Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 : Dunia Revan
Amel naik ke atas boncengan Revan. Motor sport itu melaju perlahan setelah Amel duduk aman diboncengan itu.
Amel memegang sisi jaket Revan saat motor itu melaju, berulang kali Amel melorot ke depan karena kondisi boncengan motor itu yang melorot ke depan itu menbuat dada Amel seringkali menabrak punggung Revan.
"Pelan-pelan, Van!" Amel memukul punggung Revan karena kecepatan motor itu semakin cepat lajunya.
Revan menatap Amel dari kaca spionnya. Dari balik kaca helm full facenya senyum Revan mengembang sempurna melihat wajah
Amel yang cantik dan menggemaskan itu.
Revan sengaja menaikan kecepatan motornya, Amel tergagap, serta merta tangan Amel memegang pinggang Revan dengan erat.
Tangan kiri Revan menarik tangan Amel dan melingkarkan ke pinggangnya. "Pegangan, takut lo jatuh!" perintah Revan sambil kepalanya menengok untuk menatap Amel.
Amel memeluk pinggang itu, ingin menariknya tapi kecepatan motor itu semakin menggila.
Akhirnya Amel bisa bernafas lega saat motor itu berhenti di depan sebuah ruko empat lantai.
Sebelum turun Amel memukul punggung itu dengan gemas. "Nggak bisa dikencengin lagi tuh laju motor!" omel Amel sambil menyerahkan helmnya kepada Revan.
"Marah aja sama si sporti, gue kan cuman nunggangin dia!" sahut Revan sambik terkekeh.
"Kalau lo puter gasnya nggak kenceng-kenceng juga tuh Sporti nggak lari sekenceng itu! Ngeselin banget emang!" maki Amel tapi tetap meminta punggung tangan Revan untuk dia cium. Tapi setelahnya Amel langsung membalik badannya dan pergi dari depan Revan. Kesel dia hahaha.
Revan menatap gadis berstatus istri itu sampai tubuhnya menghilang ke dalam gedung itu.
Setelah memastikan Amel masuk ke tempat itu, Revan pun melanjutkan perjalanan menuju ke kedap kopinya.
Revan memarkir motornya di tempat parkir lalu melangkah memasuki kedai tersebut.
"Pagi, Boss!" sapa Wawan ramah.
Revan menyunggingkan senyum tipisnya yang benar-benar tipis, kalau orang yang belum mengenalnya dengan baik pasti akan mengira Revan sombong, tapi kenyataannya memang Revan seminim itu ekspresinya.
Revan melanjutkan langkahnya ke bagian belakang gedung itu dan mendapati Abel sudah berada di tempat itu sambil serius menatap layar laptop.
"Ngapain lo, Bel?" tanya Revan penasaran.
"Tunggu, tinggal selangkah lagi gue menang!" Abel bergumam dengan keras membuat Revan menggeleng pelan.
"Ashu! Gara-gara lo gue kalah!" makin Abel sambil bahunya melorot pasrah.
"Kok gue? Gue nggak ngapa-ngapain, Taik!" balas Revan tak terima.
Abel terkekeh pelan melihat Revan meradang. "Padahal tinggal selangkah lagi gue menang lima juta!" ucap Abel masih belum ikhlas dia dikalahkan oleh lawannya dalam permainan game online barusan.
"Nggak bagus itu, mending lo ngerjain proyek yang baru masuk kemarin, duitnya lebih gede dari uang lima juta lo itu!" ucap Revan mulai mengetak-ngetik laptopnya.
"Pembayaran dari Pak Attar udah masuk kan, Van?" tanya Abel mulai fokus pada pekerjaannya.
"Gue belum sempet cek rekening koran, Eza yang udah tapi dia nggak kasih info apa-apa!" jawab Abel.
"Maklumin aja, dia lagi sibuk banget ngurusin warung, ini aja belum nemu karyawan yang bakalan kita rekrut untuk warung kita!" ucap Revan.
"Untung yang ngurusin warung si Eza, meskipun dia itu emosian, tapi dibanding gue sih kerjaannya dia lebih mumpuni!" Abel pun tertawa saat mengingat bentukan Eza yang emosian itu tapi juga perfect dalam urusan pekerjaannya.
Revan dan Abel tenggelam dalam.pekerjaannya selama dua jam lamanya, konsentrasi keduanya terpecahkan oleh notifikasi pesan masuk ke ponsel Revan.
"Gue cabut dulu, Bel! Mau jemput Amel dulu!" pamit Revan sambil mematikan laptopnya.
Abel mengangguk dan membiarkan Revan pergi dari hadapannya.
Tak sampai satu jam Revan kembali ke tempat itu dengan Amel yang membuntuti di belakang Revan.
"Woiiii, kakak sepupu gue!" sapa Abel dengan senyum sumringah.
Amel tersenyum lebar sampai gigi putihnya yang berjejer rapi itu terlihat oleh Revan, Abel dan Eza.
Senyum manis di wajah yang cantik itu tak hanya menghipnotis Revan tapi juga Eza.
"Mata lo kedip kalau lihat cewek cantik! Mau dicungkil sama lakinya kalau lo natapnya kayak begitu tadi!" tegur Abel sambil menggeplak kepala Eza dengan gemas.
"Bajingann! Otak gue geser, woiiiii!" maki Eza sambil mengusap kepala bagian belakangnya yang panas.
Amel tertawa melihat keriuhan di tempat itu, terbiasa kemana-mana dan curhat hanya berdua dengan Sasi membuat Amel jadi tertawa dan terhibur.
"Jadi disini kamu program komputernya?" tanya Amel sambil memindai ruangan kecil yang tak terlalu banyak peralatan komputer untuk para programmer seperti yang Amel bayangkan.
Abel dan Eza berbicara lewat tatapan mata mereka. Bukan hanya Amel tapi seluruh teman mereka tahunya bahwa Revan, Abel dan Eza adalah programmer komputer.
Mereka tak ada yang tahu bahwa pekerjaan ketiganya itu pekerjaan yang mengandung resiko karena menjadi hacker.
"Perusahaan apa aja yang masuk ke kalian?" tanya Amel penuh rasa penasaran.
"Eh Mel, kata Sasi kemarin Doni sama Nita nyamperin lo lagi ya?" tanya Abel membelokkan pembicaraan mereka.
Amel melirik Abel dengan gelisah, dia belum atau lebih tepatnya tak ingin membagi cerita itu kepada Revan.
"Ngapain mereka nemuin lo lagi?" tanya Revan dengan tatapan dingin.
"Um, itu, mereka, um..." Amel kesulitan menjawab pertanyaan Revan.
"Itu tanda merah di pipi kamu siapa yang ngelakuinnya?" tanya Revan semakin emosi sampai rahangnya mengeras.
"Iya eh gue baru ngeh ada tanda merah di pipi lo." Abel ikut mengomentari bekas tamparan Nita yang masih membekas di sana meskipun samar.
"Ini, Nita yang ngelakuinnya. Maaf gue nggak cerita karena gue nggak mau lo keseret masalah ini!" Amel menunduk karena nyalinya menciut ditatap seperti itu.
Eza mengkode Abel agar meninggalkan Revan dan Amel biar keduanya menyelesaikan masalah mereka.
Abel keluar disusul oleh Eza. "Eh, Bel, lo mau kemana?" tanya Amel mencoba menahan Abel agar tak meninggalkan dirinya berduaan sama Revan.
Saat di ruangan itu bersisa dirinya dan Revan, tak ada alasan lain selain Amel menceritakan kronologis kejadian yang berakhir dengan adanya tamparan di wajah Amel.
Revan mengeratkan jari jemarinya dengan emosi yang coba dia tahan. "Maaf gue nggak cerita!"
"Gue rasa gue harus melakukan sesuatu agar mereka nggak ngeganggu lo lagi!" putus Revan akhirnya.
"Lo mau ngelakuin apa?" tanya Amel panik.
"Lo nggak usah dan nggak.perlu tahu! Besok-besok lagi kalau ketemu mereka lagi lawan jangan mau dipecundangi seperti itu!" omel Revan lalu mendekat sambil membawa cream untuk menghilangkan memar di kulit.
Revan mengoleskan cream itu dengan lembut. Amel menatap Revan yang tampak serius dan hati-hati mengoles wajah putihnya.
Jantung Amel yang awalnya masih baik-baik saja itu, sekarang berdetak dengan irama yang tak biasa.
"Jantung lo kenapa?" tanya Revan.