NovelToon NovelToon
Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Bangkitnya Tuan Muda Cacat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi Timur
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mukaram Umamit

Di dunia di mana kekuatan energi adalah segalanya, Zian lahir sebagai lelucon. Saluran energinya cacat total. Meski berstatus sebagai pewaris Keluarga Zian, semua orang di kota diam-diam memanggilnya "Tuan Muda Sampah".

Puncak kehinaannya terjadi di siang bolong. Tunangannya yang merupakan jenius dari Sekte Bintang Es datang membatalkan perjodohan secara sepihak. Saat Zian menolak harga diri keluarganya diinjak-injak, pengawal sang tunangan menghajarnya sampai nyaris mati, mematahkan tulang-tulangnya di depan tatapan meremehkan semua orang.

"Kodok bopeng tidak pantas memakan daging angsa," cibir mereka.

Namun, mereka tidak tahu bahwa darah Zian yang menetes di altar kuil malam itu justru membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur. Sebuah kekuatan kuno dari leluhur pertamanya: Warisan Tulang Asura.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mukaram Umamit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar Baru Kota Daun

Seisi alun-alun mematung. Para warga sipil dan penjaga gerbang saling pandang dengan ngeri. Wanita muda nan angkuh ini, yang baru turun dari kereta seakan sang penguasa kehidupan... berani dimaki-maki sekasar ini oleh pemuda tanpa auranya?

Bahkan kakek tua penjual kayu bakar itu pun kini menyatukan tangannya seperti berdoa.

Sebaliknya, wajah Lin Yue merah padam seperti kepiting rebus. Mulutnya setengah terbuka, berusaha mencerna kalimat hinaan itu. Bertahun-tahun dimanjakan sebagai Putri Jenius Kota Daun dan kini dinobatkan sebagai calon murid inti Sekte Bintang Es, tak pernah ada satu orang pun yang berani membentaknya sefrontal ini, apalagi menyamakannya dengan sampah!

"Z-Zian!" pekik Lin Yue dengan suara bergetar karena amarah. Matanya dipenuhi kilat kejam. "Berani sekali kau bicara dengan mulut kotormu itu! Aku harusnya membunuhmu di malam itu dan mencabut lidahmu!"

Zian mendengus meremehkan. "Kenapa tidak sekarang saja? Coba cabut lidahku, pelacur."

Kata 'pelacur' meledak bagai bom api di telinga Lin Yue. Hawa dingin dari tubuh wanita itu meroket ke tingkat yang belum pernah terlihat. Tanah berlumpur di sekitarnya langsung membeku hingga membentuk retakan-retakan tebal.

"Kau benar-benar ingin merasakan neraka, cacat sialan! Kau yang minta ini!"

Lin Yue mengibaskan jubah birunya. Energi tingkat Perwira puncak memancar kuat, mendominasi udara di sekelilingnya. Telapak kanannya terangkat, dan sebuah pedang yang terbuat dari es murni tercipta entah dari mana.

"Seribu Sayatan Es Abadi!"

Dia melesat dengan kecepatan menakutkan, menebarkan puluhan pedang es yang menghujani Zian seperti badai. Saking kuatnya tekanan udara dari serangan sihir itu, beberapa penjaga gerbang harus melompat mundur agar tidak membeku.

Namun, di tengah badai es yang mematikan itu, Zian tak mengubah posisinya. Kedua kakinya kokoh tertanam di aspal. Dia mengepalkan tangan kanannya dengan kuat. Tak ada aura membara. Tak ada kilatan elemen. Hanya otot murni yang memadat dan mengeras seperti karang hitam.

"Ini pukulan pertama untuk ayahku," bisik Zian dengan nada sedingin es abadi.

Bugh!

Sebuah tinju meluncur lurus. Tidak cepat, tetapi membawa daya dorong sonik. Zian meninju udara kosong di depannya.

BOOM!

Ledakan angin super padat itu membelah badai sayatan es Lin Yue seperti pisau panas membelah mentega. Pecahan kristal es beterbangan mengenai wajah para warga dan penjaga yang berdiri cukup jauh, memaksa mereka menutup mata dan merinding hebat.

Angin itu tak berhenti. Sisa tekanannya menyapu langsung tubuh Lin Yue yang masih berada di udara, menghancurkan zirah pelindung esnya seperti kaca tipis dan menghempaskannya mundur sejauh belasan langkah, hingga gaun sutranya robek-robek.

Lin Yue mendarat dengan tidak elit, kedua kakinya terseret tanah. Dia memuntahkan seteguk darah merah segar di aspal. Jari-jarinya yang memegang pedang es patah, membuat senjata itu jatuh berkeping-keping.

"A-apa?!" Lin Yue membelalakkan matanya, terengah-engah dan ngeri. Jantungnya berdegup tak karuan.

Baru saja... Zian tak melakukan apapun! Hanya meninju udara! Kekuatan macam apa yang bisa menghancurkan sihir pertahanannya begitu saja?!

Zian masih berdiri tegak di tempatnya, menatapnya dengan tatapan meremehkan.

"Satu tamparan saja kau muntah darah. Di mana kebanggaan tingkat Perwira Puncakmu, Yue-er?" Zian tersenyum mengejek, memanggilnya dengan nama panggilan yang sering diucapkan Tian Ao.

Mendengar panggilan itu, amarah Lin Yue kembali mengalahkan logikanya.

"DIAM!" teriak Lin Yue histeris. Dia mencabut sebuah giok biru cerah dari dadanya—Pusaka Pertahanan Sekte Bintang Es. Segera, sebuah pilar es raksasa muncul melindunginya seperti sangkar yang tak bisa ditembus. "Pengawal! Bunuh anjing cacat ini! Gunakan semua sihir jarak jauh kalian!"

Tiga pengawal elit sekte yang sedari tadi terdiam, tersadar dari keterkejutan mereka dan segera menyerang Zian dari tiga arah berbeda. Pedang berlapis sihir elemen air melesat mengincar titik buta.

"Pukulan kedua, untuk ibuku," desis Zian.

Zian memutar pinggangnya dan langsung melesat maju, mengabaikan ketiga pengawal yang mengelilinginya. Dia menabrak bahu salah satu pengawal hingga tulang dada pengawal itu amblas. Sebelum mayatnya menyentuh tanah, Zian sudah melompat dan mendarat keras tepat di depan sangkar es Lin Yue.

Brak!

Tanah langsung retak parah. Zian mengangkat tangannya, mengepal seperti godam. Uratnya menonjol, ototnya membesar, dan hawa Tulang Asuranya menguar bebas tanpa batas.

Bugh! KRAK!

Tinju Zian menghantam pilar es yang setebal dinding banteng. Bunyi logam yang patah terdengar menyakitkan. Sangkar pertahanan itu bergetar hebat.

Lin Yue yang ada di dalam sangkar itu pucat pasi, namun dia mencoba tersenyum percaya diri. "Itu pusaka tertinggi sekte! Ototmu tak akan sanggup—"

Bugh! Bugh! Bugh!

Zian terus menghantam pilar itu tanpa henti, bagai mesin pemecah batu yang tidak punya rasa lelah. Pukulan kelima, keenam, ketujuh... retakan besar muncul dan menjalar ke atas sangkar.

Lin Yue melangkah mundur, kakinya bergetar ketakutan melihat dinding esnya mulai hancur lebur. Tatapan mata Zian yang sedingin mayat menembus pecahan es itu.

"Dan ini..." Zian memusatkan seluruh tenaga Tulang Asura ke tangan kanannya.

"...untuk adikku."

BUM! KRAAKK!

Sangkar es itu meledak berkeping-keping. Zian tak berhenti. Tangannya melesat cepat seperti kilat, langsung mencengkeram leher Lin Yue yang masih terkejut dan mengangkat wanita itu ke udara.

"K-kkhhhh!" Lin Yue meronta panik. Sepatu bot putihnya menendang-nendang dada Zian, namun rasanya seperti menendang pelat baja setebal sepuluh meter. Tangannya yang mungil dan lembut memukul lengan Zian yang berotot, namun tak menghasilkan efek sedikit pun.

Napas wanita cantik itu terputus. Wajahnya yang tadinya porselen kini memerah ungu.

"Kau..." bisik Zian pelan, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Lin Yue yang ketakutan. "Coba bicara padaku dengan nada sombongmu sekarang. Aku menunggu."

Lin Yue tak bisa menjawab. Dia hanya bisa menangis ketakutan dan putus asa. Kedua tangannya kini memegang pergelangan tangan Zian, memohon dilepaskan.

"T-Tuan Zian!" jerit Kapten penjaga gerbang yang sudah sadar dan kini merangkak dengan wajah hancur. "J-jangan bunuh dia! Kalau Nona Lin Yue mati di sini, ayah dan sektenya akan membakar seluruh ibu kota! Kumohon, lepaskan dia!"

Zian menoleh pada Kapten itu dengan senyum kejam.

"Sekte Bintang Es?" tanya Zian santai. "Kebetulan. Aku datang ke sini murni untuk menghancurkan mereka."

Lalu, di depan ratusan pasang mata yang masih terbelalak ngeri, Zian merapatkan jari-jarinya di leher Lin Yue.

Namun, sebelum dia mematahkan leher itu, langit ibu kota mendadak gelap. Awan mendung bergulung-gulung, membawa badai salju yang sangat mematikan. Hawa dingin ekstrem yang jauh lebih pekat dan buas dari Lin Yue menekan seluruh orang di gerbang.

"LEPASKAN PUTRIKU, TIKUS KAMPUNG!"

Sebuah suara menggelegar dari angkasa. Sesosok pria paruh baya yang melayang di udara dengan sayap es raksasa turun bagai dewa pembunuh, pedang es sepanjang tiga meter berada dalam genggamannya, siap membelah Zian menjadi dua.

Itu Lin Zong. Pemimpin Sekte Bintang Es. Dan dia datang membawa kematian mutlak.

Zian mendongak menatap pedang raksasa yang turun ke arahnya. Dia tidak mundur. Dia justru tertawa, sebuah tawa gila yang membuat semua orang merinding.

"Kau datang juga, Pak Tua," gumam Zian sambil mengencangkan cengkeramannya di leher Lin Yue. "Mari kita lihat, sekeras apa pedang Jenderal Tertinggimu."

1
Dian Pravita Sari
hal fa satupun cerita yg tamat ini novel toon penipu aplikasinya abal. abal
Dian Pravita Sari
tolong pats pembaca kasih tshi says no yelp lembaga konsumen Indonesia brp mau laporkan len pulsanya dimakan to. penyajian ceritanya smbirsgdul gak da tanggung jawab hu least konyrsk
Bucek John
wadauuu.. kantong penyimpanan musuh.. sia sia gak dipunggut, harta buat mdp..
M. Zayden: hahaha iya bosku😅
total 1 replies
Joe Maggot Curvanord
ga adapake jurus apaaa tu thor
cuma tinju asal ajaaa
M. Zayden: iya bosku🙏
total 1 replies
Nanik S
Lasaanjuuuuut
M. Zayden: siap bosku kami akan up setiap hari 2 bab terimakasih🙏
total 2 replies
Nanik S
Hadir
M. Zayden
​"Halo semuanya! Terima kasih banyak ya buat yang sudah antusias minta update. Biar kualitas ceritanya tetap terjaga dan aku bisa rutin nemenin kalian, jadwal update-nya adalah 2 bab setiap hari. Selamat membaca dan jangan lupa dukungannya! ❤️"
Gege
mantabb
Gege
gasss thoor 10k kata tiap update
M. Zayden: siap bosku😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!