Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramadhan yang Berbeda
Awal Ramadhan tahun ini terasa berbeda. Di langit Jakarta, hilal tak terlihat jelas tertutup polusi, tapi pengumuman pemerintah sudah turun.
Arman menerima informasi itu dari ponselnya, sendirian di balkon rumah Nadia, sambil menatap lampu-lampu kota yang masih menyala meski malam telah larut. Di dalam, Nadia sedang menyiapkan sahur pertama dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Arman, makan!" panggil Nadia dari ruang makan.
Arman mematikan rokok, melangkah masuk. Meja makan telah berubah. Taplak baru bermotif bulan bintang, piring-piring cantik yang biasanya hanya dipajang kini terisi penuh: kolak pisang, es buah, nasi goreng, dan ayam goreng. Nadia berdiri di samping meja dengan celemek baru, wajahnya berseri-seri.
"Selamat menjalankan ibadah puasa, Sayang," ucap Nadia, mencium pipi Arman. "Aku buat spesial buat kamu."
Arman tersenyum, meskipun senyum itu tidak sampai ke mata. "Makasih, Nad. Kereeen banget."
Mereka makan sahur berdua. Nadia bercerita tentang rencana Ramadhannya—tarawih berjamaah di masjid dekat rumah, pengajian setiap ba'da subuh di TV, rencana buka puasa bersama relawan di panti asuhan. Arman mendengarkan, mengangguk-angguk, tapi pikirannya melayang jauh.
Di benaknya, ia melihat meja makan yang berbeda. Meja kayu lapuk di rumahnya di Bekasi, dengan taplak plastik motif bunga yang sudah pudar. Rani sibuk menyiapkan sahur sederhana—nasi putih, telur dadar, dan teh manis hangat. Aldi yang masih kecil duduk di pangkuannya, setengah tidur tapi tetap dipaksa makan. Suasana ribut, hangat, dan... utuh.
"Arman? Arman!" panggil Nadia.
"Eh, iya?"
"Kok melamun? Makan, nanti keburu imsak."
Arman mengunyah lamat-lamat. Makanan enak itu terasa hambar di lidahnya.
---
Hari pertama puasa berlalu. Kedua, ketiga, terus bergulir. Nadia konsisten dengan rencananya. Setiap sore, ia memasak menu buka puasa yang berbeda—kadang sop buntut, kadang iga bakar, kadang nasi liwet.
Setiap malam, ia mengajak Arman tarawih ke masjid, lalu dilanjutkan ngabuburit dengan jalan-jalan kecil atau nonton film religi di rumah.
Arman menjalani semua itu dengan setengah hati. Di luar, ia tersenyum, mengucap syukur, menikmati fasilitas. Tapi di dalam, ada ruang kosong yang tak terisi.
Suatu malam, setelah tarawih, mereka duduk di teras rumah. Nadia menyandarkan kepala di bahu Arman.
"Kamu bahagia nggak, Sayang?" tanyanya lirih.
"Bahagia," jawab Arman otomatis.
"Beneran?"
Keheningan. Arman tidak bisa menjawab.
Nadia mendongak, menatapnya. "Arman, aku tahu kamu masih mikirin mereka. Tapi coba lihat aku. Aku di sini, berusaha bikin Ramadhan kita spesial. Tapi kamu... kamu kayak robot. Ngerjain semua tapi nggak ada rasa."
"Nad, aku..."
"Aku cuma minta kamu hadir. Beneran hadir. Bukan cuma fisik."
Arman menghela napas. "Maaf. Aku usahakan."
Tapi usaha itu sulit. Setiap kali ia mendengar adzan maghrib, ia teringat suara Aldi kecil yang dulu selalu berebut kurma. Setiap kali ia menyantap kolak, ia teringat Rani yang selalu membuat kolak dengan potongan nangka besar karena tahu ia suka.
Setiap malam tarawih, ia teringat genggaman tangan Aldi saat mereka berjalan pulang dari masjid, langkah kecilnya yang tertatih karena mengantuk.
---
Suatu sore, saat Nadia sedang sibuk di dapur, Arman memanfaatkan kesempatan. Ia masuk ke kamar mandi, duduk di tutup kloset, dan mengeluarkan ponsel. Jari-jarinya menari di layar, mengetik pesan panjang:
"Assalamualaikum, Ma. Tolong sampaikan ke Rani. Aku minta maaf atas semua yang terjadi. Bukan maksudku menyakiti kalian. Aku kangen Aldi. Kangen banget. Boleh aku ketemu dia, walau sebentar? Minimal video call. Aku janji nggak akan ganggu ketenangannya. Tolong, Ma. Ini Ramadhan, hati aku rasanya kosong tanpa dia."
Pesan itu ia kirim ke nomor ibu mertuanya. Lalu ia menunggu.
Satu jam. Dua jam. Tidak ada balasan.
Menjelang buka puasa, ponselnya bergetar. Sebuah pesan pendek dari nomor yang sama, tapi kali ini jelas itu dari Rani. Hanya satu kalimat:
"Nanti saja, setelah Lebaran."
Arman membaca pesan itu berulang kali. Tidak ada "maaf", tidak ada "kangen", tidak ada panggilan sayang. Hanya penundaan. Seolah Rani berkata, "Kamu harus menunggu, karena kamu yang memilih pergi."
Ia ingin membalas, bertanya kenapa harus menunggu, memohon setidaknya suara Aldi. Tapi ia tahu, itu percuma. Rani sudah mengambil keputusan. Dan ia harus menerima.
---
Malam itu, saat berbuka, Nadia melihat Arman diam saja. Makanannya tidak disentuh.
"Arman, makan. Nanti sakit," desaknya.
"Aku nggak laper."
"Kamu kenapa, sih?" Nadia meletakkan sendok, wajahnya berubah serius.
"Ini sudah hampir dua minggu Ramadhan, dan kamu makin kurus. Aku masak apa aja, kamu makan dikit. Ajak ngapa aja, kamu kayak nggak ada."
Arman tidak menjawab.
"Arman!" Nadia meninggikan suara. "Lo nggak bisa gini terus! Lo harus move on! Mereka sudah milih jalan mereka, lo juga harus milih jalan lo!"
Arman menatap Nadia, dan untuk pertama kalinya, ada api di matanya. Bukan marah, tapi kepedihan yang memuncak.
"Move on? Lo bilang move on? Itu anak gue, Nad! Daging darah gue! Lo bayangin, tiap malem gue tidur, gue denger suara dia manggil 'Bapak'. Tiap gue buka mata, gue liat foto dia di HP. Lo suruh gue lupain?"
"Aku nggak suruh lupain! Tapi jalani hidup!"
"Ini lagi gue jalanin! Tapi gue juga manusia. Gue punya perasaan."
Mereka beradu pandang. Nadia menunduk, air matanya jatuh.
"Aku juga manusia, Arman. Aku juga punya perasaan. Dan sakit rasanya tahu suamiku lebih memikirkan istrinya yang gak Nerima dia daripada aku."
"Dia ibu dari anakku."
"Tapi dia pergi! Dia milih pergi! Sekarang yang ada di sini siapa? AKU!"
Nadia menunjuk dadanya sendiri.
"Aku yang tiap hari masakin, aku yang tiap malem temenin, aku yang terima kamu apa adanya! Tapi kamu malah terus meratapi yang sudah pergi!"
Keheningan menganga. Suara azan maghrib berkumandang dari masjid dekat rumah, sayup-sayup.
Arman bangun dari kursinya. "Aku mau salat dulu."
Ia pergi ke kamar mandi, mengambil air wudhu, lalu salat di kamar. Sendirian. Saat sujud, ia menangis. Tangis yang tertahan, yang hanya diketahui oleh sajadah dan Allah.
Ya Allah, aku salah. Aku tahu aku salah. Tapi kenapa rasanya berat banget? Kenapa aku kehilangan arah? Kenapa di saat aku dapat apa yang aku mau, aku malah merasa kehilangan segalanya?
Ia tidak mendapat jawaban. Hanya isak tangis yang terpendam di sela-sela bacaan doa.
---
Di kampung, suasana berbeda. Usai tarawih, Rani duduk di teras rumah orang tuanya, ditemani segelas teh hangat. Aldi sudah tidur di kamar, lelah setelah seharian bermain dengan sepupu-sepupunya. Bulan purnama di atas desa terlihat jelas, tanpa polusi, tanpa gemerlap lampu kota.
"Ran, kamu nggak mau bicara sama Arman?" ibu mertua bertanya hati-hati, duduk di sampingnya.
Rani menggeleng. "Belum, Ma. Aku masih butuh waktu."
"Tapi dia bapaknya Aldi."
"Aku tahu. Makanya aku bilang setelah Lebaran. Bukan nggak mau ketemu sama sekali." Rani menatap bulan.
"Tapi aku harus kuat dulu. Aku harus tegar buat Aldi. Kalau aku ketemu Arman sekarang, aku takut... aku takut aku lemah."
Ibunya menghela napas, lalu memeluk Rani. "Kamu anak yang kuat, Nak. Mama bangga."
Rani tersenyum getir. "Aku nggak kuat, Ma. Aku cuma... bertahan."
Malam itu, saat desa terlelap, Rani membuka ponselnya. Ia melihat foto-foto lama—Arman menggendong Aldi, Arman tersenyum di sampingnya, Arman sedang tidur dengan Aldi di dadanya. Air matanya jatuh, tapi ia hapus cepat-cepat.
Ia scroll ke bawah. Ada pesan yang belum sempat ia baca dari Arman, dikirim beberapa hari lalu. Isinya panjang, penuh penyesalan dan permintaan maaf.
Rani membaca sampai habis. Lalu, tanpa membalas, ia mematikan ponsel dan memejamkan mata. Dalam hatinya, ia berdoa: Ya Allah, beri aku kekuatan. Untuk jadi ibu yang baik buat Aldi. Untuk jadi perempuan yang tegar. Untuk memaafkan, meskipun rasanya perih. Tapi belum sekarang, Ya Allah. Belum sekarang.
Di kejauhan, suara adzan subuh mulai berkumandang, sayup-sayup terdengar dari masjid kampung. Ramadhan hari ke-15 akan segera dimulai. Dan di dua tempat yang berbeda, dua orang yang pernah saling mencintai, menjalani puasa dengan luka masing-masing, berharap waktu akan menyembuhkan semuanya. Meskipun mereka tahu, beberapa luka mungkin akan meninggalkan bekas selamanya.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.