Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Davin yang konyol # Renata belum menyerah
Davin merasa jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Ada getaran aneh yang dirasakannya merayap melalui pembuluh darahnya. Namun, dia tak tahu bagaimana menyimpulkannya.
"Kenapa jantungku mau copot rasanya, hanya melihat senyumannya?" Disentuh dadanya yang bertalu bagai suara bedug yang membangunkan waktu sahur atau saat menjelang hari raya.
"Ini bahkan tak seperti saat aku menyukai Renata. Atau sebenarnya selama ini aku memang hanya menyukainya hanya karena terbiasa bersama?"
Davin menggeleng pelan, "Mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Kenapa secepat itu aku bisa move on?"
Dia sibuk dengan pikirannya, dan netranya masih tertuju pada Melodi yang tertawa sambil menutup mulutnya, tawa yang elegan dan sopan menurutnya.
Melodi seolah menyadari sesuatu, ia langsung menghentikan tawanya. "Maaf, saya tidak bermaksud menertawakan Pak Dokter. Tapi..."
Ia salah tingkah, melihat Davin yang masih bengong menatapnya. Lantas menengok ke kiri dan ke kanan, bahkan ke belakang, barangkali ada orang lain selain mereka di jalanan tersebut, tetapi tidak menemukan siapapun. Dia pun memberanikan diri melambaikan tangannya di depan muka Davin dengan sedikit canggung.
"Halo, Pak Dokter...? Anda nggak pa-pa?"
Davin tersentak kecil, tersenyum canggung, menyadari kebodohannya. "Duh...nggak elit banget kamu sih, Vin! Masa terang-terangan nunjukin ketertarikan? Jaim dikit napa?" rutuknya dalam hati.
"Emmm..." Berpikir sejenak.
"Oh ya, Mbak Melodi mau ke mana pagi-pagi begini? Terus itu sepedanya kenapa?" tanyanya mengalihkan topik, menutupi kecanggungan.
"Oh, saya mau ke rumah Pak Lurah. Saya bekerja di sana," jawab Melodi.
"Mari, Pak Dokter. Ini sudah siang, saya tak ingin terlambat."
Melodi membungkukkan sedikit badannya, dan segera berlalu dari sana. Davin bergegas menyusulnya. "Mbak Mel, tunggu!"
Melodi terpaksa berhenti. "Ada apa ya, Pak Dokter. Maaf, saya harus..."
Dengan Davin cepat memotong ucapan Melodi. "Kalau pengin cepat kenapa sepedanya cuma dituntun saja nggak dinaiki?"
"Oh...ini, bannya kempes, Pak Dokter." Melodi mengamati sepedanya sesaat.
Davin tersenyum, dia menemukan ide. "Begini saja, bagaimana kalau Mbak Mel pergi kerja, terus ini ini sepedanya biar saya yang bawa ke bengkel. Setuju, nggak?" tawarnya memberikan solusi.
Melodi tampak berpikir, lantas dengan cepat Davin mengambil alih sepeda mini itu.
"Sudah jangan banyak mikir, biar saya saja yang urus. Mbak Mel silakan pergi kerja dengan tenang. Nanti saya akan bawa sepedanya ke Puskesmas saja, setelah selesai diperbaiki." Davin langsung jalan begitu saja, tak memberi kesempatan pada Melodi untuk protes.
Di sisi lai, Melodi menatap kepergian Davin dengan bengong antara ragu dan sungkan. Namun, sepertinya ia tak punya pilihan lain, ketika pemuda yang membawa sepedanya itu sudah jauh berjalan meninggalkannya.
"Ya sudahlah, nanti aku ganti saja ongkos perbaikannya," ujarnya pasrah, lalu melanjutkan perjalanan menuju ke rumah Pak Lurah.
Sementara itu, Davin sudah belok di persimpangan jalan sambil menuntun sepeda milik Melodi ke bengkel. Dia tersenyum konyol seperti orang bodoh menyadari kelakuannya sendiri.
.
"Loh, Dok? Kok, pulang jogging bawa sepeda?" tanya salah seorang rekan.
Davin bingung harus menjawab apa. Akhirnya dia hanya jawab ngawur saja untuk menutupi kebenarannya. "Oh, iya. Saya nemu di jalan tadi, Mas. Mungkin ditinggal pemiliknya karena kempes ban. Nanti akan saya bawa ke Puskesmas, biar pemiliknya menemukannya di sana."
Lancar betul, entah sejak kapan Davin pandai mengarang cerita, yang pasti tidak mungkin dia jujur pada orang yang baru dikenalnya.
.
Di rumah Pak Lurah.
Melodi masuk ke rumah dengan buru-buru setelah mengucap salam, meskipun tak ada yang menjawab salamnya. Dengan napas masih terengah karena sedikit berlari, ia lantas memulai pekerjaannya, yakni mencuci pakaian.
Namun, baru saja ia akan peegi ke sumur, langkahnya terhenti kala seorang gadis berseragam pegawai kesehatan, menegurnya.
"Lama sekali kamu datang, Mel? Aku sampai menyetrika bajuku sendiri. Percuma punya pembantu, tapi nggak bisa diandalkan. Selalu sering terlambat," ucap gadis itu sembari menatap sinis ke arah Melodi.
"Maafkan saya, Bu Bidan. Tadi ban sepeda saya tiba-tiba kempes di jalan," jawab Melodi jujur.
"Ada apa ini, Lia?" tanya Bu Lurah Risma. Auranya tampak tegas, mengenakan seragam KORPRI.
"Ini loh, Bu. Masa jam segini Melodi baru datang. Alasan sepedanya kempes lagi. Nggak masuk akal banget," jawabnya seakan ingin memprovokasi ibunya.
"Sudahlah, Lia. Nggak usah di permasalahkan," ujar Bu Risma datar, membuat Dahlia melengos sambil menghentakkan kakinya dan berlalu pergi.
Bu Risma menggeleng pelan melihat tingkat anak gadisnya. "Kamu lanjutkan.pekerjaamu, Mel. Lain kali datanglah lebih pagi," ucapnya kemudian meninggalkan Melodi.
Melodi menarik napas berat, lalu segera ke sumur untuk mencuci. Ia sudah bekerja sebagai sebagai PRT, sejak orangtuanya meninggal. Tak cuma di rumah Pak Lurah, tetapi masih ada yang lain yakni empat rumah, cuma di sana ia hanya mencuci dan menyetrika saja.
Pekerjaan itu Melodi jalani dengan tulus ikhlas, demi bisa mengumpulkan uang untuk biaya pengobatan adiknya. Apalagi kini mereka sudah tidak punya rumah, setelah rumah peninggalan orangtua mereka tersapu banjir. Hanya beberapa saja benda berharga yang berhasil ia selamatkan. Entah bagaimana nasib mereka nanti.
.
.
.
Di Ibu Kota.
Renata benar-benar tak bisa menghubungi Davin. Terakhir menghubungi justru nomornya telah diblokir oleh pemuda itu. "Aku harus bagaimana ini?" Penyesalan tampak jelas di wajah Renata.
"Haaa, sepertinya aku bisa mengandalkan Suster Dewi." Sebuah ide tiba-tiba muncul di benaknya. Ia akan meminjam ponsel asisten Davin itu untuk menghubunginya.
"Tapi aku harus punya alasan yang tepat agar dia percaya padaku."
Sore harinya setelah jadwal prakteknya selesai, Renata segera menuju tempat Dewi. Beruntung wanita itu belum pulang. Ia buru-buru menghampirinya. "Sus, bisa minta waktunya sebentar?"
Dewi menghentikan gerakan tangannya merapikan mejanya, menatap Renata dengan heran. Mendadak dokter cantik itu jadi sering berurusan dengannya akhir-akhir ini padahal sebelumnya tidak pernah.
"Untuk apa ya, Dok?" tanya Dewi. "Maaf, kalau ini berhubungan dengan Dokter Davin, saya nggak bisa, Dok."
"Tolonglah, Sus. Saya ada perlu dengannya, ini penting. Saya nggak bisa menghubungi Dokter Davin, nomor saya telah diblokir, saya nggak tahu salah saya di mana." Renata mencoba meyakinkan.
Dewi mengernyit heran, menatap Renata dengan pandangan menyelidik. "Nggak mungkin Dokter Davin memblokir nomor seseorang jika orang itu nggak reseh dan menyinggung perasaannya."
"Sus, boleh ya, saya pinjam ponselnya, please! Saya perlu menjelaskan sesuatu padanya." Renata memohon, menatap Dewi dengan pandangan nanar.
Dewi menarik napas kasar, ingin hati menolak memberi bantuan, tetapi tak tega melihat tatapan Renata yang memohon. Akhirnya dengan berat hati ia memberikan ponselnya setelah menekan nomor Davin.
Dengan mata berbinar, Renata menerimanya, seolah mendapatkan durian runtuh. Ia menunggu dengan harap-harap cemas. Hingga kemudian senyumnya mengembang. "Halo, Dok. Ini saya, Renata."
.
Kira-kira bagaimana reaksi Davin ya, pemirsa...? 🤗