NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 : KUNJUNGAN KE RUMAH BARU

Ketika sinar matahari mulai menyinari bagian depan rumah sakit pada pukul 06.30 pagi, Lia telah menyelesaikan sebagian besar pekerjaan cuci pagiannya. Tangan kirinya yang penuh dengan kapalan masih basah karena membilas cucian terakhir dari ruangan rawat inap anak-anak. Udara pagi yang segar membawa aroma bunga kamboja dari taman belakang rumah sakit, sedikit mengurangi bau deterjen yang selalu melekat pada bajunya. Dia menyimpan bingkai foto kecil yang selalu ada di mejanya – foto kembaran Mal, Rini, dan Adit – sebelum mengambil tas kerja yang sudah dipersiapkan untuk pergi ke desa Sidomukti.

“Sampai jumpa, Pak Joko,” ucap Lia dengan senyum hangat pada kepala bagian cuci yang sedang mengecek daftar pekerjaan hari itu. “Saya akan kembali menjelang sore untuk menyelesaikan cucian dari ruangan administrasi.”

Pak Joko mengangguk sambil mengusap peluh dari dahinya. “Hati-hati di jalan ya, Lia. Jangan sampai terlambat karena sore harinya ada pesanan khusus dari ruangan dokter spesialis anak.”

Setelah mengunci lemari cuci dengan hati-hati, Lia berjalan keluar dari halaman belakang rumah sakit menuju jalan raya. Sepanjang jalan, dia menyapa setiap orang yang mengenalnya – mulai dari pedagang sayur yang baru membuka kiosnya hingga tukang becak yang sedang membersihkan kendaraannya. Di sudut jalan dekat pasar Cikini, sebuah spanduk baru menarik perhatiannya: “BANTU KAMI TEMUKAN KELUARGA ANDA – HUBUNGI KAMI DI NOMOR TERTERA”. Dia segera mencatat nomornya di buku catatan kecil yang selalu ada di saku bajunya.

Pada pukul 07.15, Lia sampai di terminal kecil dekat pasar Cikini. Udara pagi yang segar bercampur dengan aroma sate padang dari kios dekat terminal. Dia memilih untuk berjalan kaki menuju desa Sidomukti agar bisa menikmati pemandangan sepanjang jalan – sawah yang hijau menyebarkan kesegaran, anak-anak kecil yang sedang bermain dengan tanah liat di halaman sekolah dasar desa, dan rumah-rumah kayu yang berdiri kokoh di antara pepohonan rindang.

Ketika sampai di perempatan jalan raya desa, Lia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun sedang bermain dengan mainan mobil kecil di teras rumah kayu. Rambutnya pirang sedikit berantakan, wajahnya ceria ketika berlari mengejar bayangan yang terbentuk dari sinar matahari pagi. Ketika anak itu berbalik, Lia melihat dengan jelas – tepat di bagian punggung kanannya ada bintik merah berbentuk hati yang sudah tidak bisa dia lupakan selama ini.

“Hai, nak,” ucap Lia dengan suara lembut sambil mendekat perlahan. “Kamu sedang bermain apa ya?”

Anak itu mengangkat wajahnya yang ceria. “Permainan mobil, Bu. Nama saya Rio lho, Bu.”

Lia meraih tangannya dengan lembut, merasakan kehangatan kulitnya yang lembut. “Rio ya? Nama kamu bagus sekali. Kamu tinggal di sini ya?”

“Ya, Bu. Rumah saya ada di situ,” jawab Rio sambil menunjuk ke arah rumah kayu kecil di tengah kebun jagung. “Ayah saya sedang bekerja di kebun, dan ibu saya sedang memasak di rumah.”

Lia mengangguk sambil melihat ke arah rumah yang ditunjuk Rio. Di sana, seorang wanita mengenakan baju putih sedang mengeluarkan nasi hangat dari panci tanah. Lia mendekat perlahan, menyapa wanita itu dengan senyum hangat.

“Hai, Bu. Saya Lia dari rumah sakit di Medan,” ucapnya dengan suara lembut. “Saya datang karena ada sesuatu yang ingin saya tanyakan tentang anak Anda yang lucu itu.”

Wanita itu mengangkat wajahnya, matanya sedikit membelalak melihat Lia yang sedang menatap Rio dengan mata penuh perhatian. “Iya, saya Nina. Ini anak saya, Rio. Kenapa ya, Bu?”

Lia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Maafkan saya jika mengganggu, Bu Nina. Saya ingin bertanya tentang anak Anda ini – bagaimana Anda mendapatkan dia? Apakah ada catatan khusus tentang dirinya saat Anda mengadopsinya?”

Nina terdiam sejenak sebelum menjawab. “Kita mendapatkan Rio dari sebuah lembaga di Jakarta sekitar delapan tahun yang lalu. Mereka bilang dia adalah anak yatim piatu yang orang tuanya tidak mampu merawatnya.”

Lia merasa dada sedikit sesak mendengarnya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka tasnya dan mengambil foto lama yang selalu dia bawa. “Apakah Anda ingat ciri khusus pada tubuhnya saat dia datang kepada Anda? Seperti bintik merah berbentuk hati di punggung kanannya?”

Nina mengangguk perlahan. “Ya, ada. Kenapa Anda tahu hal itu?”

Lia merasa mata airinya mulai berkaca-kaca. Dia menunjukkan foto kecil kembaran anaknya. “Rio bukan anak yatim piatu, Bu. Dia adalah anak saya – Adit Supriyanto – yang saya harus serahkan karena keadaan yang tidak menguntungkan tahun lalu.”

Kata-kata itu menggema di udara pagi desa yang sunyi. Nina menutup bibirnya dengan tangan, mata penuh dengan kejutan. Rio yang tadinya sedang bermain mendekat dengan rasa ingin tahu. “Bu, kenapa Kak Lia menangis ya?”

Lia meraih tangannya dengan lembut. “Rio, nama sebenarnya kamu adalah Adit Supriyanto. Kamu punya dua kakak perempuan – Mal dan Rini – yang selalu merindukanmu.”

Rio menatapnya dengan mata penuh kebingungan sebelum melihat tangan Nina yang juga mulai bergetar. “Jadi saya punya keluarga lain ya, Bu?”

“Ya, sayang,” jawab Lia dengan suara lembut sambil mengelus kepalanya. “Kamu punya dua kakak perempuan yang selalu menunggumu di Medan. Mereka selalu menyimpan mainan dan buku cerita untukmu.”

Di kejauhan, matahari mulai naik lebih tinggi menyinari desa yang damai. Udara pagi yang segar membawa harapan baru bagi semua orang yang ada di sana – bahwa cinta yang terjalin tidak akan pernah pudar meskipun waktu dan jarak memisahkan mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!