NovelToon NovelToon
Pewaris Yang Tertukar

Pewaris Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Identitas Tersembunyi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.

Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.

Siapakah pewaris yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 — Dalam Bayangan

Bab 18 — Dalam Bayangan

Pagi di rumah besar keluarga Mahendra berjalan seperti biasa.

Para pelayan mulai membersihkan ruang tamu. Aroma kopi baru diseduh menyebar dari dapur. Dari luar rumah itu terlihat tenang seperti hari-hari sebelumnya.

Di salah satu kamar lantai dua, Alisha berdiri di depan jendela.

Tangannya menggenggam ponsel.

Sejak semalam ia hampir tidak tidur. Percakapan yang ia dengar dari ruang kerja orang tuanya terus teringat di kepalanya.

Ia bukan anak kandung keluarga Mahendra.

Awalnya ia merasa seperti kehilangan segalanya.

Rumah ini.

Nama keluarga ini.

Semua terasa seperti milik orang lain.

Alisha menatap bayangannya di kaca jendela.

“Aku bukan anak mereka.”

Ia mengucapkan kalimat itu pelan.

Wajahnya terlihat tenang, jauh berbeda dari perasaan kacau yang ia rasakan semalam.

Beberapa jam memikirkan semuanya membuat pikirannya berubah.

Ia menyadari satu hal.

Jika ia bukan anak Ragendra Mahendra…

Berarti hubungannya dengan Alvaro juga bukan hubungan darah.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Selama ini ia selalu menahan perasaannya. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa Alvaro hanyalah kakak.

Ia memaksakan diri menjaga jarak.

Sekarang tidak ada lagi batasan itu.

Alisha tersenyum tipis.

“Akhirnya.”

Namun senyumnya perlahan memudar saat ia mengingat satu nama.

Alisha Pratiwi.

Tangannya mengepal pelan.

Sejak gadis itu muncul, perhatian Alvaro berubah.

Ia mulai sering keluar rumah.

Ia mulai terlihat berbeda.

Perubahan itu membuat Alisha merasa tidak nyaman sejak awal.

Ia mengambil ponselnya lalu membuka pesan yang diterima semalam.

Sebuah alamat.

Alamat rumah kos tempat Alisha Pratiwi tinggal.

Ia sudah meminta seseorang mencari informasi tentang gadis itu.

Alisha menarik napas pelan lalu mengambil tas kecilnya.

Beberapa menit kemudian sebuah mobil hitam keluar dari halaman rumah Mahendra.

Mobil itu melaju menuju kawasan yang jauh lebih sederhana dari lingkungan rumah keluarga Mahendra.

Setelah hampir setengah jam perjalanan, mobil berhenti di ujung sebuah gang sempit.

Dari dalam mobil, Alisha melihat bangunan rumah kos dua lantai dengan cat dinding yang mulai pudar.

Beberapa sepeda motor terparkir di halaman.

Ia tetap duduk di dalam mobil.

Tatapannya tertuju pada bangunan itu.

“Jadi ini tempatmu.”

Beberapa menit berlalu.

Pintu rumah kos akhirnya terbuka.

Seorang gadis keluar dari dalam.

Alisha Pratiwi.

Ia mengenakan pakaian sederhana dan membawa tas kecil di tangannya.

Wajahnya terlihat segar meski tanpa riasan.

Alisha memperhatikannya tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian sebuah mobil berhenti di depan gang.

Pintu mobil terbuka.

Alvaro turun dari sana.

Tatapan Alisha langsung berubah.

Ia memperhatikan bagaimana pria itu berjalan mendekati Alisha Pratiwi.

Mereka berbicara beberapa menit.

Alvaro terlihat santai. Bahkan ia sempat tersenyum.

Senyum yang sangat jarang ia tunjukkan di rumah.

Alisha Pratiwi tampak terkejut melihatnya datang.

Alvaro kemudian membuka pintu mobil untuk gadis itu.

Gerakan sederhana.

Tetapi bagi Alisha, pemandangan itu terasa menyakitkan.

Tangannya mencengkeram kursi mobil.

“Dia menjemputnya.”

Mobil Alvaro lalu pergi meninggalkan gang kecil itu.

Alisha masih duduk di tempatnya.

Dadanya terasa panas.

Ia sudah lama mengenal Alvaro. Pria itu tidak mudah memperhatikan orang lain.

Ia juga jarang memperlakukan seseorang dengan lembut.

Alisha tahu sifat itu lebih dari siapa pun.

Karena selama bertahun-tahun ia selalu berada di dekatnya.

Sekarang semua itu berubah.

Ponselnya tiba-tiba berdering.

Ia langsung menjawab.

“Ya.”

Suara pria di seberang terdengar santai.

“Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi tentang gadis itu.”

Alisha menatap jalan di depannya.

“Katakan.”

“Namanya Alisha Pratiwi. Ia dibesarkan oleh keluarga sederhana.”

Pria itu berhenti sebentar.

“Sepertinya hidupnya biasa saja sebelum bertemu keluarga Mahendra.”

Alisha mendengarkan tanpa memotong.

“Ia juga pernah bekerja paruh waktu,” lanjut pria itu.

“Tidak ada hal mencurigakan.”

Alisha tertawa pelan.

“Tidak ada yang istimewa?”

Ia menatap arah mobil Alvaro tadi pergi.

“Tapi dia berhasil membuat Alvaro berubah.”

Suara pria itu terdengar penasaran.

“Kamu benar-benar tertarik pada gadis itu?”

Alisha tidak langsung menjawab.

Ia hanya berkata singkat.

“Aku ingin tahu lebih banyak.”

Telepon ditutup.

Mobil hitam itu perlahan meninggalkan gang.

Di tempat lain, Alvaro sedang duduk di sebuah kafe bersama Detektif Damar.

Damar membuka laptopnya dan memperlihatkan beberapa foto.

“Beberapa orang lama Bram mulai terlihat lagi,” katanya.

Alvaro menatap layar itu dengan serius.

“Di mana?”

“Di sekitar pelabuhan dan kawasan gudang tua.”

Alvaro menghela napas panjang.

Nama Bram kembali muncul.

Pria itu selalu seperti bayangan yang sulit dihilangkan.

“Menurutmu dia akan kembali?” tanya Alvaro.

Damar menutup laptopnya.

“Orang seperti dia tidak pernah benar-benar berhenti.”

Beberapa detik mereka hanya diam.

Alvaro akhirnya berkata pelan.

“Kalau dia kembali…"

Tatapannya berubah dingin.

“…aku tidak akan membiarkannya menyentuh orang-orang di sekitarku.”

Damar menatapnya.

“Termasuk Alisha?”

Alvaro tidak menjawab.

Ekspresinya sudah cukup jelas.

Sementara itu, mobil yang dikendarai Alisha berhenti di sebuah apartemen kecil.

Ia turun lalu masuk ke dalam unit yang jarang ia gunakan.

Begitu pintu tertutup, ia berjalan menuju jendela besar yang menghadap jalan kota.

Tangannya mengambil ponsel.

Ia membuka galeri.

Foto Alvaro muncul di layar.

Foto lama yang diambil beberapa tahun lalu.

Alisha menatap foto itu cukup lama.

“Seharusnya kamu melihatku seperti itu.”

Suara itu keluar pelan.

Ia menutup galeri lalu mencari nomor lain.

Beberapa detik kemudian seseorang menjawab.

“Aku dengar kamu mencari orang yang bisa melakukan pekerjaan kotor.”

Alisha berbicara dengan suara tenang.

“Aku butuh seseorang yang tidak banyak bertanya.”

Pria itu tertawa kecil.

“Banyak orang seperti itu.”

Alisha menatap pemandangan kota.

“Aku hanya ingin seseorang memberi pelajaran pada seorang gadis.”

Pria itu kembali bertanya.

“Seberapa keras pelajarannya?”

Alisha terdiam sejenak.

Wajah Alisha Pratiwi muncul di pikirannya.

Cara Alvaro menatap gadis itu juga teringat jelas.

Ia akhirnya menjawab pelan.

“Cukup sampai dia tidak bisa muncul lagi di hadapan Alvaro.”

Terdengar tawa kecil di ujung telepon.

“Aku tahu beberapa orang yang mungkin tertarik dengan pekerjaan itu.”

Alisha menutup panggilan.

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Senyum yang terasa dingin.

Ia menatap langit kota yang mulai berubah warna.

“Aku sudah memberimu kesempatan.”

Bisiknya pelan.

“Tapi kamu tetap memilih dia.”

Matanya perlahan menyipit.

“Kalau begitu jangan salahkan aku.”

Karena mulai saat ini…

#bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!