Satu kontrak. Satu rahasia. Satu cinta yang mematikan.
Di Aeruland, nama keluarga Aeru adalah hukum yang tak terbantahkan. Bagi Dareen Christ, tugasnya sederhana: Menjadi bayangan Seraphina Aeru dan menjaganya dari pria mana pun atas perintah sang kakak, CEO Seldin Aeru.
Namun, Seraphina bukan sekadar majikan yang manja. Dia adalah api yang mencari celah di balik topeng porselen Dareen. Di antara dinding lift yang sempit dan pelukan terlarang di dalam mobil, jarak profesional itu runtuh.
Dareen tahu, menyentuh Seraphina adalah pengkhianatan. Mencintainya adalah hukuman mati. Namun, bagaimana kau bisa tetap menjadi robot, saat satu-satunya hal yang membuatmu merasa hidup adalah wanita yang dilarang untuk kau miliki?
"Jangan memaksa saya melakukan sesuatu yang akan membuat Anda benci pada saya selamanya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sarapan yang Dingin
Cahaya lampu neon yang terang di ruang makan terasa seperti jarum yang menusuk langsung ke bola mata Seraphina. Ruangan itu terlalu putih, terlalu bersih, dan terlalu sunyi. Hanya suara denting halus cangkir porselen yang bertemu dengan tatakannya yang memecah keheningan. Di ujung meja panjang yang bisa menampung dua puluh orang itu, Seldin Aeru duduk dengan punggung tegak, seolah tulang belakangnya terbuat dari baja.
Seldin tidak mengenakan pakaian tidur. Dia sudah mengenakan kemeja biru navy yang disetrika kaku dengan dasi sutra yang terikat sempurna. Di depannya, sebuah tablet menampilkan grafik saham yang bergerak naik turun, namun wajahnya jauh lebih datar daripada grafik tersebut.
Seraphina merosot di kursinya, sengaja duduk dengan posisi yang tidak sopan. Dia masih mengenakan gaun mini ketat berwarna perak yang sebagian payetnya sudah lepas, sisa dari kegilaannya di lantai dansa beberapa jam lalu.
"Minum kopimu, Sera. Kau terlihat seperti sampah yang dipungut dari pinggir jalan," suara Seldin mengalun tenang, namun setiap katanya memiliki berat yang mampu meremukkan mental seseorang.
Seraphina mendengus, tangannya yang gemetar meraih cangkir kopi yang disediakan pelayan. "Setidaknya sampah punya kebebasan untuk berada di mana saja. Tidak seperti di rumah ini, yang lebih mirip kamar mayat berlapis emas."
Seldin perlahan mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Matanya yang dingin memindai penampilan adiknya dari atas ke bawah. Tatapan itu bukan tatapan penuh kasih sayang seorang kakak, melainkan tatapan seorang kurator seni yang sedang melihat lukisan rusak yang tidak berharga.
"Gaun itu," Seldin memberi isyarat dengan dagunya. "Terlalu pendek, terlalu terbuka, dan warnanya ... murahan. Kau adalah seorang Aeru. Nama belakangmu mewakili stabilitas ekonomi negara ini, bukan mewakili gadis bayaran di kelab malam kelas dua."
Darah Seraphina mendidih. Dia benci bagaimana Seldin selalu mengaitkan keberadaannya dengan "brand" keluarga. "Oh, maafkan aku jika aku merusak reputasi suci Aeru Group yang agung ini, Kak. Mungkin aku harus memakai gaun biarawati mulai besok?"
"Mungkin kau hanya perlu belajar harga diri," balas Seldin tajam. "Atau mungkin, kau butuh pengawasan yang lebih ketat lagi. Dareen?"
Dari sudut ruangan yang remang-remang, Dareen Christ melangkah maju. Dia berdiri tepat di belakang kursi Seraphina, seperti bayangan yang baru saja lepas dari dinding. Sepatunya yang tadi disiram air oleh Seraphina entah bagaimana sudah terlihat bersih kembali, meski jika diperhatikan lebih dekat, bagian ujung celananya masih sedikit lembap.
"Ya, Tuan Seldin," sahut Dareen pendek.
"Mulai hari ini, tidak ada lagi privasi untuk adikku. Ke mana pun dia pergi, bahkan jika dia ingin ke toilet di kampus sekalipun, kau harus memastikan tidak ada pria sampah yang mendekat. Jika dia melawan, ikat dia di kamarnya," perintah Seldin tanpa ekspresi.
Seraphina tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan nada histeris. Dia merasa dadanya sesak oleh amarah yang tidak punya jalan keluar. Matanya melirik ke arah sepiring omelette dan roti panggang di depannya yang sama sekali tidak disentuh. Dia melihat sebuah garpu perak yang berkilau di samping piringnya.
Dengan gerakan yang disengaja dan penuh drama, Seraphina menyentakkan tangannya.
Garpu perak itu terjatuh ke lantai marmer, menimbulkan bunyi dentang nyaring yang menggema di ruangan yang sunyi itu. Seraphina menyandarkan punggungnya, menantang mata kakaknya dengan dagu terangkat tinggi. Dia ingin Seldin meledak. Dia ingin kakaknya memaki, berteriak, atau melakukan apa saja selain bersikap dingin seperti robot.
Namun, Seldin Aeru bahkan tidak berkedip. Dia tidak menoleh ke arah garpu yang jatuh, seolah suara itu hanyalah suara angin yang lewat. Seldin hanya memberikan kode kecil—sebuah kedipan mata yang hampir tak terlihat—kepada pria di belakang Seraphina.
"Ambilkan," perintah Seldin singkat.
Tanpa kata, Dareen Christ bergerak. Dia tidak memanggil pelayan lain. Dia sendiri yang merendahkan tubuhnya, berlutut di atas lantai marmer tepat di samping kursi Seraphina untuk mengambil garpu tersebut.
Saat itulah, sebuah ide licik muncul di kepala Seraphina.
Seraphina masih mengenakan high heels merahnya yang tajam. Saat punggung tangan Dareen terjulur di atas lantai untuk meraih perak yang berkilau itu, Seraphina menggerakkan kakinya. Dengan kekuatan penuh dan penuh kebencian, dia menghentakkan tumit sepatunya yang runcing tepat di atas punggung tangan Dareen.
Ujung tumit itu menekan kulit tangan Dareen, menjepitnya di antara logam sepatu dan kerasnya marmer. Seraphina memberikan seluruh beban tubuhnya pada kaki tersebut, berharap mendengar suara rintihan, atau setidaknya melihat jari-jari pria itu gemetar kesakitan.
Dia ingin menghancurkan ketenangan "anjing" kakaknya ini. Dia ingin melihat Dareen Christ yang sempurna dan dingin itu tersungkur dan menunjukkan rasa sakit.
Detik berlalu. Lima detik. Sepuluh detik.
Seraphina menahan napas, matanya melirik ke bawah meja. Dia bisa melihat punggung tangan Dareen memerah hebat, bahkan mungkin sedikit berdarah karena tekanan ujung sepatu yang tajam itu. Namun, tubuh pria itu tetap stabil. Bahunya tidak bergerak satu inci pun. Tidak ada napas yang tersengal. Tidak ada desisan rasa sakit.
Dareen Christ hanya terdiam di sana, dalam posisi berlutut, membiarkan tangannya diinjak seolah-olah kaki Seraphina hanyalah selembar tisu yang jatuh.
Pria itu kemudian perlahan mendongak. Dari bawah meja, mata gelap Dareen bertemu dengan mata Seraphina yang penuh amarah. Tidak ada kebencian di mata Dareen. Tidak ada dendam. Hanya ada kekosongan yang amat sangat dalam, seolah pria ini sudah lama mematikan saraf perasanya.
"Sudah selesai, Nona?" tanya Dareen dengan suara bisikan yang hanya bisa didengar oleh Seraphina.
Seraphina tersentak. Dia merasa seperti baru saja menendang dinding beton. Rasa frustrasinya memuncak. Dia menarik kakinya kembali dengan kasar, hampir kehilangan keseimbangan di kursinya sendiri.
Dareen bangkit dengan tenang. Di tangannya, dia memegang garpu perak itu. Dia meletakkan garpu tersebut di atas serbet bersih, lalu memberikan kode kepada pelayan di kejauhan untuk menggantinya dengan yang baru. Punggung tangannya memperlihatkan bekas lingkaran merah yang dalam, hampir membiru, namun dia menyembunyikan tangan itu kembali di belakang punggungnya dengan posisi tegak sempurna.
"Kau ... kau benar-benar robot," desis Seraphina, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan.
Seldin yang sedari tadi tetap fokus pada tabletnya, akhirnya bersuara. "Dareen bukan robot, Sera. Dia hanya profesional. Sesuatu yang sangat sulit kau pahami."
Seldin berdiri, merapikan kancing jasnya. "Aku harus pergi ke kantor. Dareen akan mengantarmu ke kampus. Jangan mencoba menghilang, atau aku akan memastikan semua fasilitas kartu kreditmu mati sebelum kau sampai di gerbang depan."
Seldin melangkah pergi tanpa pamit, tanpa pelukan, meninggalkan aroma parfum maskulin yang dingin di udara.
Kini hanya tersisa Seraphina dan Dareen di ruangan luas itu. Seraphina berdiri, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berpacu. Dia menoleh ke arah Dareen yang masih berdiri mematung.
"Sakit, kan?" tanya Seraphina sinis, melirik ke arah tangan Dareen yang disembunyikan. "Katakan saja kalau itu sakit. Jangan berlagak jadi pahlawan di depanku."
Dareen melangkah maju, membukakan pintu untuk Seraphina. Wajahnya tetap kaku seperti topeng. "Rasa sakit adalah bagian dari kontrak saya, Nona. Selama Anda tidak melarikan diri, saya bisa menahan lebih dari sekadar injakan sepatu."
Dareen mengulurkan tangannya yang terluka ke arah pintu, memberi isyarat agar Seraphina keluar. "Mobil sudah siap di depan. Silakan."
Seraphina berjalan melewati Dareen dengan sentakan bahu yang kasar. Dia merasa kalah. Setiap kali dia mencoba melukai pria ini, justru dialah yang merasa hancur. Dia benci kakaknya, dia benci rumah ini, tapi yang paling dia benci adalah fakta bahwa dia mulai merasa penasaran—apa yang sebenarnya dibutuhkan untuk membuat seorang Dareen Christ kehilangan kendali?
Saat Seraphina sudah melangkah jauh di koridor, Dareen Christ menarik napas panjang untuk pertama kalinya. Dia melihat punggung tangannya yang berdenyut hebat, jejak tumit sepatu Seraphina tercetak jelas di sana. Dia mengepalkan tangan itu erat-erat, mengabaikan rasa perihnya, lalu melangkah menyusul sang majikan ke dalam badai yang baru saja dimulai.