Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#14
Sore itu di kantor Moore Designs, suasana begitu kontras dengan ketegangan di rumah Hudson. Rose sedang duduk bersandar mesra di pelukan Nikolai, menghirup aroma kayu cendana dari kemeja pria itu yang selalu menenangkannya. Namun, denting ponsel di atas meja marmer menghancurkan momen kedamaian tersebut.
Sebuah pesan dari Asher muncul di layar: "Rose, Mia mengidam belanja bersama denganmu. Aku dan Mia akan menjemputmu 20 menit lagi, Sayang."
Nikolai, yang matanya setajam elang, membaca pesan itu melewati bahu Rose. Rahangnya mengeras seketika saat melihat kata "Sayang" tertulis di sana. Ia melepaskan pelukannya perlahan, aura dingin yang posesif mulai terpancar.
"Nik? Kau cemburu?" Rose terkekeh, menangkup wajah pria Rusia itu dengan tangannya. "Astaga, Nikolai Volkov yang agung cemburu pada pria seperti Asher?"
Nikolai tidak tertawa. Ia mengambil dompet kulitnya, mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam legam dengan aksen emas—sebuah Black Card tanpa batas yang hanya dimiliki oleh segelintir miliarder di dunia. Ia menyelipkannya di antara jemari Rose.
"Belilah sesukamu, Sayang," bisik Nik, suaranya berat dan penuh penekanan pada kata terakhir. "Tunjukkan pada mereka siapa ratu yang sebenarnya. Jangan biarkan bajingan itu merasa dia masih memilikimu hanya dengan kata Sayang yang murah itu."
Rose tersenyum miring, mengecup bibir Nik dengan kilat. "Makasih, Nik. Aku akan bersenang-senang dengan uangmu."
Dua puluh menit kemudian, mobil Mercedes milik Asher berhenti di depan gedung. Mia keluar dengan perut yang sengaja dibusungkan meski masih rata dan tangan yang terus menggandeng lengan Asher seolah ia akan jatuh jika dilepaskan.
"Rose! Cepatlah, kakiku sudah mulai pegal karena bayi ini ingin jalan-jalan di mall," seru Mia dengan nada memerintah.
Mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan paling mewah di Boston, tempat di mana satu tas tangan bisa seharga mobil kelas menengah. Sepanjang jalan, Mia bertingkah sangat manja. Ia menunjuk sepatu, gaun, dan perhiasan, menuntut Asher untuk membayar semuanya.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, Mia mulai menyadari sesuatu yang membakar hatinya: perhatian Asher terus teralih pada Rose. Asher berkali-kali menawarkan barang pada Rose, mencoba menebus rasa bersalahnya atas kejadian konferensi pers bualan lalu.
"Rose, kau mau tas ini? Aku baru saja menerima bonus dari kantor," tawar Asher sambil menyodorkan sebuah tas tangan desainer.
Wajah Mia memerah padam. Ia menarik lengan Asher dengan kasar. "Asher! Apa-apaan kau? Kau lebih banyak menawarkan barang pada Rose daripada padaku! Aku istrimu yang sedang mengandung anakmu!"
Asher menghela napas lelah. "Kau tahu sendiri, Mia. Rose punya perusahaannya sendiri. Dia mandiri. Aku bahkan memberikan porsi gajiku jauh lebih besar untukmu dan kebutuhan bayimu dibanding untuk Rose. Rose hampir tidak pernah meminta uang dariku."
"Tapi aku tidak percaya!" bentak Mia pelan agar tidak menarik perhatian pengunjung lain. "Meskipun dia punya perusahaan desain kecil itu, lihat apa yang dia pegang sekarang!"
Mia menunjuk ke arah tangan Rose yang sedang memegang sebuah kartu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kartu itu berwarna hitam pekat, tidak memiliki nomor di bagian depan, hanya nama Rose Moore yang terukir elegan.
"Asher, lihat kartu itu! Kau bahkan tidak memilikinya! Bagaimana mungkin wanita mandul ini punya kartu tanpa batas yang hanya dimiliki oleh orang-orang terkaya di dunia?" Mia berbisik dengan nada penuh kebencian dan kecurigaan.
Asher terpaku. Ia menatap kartu di tangan Rose. Sebagai Direktur Pemasaran, ia tahu betul kelas kartu itu. Itu adalah kartu yang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki saldo bank sembilan digit ke atas. Asher sendiri, dengan gaji tingginya, bahkan belum memenuhi syarat untuk menyentuh kartu semacam itu.
"Rose..." Asher mendekat, suaranya bergetar. "Dari mana kau mendapatkan kartu itu? Perusahaanmu... apa perkembangannya sepesat itu?"
Rose menoleh, memberikan senyum paling manis namun paling dingin yang pernah mereka lihat. Ia menyerahkan kartu itu kepada kasir untuk membayar sebuah kalung berlian yang harganya setara dengan rumah mewah di pinggiran kota.
"Oh, ini?" Rose mengangkat bahu dengan santai. "Anggap saja ini hasil dari kerja kerasku dan bantuan dari 'teman lama' yang sangat menghargaiku, Asher. Bukan seperti kau yang menghitung setiap sen gaji untuk menghidupi dua istri."
Mia gemetar karena marah. "Teman lama? Kau pasti menjual dirimu, Rose! Tidak mungkin desainer perhiasan biasa punya akses ke lingkaran elit pemilik kartu ini!"
Rose mendekati Mia, membisikkan sesuatu tepat di telinganya hingga Mia mematung. "Pikirkan saja apa yang kau mau, Mia. Sambil kau menikmati recehan dari gaji Asher, aku akan menikmati dunia yang bahkan tidak bisa kau bayangkan dalam mimpi darah murnimu."
Rose melenggang pergi dengan tas belanjaan mewahnya, meninggalkan Asher yang tercengang dan Mia yang meledak dalam kecemburuan yang buta. Malam itu, di mall mewah Boston, hirarki di antara mereka bergeser. Asher mulai menyadari bahwa Rose Moore yang ia remehkan, kini berada di jangkauan yang tak lagi bisa ia raih.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰