Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Denyut nyeri
Prang!
Pandangannya turun tanpa ekspresi apapun. Hanya datar dan terlihat sayu saja. Seperti orang tanpa minat. Kella menghela nafasnya. Ia menunduk guna menjumput wadah alat tulisnya berbahan besi yang jatuh karena sentakan dari Murid baru itu. Gala.
Tangan rampingnya terulur namun saat hampir menyentuh benda besi itu, sebuah kaki bersepatu mengkilap menginjak benda itu dan ujung sepatu mengenai ujung jemarinya.
Kella menahan suara yang akan keluar. Ia mengatupkan bibirnya.
"Hahaha betul kata kalian, nih orang enak di kerjain! Hahaha,"
Kella menahan luapan emosi. Matanya berpaling dan tak sengaja melihat sepasang mata mengintip di jendela belakang kelas. Itu Hani temannya, kelas samping. Ada guratan kesal dari Hani yang Kella tangkap namun ia tahu Hani orang yang penakut.
Kella mengangguk kecil untuk mengabari jika dirinya baik-baik saja.
Satu alisnya terangkat lalu menoleh dan Gala menemukan spesies Kella yang baru. Sudut bibirnya tertarik. " Oh itu temennya ya?"
Kella tersentak lalu mendongak.
Hani disana memalingkan muka dan pura-pura tidak menyadari. Karena kedipan mata dari kella ia terpaksa pergi meninggalkan kelasnya.
"Gue penasaran," tiba-tiba saja ia berfikiran seperti itu. Gala berjongkok lalu tangannya terulur dan menarik dagu Kella agar kepalanya tegap dan wajahnya menghadap dirinya. Ia terkekeh kecil melihat ekspresi Kella. " Gue penasaran, dari yang gue denger, Lo nggak pernah membalas pembuli. Kenapa? aa... Atau Lo psikopat yang lagi nyusun strategi untuk pembuli?" Ucapnya remeh.
Kella tetap mempertahankan tatapan datar khasnya. Tidak ada ekspresi apapun.
Melihat itu Gala merasa ditantang. Seorang gala diginiin? Apasih namanya? Ia terkekeh. Lalu mendekat dan hanya beberapa inci saja dari wajah Kella.
Aroma minyak telon bayi beradu dengan wangi sabun mandi yang murah namun segar menyergap indra penciuman Gala. Ia tertegun sejenak. Di dunia Gala yang dipenuhi parfum maskulin mahal dan aroma ruangan ber-AC, wangi Kella terasa sangat asing sekaligus akrab.
Gala mengerutkan kening, tidak menjauhkan wajahnya. "Kenapa lo diem aja? Bisu? Atau lo emang nggak punya harga diri sampai diinjek-injek gini pun nggak berontak?"
Kella masih tidak bergeming. Cengkeraman tangan Gala pada dagunya cukup kuat, tapi rasa sakit di jemarinya yang terhimpit sepatu Gala jauh lebih nyata. Kella bisa merasakan denyut nyeri di ujung jarinya, namun ia justru memanfaatkannya sebagai jangkar agar tetap sadar dan tidak tenggelam dalam tatapan Gala yang begitu mirip dengan Gabriel.
"Lepas," ucap Kella lirih. Suaranya serak, hampir tidak terdengar di tengah riuhnya tawa siswa lain di pojok kelas yang sedang menonton tontonan gratis ini.
"Apa? Gue nggak denger. Coba ngomong yang jelas," tantang Gala dengan seringai nakal. Ia sengaja sedikit menekan jemari Kella dengan ujung sepatunya, ingin melihat apakah gadis ini akhirnya akan menangis atau berteriak.
Kella memejamkan mata. Satu... dua... tiga... ia menghitung dalam hati, sebuah teknik meditasi yang dulu sering diajarkan Gabriel saat Kella sedang merasa cemas. Namun, ingatan itu justru menjadi bumerang. Bayangan Gabriel yang sedang tersenyum sambil mengusap kepalanya muncul sekilas.
"Gala, lo apain sih anak orang?" Seorang siswa bernama Reno, salah satu pengikut baru Gala, mendekat sambil tertawa. "Dia mah emang gitu, Gal. Mau lo apain juga cuma bakal dapet muka tembok."
Gala melepaskan dagu Kella dengan kasar, membuat kepala gadis itu sedikit tersentak ke samping. Ia berdiri dan menjauhkan kakinya dari tempat pensil Kella. "Gue cuma mau ngetes. Ternyata beneran 'kosong'. Kayak boneka rusak."
Kella segera meraih tempat pensilnya yang kini sedikit penyok. Ia tidak peduli pada hinaan "boneka rusak" itu. Baginya, kata-kata hanyalah angin lewat. Ia memasukkan pulpen-pulpennya satu per satu dengan tangan yang sedikit gemetar. Hatinya jauh lebih sakit daripada jemarinya yang mulai membiru. Kenapa takdir harus mengirimkan seseorang dengan wajah yang sama namun jiwa yang begitu bertolak belakang?
"Woy, denger nggak?" Gala menendang kaki meja Kella hingga bergeser.
Kella mendongak pelan. "Y-ya?"
Gala terdiam. Jawaban singkat itu bukan jawaban yang ia harapkan. Ia ingin Kella marah, menangis, atau setidaknya memohon. Tatapan datar Kella justru membuatnya merasa dialah yang sedang dipermainkan. "Pulang sekolah. Tunggu gue di parkiran."
"A-aku ke-kerja," jawab Kella terbata dan singkat tanpa melihat ke arah Gala. Ia sibuk merapikan bukunya karena bel masuk jam pelajaran berikutnya sudah berbunyi.
"Kerja?" Gala tertawa remeh, diikuti oleh teman-temannya. "Anak SMA kelas dua kerja apaan? Jadi tukang cuci piring? Atau mungutin sampah?"
Kella tidak menjawab. Ia hanya duduk tegak, menatap ke papan tulis yang masih bersih, menunggu guru masuk.
Pengabaian total dari Kella membuat raut wajah Gala berubah menjadi sedikit gelap. Ia tidak terbiasa diabaikan. Namun sebelum ia sempat membalas, Bu Ida, guru Matematika yang terkenal galak, melangkah masuk ke kelas.
...
Sepanjang pelajaran, Kella tidak bisa fokus. Pikirannya melayang pada kejadian di lapangan tadi dan interaksinya dengan Gala. Setiap kali ia melirik ke arah depan—tempat Gala kini duduk santai di meja baru yang dibawakan Pak Bon—ia merasa dadanya sesak.
Gabriel nggak pernah kasar... Gabriel selalu minta maaf kalau nggak sengaja nyenggol... batin Kella.
Jam pelajaran terasa berjalan sangat lambat. Setiap detakan jarum jam dinding seolah mengejek Kella yang sedang terjebak dalam nostalgia pahit. Saat bel pulang akhirnya berbunyi, Kella adalah orang pertama yang merapikan tas. Ia harus segera pergi. Shift-nya di kafe dimulai pukul 5 sore, dan ia harus naik bus dua kali untuk sampai ke sana.
"Kella!"
Suara Hani memanggilnya di depan pintu kelas. Gadis bertubuh mungil itu tampak cemas, jari-jarinya bertaut gelisah. "Maaf ya tadi aku pergi... aku takut banget sama Murid baru itu. Dia serem, Kel."
Kella tersenyum tipis, jenis senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. "Nggak apa-apa, Han. Memang lebih baik kamu nggak terlibat. Aku duluan ya, udah telat."
"Mau aku temenin ke depan? Aku bawa motor, yuk aku anter ke halte depan," tawar Hani.
Kella menggeleng. "Nggak usah, nanti kamu malah kena masalah kalau mereka lihat kita bareng. Makasih ya."
Kella berjalan cepat menyusuri koridor. Ia berusaha menghindari area parkir utama, mengambil jalan memutar lewat gerbang samping yang biasanya hanya dilewati petugas kebersihan. Namun, nasib baik nampaknya sedang tidak berpihak padanya.
Di dekat gerbang samping, sebuah motor sport berwarna hitam mengkilap sudah terparkir melintang, menghalangi jalan. Sang pengendara, yang masih mengenakan seragam batik sekolah namun dengan jaket kulit hitam, sedang asyik memainkan ponselnya.
Gala.
"Lama banget lo. Katanya mau kerja?" Gala menyimpan ponselnya ke dalam saku jaket dan membuka kaca helmnya.
Kella berhenti beberapa langkah di depan motor itu. "Gimana kamu tahu aku lewat sini?"
Gala turun dari motor, langkahnya terasa mengintimidasi. "Sekolah ini punya Bokap gue, Kella. Gue bisa tahu apa aja yang gue mau dalam lima menit. Termasuk fakta kalau lo suka ngumpet lewat sini."
Kella menghela nafas panjang. "Gala, tolong. Aku harus kerja. Aku butuh u-uang."
Mendengar kata "uang", Gala teringat kejadian mie goreng tadi siang. Ada secuil rasa aneh yang lewat di hatinya—mungkin rasa bersalah—tapi ego laki-laki itu terlalu besar untuk mengakuinya.
"Naik," perintah Gala sambil menyodorkan helm cadangan.
"Nggak mau."
"Gue nggak suka ditolak. Naik, atau gue ikutin lo sampai tempat kerja lo dan gue bikin keributan di sana. Pilih mana?"
Kella menatap mata Gala. Di sana, ia mencari sisa-sisa kelembutan Gabriel, tapi tidak ada. Yang ada hanyalah ambisi dan kekuasaan. Kella tahu Gala tidak main-main dengan ancamannya. Jika ia membuat keributan di kafe, Kella bisa dipecat. Dan jika ia dipecat, ia tidak akan bisa membayar uang sewa kontrakan bulan depan.
Dengan berat hati dan tangan yang masih terasa berdenyut, Kella menerima helm itu.
...
Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Kella duduk di ujung jok motor, memberikan jarak sejauh mungkin dari punggung Gala. Angin sore menerpa wajahnya, menerbangkan poni panjangnya yang kini tidak lagi menutupi mata.
Gala sesekali melirik dari spion. Ia memperhatikan wajah Kella yang terpantul di sana. Kenapa dia bisa sedatar itu? Apa dia beneran nggak punya rasa takut?
"Ke mana?" tanya Gala setengah berteriak karena suara angin.
Kella menyebutkan sebuah alamat di area pusat kota yang mulai ramai dengan lampu-lampu neon. Area itu dikenal sebagai distrik hiburan malam, tempat berbagai kafe bertema unik berada.
Saat mereka sampai di depan sebuah bangunan dengan papan nama "Amai Memories - Maid & Butler Cafe", Gala mengerem mendadak. Ia menatap bangunan itu, lalu menatap Kella yang sedang turun dari motor dan melepas helm.
"Lo... kerja di sini?" Gala bertanya dengan nada yang tidak percaya. Matanya menyapu penampilan Kella yang lusuh, poninya yang berantakan, dan wajahnya yang tanpa makeup. "Jadi maid? Lo bercanda?"
Kella mengembalikan helm kepada Gala. "Terima kasih tumpangannya. Tolong, jangan masuk ke dalam."
Kella berbalik dan masuk melalui pintu khusus karyawan tanpa menoleh lagi. Gala tetap berdiri di sana, menatap pintu kayu yang tertutup itu. Ia merasa ada sesuatu yang tidak sinkron antara Kella si "gadis suram" di sekolah dengan citra seorang maid yang seharusnya ceria dan manis.
Gala menyeringai. "Jangan masuk? Justru lo bikin gue makin penasaran, Kella Alistaya."
Ia tidak langsung pergi. Gala memarkirkan motornya di seberang jalan, menunggu. Ia ingin melihat seperti apa transformasi gadis "yatim piatu miskin" itu di dalam sana. Tanpa sadar, obsesi aneh mulai tumbuh di benak Gala—bukan karena cinta, tapi karena ia ingin memecahkan misteri di balik mata sayu Kella yang seolah-olah menyembunyikan seluruh duka dunia.
Di dalam kafe, Kella bersandar di balik pintu karyawan. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena Gala, tapi karena ketakutan rahasianya terbongkar. Ia memandang ke arah cermin besar di ruang ganti.
"Kamu bisa, Kella. Demi impian kamu," bisiknya pada bayangannya sendiri.
Ia mulai melepas seragam sekolahnya yang pudar dan mengenakan gaun hitam-putih dengan renda-renda yang rumit. Ia mengikat rambutnya, menjepit poninya ke samping agar wajahnya terlihat jelas, dan mulai memoleskan blush on tipis serta liptint merah muda di bibirnya.
Kella yang baru saja terlihat. Kella yang harus tersenyum, Kella yang harus berkata "Selamat datang, Tuan!", meskipun hatinya sedang hancur berkeping-keping.