Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 Tiba di Jakarta
Mentari pagi Jakarta menyambut Rania dengan kehangatan yang berbeda. Udara kota terasa lebih padat dan bersemangat dibandingkan sejuknya Bandung. Dua hari setelah kedatangan Alex dan keluarganya ke Bandung, Rania memutuskan untuk memenuhi tawaran kakaknya dan datang ke Jakarta. Ia merasa perlu perubahan suasana, sekaligus ingin menjalin komunikasi yang lebih intens dengan Alex dan Fitri.
Alex menjemput Rania di bandara dengan senyum lebar. Pelukan hangat dari kakaknya terasa menenangkan, mengusir sisa-sisa kegelisahan yang masih menghantuinya. Dona dan Doni, si kembar yang selalu ceria, langsung menghambur memeluknya, membuat Rania tertawa geli.
“Selamat datang di Jakarta, Tante Rania!” seru Dona riang.
“Jakarta siap menyambut Tante dengan segala kemacetannya!” timpal Doni, membuat semua tertawa.
Dalam perjalanan menuju apartemen Alex, Rania mengamati hiruk pikuk kota Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit menjulang tinggi, mobil-mobil berdesakan di jalanan, dan suara klakson bersahutan. Pemandangan ini terasa asing, namun sekaligus membangkitkan semangat baru dalam dirinya.
Apartemen Alex terletak di kawasan pusat bisnis Jakarta. Interiornya modern dan elegan, mencerminkan kesuksesan Alex sebagai pengusaha properti. Rania merasa nyaman berada di tengah keluarga kakaknya. Dona dan Doni langsung mengajaknya bermain, melupakan sejenak masalah-masalah yang masih membebaninya.
Setelah makan siang bersama, Alex mengajak Rania duduk di balkon apartemen. Dari sana, mereka bisa melihat pemandangan kota Jakarta yang membentang luas.
“Gimana perasaanmu setelah cerita semuanya sama Kakak?” tanya Alex dengan nada lembut.
Rania menghela napas lega. “Jujur, Kak, aku merasa jauh lebih baik. Beban di hatiku seperti hilang separuh. Terima kasih sudah mau mendengarkan dan memaafkan aku.”
Alex tersenyum. “Kakak selalu sayang sama kamu, Ran. Kakak nggak mungkin marah sama kamu terlalu lama. Yang penting, kamu sudah belajar dari kesalahan dan siap untuk memulai hidup baru.”
“Iya, Kak. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses dan mandiri. Aku ingin membangun kembali perusahaan keluarga dan menjadikannya lebih besar dari sebelumnya,” jawab Rania dengan semangat yang membara.
Alex mengangguk bangga. “Kakak yakin kamu bisa, Ran. Kamu punya kemampuan dan potensi yang besar. Kakak akan selalu mendukung kamu dalam setiap langkahmu.”
“Kak, aku ingin sekali mengembangkan cabang baru perusahaan di Jakarta. Aku melihat peluang yang sangat besar di sini,” ujar Rania.
Mata Alex berbinar mendengar ucapan Rania. “Itu ide bagus sekali, Ran! Jakarta adalah pasar yang sangat potensial. Kakak bisa bantu kamu mencari lokasi yang strategis dan menjalin kerjasama dengan mitra bisnis yang tepat.”
Rania tersenyum senang. Ia merasa sangat beruntung memiliki kakak seperti Alex. Selain sebagai keluarga, Alex juga bisa menjadi mentor dan penasihat bisnis baginya.
“Kak, aku ingin belajar banyak dari Kakak tentang bisnis properti. Aku ingin memperluas pengetahuan dan keterampilan aku di bidang ini,” pinta Rania.
“Tentu saja, Ran. Kakak akan dengan senang hati berbagi ilmu dan pengalaman sama kamu. Kamu bisa ikut Kakak ke proyek-proyek properti Kakak, bertemu dengan klien dan investor, dan belajar tentang manajemen proyek dan pemasaran,” jawab Alex antusias.
Selama beberapa hari di Jakarta, Rania benar-benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ia belajar banyak dari Alex tentang bisnis properti, mengikuti pertemuan-pertemuan bisnis, dan mengunjungi proyek-proyek pembangunan. Ia juga menghabiskan waktu bersama Fitri dan si kembar, menikmati suasana keluarga yang hangat dan harmonis.
Fitri mengajak Rania berbelanja, mengunjungi museum, dan mencicipi kuliner khas Jakarta. Mereka berdua menjadi semakin dekat dan akrab. Rania merasa bahwa Fitri bukan hanya sebagai kakak ipar, tetapi juga sebagai sahabat dan saudara perempuan baginya.
Dona dan Doni selalu menemani Rania dalam setiap aktivitasnya. Mereka mengajaknya bermain di taman, menonton film, dan belajar bahasa Inggris. Rania merasa sangat bahagia dan terhibur dengan kehadiran si kembar.
Di sela-sela kesibukannya belajar dan beraktivitas, Rania juga menyempatkan diri untuk mencari informasi tentang lokasi yang strategis untuk membuka cabang baru perusahaannya di Jakarta. Ia mengunjungi beberapa kawasan bisnis, mengamati pasar, dan berbicara dengan beberapa pemilik properti.
Setelah melakukan riset dan analisis yang mendalam, Rania akhirnya menemukan lokasi yang sangat potensial untuk membuka cabang baru perusahaannya. Lokasinya terletak di kawasan pusat bisnis Jakarta, dekat dengan perkantoran, pusat perbelanjaan, dan apartemen mewah.
Rania segera memberitahukan penemuan ini kepada Alex. Alex sangat senang dan mendukung penuh keputusan Rania. Ia berjanji akan membantu Rania dalam proses negosiasi dan perizinan.
Dengan bantuan Alex, Rania berhasil mendapatkan izin untuk membuka cabang baru perusahaannya di Jakarta. Ia juga berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa mitra bisnis yang potensial.
Rania merasa sangat bersemangat dan optimis. Ia tahu, tantangan yang akan dihadapinya di Jakarta tidaklah mudah. Namun, dengan dukungan dan cinta dari keluarganya, ia yakin bisa meraih kesuksesan.
Beberapa minggu kemudian, Rania kembali ke Bandung. Ia membawa semangat baru dan tekad yang bulat untuk membangun kembali perusahaannya dan mengembangkan cabang baru di Jakarta.
Sebelum berangkat, Alex memeluk Rania erat-erat. “Kakak bangga sama kamu, Ran. Jangan lupa, Kakak akan selalu ada untuk kamu. Jaga diri baik-baik di Bandung,” pesan Alex.
Rania tersenyum haru. “Terima kasih, Kak. Aku sayang banget sama Kakak.”
Di dalam pesawat, Rania menatap keluar jendela. Pemandangan kota Jakarta yang semakin menjauh membuatnya merasa sedih sekaligus bersemangat. Ia tahu, Jakarta adalah tempat yang penuh dengan tantangan dan peluang. Ia siap untuk menghadapi semua itu dan meraih kesuksesan.
Setibanya di Bandung, Rania segera menghubungi Rina. Ia menceritakan semua pengalaman dan pengetahuannya selama di Jakarta. Rina sangat senang mendengar cerita Rania dan mendukung penuh rencananya untuk mengembangkan cabang baru di Jakarta.
“Aku yakin kamu bisa sukses, Ran. Kamu adalah wanita yang kuat dan hebat. Aku akan selalu ada di samping kamu untuk mendukungmu,” ujar Rina.
Rania tersenyum lega. Ia merasa sangat beruntung memiliki sahabat seperti Rina. Rina selalu ada untuknya dalam suka maupun duka.
Dengan semangat baru dan dukungan dari keluarga dan sahabat, Rania mulai mempersiapkan segala sesuatu untuk mengembangkan cabang baru perusahaannya di Jakarta. Ia menyusun rencana bisnis, mencari karyawan, dan merancang strategi pemasaran.
Ia tahu, perjalanan ini tidak akan mudah. Akan ada banyak rintangan dan hambatan yang harus dihadapinya. Namun, ia tidak akan menyerah. Ia akan berjuang dan bekerja keras untuk mencapai semua impiannya.
Rania menatap foto keluarga kecil yang terpajang di meja kerjanya. Di foto itu, ia, Alex, dan kedua orang tuanya sedang tersenyum bahagia. Ia berjanji kepada kedua orang tuanya bahwa ia akan menjaga nama baik keluarga dan membangun perusahaan yang sukses dan bermanfaat bagi banyak orang.
Dengan tekad yang bulat, Rania memulai lembaran baru dalam hidupnya. Ia siap untuk menghadapi masa depan dengan penuh harapan dan optimisme. Jakarta menantinya dengan segala kemegahan dan peluangnya. Dan Rania siap untuk menaklukkannya.