NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 Disuruh Beli Lagi

Aku baru duduk sekitar lima menit. Itu pun sambil nunduk, ngeliatin lantai aula yang kelihatan kotor padahal baru disapu. Kaki pegal. Pinggang panas. Kepala penuh suara orang ngomel, ketawa, geser kursi, dan bunyi plastik. Rasanya kayak habis lari tapi nggak pernah nyampe garis finish.

“Naya.” Suara Rara muncul dari arah pintu. Nggak keras, tapi cukup bikin aku otomatis nengok. Refleks yang kebiasaan. Dia berdiri sambil pegang kertas. Kertas yang sama yang dari tadi bolak-balik dia lihat. Ekspresinya datar. Tapi matanya cepat, kayak lagi nyari kesalahan. “Ini kurang,” katanya. Aku berdiri. Pelan. Badan agak goyah dikit karena baru duduk. “Kurang apa?” Rara nunjuk daftar. Ujung pulpennya nekan kertas agak keras. “Snack tamu. Air mineral kecil. Sama plastik bening buat bagi-bagi.” Aku baca ulang. Dalam hati. Satu-satu. Nama barang yang kemarin sudah aku pastikan ada. “Itu udah dibeli,” jawabku. “Di gudang belakang. ”Rara geleng. Cepat. “Nggak cukup.” Aku pengin nanya: nggak cukup menurut siapa? Tapi kalimat itu mentok di tenggorokan. Aku lihat sekeliling. Beberapa anak lagi ngangkat dus. Ada yang lagi bercanda. Ada yang sibuk sendiri. Nggak ada yang benar-benar denger percakapan kami, tapi cukup dekat buat bikin suasana jadi nggak enak.

“Kurangnya berapa?” tanyaku akhirnya.Rara ngelirik jam. “Pokoknya kurang. Tamu nanti banyak.” Nada suaranya datar, tapi cara ngomongnya bikin aku ngerasa kayak orang yang jelas-jelas salah. Padahal aku yakin daftar itu aku pegang sendiri dari awal. Aku narik napas. Panjang. Bukan karena mau sabar. Lebih ke karena capek. “Oke,” kataku. “Aku beli lagi.”

Rara langsung angguk. Nggak ada terima kasih. Nggak ada diskusi. Dia balik badan dan jalan ke arah Bu Santi yang lagi duduk di depan aula. Aku berdiri sebentar. Ngerasa bodoh. Tapi juga ngerasa sudah biasa. Tara datang dari samping. Dari tadi dia ngelap meja. Keringat di dahinya kelihatan. “Kita disuruh beli lagi?” tanyanya pelan. Aku angguk. “Padahal tadi kamu bilang udah lengkap.”

“Udah,” jawabku. “Tapi katanya kurang.” Tara diem. Bibirnya ditekan. “Yaudah. Aku ikut.” Kami ambil tas. Aku cek dompet. Masih ada. Uang yang tadi aku sisihin khusus buat jaga-jaga. Aku nggak bilang ke Tara kalau itu uang pribadi, bukan uang kas. Nggak penting juga. Kami keluar dari area sekolah. Matahari masih tinggi, tapi panasnya kayak nggak mau kompromi. Aspal di depan gerbang kelihatan berkilat. “Kita ke mana dulu?” Tara nanya. “Minimarket dulu,” jawabku. “Air mineral kecil paling gampang.” Kami jalan kaki. Motor ada, tapi capek rasanya harus naik-turun lagi. Lagian jaraknya nggak jauh. Atau setidaknya itu yang aku pikir. Di jalan, Tara sempat ngomel kecil. “Kenapa sih nggak dicek dulu di belakang?” Aku senyum tipis. “Entah.” Kami sampai di minimarket pertama. Rak air mineral kecil tinggal sedikit. Aku hitung cepat. Nggak cukup. “Kita pindah,” kataku. Tara cuma angguk.

Minimarket kedua lebih rame. Antrian panjang. Aku ambil plastik bening. Ambil snack sesuai yang di daftar. Aku perhatiin harga. Otakku kerja setengah mati antara ngitung, nginget, sama nahan emosi. Saat bayar, aku keluarin uang sendiri. Tara lihat, tapi nggak komentar. “Totalnya segini,” kata kasir. Aku bayar. Uang di dompet berkurang cukup banyak. Aku catat di kertas kecil. Kebiasaan lama. Keluar minimarket, kami duduk sebentar di pinggir. Plastik belanjaan banyak. Tangan pegal.

“Kita langsung balik?” Tara nanya.

“Airnya masih kurang,” jawabku.

“Kita cari lagi.”

Kami muter. Jalan makin panas. Sepatu terasa berat. Keringat turun ke leher. Aku mulai kesel, tapi nggak tahu harus marah ke siapa. Di minimarket ketiga, airnya ada. Aku ambil secukupnya. Tara bantu bawain. Waktu bayar, dompetku mulai terasa tipis. Aku cek cepat. Masih aman, tapi mepet. “Kamu yakin ini nanti diganti?” Tara nanya, agak ragu.

Aku angkat bahu. “Harusnya.” Jawaban yang nggak meyakinkan. Bahkan buat diriku sendiri. Kami balik ke sekolah. Jalan rasanya lebih jauh dari pas berangkat. Bahu sakit. Tangan pegal. Plastik nyentuh betis tiap langkah. Begitu masuk gerbang, aku lihat Rara lagi berdiri di depan aula. Ngobrol sama beberapa orang. Ketawa kecil. Santai. Kami taruh belanjaan di meja. Aku susun rapi. Air di satu sisi. Snack di sisi lain. Plastik bening aku taruh paling atas.

Rara nengok. “Ini semua?”

“Iya,” jawabku. Dia lihat sekilas. Nggak lama. “Oke.”

Cuma itu. Aku nunggu komentar lain. Apa pun. Tapi nggak ada. Aku duduk di kursi. Badan langsung lunglai. Tara duduk di sebelahku. “Kita lama ya,” katanya pelan.Aku ketawa kecil. Kering. “Iya.”

Beberapa menit kemudian, Rara ngomong ke anak-anak lain. Suaranya cukup keras buat kedengeran. “Nanti yang snack tamu jangan sampai kurang lagi, ya. Tadi sempat kurang.” Aku pura-pura nggak dengar. Tapi kata tadi sempat kurang itu nempel di kepala. Tara nengok aku. Matanya nggak enak. Aku cuma geleng pelan. Nandain supaya nggak usah dibahas. Dalam hati, ada rasa greget yang nggak bisa keluar. Kayak ditahan di dada. Mau marah tapi capek. Mau jelasin tapi rasanya percuma. Aku berdiri lagi. Ambil tugas lain. Apa aja asal gerak. Nyapu. Angkat kursi. Nata meja. Apa pun. Yang penting jangan diem. Karena kalau diem, pikiranku keburu kemana-mana.

Sore makin turun. Suasana aula makin rame. Aku terus gerak, tapi rasanya nggak kelihatan. Kayak transparan. Beberapa kali aku lihat Rara. Dia sibuk. Ngatur. Ngomong. Orang-orang dengerin dia. Nggak salah. Dia ketua. Aku ngerti itu. Tapi di kepala, ada satu kalimat muter terus: kalau kurang, salahku. Kalau cukup, yaudah. Menjelang magrib, kakiku mulai gemetar. Aku duduk lagi. Tara nyodorin minum. “Minum dulu,” katanya.

Aku terima. “Makasih.” Kami minum sambil diem. Capeknya beda. Bukan cuma fisik. “Na,” Tara manggil pelan. “Kamu nggak apa-apa?” Aku pengin jawab nggak. Tapi mulutku bilang, “Capek aja.”

 Tara nggak maksa. Di kejauhan, Rara lagi ngomel soal waktu. Soal persiapan. Soal yang belum beres. Aku dengar setengah-setengah. Aku ngerasa kecil. Padahal dari pagi aku nggak berhenti.

Malamnya, pas aula mulai sepi, aku baru sadar satu hal: aku bahkan belum makan dari siang. Tapi entah kenapa, nggak lapar. Cuma kosong.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!