Maxime Brixtone adalah seorang mafia yang sepanjang hidupnya terjebak dalam perselisihan kelam dengan ibu tirinya. Di tengah hidupnya yang penuh duri dan misteri tentang bagaimana konflik itu akan berakhir, Max berada di ambang kematian akibat rencana pembunuhan yang dirancang oleh sang ibu tiri.
Tak disangka, hidupnya di selamatkan oleh seorang wanita yang telah bersuami. Max bersembunyi di kediaman wanita tersebut, hingga mereka tanpa sengaja menyaksikan sang suami melakukan perselingkuhan.
Dari titik itu, batas antara rasa terima kasih, kemarahan, dan obsesi kepada wanita penyelamat hidupnya mulai kabur.
Max pun memiliki sebuah ide gila untuk menjadikan wanita yang telah menyelamatkan nyawanya menjadi seorang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 24
Merasa pemanasan untuk Zayna sudah cukup, Max kini mulai melepas ikat pinggangnya. Bunyi klik logam yang memecah keheningan itu membuat napas Zayna semakin memburu karena gugup.
Dengan gerakan yang tenang namun penuh intimidasi, Max menanggalkan celana panjangnya, membiarkan tatapannya tetap terkunci pada Zayna tanpa sedetik pun teralihkan.
Kedua mata Zayna menatap sesuatu yang sudah berdiri tegak dan besar.
“Ah… Astaga besar sekali. Apakah bisa masuk.” Kata Zayna dalam hati. Wajah Zayna mendadak pucat.
“Milik Drake memang besar, dan aku sering kwalahan menghadapinya. Tapi milik Max yang ada di depan mata ku, dengan ukuran sebesar itu apakah, normal? Lalu bagaimana aku bisa menghadapinya? Aku bisa mati.”
“Sepertinya kau masih memiliki waktu untuk memikirkan hal lain? Jika kau memikirkan pria itu, aku tidak akan memaafkanmu malam ini.” Kata Max membuka kedua paha Zayna lebih lebar.
Zayna mengalihkan pandangannya dan menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya.
Max meraih kedua tangan Zayna dan mencengkramnya naik ke atas kepala Zayna.
“Lihat aku Zayna. Jangan pikirkan orang lain saat bersamaku, aku hanya mengizinkanmu dan mengisi dirimu dengan diriku. Kau ingin aku melakukannya perlahan dengan sisa kendali yang kupunya, atau kau ingin aku menyerah pada naluriku?” bisik Max rendah, napasnya yang panas menggelitik indra pendengaran Zayna.
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan penuh ancaman yang manis. Max bisa merasakan napas Zayna yang tercekat, sebuah reaksi tubuh yang lebih jujur daripada kata-kata. Posisi mereka yang begitu intim membuat setiap getaran suara Max merambat langsung ke saraf Zayna.
Zayna tidak langsung menjawab. Ia hanya mencengkeram bahu Max lebih kuat, kuku-kukunya sedikit menekan kulit pria itu—sebuah sinyal tanpa suara yang dipahami Max lebih dari apa pun. Mata Zayna yang sayu menatap Max, mencari kepastian di tengah kabut gairah yang menyelimuti mereka.
“Lakukan saja... sesukamu.” bisik Zayna akhirnya, nyaris tak terdengar.
Jawaban itu menghancurkan sisa-sisa rantai yang menahan naluri Max. Ia tidak lagi menahan diri.
Max mengarahkan miliknya yang sudah menegang dan berkedut, dengan ukiran otot yang menonjol di setiap bagian miliknya.
Dengan satu gerakan yang dominan namun tetap penuh pemujaan, Max meleburkan tubuhnya dengan Zayna.
Satu dorongan keras dan baru setengahnya masuk.
“AHHH….! Sakit…. Max… Itu tidak akan masuk.” Zayna mencoba mendorong Max menjauh, kedua tangannya menahan bahu kokoh Max.
Max justru memeluk tubuh Zayna yang gemetar.
“Sial… Ini sangat sempit. Milikku belum bisa masuk semua. Aku akan memasukkan semuanya…” kata Max.
“Tidak… Jangan… Itu tidak akan masuk Max…”
Max memeluk erat-erat tubuh Zayna yang sudah penuh keringat dan gemetar hebat, wajah Zayna pucat, merasakan sakit pada pangkal paha dan bagian intimnya.
“Mungkin karena aku sudah lama tidak berhubungan dengan Drake. Tapi milik Max memang bukan ukuran yang normal.”
“Aku sudah katakan jangan pikirkan orang lain.” Tegas Max. Seakan-akan Max mampu membaca pikiran Zayna.
Max mendorong sekali lagi, dengan satu sentakan keras.
“AAHH…! SAKIT…!”
“KEKHH…! Milikmu sangat sempit Zayna. Kau meremasnya sangat kuat!” Kata Max mencoba mengendalikan dirinya.
“Ini sangat sulit untuk ku kendalikan…” kata Max memeluk erat tubuh Zayna.
Air mata Zayna mengalir di kedua sudut mata Zayna. Max kemudian mencium dan menjilat nya.
Perlahan Max meremas dan menciumi payudaraa Zayna secara bergantian. Membangkitkan gairah Zayna.
“Aku akan bergerak…”
Max kemudian mulai bergerak pelan, pria itu masih mencoba mengendalikan dirinya, ia tidak mau membuat Zayna sakit. Meski pun gairah dan hasratnya sudah meledak sempurna.
Penyatuan itu terasa begitu intens, seolah-olah seluruh dunia menghilang dan hanya menyisakan titik temu di antara mereka berdua.
Perlahan rasa sakit berubah menjadi irama yang saling menekan. Pelumas dari milik Zayna mulai berproduksi aktif.
Gerakan Max yang pelan perlahan semakin cepat, dan menimbulkan suara yang nyaring antara kulit mereka di ruangan tersebut.
“Ahh… Ahhh.. Aahh… Ahhh… “ tubuh Zayna bergerak naik dan turun, Max terus meremass dan bermain dengan payudaaraa Zayna yang bergerak. Sering kali pria itu juga menyesap dan membuat tanda di mana-mana.
Seolah tubuh Zayna adalah miliknya sendiri.
Ruangan itu seolah menyusut, hanya menyisakan ruang bagi mereka berdua dan udara yang kian menipis.
Max tak lagi menahan diri; setiap gerakannya adalah bentuk pemujaan sekaligus dominasi yang tak terbantahkan. Ia mencium Zayna seolah-olah ia sedang mencoba menghirup nyawa wanita itu ke dalam paru-parunya sendiri.
Tangan Max yang panas tanpa bosan menyusuri lekuk pinggang Zayna, sembari gerakannya semakin cepat, memberikan tekanan yang membuat Zayna gemetar hebat.
“Ahh.. Max… Aku akan keluar…”
Tubuh Zayna menegang dan sebuah setruman hebat membuat tubuhnya gemetaran hebat. Kenikmatan menyerang Zayna hingga Zayna mendesahh kan suara kenikmatannya.
“Aaahhhh….!”
Max meneruskan gerakannya yang tak lagi bisa ia kontrol. Menciumi Zayna seperti orang gila.
Kulit bertemu kulit, menciptakan gesekan yang memicu percikan elektrik di setiap saraf mereka. Max bisa merasakan otot-otot Zayna yang menegang, menyambut setiap sentuhan liarnya dengan kerinduan yang sama besarnya.
Zayna membusungkan dadanya, mencari udara di sela-sela rintihan yang terus lolos dari bibirnya. Ia merasa seolah-olah Max adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak hancur berkeping-keping.
Zayna kembali merasakan sensasi kenikmatannya lagi.
“Jangan berhenti... Max, kumohon...” rintihnya, sebuah pengakuan jujur di tengah kabut gairah.
Mendengar itu, Max semakin kehilangan kendali. Ia bergerak dengan ritme yang lebih dalam dan intens, menuntut seluruh perhatian dan keberadaan Zayna hanya untuk dirinya.
Keringat yang membasahi tubuh mereka menyatu, membuat setiap pergerakan terasa lebih licin dan intim. Max menatap langsung ke mata Zayna yang berair karena puncak sensasi, ingin memastikan bahwa di saat seperti ini, hanya wajahnyalah yang Zayna lihat.
Dunia di luar sana benar-benar lenyap. Yang ada hanyalah suara napas yang menderu, derit kulit mereka di atas lantai yang mengikuti irama tubuh mereka, dan detak jantung yang beradu kencang di balik dada. Setiap inci kebersamaan mereka malam itu terasa seperti ledakan emosi yang selama ini terkunci rapat—liar, tak terkendali, dan sangat memabukkan.
Lagi-lagi tubuh Zayna menegang, merasakan sensasi kenikmatan yang berulang-ulang kali, entah sudah berapa kali tubuh Zayna menegang karena puncak kenikmatan yang tinggi, setiap syarafnya bergerak hingga tembus di ubun-ubunnya, pengalaman yang ia rasakan sekarang sangat jauh berbeda dengan Drake.
Max memompa tubuhnya kian cepat dan Zayna merengkuh kedua lengan Max dengan kuku-kukunya merasakan serangan kenikmatan yang di luar nalar dan ekspektasinya. Sangat luar biasa.
“AAHHHHH….!” Kedua kaki Zayna melambung ke atas merasakan ledakan kenikmatan lagi. Tubuhnya menegang dan menggeliat keenakan.
Max menunggu hingga tubuh Zayna lebih tenang, kemudian Max mengangkat tubuh Zayna tanpa melepas miliknya.
Max membawa Zayna masuk ke kamar dan menidurkan Zayna di atas ranjang—tempat yang sama di mana Drake pernah mengkhianati Zayna bersama wanita lain. Zayna sempat terpaku, bayangan pahit itu seolah kembali menghantui.
“Max…” bisik Zayna dengan suara bergetar.
“Kita akan menghapus setiap jejak dan kenangan buruk pria itu dari ruangan ini,” potong Max dengan nada rendah namun penuh penekanan. Ia menatap Zayna tepat di matanya, mencoba mengusir ketakutan wanita itu.
“Kita akan menggantinya dengan ingatan yang baru. Ingatan tentangku. Kenangan bersamaku. Dan membasuhnya dengan setiap inci kehadiranku di sini, sampai kau tak lagi mengingat nama orang lain
selain namaku.”
Bersambung
penguntit suruhan nevari belum tuntas yg kemarin 🤣🤣🤣
hemmm mau ketemu istri orang aja adaaa saja gangguannya😏
ceritanya nggantung lagi dah kayak kates
sombonge ndhisek ajooorrre kari wkwkwk