NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pelakor jahat / Hamil di luar nikah
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

"Aku memegang jadwal harian istri sahnya, tapi aku jugalah yang mengisi waktu malam suaminya."

Bagi publik, Mayor Pnb Raka Aditya adalah perwira tanpa celah. Pilot kebanggaan Angkatan Udara, tangan kanan Kolonel Surya, dan suami dari Melani yakni sosok socialite sekaligus pengusaha FnB sukses pemilik jaringan restoran mewah. Namun, di balik seragam dan kemewahan itu, ada rahasia yang tak boleh terdeteksi radar.

Bela, sang Asisten Pribadi kepercayaan Melani, terjebak dalam pengkhianatan paling berbahaya.

Setiap hari, Bela menemani pertemuan bisnis Melani bahkan menjadi saksi diam saat bosnya itu menjalin cinta terlarang di sela-sela kesibukan mengelola gurita bisnisnya. Bela bungkam bukan karena setia, melainkan karena ia menyimpan dosa yang sama besarnya: Bela adalah kekasih gelap Raka, suami bosnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Ruang Tunggu

Tubuh Bela tidak lagi memberi isyarat halus.

Beberapa hari terakhir terasa seperti berjalan di dalam kabut yang terlalu dekat. Pagi-pagi ia bangun dengan kepala ringan dan perut yang menegang tanpa sebab yang jelas. Bau sabun mandi terasa terlalu tajam. Bunyi sendok mengenai piring membuat dadanya mengencang. Ia belajar mengatur napas sambil berdiri diam di depan wastafel, menunggu gelombang mual itu lewat seperti tamu yang tidak diundang.

Ia tetap berangkat kerja. Ia tetap naik bus. Ia tetap berdiri di antara rak arsip yang sunyi.

Semua dilakukan dengan satu tujuan sederhana yaitu menunda.

Menunda pengakuan. Menunda keputusan. Menunda satu kata yang sejak lama berputar di kepalanya, tapi selalu ia singkirkan sebelum sempat berbunyi.

Di ruang arsip, Bela bergerak lebih lambat dari biasanya. Tangannya masih sigap mencatat, menyusun, mengembalikan map ke tempat semula. Namun setiap beberapa menit, ia berhenti bukan karena lupa, melainkan karena tubuhnya memintanya berhenti.

Ia menutup mata sejenak.

Bernapas.

Melanjutkan lagi.

Tidak ada yang salah secara kasat mata. Justru itu yang membuatnya semakin tertekan. Tidak ada luka, tidak ada demam, tidak ada alasan konkret untuk menyerah pada rasa tidak enak ini. Yang ada hanyalah tubuh yang berubah, dan ketakutan yang tumbuh tanpa suara.

Pada hari ketiga, Bela menyadari satu hal yang tidak bisa lagi ia abaikan. Ini bukan sekadar masuk angin. Dan ini bukan sesuatu yang akan hilang dengan tidur lebih lama.

Pagi itu, ia tidak langsung ke kampus.

Ia berdiri lama di depan pintu rumah, tas di tangan, napasnya pendek. Rumah besar itu masih sama—terlalu luas, terlalu rapi, terlalu sunyi. Ia merasa kecil di dalamnya, seperti penghuni sementara yang hanya singgah untuk tidur.

Akhirnya, ia memutar arah.

Klinik itu tidak besar. Terletak di antara deretan ruko, tanpa papan nama mencolok. Di ruang tunggunya, pendingin udara terasa terlalu dingin. Kursi-kursi plastik disusun berjajar, menghadap tembok putih dengan poster kesehatan yang warnanya sudah mulai pudar.

Bela duduk sendiri.

Tidak ada yang mengenalnya di sana. Tidak ada yang tahu siapa ibunya, siapa ayahnya, atau berita apa yang sedang beredar tentang keluarganya. Ia hanyalah satu nama di kartu pendaftaran, satu tubuh yang menunggu dipanggil. Tangannya menggenggam tas terlalu erat. Setiap pertanyaan di formulir terasa seperti jebakan kecil.

Siklus tubuh.

Keluhan utama.

Riwayat kesehatan.

Ia mengisi seperlunya. Mengosongkan yang bisa dikosongkan.

Ketika namanya dipanggil, jantungnya berdegup lebih cepat dari yang seharusnya. Dokter itu seorang perempuan, usianya sekitar empat puluhan. Wajahnya tenang, suaranya datar dengan nada profesional yang tidak memberi ruang untuk bersembunyi terlalu lama.

“Apa keluhannya?” tanyanya.

Bela membuka mulut. Menutupnya lagi.“Mual,” katanya akhirnya. “Sering.”

“Sejak kapan?”

“Beberapa minggu.”

Dokter itu mengangguk, mencatat. “Ada nyeri?”

“Tidak.”

“Pusing?”

“Kadang.”

Pertanyaan-pertanyaan itu sederhana, tapi setiap jawaban terasa seperti menarik benang yang tidak ingin Bela lihat ujungnya. Ia duduk tegak, menatap satu titik di meja, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.

Dokter itu berhenti menulis.

“Apakah ada perubahan lain yang kamu rasakan?” tanyanya pelan.

Bela tahu pertanyaan itu tidak meminta rincian. Ia meminta kejujuran.

Ada satu kata yang berusaha naik ke permukaan pikirannya. Satu kemungkinan yang sejak awal ia dorong menjauh. Bela menelan ludah.

“Tidak tahu,” jawabnya akhirnya.

Dokter itu menatap Bela, lama. Tidak menghakimi, tidak memaksa. Tapi cukup lama untuk membuat Bela merasa terbaca.

"Bagaimana dengan siklus bulananmu? Apakah ada keterlambatan belakangan ini?"

Pertanyaan itu menghantam Bela seperti godam besar yang menghancurkan benteng pertahanan terakhirnya. Ia membeku. Pikirannya meluncur secara traumatis pada malam jahanam di sebuah mansion. Ia ingat betul noda merah yang ia lihat di atas sprei putih pagi harinya yaitu darah keperawanan yang tumpah secara brutal dalam sebuah penaklukan tanpa nama. Sejak malam itu, ia tidak pernah lagi melihat warna merah di selangkangannya.

"Dua bulan," bisik Bela, suaranya bergetar hingga ia harus menggigit bibir bawahnya agar isaknya tidak pecah. "Sudah dua bulan saya tidak dapat, Dok."

Keheningan di ruangan itu terasa semakin mencekam, hanya suara putaran jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim di ruang sidang. Dokter itu tidak langsung memvonis. Ia meraih sebuah kotak plastik kecil dari laci mejanya—sebuah testpack—dan menyodorkannya ke arah Bela dengan gerakan yang pelan namun pasti.

“Saya sarankan kamu tes.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Bela tidak langsung menjawab.

Ia mengangguk kecil—gerakan refleks yang tidak berarti setuju, tidak juga menolak. Dokter itu tidak mendesaknya. Ia hanya menuliskan sesuatu di kertas resep, lalu menyerahkannya.

“Dipikirkan dulu,” katanya. “Kalau sudah siap, baru dicoba”

Bela keluar dari ruangan itu dengan langkah yang lebih ringan, sekaligus lebih berat. Tidak ada kepastian. Tidak ada vonis. Tapi justru itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Ia kembali ke kampus.

Ia bekerja.

Seharian penuh.

Bela memaksa dirinya menjalani jam kerja seperti biasa. Ia menyelesaikan tugas-tugasnya dengan ketelitian yang hampir berlebihan seolah kerapian dokumen bisa menenangkan kekacauan di dalam tubuhnya sendiri.

Beberapa kali ia ke toilet, duduk diam di bilik sempit, menunggu mual itu reda. Ia tidak muntah. Tubuhnya seolah sengaja menahannya, seperti ingin berkata "aku belum selesai bicara".

Menjelang sore, kelelahan itu menumpuk. Bukan jenis lelah yang membuat ingin tidur, melainkan lelah yang membuat ingin berhenti berpura-pura.

Ketika ruangan mulai lengang dan suara langkah kaki berkurang, Bela berdiri dari kursinya. Ia merapikan meja, menyelipkan buku catatan ke dalam tas, lalu berjalan ke ruang kepala unit. Langkahnya terasa berat bukan karena lelah fisik semata, melainkan karena keputusan kecil yang sudah terlalu lama ia tunda.

Ia mengetuk.

“Masuk.”

Dr. Maya Kusuma wardani masih di balik meja kerjanya. Jasnya sudah dilepas, digantung di sandaran kursi. Kacamata itu kembali bertengger rendah di hidung tanda bahwa hari juga belum sepenuhnya selesai untuknya.

“Kamu belum pulang?” tanyanya.

“Belum, Bu,” jawab Bela. “Saya mau izin cuti besok.”

Dr. Maya menatap Bela, lebih lama dari pagi tadi. Kali ini tidak ada basa-basi.

“Kamu bertahan seharian begini?” tanyanya pelan.

Bela mengangguk. Tenggorokannya terasa kering.

“Ada yang bisa saya bantu?” lanjut perempuan itu.

Pertanyaan itu sederhana, tapi Bela tidak menjawabnya. Ia tahu, apa pun yang ia ucapkan akan membuka pintu yang belum siap ia lewati.

“Satu hari saja,” katanya akhirnya. “Saya butuh istirahat.”

Dr. Maya menghela napas pendek, lalu berdiri mengambil formulir cuti.

“Dengan kondisi keluargamu sekarang,” katanya hati-hati, “saya tidak heran kalau kamu kelelahan".

Bela menunduk. Lagi-lagi asumsi itu datang. Tentang berita, tentang perceraian, tentang sorotan publik. Dan lagi-lagi ia membiarkannya berdiri.

“Iya, Bu,” jawab bela singkat.

“Ambil waktu,” kata Dr. Maya sambil menyerahkan formulir yang sudah ditandatangani. “Besok kamu tidak perlu ke sini. Kalau masih belum siap, kabari saya.”

“Terima kasih.”

Suara itu keluar hampir berbisik.

1
Siti Amalia
mending bela sama putra
Suciyay
bela terlalu naif
Suciyay
anehhh...
Margareth Anastasia
hahahahahaha😭
Margareth Anastasia
merinding 🥶😵🤣
Fiola
saya suka cerita nya semangat Yaa author,☺
Fiola
sempat2nyaa 😭
Fiola
lbh suka putra plissss lbh sopnnnn
Fiola
ganteng😍
Fhahira
nexttt👍
Fhahira
novel terrr🥵🥵🥵
Nayla Atika
semangat thorr....🤗
Nayla Atika
the real badjingan 😤🙄
Nayla Atika
itu lu tau
Nayla Atika
cegillll😭
Lusiana Dewi
siapa yg GK luluh liat visual raka... saya suka visualnya 😁
Lusiana Dewi
visual Raka gntng abiezzz
Rini Antariksa
Kasian banget bela
Bintang
waduh melani selingkuh,,, raka selingkuh,, anaknya bela ternyata anaknya rakaa 😂🤭
Ruqayyah
Raka jadinya pilih siapa ya?? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!