Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejadian di kantin
Bel akhir kelas berbunyi nyaring, memantul di dinding ruang kuliah yang sejak pagi dipenuhi suara dosen dan ketukan pulpen. Lara menghela napas lega. Ia menutup buku catatannya, merapikan alat tulis satu per satu, lalu memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan cepat.
Oke, pikirnya.Sekarang yang penting cuma satu yaitu makan.
Perutnya sudah memberi tanda sejak sepuluh menit lalu. Demo kecil cacing dalam perutnya yang ia abaikan demi terlihat seperti mahasiswi rajin. Namun begitu kelas usai, Lara tak berniat menunda lagi.
Ia berdiri dan melangkah keluar ruangan.
Tanpa disadari Lara, sejak beberapa bangku di belakangnya, sepasang mata mengikuti setiap geraknya.
Axel bangkit menyusul.
“Lara,” panggilnya di koridor.
“Oh, Axel.”
“Mau ke mana?”
“Kantin. Perutku sudah minta hak asasi,” jawab Lara jujur.
Axel tertawa kecil. “Bareng yuk.”
Dan tanpa banyak basa-basi, mereka pun berjalan berdampingan.
Obrolan ringan mengalir—tentang kelas, dosen, dan tugas yang terasa lebih berat dari SKS-nya. Lara bicara apa adanya, sementara Axel mendengarkan dengan ekspresi santai, sesekali menimpali.
Di sekitar mereka, bisik-bisik mulai muncul.
Axel Smith, idola kampus, yang biasanya lewat tanpa menoleh, kini duduk satu meja dengan mahasiswi baru.
Di kantin, Lara memesan makanan pedas favoritnya tanpa ragu. Axel memilih menu yang lebih aman.
“Kamu yakin nggak akan kepedesan?” tanya Axel saat melihat sambalnya.
Lara mengangguk mantap. “Tenang saja pedas itu bagian dari hidup.”
Dua menit kemudian, hidup Lara hampir berakhir.
“Uhuk—uhuk!”
Pedasnya sambal menyerang tanpa ampun. Lara refleks meraih gelas jus jeruk di depannya dan meneguknya dengan tergesa. Bahkan terlalu tergesa.
“Uhuk!”
Sebagian jus malah masuk ke jalan yang salah, sisanya—dengan dramatis—tumpah ke bagian depan kemejanya.
Lara terdiam, menatap noda jingga di bajunya.
Bagus, Lara. Sangat anggun. Sangat berkelas.
Axel langsung berdiri setengah panik. “Lara! Kamu nggak apa-apa?”
Lara mengangguk sambil batuk kecil. “Nggak… cuma… pedasnya kebangetan.”
Tanpa berpikir panjang, Axel merogoh saku celananya dan mengeluarkan sapu tangan. Dengan gerakan refleks, ia menepuk-nepuk bagian kemeja Lara yang terkena jus, berusaha membersihkan cairan yang masih basah.
“Eh—Axel—nggak apa-apa—” Lara refleks menahan tangannya, pipinya memanas.
“Diam sebentar,” ujar Axel singkat, dan fokus.
Jarak mereka terlalu dekat. Lara bisa mencium aroma segar yang samar—bersih, maskulin, dan entah kenapa membuatnya lupa bernapas sejenak.
Setelah noda itu sedikit berkurang, Axel menarik tangannya. “Maaf. Refleks.”
“Nggak, justru makasih,” jawab Lara cepat.
Ia mengambil sapu tangan itu dari tangan Axel. “Aku bawa pulang aja, ya. Aku cuci dulu, nanti aku balikin.”
Axel menatap sapu tangannya yang kini berada di genggaman Lara. Bibirnya melengkung tipis.
“Oh.”
“Boleh.”
Nada suaranya terdengar biasa, tapi dalam hatinya ada rasa puas kecil yang sulit dijelaskan.
Lara melipat sapu tangan itu hati-hati dan menyimpannya di tas. “Tenang, aku ini orang yang bertanggung jawab.”
Axel terkekeh. “Iya aku percaya.”
Di sekitar mereka, bisik-bisik semakin ramai.
Axel Smith tersenyum.
Axel Smith peduli.
Axel Smith… terlihat nyaman.
Sementara Lara kembali menyantap makanannya—kali ini lebih hati-hati—ia sama sekali tidak menyadari bahwa hal kecil yang ia anggap sepele telah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit.
Setelah keadaan sedikit tenang dan Lara berhasil menyelesaikan makanannya—dengan tingkat kepedasan yang lebih manusiawi—Axel bersandar di kursinya.
“Habis ini kamu mau ke mana?” tanyanya. “Masih sore, kan.”
Lara menatap jam di ponselnya. Benar, langit di luar jendela kantin masih terang, matahari belum sepenuhnya condong ke barat.
Ia terdiam sejenak.
Pulang ke apartemen sendirian terasa…sangat sepi.
Tapi kalaupun Arka sudah pulang, suasananya masih terasa canggung.
Aneh—ia ingin pulang, tapi juga belum siap bertemu.
Kenapa sih segini ribet? Lara mendesah dalam hati.
“Kayaknya aku ke perpustakaan dulu,” akhirnya ia menjawab. “Sekalian ngerjain tugas buat besok.”
Axel mengangguk. “Aku sebenarnya mau nawarin nganter,” ujarnya jujur, “tapi aku masih ada urusan bentar.”
“Oh, nggak apa-apa,” kata Lara cepat. “Aku juga nggak langsung pulang.”
Axel tersenyum tipis—senyum yang tidak banyak orang dapatkan. “Lain kali, ya.”
Lara mengangguk sambil tersenyum kecil, lalu berpisah di persimpangan koridor.
Di perpustakaan, suasana sunyi langsung menyambut. Lara memilih meja dekat jendela, membuka laptop, dan mulai tenggelam dalam tugasnya. Ia terlalu fokus sampai lupa waktu—hingga bunyi notifikasi ponselnya berbunyi.
Ia melirik layar.
17.32.
“HAH?!” Lara hampir berdiri dari kursinya.
Ia cepat-cepat memasukkan laptop dan buku ke dalam tas. Jantungnya berdegup lebih cepat.
Setengah enam?! Mati aku.
Ia bergegas keluar perpustakaan, memesan taksi online dengan tangan gemetar, lalu duduk gelisah sepanjang perjalanan.
Sementara itu, di apartemen—
Arka berdiri di ruang tengah, jasnya sudah dilepas, lengan kemeja digulung rapi. Jam di pergelangan tangannya ia lirik lagi. Dan lagi.
Sudah hampir dua jam sejak ia sampai.
Lara belum pulang.
Ia menghela napas pelan, rahangnya mengeras. Ponsel di tangannya kembali menyala—tanpa satu pun pesan masuk.
Harusnya aku tanya.
Tapi nomornya saja aku nggak punya.
Arka menekan tombol layar ponselnya, lalu mematikannya lagi. Wajahnya menegang, perasaan yang sudah lama ia kubur perlahan naik ke permukaan—campuran cemas, kesal, dan sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Di luar, suara pintu lift akhirnya terdengar.
Dan Arka berdiri lebih tegak dari yang ia sadari.