"Aku bukan sekadar asistennya, aku adalah pelarian dari melodi sunyi yang ia ciptakan sendiri."
Ghava Dirgantara adalah produser musik jenius yang memiliki segalanya: kekayaan, bakat, dan visual menawan. Namun, di balik kesuksesannya, ia adalah pria yang "mati rasa". Pengkhianatan sang mantan kekasih di panggung penghargaan tiga tahun lalu membuatnya berubah menjadi sosok dingin yang dijuluki "Kulkas Antartika". Baginya, cinta hanyalah sampah yang merusak frekuensi musiknya.
Hingga muncul Nadine, asisten baru yang ceroboh namun memiliki telinga musik yang tajam. Nadine datang bukan dengan cinta, melainkan dengan luka yang sama dalamnya—ditinggalkan oleh tunangannya tepat sehari sebelum pernikahan.
Awalnya, hubungan mereka hanya sebatas bos galak dan asisten yang tertindas. Mulai dari hukuman membersihkan studio hingga insiden "sambal maut" yang membuat Nadine harus dilarikan ke rumah sakit. Namun, suasana berubah saat masa lalu mereka kembali mengetuk pintu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEKNIK MENYEMBUNYIKAN PERMATA
Suasana di ruang rapat studio terasa jauh lebih cair setelah sesi rekaman yang sukses. Aroma nasi kotak premium dan kopi hangat memenuhi ruangan. Elvario, yang tadinya tampak seperti singa kelaparan, kini duduk santai dengan kaki menyilang, tampak sangat puas dengan hasil take hari ini.
Adrina duduk di sampingnya, sesekali menyeka keringat di dahi suaminya, sementara Rizal sibuk membalas pesan di ponselnya. Di ujung meja, Nana duduk dengan canggung namun tetap lahap menyantap makanannya. Ghava? Ia ada di sana, namun pikirannya seolah tertinggal di ruang kontrol, matanya hanya menatap lurus ke arah cangkir kopi hitamnya yang sudah dingin.
Elvario meletakkan sendoknya, lalu menatap Nana dengan intens. Tatapan yang biasanya mengintimidasi itu kini penuh dengan rasa penasaran.
"Nadin, lo penulis lagu?" tanya Elvario tiba-tiba.
Nana tersedak kerupuk. Ia buru-buru menelan makanannya dan mengerjipkan mata. "Hah? Saya? Enggak sih, Mas El. Saya cuma pegawai baru di sini, tugasnya ya... bantu-bantu Mbak Yane sama dengerin Kak Ghava ngomel."
"Tapi insting lo soal lirik tadi tajam banget," sela Adrina dengan senyum manisnya. "Nggak semua orang bisa dapet kalimat yang 'pas' di momen yang tegang kayak tadi."
Nana tertawa kecil, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ya gitu deh, Kak. Aku sebenernya nggak jago nulis. Aku cuma suka nyanyi dan ngarang lagu di kamar mandi. Kalau gema suaranya bagus di kamar mandi, biasanya liriknya juga jadi kelihatan pinter, padahal mah ngasal aja," ucapnya polos.
Seketika, tawa pecah di ruangan itu. Elvario terbahak sampai bahunya terguncang, Adrina tertawa anggun, bahkan Rizal hampir menyemburkan air mineralnya. Jawaban Nana yang sangat jujur dan "apa adanya" itu terasa sangat menyegarkan di telinga orang-orang industri musik yang biasanya penuh kepalsuan.
Kecuali Ghava.
Pria itu tetap diam. Sudut bibirnya bahkan tidak bergerak satu milimeter pun. Ia justru merasa ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—bukan rasa marah, tapi rasa tak nyaman yang sulit ia definisikan. Ia merasa seolah-olah "kebisingan" Nana yang selama ini ia anggap gangguan, kini mulai diakui sebagai keajaiban oleh orang lain. Dan entah kenapa, Ghava merasa tidak rela jika keajaiban itu dibagi-bagi.
"Kamar mandi, ya?" Elvario menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. "Gue butuh orang kayak lo di tim gue. Jujur, berani, dan nggak jilat ludah sendiri."
"Eh, jangan Mas! Nanti Kak Ghava nggak ada yang gangguin lagi di studio," canda Nana sambil melirik Ghava dari sudut matanya.
Ghava berdehem keras, akhirnya bersuara. "Lirik itu cuma keberuntungan pemula, El. Jangan terlalu dipuji, nanti dia makin berisik."
Nana menjulurkan lidahnya ke arah Ghava saat para tamu itu tidak melihat. "Tuh kan, Mas El. Galaknya minta ampun. Aku heran, Kak Ghava ini makanannya apa sih? Batu es ya?"
Elvario menggeleng-gelengkan kepala sambil menatap Ghava. "Ghav, lo punya aset berharga di sini. Jangan kaku-kaku amat. Musik itu butuh nyawa, dan asisten lo ini punya itu."
Ghava hanya menatap Nana dengan tatapan yang sulit diartikan. Di dalam hatinya, ia mulai menyadari satu hal yang menakutkan: Gadis ini bukan sekadar angin yang lewat saat badai. Dia adalah badainya sendiri yang sedang menghancurkan semua tembok pertahanan yang sudah kubangun tiga tahun ini.
Setelah pintu depan studio tertutup rapat, suara mesin mobil Elvario yang perlahan menjauh meninggalkan keheningan yang mendadak terasa berat di koridor. Mbak Yane sudah kembali ke ruangannya untuk membereskan administrasi, menyisakan Ghava dan Nana di ruang tengah yang kini berantakan dengan sisa kotak makanan.
"Dah, Kak! Hati-hati di jalan! Kabari ya kalau lagunya sudah jadi!" seru Nana masih melambaikan tangan ke arah pintu yang sudah tertutup, seolah suaranya bisa menembus kayu jati tebal itu.
Ia menghela napas panjang, bahunya merosot santai. "Wah, gila... jantung aku hampir copot tadi pas Mas Elvario nanya-nanya. Ternyata orang keren kalau lagi makan nasi kotak sama aja kayak kita ya, Kak? Masih suka belepotan sambal."
Ghava tidak menyahut. Ia berdiri diam, menyandarkan punggungnya pada tembok, memperhatikan Nana yang mulai memunguti sampah di meja dengan gerakan lincah.
"Kenapa diam aja, Kak? Masih kaget ya asistennya ternyata lebih pinter dari dugaannya?" Nana menoleh, memberikan cengiran khasnya yang menantang.
Ghava berjalan mendekat, langkahnya pelan tapi terasa mengintimidasi. Ia berhenti tepat di depan Nana, membuat gadis itu mendongak.
"Masuk ke dalam," ucap Ghava rendah.
Nana mengerutkan kening. "Hah? Ke mana? Ke dalam kulkas—maksud aku, studio?"
"Ke studio. Sekarang."
"Ngapain? Kan rekamannya udah selesai. Aku mau pulang, mau mandi, mau latihan nyanyi lagi di kamar mandi biar makin jago," tolak Nana sambil tertawa kecil.
Namun, Ghava tidak sedang bercanda. Tatapannya sangat intens, jenis tatapan yang membuat Nana merasa sedang berada di bawah mikroskop. "Saya mau dengar 'lagu kamar mandi' kamu. Di depan mikrofon yang benar. Tanpa gema kamar mandi."
Nana tertegun. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh raut bingung. "Kak Ghava sehat? Tadi katanya suara aku kayak frekuensi rusak. Tadi katanya lirik aku cuma keberuntungan pemula. Kok sekarang—"
"Masuk, Nadin Anara," potong Ghava tegas, kali ini ia membuka pintu studio dan menahannya agar Nana bisa lewat. "Saya mau tahu, apa kamu cuma besar mulut di depan artis besar, atau kamu memang punya sesuatu yang... bisa bikin saya nulis lirik lagi."
Nana menelan ludah. Keberaniannya yang tadi meledak-ledak di depan Elvario mendadak ciut saat hanya berhadapan dengan Ghava. Suasana studio yang sunyi, lampu temaram, dan kehadiran Ghava yang begitu dominan membuatnya merasa... terpojok dalam artian yang berbeda.
"Jangan nyesel ya kalau mikrofon mahal Kakak pecah denger suara aku," bisik Nana pelan saat ia melangkah masuk melewati Ghava.
Ghava menutup pintu. Klik. Bunyi kunci otomatis itu terdengar seperti garis start bagi sesuatu yang baru.
Ghava duduk di depan konsol mixer, memasang headphone cadangan, dan memberikan isyarat melalui ibu jarinya. Di balik kaca, Nana berdiri di depan mikrofon perak yang harganya setara dengan sebuah mobil. Gadis itu menarik napas panjang, memejamkan mata, dan seketika atmosfer di ruangan itu berubah.
Tanpa musik pengiring, Nana mulai bernyanyi.
Suara itu... tidak lagi sumbang. Ternyata, selama ini ia hanya sengaja bermain-main. Suara Nana yang sebenarnya adalah jenis suara yang jujur, sedikit serak namun hangat, membawa melodi yang belum pernah Ghava dengar sebelumnya. Liriknya mengalir seperti percakapan di malam hari—tentang kesepian, tentang tembok yang dibangun tinggi, dan tentang harapan kecil yang terselip di antaranya.
Ghava tertegun. Ia memejamkan mata, membiarkan setiap nada itu masuk ke dalam pori-porinya. Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dadanya tidak terasa sesak. Ia seolah masuk ke dalam lagu itu, berjalan di sebuah lorong gelap yang tiba-tiba diterangi oleh cahaya kecil dari suara Nana. Ia mulai membayangkan lirik-lirik yang dulu pernah ia kubur, mulai merangkai rima di kepalanya mengikuti suara gadis itu.
Dunia Ghava yang membeku seolah mulai retak. Ia hampir saja menekan tombol record karena ingin mengabadikan keajaiban ini selamanya—
"WHAHAHAHAHA! ADUH!"
Suara tawa menggelegar menghantam telinga Ghava melalui headphone. Fokusnya hancur berkeping-keping. Ghava tersentak kaget, nyaris terjatuh dari kursinya.
Di dalam ruangan kaca, Nana sudah membungkuk sambil memegang perutnya, tertawa terbahak-bahak sampai matanya berair. Keseriusan puitis tadi hilang dalam sekejap, digantikan oleh Nana yang "ajaib" seperti biasanya.
Ia mengetuk-ngetuk kaca studio dengan semangat. "Bagus kan suaraku? Mas Ghava sampe melongo gitu! Pasti dalam hati lagi bilang, 'Wah, ternyata asistenku ini bidadari yang menyamar', ya kan?"
Ghava segera melepas headphone-nya dengan wajah merah padam—bukan karena marah, tapi karena malu karena tertangkap basah sedang terpesona. Ia berdehem keras, mencoba mengembalikan harga dirinya yang runtuh.
"Suara kamu... biasa saja. Tadi itu cuma faktor akustik ruangan," ucap Ghava datar, meski tangannya sedikit gemetar saat merapikan kabel.
Nana keluar dari ruang take dengan langkah riang. "Halah, bohong! Tadi Kakak merem-merem gitu, kayak lagi meditasi. Ngaku aja, Kak, suara aku emang bikin nagih, kan? Kayak mi instan pake telur!"
Ghava memutar kursinya, menatap Nana yang kini sudah berdiri di depannya dengan wajah bangga. "Kamu sengaja nyanyi fals selama ini?"
"Nggak sengaja, Kak. Itu namanya teknik 'menyembunyikan permata'. Biar Kakak nggak kaget-kaget amat kalau tahu aslinya," Nana mengedipkan sebelah mata. "Gimana? Udah dapet inspirasi buat nulis lirik lagi? Atau masih mau jadi Mas Kulkas yang membeku?"
Ghava menatap mata Nana lama. Ada keheningan yang berbeda kali ini—bukan sunyi yang menyesakkan, tapi sunyi yang penuh dengan sesuatu yang tak terucap.
"Pulang sana, Nadin," gumam Ghava pelan. "Sebelum saya berubah pikiran dan nyuruh kamu rekaman semalaman."
"Siap, Mas Bos! Jangan kangen ya!" Nana menyambar tasnya dan berlari keluar sambil tetap tertawa.
Begitu pintu tertutup, Ghava terdiam sendirian di studio. Ia menatap layar monitor yang kosong, lalu perlahan jemarinya mulai mengetik sesuatu di kolom judul proyek baru.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰