NovelToon NovelToon
Aku, Kamu, Dan Takdir

Aku, Kamu, Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Kisah cinta masa kecil / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Persahabatan / Berbaikan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita Karimah

Aldivano Athariz, pewaris keluarga religius yang memandang cinta sebagai ibadah, memilih jalan serius sejak awal hidupnya. Didikan orang tua yang tegas menjadikannya lelaki sholeh yang tak pernah melangkah tanpa niat dan tanggung jawab—termasuk saat takdir mempertemukannya kembali dengan Celine Chadia Cendana.
Di balik popularitasnya sebagai selebgram muda dengan jutaan pengikut, Celine menyimpan sisi liar yang tak banyak diketahui: balap motor dan kebebasan yang berseberangan dengan citra putri keluarga terpandang. Pertemuan mereka di arena balap menjadi awal dari rangkaian rahasia besar—sebuah pernikahan yang telah terjadi, namun disembunyikan dari Celine atas kesepakatan orang tua.
Saat kebenaran terungkap di tengah fase terpenting hidupnya, Celine merasa dikhianati dan memilih menjauh. Antara luka, kepercayaan, dan ikatan suci yang terlanjur terjalin, Aldivano dan Celine diuji oleh takdir.

Instagram: @itsmeita.aa_
Visualnya di ig author yaa🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita Karimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 Lulus

Doa adalah sayap yang tak terlihat, namun mampu mengangkat hati setinggi langit harapan.

—Reina Athariz—

Pagi itu, langit tampak lebih cerah dari biasanya. Cahaya matahari menyelinap perlahan melalui sela-sela jendela kamar Celine, seperti jemari lembut yang membangunkannya dari tidur panjang. Udara terasa lebih sejuk, seolah alam pun ikut menenangkan degup jantung yang sejak semalam tak benar-benar terlelap dalam damai.

Hari itu adalah hari yang telah ia nantikan sekaligus ia takutkan. Hari sidang skripsi.

Celine duduk di tepi ranjang, menatap lembaran naskah skripsinya yang telah ia jilid rapi. Warna sampulnya tampak sederhana, tetapi baginya, itu lebih berharga daripada permata. Setiap halaman di dalamnya menyimpan cerita—tentang lelah yang ditahan, tentang tangis yang disembunyikan, tentang doa-doa yang dilangitkan saat sepertiga malam.

Ia mengusap sampul itu perlahan, seperti seseorang yang menyentuh luka lama dengan penuh kasih.

“Bismillah…” lirihnya.

Suara itu pelan, namun mengandung keyakinan yang menguat seperti akar pohon tua yang mencengkeram tanah dengan kokoh. Ia tahu, semua ini bukan hanya tentang kecerdasan. Ini tentang izin Allah. Tentang doa orang tua. Tentang usaha yang tak pernah berhenti meski sering ingin menyerah.

Beberapa bulan sebelumnya, skripsi itu bukanlah sesuatu yang mudah. Topik yang ia pilih sesuai dengan jurusannya menuntut penelitian yang mendalam, observasi yang panjang, serta analisis yang tak bisa dilakukan dengan setengah hati. Ia pernah duduk berjam-jam di perpustakaan, ditemani sunyi yang pekat seperti malam tanpa bulan.

Ada hari-hari di mana ia merasa pikirannya buntu, seperti jalan yang tiba-tiba terhalang tembok tinggi. Ada malam-malam di mana air matanya jatuh tanpa suara, seperti hujan tipis yang turun diam-diam di tengah gelap.

Namun di setiap rapuhnya, ia selalu kembali pada sajadahnya.

Di atas sajadah itu, ia menjadi kecil. Kecil seperti debu di hadapan Sang Pencipta. Ia mengadu, memohon, memohon dengan hati yang gemetar.

“Ya Allah, jika ini baik untukku, mudahkanlah. Jika Engkau tahu aku mampu, kuatkanlah…”

Doanya meluncur pelan, namun terasa hangat seperti pelukan yang menenangkan.

Kini, pagi itu, semua perjuangan itu bermuara pada satu ruangan bernama ruang sidang.

Langkah Celine menuju kampus terasa berbeda. Setiap langkahnya seperti detak jam yang menghitung mundur. Gedung fakultas berdiri megah di hadapannya, namun hari itu tampak seperti gerbang besar yang akan menguji keberaniannya.

Di depan pintu ruang sidang, ia melihat dua sahabatnya: Alya dan Nadhifa.

Alya melambaikan tangan dengan senyum lebar.

“Cel! Tenang, kamu pasti bisa!”

Nadhifa mendekat, memegang kedua tangan Celine. “Kita sudah lihat kamu berjuang. Sidang ini cuma formalitas. Insya Allah lancar.”

Celine tersenyum, meski jantungnya berdebar seperti burung kecil yang terkurung di dalam sangkar.

“Doain ya…”

“Selalu,” jawab mereka hampir bersamaan.

Pintu ruang sidang terbuka.

Nama Celine dipanggil.

Dan seketika, dunia di luar pintu itu terasa menghilang.

Ruangan itu terasa dingin. Meja panjang dengan tiga dosen penguji duduk rapi di seberangnya. Wajah-wajah mereka tampak serius, seperti hakim yang bersiap menilai kebenaran sebuah perkara.

Celine duduk, menata napasnya. Tangannya sedikit bergetar, namun ia menggenggamnya kuat-kuat di atas meja. Dalam hatinya, ia membaca doa pendek yang ia hafal sejak kecil.

Slide pertama muncul di layar.

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” suaranya terdengar lebih stabil dari yang ia bayangkan. “Perkenalkan, saya Celine Chadia Cendana…”

Ia mulai mempresentasikan hasil penelitiannya. Setiap kalimat ia susun dengan hati-hati, seperti merangkai benang menjadi kain yang utuh. Ia menjelaskan latar belakang, rumusan masalah, metode penelitian, hingga hasil dan kesimpulan.

Semakin lama, rasa takut itu perlahan mencair seperti es yang terkena hangatnya matahari. Kata-kata mengalir lebih lancar. Ia tak lagi melihat dosen sebagai sosok yang menakutkan, melainkan sebagai pembimbing yang ingin memastikan ia benar-benar memahami apa yang ia tulis.

Namun ujian sesungguhnya datang saat sesi tanya jawab dimulai.

Dosen pertama menatapnya tajam.

“Saudari Celine, mengapa Anda memilih metode ini dibandingkan metode lain yang lebih umum digunakan?”

Pertanyaan itu terasa seperti anak panah yang melesat cepat. Namun Celine menarik napas.

“Terima kasih atas pertanyaannya, Pak,” jawabnya pelan namun mantap. “Saya memilih metode ini karena…”

Ia menjelaskan dengan runtut. Setiap alasan ia sampaikan dengan logika yang jelas, didukung data dan referensi. Dosen itu mengangguk pelan.

Pertanyaan kedua datang dari dosen perempuan berkacamata.

“Bagaimana Anda memastikan validitas data penelitian Anda?”

Sekali lagi, Celine menjawab. Ia teringat malam-malam panjang saat ia mengecek ulang data, memeriksa kembali tabel dan analisisnya. Semua itu kini menjadi bekal.

Pertanyaan demi pertanyaan datang seperti ombak yang silih berganti. Ada yang tajam, ada yang menjebak, ada yang menguji detail kecil yang nyaris terlewat.

Namun setiap kali ia merasa hampir goyah, ia mengingat satu hal: ini bukan hanya tentang dirinya.

Ini tentang doa mommynya yang tak pernah putus. Tentang daddynya yang diam-diam bangun lebih awal untuk mendoakannya. Tentang sahabat-sahabatnya yang menunggu di luar.

Dan di atas segalanya, tentang Allah yang Maha Mengatur segalanya.

Jawabannya mengalir semakin lancar. Hatinya terasa ringan, seperti burung yang akhirnya menemukan arah terbangnya.

Waktu terasa berjalan lambat, seperti pasir yang jatuh satu per satu dari celah jam pasir. Hingga akhirnya, ketua penguji menutup mapnya.

“Baik, Saudari Celine. Silakan menunggu di luar sebentar.”

Kalimat itu membuat jantungnya kembali berdetak kencang.

Ia keluar ruangan dengan langkah yang terasa ringan sekaligus lemas. Di depan pintu, Alya langsung memeluknya.

“Gimana?!” tanya Alya dengan mata berbinar.

Celine tersenyum lebar, namun air matanya sudah menggenang.

“Alhamdulillah… bisa jawab…”

Nadhifa ikut memeluknya. “Masya Allah! Aku bilang juga apa!”

Namun keputusan belum diumumkan. Mereka masih menunggu.

Menunggu terasa seperti berdiri di tepi jurang, tak tahu apa yang ada di bawah sana. Celine menunduk, beristighfar dalam hati.

Tak lama kemudian, namanya kembali dipanggil.

Ia masuk lagi, kali ini dengan napas yang lebih tenang.

Ketua penguji tersenyum tipis.

“Setelah mempertimbangkan hasil presentasi dan jawaban Anda, kami memutuskan bahwa Anda dinyatakan… lulus, lebih cepat dari yang seharusnya. Serta menyandang gelar—Summa Cum Laude”

Kalimat itu terdengar seperti gemuruh petir yang berubah menjadi hujan rahmat. Sejenak, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar.

“Alhamdulillah…” lirihnya, hampir tak terdengar.

Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Bukan air mata sedih, melainkan air mata syukur. Seperti embun pagi yang menetes pelan di ujung daun.

Ia menyalami para dosen dengan tangan yang gemetar.

“Terima kasih, Pak… Bu… atas bimbingannya.”

Begitu pintu terbuka, sahabat-sahabatnya sudah berdiri dengan senyum lebar. Tiba-tiba, suara teriakan kecil memenuhi lorong.

“Selamat, Sarjanaaaa!”

"Finally... Sarjana!

"Barakallahu fiik, Cel!"

Balon kecil dan buket bunga muncul dari belakang. Alya menyerahkan buket itu sambil tertawa.

Celine tertawa di antara tangisnya. Ia merasa seperti seseorang yang baru saja keluar dari lorong panjang dan akhirnya melihat cahaya.

Pelukan mereka terasa hangat seperti selimut di tengah dingin. Tawa mereka pecah seperti kembang api kecil yang merayakan kemenangan.

Di tengah keramaian kecil itu, Celine menengadah sebentar.

“Ya Allah… terima kasih.”

Hatinya terasa penuh, seperti bejana yang diisi air hingga hampir meluap.

Malamnya, ia duduk kembali di kamarnya. Skripsi itu kini terasa berbeda. Bukan lagi beban, melainkan saksi perjuangan.

Ia merenung.

Perjalanan ini mengajarkannya banyak hal.

Bahwa kesulitan itu nyata, namun pertolongan Allah lebih nyata lagi.

Bahwa rasa takut itu wajar, namun keyakinan harus lebih besar.

Bahwa usaha tanpa doa adalah sombong, dan doa tanpa usaha adalah sia-sia.

Ia teringat hari-hari saat ia hampir menyerah. Jika saat itu ia benar-benar berhenti, mungkin hari ini tak akan pernah ia rasakan.

Hidup memang seperti mendaki gunung. Nafas terengah, kaki terasa berat, dan puncak tampak jauh. Namun setiap langkah kecil, jika dilakukan dengan sabar dan doa, akan membawa kita lebih dekat pada tujuan.

Celine tersenyum.

Sidang skripsi itu bukan hanya tentang gelar. Bukan hanya tentang nilai.

Itu tentang pembuktian bahwa ia mampu. Tentang kepercayaan bahwa Allah tak pernah meninggalkan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh.

Dan di luar sana, mungkin masih banyak ujian lain yang menunggu. Dunia kerja, kehidupan, bahkan mungkin cinta dan takdir yang telah disiapkan untuknya.

Namun hari itu, ia belajar satu hal yang tak akan pernah ia lupakan:

Bahwa setiap perjuangan yang disertai doa akan berakhir indah, seperti fajar yang selalu datang setelah malam paling gelap.

Dan malam itu, sebelum tidur, ia kembali berdoa.

Bukan lagi meminta kelulusan.

Melainkan memohon agar ia tetap rendah hati, tetap bersyukur, dan tetap bergantung hanya pada-Nya.

Karena ia tahu, perjalanan belum selesai.

Ia baru saja melangkah ke babak baru kehidupannya.

Seperti matahari yang terus terbit setiap pagi, harapannya pun tak akan pernah padam.

Dan di hatinya, keyakinan itu tumbuh, pelan namun pasti—

seperti benih kecil yang kelak akan menjadi pohon rindang, menaungi banyak cerita di masa depan.

1
Nita
Aku terlalu takut untuk mendekat..dan aku terlalu takut untuk menjauh...karena ak jgu Diam-diam mencintaimu..
aku mencintaimu dalam Diam..Bukan karena aku pengecut..Karena aku sedang memantaskan diri agar sebanding denganmu...
dan percayalah Aku sangat mencintaimu...
Nita Karimah: wahhh... siapa nih??
total 1 replies
Ai_Li
Saya mampir kak
Ai_Li: Mampir juga ya kak🥰
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!