Raka adalah seorang "Hantu". Mantan operator elit dari unit rahasia yang keberadaannya tidak pernah diakui oleh negara. Setelah memalsukan kematiannya, ia hidup dalam bayang-bayang sebagai konsultan keamanan independen, memastikan rahasia-rahasia gelap korporasi tetap terkunci rapat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAKA WARDHANA
08:30 AM. Perjalanan Menuju Pinggiran Kota.
Raka memacu motor dual sport hitamnya membelah kemacetan Jakarta yang mulai merayap. Di balik helm full face dengan kaca iridium, matanya tidak pernah berhenti bergerak.
Ia tidak melihat jalanan seperti pengendara lain ia melihatnya sebagai peta taktikal. Ia menghitung jarak antar kendaraan, memindai posisi kamera ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) untuk memastikan sudut kemiringan motornya agar plat nomor palsunya tidak terdeteksi, dan mengawasi setiap pria berambut cepak dengan tas ransel taktis di pinggir jalan.
Siapa sebenarnya Raka?
Dunia mengenalnya sebagai subjek yang tidak ada. Namun, di dalam arsip rahasia yang sudah hangus, ia adalah Aset 09-Alpha.
Lahir dengan nama Raka Wardhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, ia bukan anak ajaib yang lahir di lingkungan teknologi. Ayahnya adalah seorang montir bengkel tua, dan ibunya seorang guru matematika SD.
Dari ayahnya, Raka mewarisi pemahaman intuitif tentang bagaimana mesin bekerja bagaimana setiap baut dan gir memiliki peran dalam sebuah harmoni mekanis. Dari ibunya, ia mewarisi kemampuan untuk melihat dunia dalam angka dan pola logika.
Saat anak anak seusianya bermain bola, Raka kecil menghabiskan waktu membongkar radio rusak, merakit ulang mesin motor, dan pada usia dua belas tahun, ia berhasil meretas jaringan WiFi kantor kelurahan hanya dengan menggunakan antena kaleng bekas.
Kehidupan Raka adalah tentang isolasi yang disengaja. Setelah peristiwa pengkhianatan di Lembah Hitam sepuluh tahun lalu, Raka belajar bahwa musuh terbesar seorang agen bukan hanya peluru, melainkan "jejak digital".
Ia tinggal di sebuah rumah yang ia sebut sebagai The Bunker. Secara legal, rumah itu terdaftar atas nama seorang pria yang sudah meninggal dunia tiga dekade lalu. Ia membayar semua tagihan listrik dan air melalui jaringan blockchain yang telah ia cuci melalui belasan server di negara negara tanpa hukum ekstradisi.
Raka tidak memiliki teman. Satu satunya interaksi sosial yang ia lakukan adalah dengan pemilik warung kopi tua di ujung jalan yang sudah pikun, atau dengan pedagang suku cadang elektronik di pasar loak yang tidak pernah menanyakan namanya. Baginya, setiap orang adalah potential security breach (celah keamanan potensial).
Keterikatan adalah beban, itu adalah mantra yang ditanamkan Kolonel Yudha padanya. Dan Raka mematuhinya dengan fanatik yang mengerikan.
Di dalam tas taktisnya, setiap barang memiliki posisi yang tidak boleh berubah satu milimeter pun. Ia bisa mengambil lock pick set atau granat asap dalam kegelapan total hanya dalam waktu 1,2 detik. Ia tidak makan makanan cepat saji bukan karena alasan kesehatan, tapi karena ia butuh energi yang stabil lonjakan gula darah bisa membuat tangannya bergetar saat melakukan penyolderan mikro atau saat membidik sasaran dari jarak 800 meter.
Kehidupan pribadinya adalah sebuah meditasi panjang tentang kesiapan. Di kamar mandinya, terdapat kotak P3K standar militer yang mampu menangani luka tembak hingga operasi kecil. Di bawah tempat tidurnya, terdapat tabung oksigen dan masker gas. Raka tidak pernah tidur lebih dari empat jam berturut-turut; otaknya telah dilatih untuk bangun setiap kali ada perubahan frekuensi suara di sekitarnya.
Bagi Raka, teknologi adalah perpanjangan dari jiwanya. Ia tidak melihat gadget sebagai alat bantu, melainkan sebagai indra tambahan. Dengan kacamata AR-nya, ia bisa melihat gelombang elektromagnetik yang melayang di udara. Dengan sensor akustiknya, ia bisa mendengar bisikan di balik tembok beton.
Namun, di balik semua kecanggihan itu, Raka tetaplah seorang pria yang kesepian.
Terkadang, di malam malam yang sangat sunyi, ia akan duduk di basement nya, memutar kaset pita tua berisi rekaman suara tertawa rekan rekan timnya di Unit 09 sebelum misi terakhir mereka. Itu adalah satu satunya bug dalam sistem operasinya sebuah memori yang tidak bisa ia hapus, sebuah kode eror yang mengingatkannya bahwa ia pernah memiliki sesuatu untuk diperjuangkan selain sekadar bertahan hidup.
Saat ini, saat ia berkendara menuju The Graveyard sebuah pemakaman tua di pinggiran Bogor yang merupakan titik pertemuan darurat paling ekstrem Raka menyadari bahwa fase bertahan hidup nya telah selesai.
Ia telah menghabiskan sepuluh tahun untuk menghilang. Tapi pesan dari Yudha dan munculnya proyek Aegis-7 telah mengubah segalanya. Seseorang telah mengusik hantu yang sedang tidur, dan mereka lupa satu hal hantu tidak takut mati, karena mereka sudah merasa mati sejak lama.
Raka memutar gas lebih dalam. Suara mesin motornya menggeram, membelah udara pagi. Di balik jaket antipelurunya, jantung Raka berdegup dengan ritme yang berbeda. Bukan ritme pelarian, tapi ritme perburuan.
Ia adalah Raka Wardhana. Ia adalah kesalahan sistem yang menolak untuk diperbaiki. Dan hari ini, ia akan mulai meretas jalannya kembali ke dunia yang telah membuangnya.