Beberapa tahun lalu, berbagai celah ruang-waktu bermunculan, dan Blue Star pun memasuki era supranatural. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membangkitkan “panel permainan”.
Lu Heng secara tak terduga membangkitkan kelas Summoner. Namun, makhluk-makhluk panggilannya tampaknya… agak tidak biasa.
……
【Si Bulat Daging】: Sebagai keturunan Dewa Jahat, setiap kali ia dimakan, ia justru menjadi semakin kuat. Ia juga mampu membuat musuh terjerumus ke dalam kekacauan persepsi.
【Anjing Mesum】: Sebagai kaki tangan yang setia, ia dapat berpindah tempat secara instan dan menampar orang, bahkan memutus semua skill lawan.
【Prajurit Medis】: Memiliki kemampuan menukar kondisi luka, dan juga bisa diam-diam mencuri organ milik orang lain.
【Zirah Keadilan】: Makhluk simbiotik yang dipenuhi energi positif. Bukan hanya memiliki daya tempur yang sangat tinggi, ia juga dapat berdiri di puncak moral untuk mengecam musuh, membuat lawan…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Back Dragon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Keadilan Mungkin Datang Terlambat, Tapi Tak Pernah Absen
Lu Heng tertegun selama dua detik.
Transfernya bahkan nominalnya sampai ke angka receh—sepertinya seluruh saldo dikirim semua.
Dia lembur tiap malam, uang jajannya cuma segitu saja sudah menyedihkan, eh istrinya malah selingkuh tiap hari?!
Lu Heng sampai tak kuasa menundukkan kepala, mengheningkan cipta untuk pria itu. Lalu ia membalas pesan:
【Tenang, bro! Pintu ini bakal gue hadang rapat-rapat buat lo!】
Diam-diam ia menekan tombol konfirmasi penerimaan uang, lalu berkata, “Dik, ada kerjaan! Malam ini kita bisa makan!”
Lu Xiaoke melihat pesan itu sambil tersenyum lebar. “Pantas saja! Ternyata markasnya dijebol orang.”
“Terima uang orang, ya harus selesaikan urusannya!” Lu Heng tak banyak omong, langsung berdiri dan berjalan keluar. “Ayo, kita hadang pintunya! Beres kerja, kita makan enak!”
“Asyik! Malam ini nggak perlu kelaparan!” Lu Xiaoke juga berdiri dengan semangat.
Kakak-beradik itu segera keluar dan langsung menuju pintu kamar nomor 114.
Setelah memastikan suara memang berasal dari dalam, Lu Heng buru-buru berkata:
“Sofa! Seret sofa jelek kita keluar!”
“Lemarinya juga! Harus kita blokir!”
“Oh, oke!”
Dengan tangan dan kaki kalang kabut, mereka berdua mengangkat sofa dan lemari dari dalam rumah, lalu meletakkannya tepat di depan pintu kamar 114.
“Semua siap! Tinggal tunggu pemilik rumahnya pulang,” ujar Lu Heng dengan wajah puas.
Lu Xiaoke mulai membayangkan hidangan lezat malam nanti.
Orang-orang di dalam jelas belum menyadari keanehan di luar. Suara-suara memalukan itu masih terus terdengar.
Dua puluh menit kemudian, suara di dalam akhirnya mereda.
Suara pria berat terdengar dari dalam, “Aku turun beli beberapa botol air, nanti kita lanjut.”
“Iyaaa~” jawab suara wanita genit dengan nada memanjang.
Tatapan Lu Heng langsung tajam. Dengan suara rendah ia berkata, “Dik, siap-siap. Mereka mau keluar.”
Ia berdiri mantap, kedua kaki tertanam kuat di lantai, kedua tangan menahan lemari di depan pintu.
Tatapan Lu Xiaoke juga berubah serius. Ia menatap pintu erat-erat. “Tenang, Kak. Atribut kekuatanku sekarang 18 poin. Setara dua pria dewasa. Pasti bisa nahan!”
“Klik…”
Gagang pintu di dalam diputar, terdengar bunyi tajam.
Namun saat orang di dalam mencoba mendorong pintu, pintu itu tak bergerak sama sekali.
“Ada apa ini?” suara pria itu terdengar bingung. Ia mendorong beberapa kali, tapi tertahan kuat tanpa bergeser sedikit pun.
Ia mendekat ke lubang intip, menempelkan satu mata. Baru saat itu ia melihat kegelapan di luar, tertutup sofa tua dan lemari sederhana.
“Anjir! Gawat! Kita diblokir!” teriaknya panik.
Dua suara pria lain terdengar dari dalam, penuh keterkejutan dan kepanikan:
“Apa?!”
“Jangan-jangan ketahuan?!”
Mendengar itu, wajah Lu Heng berubah drastis. “Dik, kok kayaknya ada tiga pria di dalam?!”
Siang bolong selingkuh saja sudah parah, ini malah mainnya sampai begini?!
Lu Heng tiba-tiba merasa makin kasihan pada pemilik rumah itu.
“Ya ampun! Istri orang ini benar-benar nggak tahu malu!” Lu Xiaoke ikut terkejut.
Pria di dalam berteriak, “Tabrak! Kita dorong bareng-bareng!”
Begitu selesai bicara—
Tiga pria di dalam langsung mengerahkan tenaga, wajah mereka memerah saat menghantam pintu dengan brutal.
“Duk! Duk! Duk!”
Pintu terus bergetar keras.
Di luar, kaki Lu Heng tertancap kuat, kedua tangannya menahan sofa, urat-urat di lengannya menonjol. “Ayo, Dik! Demi tiga ratus yuan, kita gas!”
“Yah! Demi bebek panggang malam ini!” Lu Xiaoke juga mengerahkan seluruh tenaganya menahan lemari.
Benturan demi benturan membuat papan pintu berderit kesakitan, plester dinding di sekitar kusen pun mulai rontok.
Kekuatan fisik Lu Xiaoke memang luar biasa. Dengan 18 poin kekuatan, ia bersama Lu Heng berhasil menahan serangan tiga pria besar itu.
“Sial! Ada orang di luar!” teriak seseorang dari dalam.
“Siapa?! Siapa di luar sana!” teriak yang lain dengan marah dan gelisah.
Dengan suara lantang penuh kebenaran, Lu Heng berteriak, “Nggak usah peduli siapa gue! Perbuatan kotor kalian sudah diketahui pemilik rumah! Dia sebentar lagi datang buat menghukum kalian!”
“Adik, dari suaramu kamu masih muda. Urusan orang dewasa kamu nggak ngerti. Cepat lepaskan kami!” teriak pria itu lagi, nada suaranya mulai cemas.
“Omong kosong! Gue sudah kuliah, jangan anggap gue bocah tiga tahun!” Lu Heng mendengus dingin.
Melepaskan kalian? Mustahil!
Gue sudah terima uang. Tahu nggak apa itu profesionalisme?!
Tiba-tiba suara lembut wanita itu terdengar, “Adik kecil, aku tahu kamu siapa. Kamu anak miskin sebelah, kan?”
“Lepaskan kami, aku kasih kamu tiga ribu.”
“….”
Begitu mendengar itu, Lu Heng dan Lu Xiaoke seolah terkena jurus pembekuan. Mereka saling pandang.
Di mata mereka terpancar cahaya ketertarikan.
“Bang, mereka kasih tiga ribu. Cukup buat kamu kerja sebulan pasang baut,” bisik Lu Xiaoke penuh harap.
“Kamu benar.” Lu Heng mengangguk bersemangat, lalu berteriak ke dalam, “Terus uangnya gimana?”
Kini di matanya hanya ada hasrat pada uang.
Ragu satu detik saja adalah bentuk tidak hormat pada uang kertas.
“Aku sudah kirim permintaan pertemanan,” suara wanita itu kembali terdengar, agak manja.
Lu Heng cepat-cepat melihat ponselnya. Benar saja, akun asing mengirim permintaan teman. Begitu diterima, notifikasi transfer muncul—tiga ribu penuh!
“Hehe… tiga ribu.” Lu Heng dengan senang hati menekan konfirmasi penerimaan. “Oke, kalian pergi saja. Gue nggak ikut campur lagi.”
Kakak-beradik itu mundur beberapa langkah.
Orang-orang di dalam tampaknya menyadari perubahan itu. Dengan satu hantaman keras, pintu terbuka, sofa di depan pun terdorong kasar, menimbulkan suara gesekan nyaring.
Tiga pria bertubuh kekar berhamburan keluar. Dua di antaranya bahkan belum sempat merapikan celana.
“Cepat lari!!”
Mereka berteriak sambil kabur panik ke arah tangga.
Seorang wanita muda yang sudah berstatus istri ikut keluar dengan wajah panik. Riasannya yang tadinya rapi kini tampak berantakan.
Lu Heng memandang punggung mereka yang melarikan diri, lalu diam-diam membuka ponsel dan mengirim pesan pada pemilik rumah.
Lu Heng: 【Transfer 384 yuan, menunggu diterima】
Lu Heng: 【Maaf, bro. Lawannya tiga pria besar, kami benar-benar nggak sanggup. Uang ini nggak bisa gue ambil.】
Pemilik 114: 【Apa? Tiga pria besar?!】
Pemilik 114: 【Bro, aku tahu adikmu itu manusia super. Mana mungkin nggak sanggup? Jujur saja, mereka kasih kamu uang, kan?】
Tatapan Lu Heng agak canggung, tapi ia tetap membalas:
【Iya, mereka kasih tiga ribu.】
Pemilik 114 cepat menjawab:
【Aku masih bisa ambil pinjaman! Aku kirim lima ribu! Tolong tangkap mereka! Aku sebentar lagi sampai rumah!】
【Transfer 5.000 yuan, menunggu diterima.】
Begitu menerima pesan itu, tatapan Lu Heng langsung berubah tajam dan serius.
“Keadilan mungkin datang terlambat, tapi tidak akan pernah absen!”
Melihat para pria itu baru saja turun tangga, Lu Heng berteriak keras ke arah mereka:
“Jangan lari!”
Bersambung.