Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keluarga Hu
Pagi harinya, sinar matahari mulai menerobos celah tirai jendela kamar VIP. Dokter masuk dengan alat pemeriksaan di tangan, Bai Xuning yang sudah duduk di kursi tunggu sejak malam sebelumnya segera berdiri dengan wajah serius.
"Kita akan melakukan pemeriksaan rutin untuk memastikan kondisinya stabil," ujar dokter sambil menoleh pada Bai Xuning, yang hanya mengangguk perlahan.
Keduanya masuk ke dalam ruangan dan gadis itu sudah bangun dan duduk bersandar ditempat tidur.
Dokter memeriksa denyut nadi, tekanan darah, dan melihat hasil pemindaian kepala Hu Lian."Kondisinya sudah membaik dengan signifikan.Kecelakaan memang menyebabkan trauma kepala yang menghapus sebagian memori masa lalu, namun fungsi otak lainnya dalam kondisi baik. Kita akan melakukan pemeriksaan lanjutan dalam beberapa hari ke depan untuk memastikan tidak ada komplikasi tersembunyi."
Hu Lian hanya terdiam, wajahnya tenang tanpa banyak bereaksi—seolah benar-benar tidak ingat sebagian peristiwa yang lalu.
Bai Xuning mendekat sebentar, melihat wajah gadis itu yang masih sedikit pucat, lalu mengangguk pada dokter. "Terima kasih dokter...."
Setelah dokter keluar dan menutup pintu dengan lembut, terdengar langkah kaki cepat yang semakin dekat. Sebelum Hu Lian bisa berkata apa-apa, pintu kamar terbuka lebar.
Seorang wanita baya dengan rambut hitam yang sedikit beruban memasuki ruangan dengan langkah cepat, diikuti oleh pria tampan berusia hampir lima puluhan dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
Kedua orang itu langsung mendekati ranjang, mata mereka membanjiri air mata.
"Putriku... kamu akhirnya bangun!" ucap ibu Hu dengan suara yang bergetar emosi. Dia mengeluarkan tangan dengan hati-hati, memeluk tubuh kecil Hu Lian dengan lembut, takut menyakiti anaknya.
Ayah Hu berdiri di sisi lain ranjang, tangannya meremas bahu istri dengan erat, matanya juga berkaca-kaca saat melihat wajah putrinya yang sudah bisa membuka mata.
Hu Lian merasa hangatnya pelukan ibu Hu, rasa kasih sayang yang tulus membuat hatinya sedikit terasa sesak.
Meskipun dia bukan Hu Lian asli, dia bisa merasakan betapa dalamnya cinta kedua orang tua ini pada anak mereka.
Dia perlahan mengangkat tangan, memeluk balik ibu Hu dengan lembut. "Ibu... Ayah..." ucapnya dengan suara lembut, mencoba menyesuaikan diri dengan kedekatan yang baru ini.
Ayah Hu menekuk badan, mencium dahi Hu Lian dengan penuh cinta. "Kabar kamu membuat kami sangat khawatir, nak. Bagus kamu bangun."
Bai Xuning berdiri di sudut ruangan, melihat adegan itu dengan wajah yang sulit ditebak emosinya. Dia ingin mendekat, namun seolah ada dinding tak terlihat yang membuatnya tetap berada di tempatnya.
Setelah pelukan hangat itu, Ibu Hu melepaskan pelukannya dan menoleh pada Bai Xuning yang masih berdiri di sudut ruangan. Wajahnya penuh rasa syukur saat dia berdiri perlahan dan memberikan sapuan tangan pada lengan pria itu.
"Terima kasih banyak, Bai Xuning. Kamu sudah menjaga putriku dengan baik sejak kecelakaan terjadi. Kami sangat berterima kasih atas perhatianmu." ucapnya dengan lembut, mata masih sedikit berkaca-kaca.
Bai Xuning mengangguk dengan wajah tenang,meskipun ada sedikit kedalaman yang tersembunyi di dalam matanya. "Tidak apa-apa, bibi. Ini adalah tanggung jawab saya sebagai tunangannya."
Hu Lian meliriknya sekilas.
Ayah Hu yang berdiri dengan tatapan penuh perhatian, kini mendekat dan memberikan sapuan bahu pada Bai Xuning."......Kita akan menjaga Lian mulai sekarang. Kamu sudah cukup lelah di sini semalaman. Silakan kembali saja untuk beristirahat."
Bai Xuning mengangguk setuju. Dia mengalihkan pandangannya ke arah Hu Lian yang sedang duduk di ranjang, matanya mencari sesuatu yang tak jelas.
"Aku akan kembali dulu..." katanya dengan suara rendah.
Hu Lian hanya melihatnya sebentar sebelum mengangguk dengan ringan -wajahnya tenang dan sedikit asing, tak ada lagi ekspresi penuh harapan seperti dulu.
Reaksi yang jauh berbeda dari biasanya membuat Bai Xuning merasa sedikit tidak nyaman di dalam hatinya.
Namun dengan kehadiran orang tua Hu Lian, dia tak bisa bertanya apa-apa. Dengan satu sapuan mata terakhir, dia berbalik dan pergi dari kamar, langkahnya terasa berat dengan pikiran yang semakin rumit.
Setelah mendengar pintu kamar tertutup dan langkah kaki Bai Xuning menghilang di koridor,Hu Lian segera menoleh pada ibunya dengan tatapan tegas. "Bu... aku ingin pulang."
Ibu Hu terkejut sedikit. Dia menyentuh dahinya dengan penuh perhatian dan menggeleng perlahan."......Nak, kamu baru saja sadar setelah koma selama setahun dan baru diperiksa dokter pagi ini. Lebih baik kamu tinggal satu atau dua hari lagi di sini agar dokter bisa terus memantau kondisimu."
Namun Hu Lian menggeleng dengan keras kepala. "Tidak, Bu. Aku ingin pulang kerumah kita. Aku merasa lebih nyaman berada di rumah." Suaranya tetap lembut namun penuh tekad yang tak bisa ditolak.
Ayah Hu yang melihat kondisi putrinya tak ingin membuatnya terbawa emosi yang bisa memperburuk kesehatan.
Dia segera mengangguk. "Baiklah nak, jika itu yang kamu inginkan. Ayah akan mengurus semua prosedur kepulanganmu sekarang juga. Kita punya dokter pribadi yang bisa datang kapan saja, jadi lebih aman kita merawatmu di rumah."
Ibu Hu menghela nafas dan setuju Dengan itu, Ayah Hu berjalan keluar dari kamar untuk menghubungi staf rumah sakit dan mengatur transportasi pulang.
Saat kamar hanya diisi oleh mereka berdua,Ibu Hu yg duduk di tepi ranjang dan erat memegang tangan Hu Lian. Matanya penuh dengan kekhawatiran dan rasa ingin tahu. "Apa yang terjadi antara kalian, nak?"
Hu Lian sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu."Bu... apa maksudmu?"
Ibu Hu menghela napas perlahan. "Aku tahu dokter bilang kamu mengalami amnesia karena cidera kepala. Tapi melihatmu tadi dengan Bai Xuning... kamu tampak mengenalnya, mengenalku dan ayahmu juga. Cuma... sikapmu terhadap dia sangat berbeda dari biasanya. Seperti kamu menjadi orang yang lain........"Ucapnya dengan lembut, tanpa ingin membuat Hu Lian merasa tertekan.
Hu Lian menundukkan kepalanya, jari-jarinya sedikit menggenggam seprai di atas ranjang.
"Maaf Bu..." ucapnya dengan suara lembut,"Sejujurnya aku hanya ingat beberapa hal dari masa lalu—tentang rumah kita, tentang ayah dan Bu... tapi sebagian besar lainnya terasa kabur. Aku bahkan tidak bisa mengingat dengan jelas apakah aku benar-benar memiliki tunangan."
Dia mengangkat wajah, mata penuh dengan ekspresi bingung yang sudah dipersiapkan sebelumnya. "Sikapku pada Bai Xuning tadi memang karena kebingungan... aku merasa tidak mengenalnya dengan baik, padahal dia bilang kita bertunangan."
Ibu Hu melihat wajah putrinya dengan penuh kasih sayang, lalu mengangguk perlahan."Sudahlah kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengingatnya. Cidera kepala memang bisa membuat ingatan seseorang menjadi tidak jelas. Yang penting kamu sekarang baik-baik saja."
Dia memeluk Hu Lian dengan lembut. "Kita tidak akan memaksakan apa-apa padamu, termasuk soal pertunangan itu. Jika kamu merasa tidak nyaman, kita akan mencari cara terbaik untuk menyelesaikannya."
Hu Lian merasa lega mendengar kata-kata itu.
Berbohong pada orang tua yang baik hati ini memang membuatnya merasa sedikit bersalah, tapi dia tahu ini adalah cara termudah untuk memutuskan hubungan dengan Bai Xuning tanpa membuat banyak masalah.
Proses kepulangan berjalan sangat cepat berkat bantuan staf rumah sakit dan pengaturan ayah Hu. Tidak lama setelah pembicaraan mereka selesai, semua dokumen sudah siap dan mobil keluarga Hu sudah menunggu di luar.
Pukul 10 pagi tepatnya, mereka meninggalkan rumah sakit dengan mobil mewah yang mengantar mereka menuju kediaman keluarga Hu yang terletak di pinggir kota—tempat yang luas dengan taman hijau yang rindang dan bangunan bergaya klasik yang megah.
Selama perjalanan pulang, Hu Lian melihat pemandangan kota yang lewat dari jendela mobil.
Dia merenungkan rencana selanjutnya—bagaimana cara menyampaikan keputusan untuk membatalkan pertunangan dan bagaimana membangun kehidupan baru untuk dirinya serta keluarga Hu di dunia ini.
Sementara itu, Bai Xuning yang kembali ke kantor untuk menangani pekerjaan belum mengetahui bahwa Hu Lian sudah pulang dari rumah sakit.
Dia masih sering melihat ke arah ponselnya,merasa ada sesuatu yang tidak nyaman dengan sikap Hu Lian tadi pagi,namun tak punya alasan untuk kembali ke rumah sakit saat itu juga.