berjalan pincang dengan langkah yang tetap kokoh. Luka sayatan di dahinya mengalirkan darah segar yang membasahi kemeja putihnya, namun matanya—mata yang biasanya sedingin es itu—kini membara dengan jenis keputusasaan yang mampu meruntuhkan gunung.
Sepuluh pengawal Adipati yang memegang senjata laras pendek mengelilinginya, namun Aristhide tidak menoleh sedikit pun. Fokusnya hanya satu: Aira yang berdiri di samping singgasana Adipati.
"Berhenti di sana, Aristhide," suara Adipati Narendra menggelegar, menggema di langit-langit aula yang tinggi. "Kau sudah cukup lancang menabrak gerbangku. Jika bukan karena rasa hormatku pada mendiang ibumu, kau sudah menjadi mayat di halaman depan."
Aristhide berhenti tepat di tengah aula. Ia menarik napas panjang, menahan rasa sakit di kakinya. "Tuan Adipati, Anda memiliki segalanya. Anda memiliki kekuasaan, kekayaan, dan sekarang Anda memiliki putri Anda kembali. Tapi Anda tidak memiliki hak untuk memutuskan dengan siapa dia harus menghabiskan hidupnya."
"Hak?" Adipati tertawa hambar. "Aku adalah ayahnya. Aku adalah orang yang darahnya mengalir di tubuhnya. Sementara kau? Kau adalah orang yang 'membelinya' dari penculiknya seolah-olah dia adalah barang antik yang bisa kau tawar harganya."
Aira menatap Aristhide. Pria itu tampak begitu hancur secara fisik, namun kehadirannya di sini—di tempat yang paling berbahaya bagi nyawanya—membuktikan satu hal yang tak terbantahkan. Aristhide tidak datang untuk bisnis. Dia datang untuknya.
"Aku membelinya untuk mengeluarkannya dari neraka Bramantyo!" teriak Aristhide, suaranya pecah oleh emosi. "Aku membelinya agar dia punya waktu untuk mengenal siapa dirinya sebelum pria seperti Anda datang dan mengurungnya di neraka yang lebih mewah!"
Aristhide menatap Aira, matanya memohon. "Aira... aku tahu kau membenciku. Aku tahu kau merasa aku memanfaatkanku. Tapi surat Sofia... surat itu benar. Aku ingin kau punya pilihan. Jika kau ingin tinggal di sini, tinggal sebagai putri raja, lakukanlah. Tapi lakukanlah karena kau ingin, bukan karena kau merasa berutang atau karena kau dipaksa."
Aira melangkah maju, melepaskan diri dari bayang-bayang Adipati. Ia berjalan menuruni anak tangga marmer satu per satu, mendekati pria yang telah mengacak-acak hidupnya namun juga memberinya napas baru.
"Kenapa kau datang, Aristhide?" bisik Aira saat mereka hanya berjarak dua meter. "Kau bisa saja pergi ke Singapura, memulai hidup baru dengan uang yang kau dapat dari kehancuran Bramantyo. Kau sudah bebas dari beban Sofia."
"Aku tidak pernah bebas, Aira," Aristhide tersenyum pahit, darah merembes ke sudut bibirnya. "Sejak malam aku melihatmu duduk di sofa kusam itu, menantang maut dengan matamu yang jujur, aku sudah menjadi tawananmu. Aku lebih baik mati di tangan pengawal ayahmu daripada hidup di dunia di mana kau menganggapku sebagai musuhmu."
Adipati memberi isyarat pada pengawalnya. Suara kokangan senjata terdengar serentak. "Aira, kembali ke sini. Pria ini adalah manipulasi berjalan. Dia tahu cara memainkan emosimu."
Aira berhenti. Ia menoleh ke arah Adipati, lalu kembali ke Aristhide. Ia teringat masa kecilnya yang penuh luka, teringat bagaimana Aina selalu dipuja dan ia selalu dibuang. Ia teringat bagaimana Bramantyo menjualnya demi angka di atas kertas. Dan ia teringat bagaimana Aristhide, meski dengan cara yang gelap, adalah orang pertama yang menaruh pedang di tangannya dan berkata: Lawanlah.
"Ayah," kata Aira, memanggil Adipati dengan sebutan itu untuk pertama kalinya. Adipati tampak terenyuh, matanya melembut. "Anda bilang Anda mencintai Ibu. Tapi Ibu lari dari Anda. Kenapa?"
Adipati terdiam, wajahnya mengeras.
"Ibu lari karena Anda tidak memberinya ruang untuk bernapas. Anda mencintainya seperti seorang kolektor mencintai lukisan mahal—disimpan di ruangan terkunci agar tidak pudar," lanjut Aira dengan suara yang semakin kuat. "Aristhide memang melakukan kesalahan. Dia berbohong, dia menggunakan taktik yang kejam. Tapi dia memberiku sesuatu yang tidak pernah Ayah atau Bramantyo berikan: Kebebasan untuk menjadi monster jika aku mau, atau menjadi pahlawan bagi diriku sendiri."
Aira berbalik menghadap Aristhide. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh luka di dahi pria itu dengan jemarinya yang gemetar. "Kau pria yang sangat bodoh, Aristhide Malik. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk seorang wanita yang baru saja kau kecewakan."
"Aku akan melakukannya seribu kali lagi jika itu artinya aku bisa melihatmu menatapku tanpa kebencian," balas Aristhide lirih.
Aira menoleh kembali ke arah Adipati. "Ayah, jika Anda benar-benar ingin menebus dua puluh tahun kepergian Anda, maka biarkan aku membuat pilihanku sendiri. Jangan hancurkan Aristhide. Karena jika Anda menghancurkannya, Anda juga menghancurkan satu-satunya bagian dari hidupku yang terasa nyata."
Adipati Narendra menatap putrinya cukup lama. Ia melihat api yang sama yang pernah ia lihat di mata Sofia—api pemberontakan yang tak bisa dipadamkan oleh emas triliunan rupiah. Ia menghela napas panjang, lalu memberi isyarat agar pengawalnya menurunkan senjata.
"Pergilah," ujar Adipati, suaranya terdengar sangat tua dan lelah. "Bawa dia pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran. Tapi ingat, Aristhide Malik... jika kau membuatnya meneteskan air mata sekali saja karena perbuatanmu, aku akan meratakan gedungmu dengan tanah dalam semalam."
Aristhide tidak menunggu instruksi kedua. Ia meraih tangan Aira, menggenggamnya erat-erat seolah takkan pernah melepaskannya lagi. Mereka berjalan keluar dari istana Narendra, melewati gerbang yang hancur, menuju ke arah matahari terbit yang mulai menyapu kegelapan Jakarta.
Di dalam mobil yang kini dikendarai oleh Yudha, yang sudah menunggu di luar dengan cemas, Aira menyandarkan kepalanya di bahu Aristhide.
"Apa sekarang?" tanya Aira pelan.
Aristhide mencium puncak kepala Aira, menghirup aroma rambutnya yang menenangkan. "Sekarang, kita membangun hidup di mana kau bukan milik siapa-siapa kecuali dirimu sendiri. Tidak ada kontrak, tidak ada jaminan, tidak ada dendam."
"Dan keluarga Bramantyo?"
"Bramantyo dan Ratna akan membusuk di penjara. Aina... dia sudah kehilangan segalanya. Mereka sudah menjadi masa lalu, Aira. Masa depanmu dimulai sekarang."
Aira memejamkan matanya, merasakan kehangatan tangan Aristhide. Perjalanan 40.000 kata hidupnya yang penuh penderitaan telah membawanya pada titik ini. Ia bukan lagi anak yang dijual. Ia adalah wanita yang telah membeli kembali takdirnya dengan keberanian.
Namun, saat mobil melaju menjauh, Aira tidak tahu bahwa di penjara, Bramantyo sedang menerima sebuah surat kaleng. Surat itu berisi koordinat sebuah tempat penyimpanan rahasia yang bahkan Aristhide tidak tahu. Sebuah tempat yang berisi rekaman video asli malam pertukaran bayi itu—video yang menunjukkan bahwa sebenarnya ada satu orang lagi yang berada di sana. Seseorang yang selama ini mereka anggap kawan.