Selama dua tahun, aku membiarkan dia mencintaiku sendirian. Bagiku, dia hanyalah pengisi waktu luang, sosok yang kehadirannya tak pernah sanggup menggetarkan jantungku. Aku membalas ketulusannya dengan pengabaian, pesan-pesan yang tak pernah kubalas, dan penolakan yang tak terhitung jumlahnya. Puncaknya, aku mengkhianatinya tepat di depan matanya hanya untuk sebuah rasa penasaran sesaat.
Aku pergi saat melihatnya bersama wanita lain, mengira satu tahun menghilang bisa menghapus semua dosa. Namun, takdir memiliki cara kejam untuk mengingatkanku. Di sebuah gedung pencakar langit Jakarta, gema masa lalu itu kembali. Pria yang dulu kusia-siakan kini berdiri tepat di hadapanku sebagai rekan kerja. Sialnya, dia bukan lagi pria hangat yang kukenal; dia adalah orang asing yang menatapku tanpa rasa sedikit pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Aku memutar kenop pintu dengan tangan bergetar, berusaha secepat mungkin keluar dari ruangan yang mendadak terasa menyesakkan itu. Namun, tepat saat pintu terbuka, sosok Rasya berdiri di sana. Ia terpaku, tangannya masih menggantung di udara, hendak mengetuk pintu.
Senyum ceria yang biasanya menghiasi wajahnya seketika luntur. Matanya yang jernih menatapku, lalu beralih pada Baskara yang masih duduk kaku di balik mejanya.
"Mbak Aruna?" suaranya mengecil, penuh kebingungan. "Kenapa... mata Mbak merah? Mbak menangis?"
Aku segera menunduk, menyembunyikan wajahku di balik helaian rambut. Gema kepanikan mulai menyerangku. "Ah, tidak, Rasya. Hanya... mataku perih terkena debu saat diskusi tadi. Aku permisi dulu."
"Tapi Bas juga..." Rasya melangkah masuk melewati ambang pintu, menatap kekasihnya dengan cemas. "Bas, kamu kenapa? Ada masalah sama revisinya? Kok suasana di sini tegang banget?"
Baskara berdeham, ia menutup kotak beludru biru itu dengan gerakan cepat dan menyembunyikannya di balik tumpukan berkas. Wajahnya kembali mengeras, mencoba membangun benteng profesionalitas yang baru saja runtuh.
"Hanya diskusi teknis yang sedikit melelahkan, Sya. Aruna masih belum pulih benar dari sakitnya, jadi mungkin dia kelelahan," jawab Baskara dengan nada suara yang dipaksakan stabil.
Rasya menatap kami bergantian dengan keraguan yang sangat nyata. Ia bukan wanita bodoh; ia bisa merasakan ada gema masa lalu yang sangat kuat bergetar di antara kami. Atmosfer di ruangan itu terlalu emosional untuk sekadar diskusi pekerjaan.
"Benar hanya itu?" tanya Rasya pelan, suaranya kini terdengar lebih serius. "Kalian yakin tidak ada hal lain yang aku lewatkan?"
Aku tidak sanggup lagi berada di sana. Penjelasan Baskara tentang status Rasya sebagai sepupunya yang sekarang sudah menjadi kekasihnya membuat rasa bersalahku bertumpuk menjadi gunung yang siap runtuh. Aku telah menghancurkan satu tahun hidupnya hanya karena asumsi bodohku sendiri.
"Maaf, Rasya. Aku harus ke toilet sebentar," ucapku serak, lalu aku melangkah cepat meninggalkan mereka.
Aku bisa merasakan tatapan Baskara mengikutiku, juga tatapan Rasya yang mulai penuh selidik. Di koridor kantor yang dingin, aku menyadari bahwa rahasia ini tidak akan bisa terkubur selamanya. Kebenaran bahwa Rasya adalah sepupunya justru membuat dosaku di masa lalu terasa ribuan kali lebih berat. Aku tidak hanya mengabaikannya, aku telah menghakiminya atas niat baik yang tidak pernah aku hargai.
Aku mengunci pintu bilik toilet dengan tangan yang masih gemetar hebat. Napas berburu, dan air mata yang tadi kutahan di depan Rasya kini tumpah tanpa ampun. Dadaku terasa sesak, seperti dihimpit beton besar. Satu tahun pelarianku ternyata dibangun di atas fondasi kesalahpahaman yang menjijikkan.
Aku merogoh ponsel, menekan nomor Danesha. Hanya dia yang bisa menampung kegilaan yang kurasakan saat ini.
"Dan..." suaraku pecah dalam isak tangis begitu sambungan terhubung.
"Na? Kamu kenapa lagi? Suaramu parah banget," suara Danesha terdengar sangat khawatir dari seberang sana.
"Dia... Rasya itu sepupunya, Dan. Setahun lalu di mall, dia sedang mencari kado untukku. Dia ingin memberiku kalung liontin.." Kalimatku terputus oleh isakan yang semakin dalam. "Aku menghancurkan hidupnya karena asumsi konyolku sendiri. Aku pergi tepat saat dia ingin memberikan hatinya padaku secara utuh."
Hening sejenak di ujung telepon. Aku bisa mendengar helaan napas panjang Danesha yang penuh beban. "Ya Tuhan, Aruna... Jadi selama ini kamu pergi karena itu? Dan sekarang mereka... benar-benar menjalin hubungan?"
"Iya, Dan. Mereka sekarang kekasih. Aku melihatnya sendiri, mereka begitu dekat. Aku merasa seperti monster yang baru saja melihat hasil kerusakannya sendiri."
"Na, dengarkan aku," suara Danesha mengeras, mencoba menenangkan sisi emosionalku yang sudah hancur. "Kamu jangan berlama-lama di toilet. Cuci mukamu, selesaikan sisa jam kerjamu sebisanya. Kita ketemu di kafe biasa jam enam sore ini. Kamu harus menumpahkan semuanya, jangan dipendam sendiri."
"Iya, Dan. Terima kasih," lirihku sambil menyeka air mata dengan tisu yang sudah basah.
Aku mematikan ponsel, menatap pantulan wajahku di cermin toilet yang dingin. Mataku bengkak, hidungku memerah. Gema penyesalan itu kini bukan lagi sekadar suara; ia menjelma menjadi kenyataan pahit bahwa aku telah membuang mutiara demi kerikil. Aku kehilangan pria yang begitu tulus menjagaku, bahkan di saat aku tidak memberinya apa pun selain luka.
Sekarang, aku harus kembali ke meja kerjaku, berpapasan dengan mereka seolah-olah hatiku tidak baru saja hancur berkeping-keping karena kebenaran yang datang terlambat.