"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Donatur Tunggal dan Skandal Kampus
Gedung administrasi kampus siang itu mendadak sunyi saat sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan pintu masuk. Calvin keluar dengan setelan jas abu-abu gelap, kacamata hitam, dan aura yang membuat para mahasiswa yang sedang nongkrong langsung menepi seolah ada kunjungan presiden.
Nirbi mengekor di belakangnya dengan kepala tertunduk, memilin ujung kemejanya. "Kak, malu... kita ke bagian keuangan aja diem-diem, nggak usah pake gaya begini."
"Diam, Nirbita. Jika kamu ingin saya membereskan kekacauanmu, lakukan dengan cara saya," sahut Calvin dingin.
Mereka masuk ke ruang administrasi yang penuh sesak. Calvin tidak ikut mengantre. Ia langsung menuju meja paling depan yang dijaga oleh seorang ibu-ibu dosen senior bernama Bu Ratna, yang terkenal galak.
"Maaf, Pak, harus antre—" Kalimat Bu Ratna terputus saat melihat wajah Calvin yang terpampang di majalah bisnis bulan ini.
"Saya ingin melunasi seluruh tunggakan administrasi atas nama Nirbita Luminara Rein. Termasuk biaya wisuda dan sumbangan pembangunan gedung yang belum dibayar," ujar Calvin sambil meletakkan kartu kredit platinumnya di atas meja.
Bu Ratna mengecek komputer. "Oh, Saudari Nirbita. Ini tunggakannya sudah dua semester, Pak. Totalnya cukup besar. Anda... kakaknya?"
Calvin melirik Nirbi yang berdiri kaku di sampingnya. "Saya pelindungnya. Dan pastikan namanya bersih dari daftar drop out dalam lima menit ke depan."
Kehebohan di Ruang Dekanat
Kabar kedatangan CEO Weinstein Group menyebar lebih cepat dari virus. Dalam sekejap, koridor di depan ruang administrasi dipenuhi mahasiswa yang mengintip lewat jendela kaca.
"Eh, itu kan si Nirbi! Gila, dia beneran bareng Calvin Weinstein?" bisik seorang mahasiswi.
"Gila, denger-denger tadi langsung dilunasin cash! Padahal Nirbi kan udah bangkrut."
"Pasti simpanannya deh. Liat aja gayanya, mana mungkin CEO mau urusin bocah berantakan kayak gitu kalau nggak ada 'apa-apanya'."
Nirbi yang mendengar bisikan-bisikan itu dari balik pintu mulai merasa tidak nyaman. Wajahnya merah padam. Saat mereka keluar dari ruangan, beberapa teman seangkatan Nirbi mencegat mereka di koridor.
"Wah, Nirbi! Hebat ya sekarang, pantesan jarang masuk kelas, ternyata dapet 'beasiswa' eksklusif dari Pak CEO," sindir seorang mahasiswi bernama Shinta yang dulu sering bersaing dengan Nirbi.
Nirbi tersentak. "Maksud kamu apa, Shin? Kak Calvin itu—"
"Kak Calvin?" Shinta tertawa sinis sambil melirik Calvin yang berdiri kaku di samping Nirbi. "Wah, panggilannya akrab banget ya. Berapa sebulan, Bi? Sampe biaya DO aja bisa langsung lunas gitu?"
Pembelaan Sang Tuan Higienis
Nirbi menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Ia ingin marah, tapi kenyataannya ia memang ditolong oleh Calvin.
Calvin yang sejak tadi diam, tiba-tiba melangkah maju. Ia berdiri tepat di depan Shinta, membuat gadis itu mundur selangkah karena ketakutan. Calvin mengeluarkan botol hand sanitizer kecil, menyemprot tangannya dengan perlahan, lalu menatap Shinta dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Telinga saya tidak suka mendengar polusi suara," ujar Calvin dengan suara rendah yang mengintimidasi. "Nirbita Luminara Rein adalah asisten pribadi saya dengan kontrak kerja yang legal. Jika Anda memiliki masalah dengan cara saya menghargai kinerja karyawan saya, silakan hubungi tim pengacara saya."
Calvin kemudian menarik tangan Nirbi, memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manis gadis itu ke arah kerumunan mahasiswa.
"Cincin ini adalah tanda bahwa dia berada di bawah perlindungan penuh saya. Jika saya mendengar satu lagi fitnah konyol tentang 'simpanan' atau apa pun itu, saya pastikan perusahaan orang tua kalian yang bekerjasama dengan Weinstein Group akan mengalami audit mendadak besok pagi."
Koridor langsung senyap. Shinta hanya bisa mematung dengan mulut terbuka.
Calvin menoleh ke arah Nirbi yang masih terpaku. "Kenapa diam? Ayo jalan. Udaranya mulai terkontaminasi oleh pikiran kotor orang-orang di sini."
Di Dalam Mobil
Begitu masuk ke mobil, Nirbi langsung menutup wajahnya dengan tas. "Kak... kenapa Kakak bilang gitu? Sekarang satu kampus makin ngira aku ada apa-apa sama Kakak!"
Calvin merapikan jasnya, menatap ke arah luar jendela. "Biar saja. Lebih baik mereka takut karena mengira kamu milik saya, daripada mereka berani menghinamu karena kamu terlihat tidak punya siapa-siapa."
"Tapi Kak, cincin ini—"
"Cincin itu akan tetap di sana," potong Calvin. Ia melirik Nirbi sebentar. "Dan mulai besok, saya akan mengirimkan sopir untuk mengantarmu kuliah. Tidak ada lagi bolos. Tidak ada lagi kerja di kafe. Fokus pada gelarmu, atau saya sendiri yang akan mengajarimu di rumah setiap malam."
Nirbi mengerucutkan bibirnya. "Dih, galak banget. Udah kayak bapak tiri."
"Saya bukan bapakmu, Nirbita," bisik Calvin sambil mendekatkan wajahnya ke arah Nirbi, membuat gadis itu menahan napas. "Saya adalah orang yang baru saja menghabiskan ratusan juta untuk memastikan kamu tetap sekolah. Jadi, patuhlah sedikit."
Nirbi hanya bisa mengangguk pelan, wajahnya kembali merona. Di tengah kekacauan skandal itu, ada rasa hangat yang menyelinap di hatinya. Ternyata, menjadi "milik" Tuan Higienis tidak seburuk yang dia bayangkan.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka