Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terbuka di Meja Resto untuk Berbuka Puasa
Bulan Ramadhan datang dengan suasana yang selalu berbeda. Udara sore terasa lebih syahdu, azan maghrib selalu dinanti, dan meja makan di rumah Nana semakin sering dipenuhi hidangan hangat.
Di Jakarta, Bu Karin duduk di ruang tamu sambil menatap kalender. Waktu terasa cepat. Izzan sudah mengajukan cuti lebaran dan dalam beberapa hari akan pulang ke Jawa Timur.
Entah dorongan dari mana, sore itu Bu Karin mengambil ponsel dan menghubungi sahabat lamanya.
“Assalamualaikum, Sa,” sapa Bu Karin ceria ketika sambungan terhubung.
“Waalaikumsalam, Rin. Apa kabar?” jawab Bu Hapsari hangat.
Setelah berbincang sebentar, Bu Karin langsung menyampaikan niatnya.
“Sa, gimana kalau nanti pas Izzan sudah cuti, kita buka puasa bareng? Aku rencana main ke Malang sebentar.”
Bu Hapsari terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Wah, boleh banget. Sekalian silaturahmi Ramadhan.”
Mereka pun sepakat untuk berbuka di salah satu restoran keluarga yang cukup terkenal di Malang. Tempatnya luas, nyaman, dan cocok untuk kumpul keluarga besar.
Namun ada satu hal yang tidak mereka ketahui.
Bahwa anak-anak mereka sudah lebih dulu bertemu kembali.
Sudah lebih dulu bertukar nomor.
Sudah lebih dulu saling mengisi hari, meski sempat merenggang.
.............................................................................................................................................
Beberapa hari sebelum acara berbuka bersama itu, Izzan mengirim pesan ke Nana.
Izzan:
Nan, minggu depan Mas ke Malang lagi.
Nana yang sedang menunggu waktu berbuka di kos langsung membaca pesan itu.
Nana:
Oh ya? Ada tugas lagi?
Izzan:
Nggak. Cuti lebaran. Mama mau ketemu temannya di Malang. Sekalian buka puasa bareng katanya.
Nana membaca pesan itu tanpa curiga sedikit pun.
Nana:
Ohh iya 😊
Izzan sendiri tidak tahu siapa teman mamanya yang dimaksud. Ia tidak pernah bertanya detail. Baginya, itu hanya acara silaturahmi biasa.
Begitu pula Nana. Ia menganggap itu hanya cerita biasa.
Takdir memang sering bekerja dalam diam.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sisi lain, Bu Hapsari beberapa hari kemudian mengumpulkan anak-anaknya di ruang keluarga.
“Kita buka puasa bareng di luar ya akhir pekan ini. Semua harus ikut. Kakak-kakakmu yang dari luar kota juga sudah konfirmasi datang,” katanya.
Kedua kakak Nana yang sudah berkeluarga menyambut antusias. Jarang-jarang mereka bisa lengkap seperti itu.
Nana tersenyum. “Asyik, Ma.”
Bu Hapsari tidak menyebutkan bahwa akan ada tamu lain. Dalam pikirannya, yang ia tahu memang hanya berbuka bersama keluarga. Ia tidak merasa perlu memberi penjelasan panjang.
Semua berjalan seperti rencana sederhana.
Tanpa ada yang menyadari, dua keluarga sedang menuju satu meja yang sama.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hari yang ditentukan pun tiba.
Restoran itu ramai menjelang maghrib. Lampu-lampu gantung menyala hangat. Aroma makanan memenuhi ruangan.
Keluarga Nana datang lebih dulu. Papa, Mama, kedua kakaknya beserta istri dan anak-anak mereka. Meja panjang sudah dipesan atas nama Bu Hapsari.
Nana duduk di sisi tengah meja, mengenakan gamis pastel dengan hijab warna senada. Wajahnya tampak tenang seperti biasa.
Tak lama kemudian, seorang pelayan datang menghampiri.
“Bu Hapsari? Tamu Ibu sudah datang.”
Bu Hapsari mengernyit sedikit. “Tamu?”
Namun sebelum sempat bertanya lebih jauh, dari arah pintu masuk terlihat Bu Karin berjalan masuk bersama suaminya.
Dan di belakang mereka
Izzan.
Nana yang sedang menuang air ke gelas hampir menjatuhkannya.
Izzan yang baru saja melangkah masuk mendadak berhenti sepersekian detik ketika pandangannya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Nana.
Di meja yang sama.
Dengan keluarganya.
Kedua keluarga itu sama-sama terkejut.
Bu Hapsari berdiri cepat. “Rin?!”
Bu Karin tersenyum lebar. “Sa!”
Mereka saling berpelukan hangat.
Sementara itu, Nana dan Izzan hanya saling menatap sebentar sebelum sama-sama menundukkan pandangan, berusaha terlihat biasa saja.
“Lho… jadi temannya Mama itu Tante Hapsari?” bisik Izzan pelan pada ibunya.
Bu Karin menoleh heran. “Lho, memang kamu nggak tahu?”
Izzan hanya menggeleng pelan.
Di sisi lain, Nana menelan ludah. Ia baru menyadari maksud pesan Izzan beberapa hari lalu.
Oh.
Jadi ini.
Mereka duduk di meja yang sama. Suasana sempat canggung beberapa detik sebelum percakapan orang tua mengambil alih.
“MasyaAllah, sudah besar-besar anaknya,” ujar Bu Karin sambil memandang Nana.
Nana tersenyum sopan. “Assalamualaikum, Tante.”
“Waalaikumsalam, Nana.”
Izzan duduk tidak terlalu jauh dari Nana. Jarak mereka hanya dipisahkan dua kursi dan satu keponakan kecil Nana yang sedang asyik memainkan sendok.
Mereka mencoba bersikap biasa.
Seolah tidak pernah chat hampir setiap hari.
Seolah tidak pernah keliling Malang bersama.
Seolah tidak pernah merasa canggung ketika jarak mulai terasa.
Maghrib berkumandang. Doa berbuka dipanjatkan. Gelas-gelas terangkat.
Suasana perlahan mencair.
Obrolan berpindah dari pekerjaan, kuliah, hingga cerita masa kecil orang tua mereka.
Hingga akhirnya, di tengah percakapan santai itu, Izzan berkata dengan nada ringan.
“Oh iya, Ma… sebenarnya aku sama Nana sudah sempat ketemu lagi beberapa waktu lalu.”
Sendok Nana berhenti di udara.
Kedua kakaknya langsung menoleh bersamaan.
Bu Karin membulatkan mata. “Ketemu lagi? Di mana?”
“Di Jakarta waktu itu, nggak sengaja. Terus sempat ketemu lagi di Malang juga,” lanjut Izzan tenang.
Nana hanya diam. Wajahnya mulai terasa panas.
“Dan… kami sempat chatting juga,” tambah Izzan jujur.
Kali ini meja benar-benar hening beberapa detik.
Bu Karin menatap Izzan lalu Nana dengan mata berbinar.
“MasyaAllah…” gumamnya penuh arti.
Bu Hapsari menoleh pada putrinya. “Oh begitu?”
Nana tersenyum tipis, sedikit salah tingkah. “Iya, Ma. Cuma ngobrol biasa.”
Cuma ngobrol biasa.
Padahal di balik kalimat itu ada banyak cerita yang tidak terucap.
Bu Karin hampir tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia melirik Bu Hapsari dengan senyum penuh makna.
Seolah berkata tanpa suara:
Sepertinya masih ada kesempatan.
Sementara itu, kedua kakak Nana saling bertukar pandang.
“Sebentar,” ujar kakak tertua Nana tiba-tiba. “Jadi ini yang dulu pernah dikenalin Mama?”
Nana menunduk pelan.
“Iya,” jawab Bu Hapsari singkat.
Kedua kakaknya terlihat kaget. Mereka memang tahu pernah ada perkenalan dulu, tapi tidak pernah benar-benar mengenal sosoknya.
Kakak kedua Nana menatap Izzan dengan ekspresi serius namun sopan.
“Boleh ngobrol sebentar?”
Izzan mengangguk tenang. “Tentu, Kak.”
Mereka berpindah sedikit menjauh dari meja utama.
Nana hanya bisa duduk dengan perasaan campur aduk. Salting. Malu. Gugup.
“Dia kenapa sih harus ngomong sekarang…” bisiknya dalam hati.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di sudut restoran, kakak-kakak Nana menatap Izzan dengan sikap protektif.
“Kami cuma mau tahu satu hal,” ujar kakak tertua. “Kamu serius nggak sama adik kami?”
Pertanyaan itu langsung dan tegas.
Izzan tidak mengalihkan pandangan.
“Saya nggak akan berani cerita di depan orang tua kalau saya nggak serius,” jawabnya mantap.
Kakak kedua Nana menyilangkan tangan. “Nana itu anak terakhir. Satu-satunya perempuan. Kami nggak main-main soal dia.”
“Saya juga nggak main-main,” jawab Izzan pelan namun tegas.
Ia tidak memberikan janji berlebihan. Tidak mengucapkan kata-kata manis kosong.
“Tapi saya memang butuh waktu. Nana juga lagi fokus kuliah. Saya nggak mau ganggu itu.”
Jawaban itu membuat kedua kakak Nana saling pandang.
Akhirnya kakak tertua mengangguk pelan.
“Baik. Kami nggak nutup kesempatan. Tapi kami lihat dari tindakan ya.”
Izzan tersenyum hormat. “Siap.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di meja utama, Bu Karin mendekat ke Bu Hapsari.
“Sa… kayaknya Allah masih kasih jalan ya,” bisiknya pelan.
Bu Hapsari tersenyum tipis. “Kita lihat saja nanti, Rin.”
Namun dalam hati, ia juga merasakan harapan yang sama.
Malam itu, ketika semua kembali duduk bersama, suasana terasa berbeda.
Tidak lagi sekadar silaturahmi.
Ada benang tak terlihat yang kembali terhubung.
Izzan sesekali melirik Nana. Nana pura-pura sibuk dengan keponakannya.
Keduanya tahu, rahasia kecil mereka kini sudah terbuka.
Dan mungkin, Ramadhan kali ini bukan hanya tentang menahan lapar dan haus.
Tapi tentang membuka kembali kesempatan yang dulu sempat tertunda.
Tentang dua keluarga yang perlahan melihat kemungkinan yang sama.
Dan tentang dua hati yang, meski sempat merenggang, ternyata belum benar-benar pergi.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang