"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Perang Dingin di Meja Rapat
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 14.00 PM]
[Lokasi: Gedung Gu Corp, Pusat Kota Shenzhen]
Lobi megah Gu Corp tampak lebih sibuk dari biasanya. Sebuah mobil sport biru elektrik berhenti tepat di depan pintu putar gedung. Gu Yanran keluar dengan langkah yang penuh percaya diri, meski di balik kacamata hitamnya, ia masih merasa sedikit heran dengan panggilan mendadak dari kakaknya.
Ah Cheng sudah menunggu di depan lift khusus CEO. Wajah asisten setia itu tampak kaku, seolah sedang memikul beban berat. "Tuan Muda Yanran, silakan. Tuan Jingshen sudah menunggu di dalam. Beliau meminta agar rapat segera dimulai begitu Anda tiba."
"Kaku sekali," gumam Yanran sambil masuk ke lift. "Apakah dia masih merasa pusing karena arak ayah Lin Xia? Kenapa suasananya seperti akan ada perang dunia?"
Begitu pintu ruang rapat lantai paling atas terbuka, hawa dingin dari AC sentral seolah membeku. Gu Jingshen duduk di ujung meja rapat yang panjang. Wajahnya datar, matanya tertuju pada tablet di depannya, dan tidak ada sedikit pun sisa-sisa pria mabuk yang meracau romantis semalam.
Yanran duduk di kursi di seberangnya. "Jadi, apa yang begitu darurat sampai kau harus memanggil timku ke sini di tengah siang hari yang bolong, Kak?"
Jingshen mengangkat pandangannya. Tatapannya begitu tajam hingga membuat teknisi senior di belakang Yanran menahan napas. "Sistem integrasi Project Mnemosyne antara Gu Corp dan Yan Technology harus diputus sebagian. Aku ingin kontrol akses penuh kembali ke server pusat Gu Corp."
Yanran tersentak. Ia memukul meja dengan pelan. "Apa?! Kita sudah sepakat bahwa Yan Technology memegang kendali kreatif dan teknis secara mandiri. Memindahkan kontrol akses kembali padamu sama saja dengan menjadikanku anak perusahaanmu lagi!"
"Ini tentang keamanan data, Yanran," jawab Jingshen dengan nada yang sangat dingin, hampir tidak berperasaan. "Aku tidak ingin ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh pihak luar... atau oleh 'orang dalam' yang punya niat buruk."
Jingshen sengaja menekankan kata 'pihak luar'. Di dalam kepalanya, ia melihat wajah ayah tirinya. Ia ingin mengamankan akses server sebelum Tuan Besar Gu mencoba menggunakan sistem tersebut untuk memata-matai atau mencuri data pribadinya. Namun, ia tidak bisa memberi tahu Yanran sekarang. Yanran masih terlalu impulsif, dan Jingshen perlu bertindak sendiri untuk melindungi semua orang, termasuk ibunya.
"Kau kembali menjadi robot, Jingshen," desis Yanran. "Semalam kau bicara tentang perasaan, tentang melindungi Lin Xia. Sekarang kau hanya bicara tentang kontrol dan kekuasaan. Kau persis seperti Ayah!"
Mendengar nama 'Ayah' disebut, rahang Jingshen mengeras. "Jangan pernah samakan aku dengannya. Rapat ini selesai. Ah Cheng akan mengirimkan protokol teknis barunya sore ini. Kau hanya perlu tanda tangan."
Jingshen berdiri tanpa menunggu jawaban adiknya. Ia berjalan keluar dari ruang rapat dengan langkah besar, meninggalkan Yanran yang mengepalkan tangan karena merasa direndahkan di depan timnya sendiri.
[Waktu: Selasa, 28 April, Pukul 16.30 PM]
[Lokasi: Cafe Moonlight Script, Distrik Bao'an, Shenzhen]
Di sisi lain kota, suasana jauh lebih hangat namun tetap penuh kejutan. Lin Xia menutup laptopnya setelah berhasil memulihkan alur naskah di bab-bab awal. Matanya terasa pedas karena terlalu lama menatap layar. Ia bersandar di kursi pojoknya, mencoba mengatur napas.
Pandangannya tertuju pada bar cafe. Di sana, Lin Feng masih sibuk. Kali ini, pria pemilik klub malam itu sedang membantu Xiao Li merapikan stok gelas. Lin Feng tampak sangat rajin, meskipun berkali-kali ia hampir menjatuhkan gelas karena gerakannya yang terlalu bersemangat.
Lin Xia berdiri dan berjalan mendekati mereka. Ia menaikkan alisnya sambil menatap Lin Feng yang sedang menyeka keringat di dahi.
"Lin Feng," panggil Lin Xia pelan. "Apakah pemilik klub mewah di seberang sana sudah resmi beralih profesi menjadi pelayan cafe? Lihatlah ke jendela, langit sudah mulai sore. Sebentar lagi matahari terbenam, dan orang-orang sudah mulai masuk ke klubmu untuk bersantai."
Lin Feng tersentak, hampir menjatuhkan serbet yang ia pegang. Ia menoleh ke luar jendela dan melihat lampu-lampu neon di klubnya sudah mulai menyala. Ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal, wajahnya terlihat sangat kikuk.
"Ah... itu... begini, Xia," Lin Feng berdeham, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Klubku itu... eh, sedang ada pembersihan saluran udara sore ini. Jadi, asap dan debunya tidak baik untuk pernapasan CEO tampan sepertiku. Lagipula, aku sedang melakukan 'riset pasar' tentang bagaimana pelayanan kopi mempengaruhi suasana hati pelanggan klub. Ya, riset pasar!"
Lin Xia tertawa kecil mendengar alasan yang sama sekali tidak masuk akal itu. "Riset pasar dengan mengelap gelas selama lima jam? Kau sungguh berdedikasi."
Xiao Li, yang sedang mencatat inventaris di sampingnya, mendongak. Meski ia sering terlihat tidak peka, kali ini ia memberikan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Sudahlah, Xia. Jangan digoda terus. Sebenarnya... bantuan dia lumayan juga hari ini. Terima kasih ya, Lin Feng. Kau sudah mengurangi separuh beban kerjaku hari ini."
Lin Feng terpaku. Senyum Xiao Li seolah memberikan energi ekstra yang lebih kuat daripada sepuluh gelas kopi hitam. Wajahnya langsung berseri-seri. "Sama-sama! Apa pun untukmu... maksudku, untuk kelancaran cafe ini!"
Lin Xia memperhatikan mereka berdua dengan tatapan penuh arti. Ia senang melihat Xiao Li mulai membuka diri, namun pikirannya kembali melayang pada Gu Jingshen. Ia baru saja mengirim pesan ke Jingshen menanyakan kabarnya, tapi pria itu belum membalas sejak dua jam yang lalu.
Apakah dia sedang sibuk? Atau apakah obat pereda mabuk buatanku kurang manjur? batin Lin Xia khawatir.
Ia tidak tahu bahwa saat ini, di gedung Gu Corp, Gu Jingshen sedang duduk sendirian di ruang kerjanya yang gelap, menatap layar monitor yang menampilkan data rahasia ayah tirinya, sambil menyusun rencana untuk menghancurkan kekuasaan pria yang telah merenggut kebahagiaan masa kecilnya.