Bagas adalah remaja yang baru saja meletakkan toganya. Ia membawa beban berat di pundak: impian untuk mengangkat derajat orang tuanya yang hidup pas-pasan. Namun, dunia kerja tidak semanis janji-janji di brosur sekolah. Bagas harus berhadapan dengan HRD yang minta pengalaman kerja "minimal 5 tahun" untuk posisi pemula, hingga kenyataan pahit bahwa "surat sakti" dari orang dalam lebih kuat dari nilai raport-nya.
Perjalanannya adalah roller coaster emosi. Dari tempat kerja pertama yang toxic abis hingga gajinya habis cuma buat bayar parkir dan makan siang, sampai pekerjaan dengan lingkungan malaikat tapi gaji "sedekah". Puncaknya, ia harus bertahan di bawah tekanan bos yang emosinya lebih labil daripada harga cabai di pasar. Ini adalah cerita tentang jatuh, bangun, lari, dan akhirnya menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kursi Empuk Di atas Lumpur
Ini akan menjadi babak baru di mana Bagas harus keluar dari zona nyaman logistik dan masuk ke arena "permainan orang dewasa" yang jauh lebih licin , birokrasi dan politik.
Setelah badai fitnah yayasan mereda, nama Bagas Pratama tidak lagi sekadar menjadi buah bibir di kalangan buruh pelabuhan, melainkan merayap naik ke telinga para penguasa di Jakarta. Suatu sore, sebuah mobil plat hitam dengan kode khusus berhenti di depan rumah baru Bagas. Seorang pria bersafari rapi turun dan menyerahkan sebuah undangan berlapis emas Undangan Diskusi Terbatas di kantor Kementrian Koordinator Bidang Ekonomi .
"Gas, kamu mau jadi pejabat?" tanya Bapak sambil memandangi undangan mewah itu dengan dahi berkerut. "Ingat ya kursi pejabat itu biasanya kakinya cuma tiga. Kalau nggak kuat imannya, gampang guling."
Bagas tersenyum menenangkan. "Hanya diskusi, Pak. Mereka ingin tahu cara saya membenahi sistem logistik di Dubai untuk diterapkan di pelabuhan-pelabuhan kita."
Namun, begitu Bagas melangkah masuk ke ruang pertemuan di lantai atas gedung kementerian, jantungnya seolah dihantam martil. Di sana, duduk melingkar para petinggi, dan di kursi tengah sebagai pimpinan rapat adalah Bapak Darwin Adi Wangsa .
Bagas tidak akan pernah lupa wajah itu. Darwin adalah ayah dari "si anak batik" di Bab 2, orang yang dulu membuat Bagas merasa sampah karena tidak memiliki "jalur orang dalam". Darwin kini menjabat sebagai Direktur Strategis di kementerian tersebut, seorang pemain lama yang memiliki jaringan bisnis gurita di seluruh pelabuhan Indonesia.
"Ah, ini dia bintang kita," ujar Darwin dengan senyum yang sangat terlatih, seolah ia tidak pernah menjadi orang yang secara tidak langsung menolak Bagas dulu. "Bagas Pratama. Selamat atas kesuksesanmu di Dubai. Kami butuh anak muda 'berprestasi' seperti kamu untuk menjadi Staf Ahli Khusus di sini."
Pertemuan itu terasa sangat formal, namun bagi Bagas, setiap kata yang keluar dari mulut Darwin terasa seperti jaring yang sedang ditebar. Darwin menawarkannya posisi strategis untuk mengawasi modernisasi pelabuhan nasional. Sebuah posisi yang akan memberi Bagas kekuasaan untuk menentukan vendor, mengatur regulasi, dan tentu saja, akses ke anggaran triliunan rupiah.
"Bagas, kita butuh orang yang paham lapangan tapi punya koneksi internasional," lanjut Darwin sambil menepuk pundak Bagas saat rapat berakhir. "Mari kita buat pelabuhan kita sehebat Jebel Ali. Tentu saja, dengan sedikit 'penyesuaian' agar pengusaha lokal kita tetap bisa bernapas."
Bagas pulang dengan perasaan tidak enak. "Penyesuaian" adalah kata halus untuk korupsi. Darwin tidak sedang mencari ahli, dia sedang mencari "stempel" muda yang harum namanya untuk melegalkan praktik-praktik lamanya yang busuk.
Malam itu, Bagas sulit memejamkan mata. Ia berdiri di balkon rumahnya di Jakarta, menatap jalanan yang macet. Di satu sisi, posisi Staf Ahli ini adalah puncak karir yang luar biasa. Ia bisa mengubah sistem dari dalam. Ia bisa membantu ribuan anak SMK melalui kebijakan negara. Tapi di sisi lain, ia tahu Darwin adalah serigala berbulu domba.
Ia teringat kembali pada hari di mana ia ditolak di PT. Sumber Makmur Sejahtera. Ia teringat bagaimana anak Darwin bisa masuk dengan tertawa-tawa sementara ia harus menghitung receh untuk ongkos pulang.
"Kenapa, Gas? Kok belum tidur?" Ibu muncul membawakan segelas susu hangat.
"Bu... orang yang dulu bikin Bagas sedih karena nggak punya orang dalam, sekarang malah nawarin Bagas jadi orang dalam," cerita Bagas pelan.
Ibu duduk di sampingnya. "Gas, orang dalam itu nggak selamanya buruk kalau orangnya benar. Tapi kalau kamu masuk ke kolam lumpur hanya karena pengen punya kursi empuk, nanti baju kamu yang putih itu ikut kotor. Kamu lebih suka jadi orang besar yang ditakuti karena jabatannya, atau tetap jadi Bagas yang bisa tidur nyenyak karena nggak punya rahasia busuk?"
Kalimat Ibu adalah kompas bagi Bagas. Keesokan harinya, Bagas kembali ke kantor kementerian. Ia tidak membawa surat lamaran, melainkan sebuah dokumen "Analisis Transparansi Logistik" yang ia susun sendiri.
Di depan Darwin dan timnya, Bagas mempresentasikan visinya. Ia mengusulkan sistem digitalisasi pelabuhan yang terintegrasi penuh, di mana setiap transaksi bisa dipantau publik secara real- time. Sistem yang akan menutup semua celah suap, pungli, dan "uang pelicin" yang selama ini menjadi sumber kekayaan Darwin.
Wajah Darwin yang tadinya ramah, perlahan berubah menjadi kaku. Senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan dingin yang tajam.
"Bagas, kamu masih muda. Kamu terlalu idealis. Dunia politik dan birokrasi tidak bekerja dengan cara 'robot' seperti itu. Kamu harus mengerti sisi kemanusiaan... Dan sisi bisnisnya," ujar Darwin dengan nada mengancam yang terselubung.
"Maaf, Pak Darwin," jawab Bagas dengan suara yang sangat tenang. "Saya belajar di Dubai bahwa teknologi tidak punya sisi kemanusiaan yang bisa disogok. Jika Bapak ingin saya menjadi Staf Ahli hanya untuk menjadi tameng bagi sistem yang lama, saya mohon maaf. Saya lebih memilih kembali ke gudang daripada duduk di kantor ini sambil mengkhianati ijazah saya sendiri."
Bagas berdiri, merapikan jasnya, dan keluar dari ruangan itu dengan kepala tegak. Ia tahu, dengan melakukan ini, ia baru saja menabuh genderang perang dengan salah satu orang paling kuat di negeri ini. Darwin tidak akan tinggal diam.
Benar saja, hanya dalam hitungan jam setelah ia menolak posisi itu, akun media sosial yayasannya kembali diserang. Kali ini bukan soal pencucian uang, tapi soal tuduhan bahwa Bagas adalah "agen asing" yang ingin merusak ekonomi nasional dengan sistem digitalnya.
Bagas menarik napas panjang saat membaca berita-berita miring itu di ponselnya. Ia teringat Bapaknya yang sedang mengelas di teras.
"Selamat datang di babak baru, Bagas," bisiknya pada diri sendiri. "Kemarin lawan bos naga di Dubai, sekarang lawan naga beneran di negeri sendiri. Mari kita lihat, siapa yang punya napas lebih panjang."
Pertarungan antara idealisme anak muda dan kelicikan pemain lama akan memuncak.
Darwin menggunakan kekuasaannya untuk memutus semua kontrak kerjasama perusahaan logistik Bagas di Indonesia. Bagas terancam kehilangan segalanya. Namun, ia justru mendapatkan bantuan dari sekutu lama yang tak terduga Pak Baron, yang ternyata memiliki "kartu mati" tentang skandal masa lalu Darwin!.