"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Pelarian dalam Rolls-Royce
Alana tidak punya waktu untuk menimbang pro dan kontra. Saat melihat kilatan logam dari balik jas pria-pria berbadan besar itu, otaknya seolah berteriak: Lari atau Mati! Dan bagi Alana, mati di depan gedung kondangan mantan dengan kebaya kekecilan adalah cara mati yang paling tidak estetik sepanjang sejarah.
"Masuk!" bentak Arkan.
Alana melompat ke dalam kabin Rolls-Royce yang baunya seperti campuran uang kertas baru dan parfum mahal. Begitu pintu tertutup dengan suara gedubrak yang solid, Arkan menyusul di sampingnya. Belum sempat Alana membetulkan posisi duduknya, mobil itu sudah melesat maju, meninggalkan kepulan asap tipis dan wajah-wajah melongo para tamu kondangan.
"Pegangan," perintah Arkan singkat. Matanya terus menatap spion.
"Pegangan ke mana?! Ini mobil apa pesawat tempur?!" seru Alana sambil mencengkeram jok kulit yang saking lembutnya terasa seperti kulit bayi.
Mobil itu bermanuver tajam di gang-gang sempit kelurahan, menyalip tukang bakso yang hampir saja tersenggol, sebelum akhirnya masuk ke jalan raya utama. Di belakang mereka, dua SUV hitam masih menempel ketat seperti lintah.
Alana mencoba mengatur napasnya yang memburu. "Oke, Mas... atau siapa tadi? Arkan? Bisa jelasin nggak ini ada apa? Saya cuma mau makan rendang, bukan mau syuting Fast and Furious versi kearifan lokal!"
Arkan tidak menoleh. Rahangnya mengeras. "Nama saya Arkananta. Dan pria-pria di belakang itu bukan kru film. Mereka adalah orang-orang yang ingin memastikan saya tidak sampai ke rapat direksi besok pagi."
Alana menyandarkan punggungnya, mencoba bersikap tenang meski jantungnya seperti sedang konser musik cadas. "Rapat direksi? Mas ini CEO atau buronan kelas kakap? Terus tadi itu... soal pernikahan kontrak? Mas pasti bercanda, kan? Itu cuma taktik biar kita bisa kabur dari mulut nyinyir mantan saya, kan?"
Arkan akhirnya menoleh. Tatapannya dingin, menusuk, namun entah kenapa ada kilatan tipis yang membuat Alana merasa pria ini sedang menilai setiap inci sel tubuhnya. "Saya tidak pernah bercanda soal bisnis. Dan bagi saya, pernikahan adalah bisnis paling menguntungkan jika dilakukan dengan orang yang tepat."
"Dan orang yang tepat itu... saya?" Alana menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk yang masih menyisakan sedikit bekas bumbu rendang. "Kita baru ketemu lima menit yang lalu di depan meja katering, Mas! Saya bahkan belum sempat cuci tangan!"
"Justru itu," potong Arkan. "Kamu tidak punya koneksi dengan dunia saya. Kamu tidak punya kepentingan dengan saham perusahaan saya. Kamu cuma gadis... unik, yang punya keberanian menghina saya di saat semua orang bersujud di kaki saya. Kamu 'bersih' dari intrik politik keluarga saya."
Alana mendengus. "Gadis unik? Bilang saja saya kelihatan kasihan karena diputusin mantan. Jangan diperhalus pakai kata 'unik'."
Tiba-tiba, mobil mereka dihantam dari samping. Duar!
Alana menjerit kecil saat tubuhnya terlempar ke arah Arkan. Refleks, Arkan menangkap bahu Alana dengan satu tangan yang kuat, sementara tangan lainnya sibuk memberi instruksi pada sopirnya melalui interkom.
"Jalan pintas ke arah pelabuhan. Sekarang!" perintah Arkan.
"Kita mau ke mana?!" tanya Alana panik.
"Ke tempat di mana mereka tidak bisa menyentuhmu," jawab Arkan pelan. Ia menatap Alana yang kini berada sangat dekat dengannya. Wajah Alana yang biasanya penuh keberanian kini tampak pucat, tapi matanya tetap bersinar tajam—sesuatu yang belum pernah Arkan lihat pada wanita-wanita sosialita yang biasanya mengejarnya.
Arkan merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah ponsel tipis berlogo mahal. Ia menekan beberapa tombol sebelum menyerahkannya pada Alana. "Telepon keluargamu. Katakan kamu akan pergi untuk urusan pekerjaan yang sangat penting selama beberapa hari. Jangan sebutkan soal saya, atau soal kejadian ini."
Alana menatap ponsel itu, lalu menatap Arkan. "Saya yatim piatu, Mas. Cuma punya kontrakan satu petak dan kucing oren yang hobi maling ikan tetangga. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan soal saya menghilang."
Ada jeda sejenak. Sorot mata Arkan sedikit melunak, meski hanya seperseki sekon. "Bagus. Itu mempermudah segalanya."
"Mempermudah apa? Mas mau nyulik saya?!"
"Saya mau menyelamatkanmu, Alana. Dan sebagai imbalannya, kamu akan membantu saya mengamankan posisi saya di perusahaan." Arkan kembali menatap ke arah kaca belakang. SUV hitam itu mulai tertinggal saat sopir Arkan melakukan manuver gila di antara dua truk besar.
"Gimana kalau saya nolak?" tantang Alana.
Arkan menyeringai tipis—sebuah seringai yang terlihat sangat berbahaya namun juga sangat tampan. "Kamu bisa turun di sini, di tengah jalan tol, dan biarkan pria-pria di belakang itu menangkapmu karena mereka pikir kamu adalah kelemahan saya. Atau, kamu ikut saya, tinggal di apartemen mewah, memakai baju seharga rumah, dan membuat mantanmu itu merangkak memohon ampun di depan kakimu."
Alana terdiam. Pilihan yang sulit. Kembali ke hidupnya yang membosankan dan penuh hinaan sebagai "korban perselingkuhan", atau masuk ke dunia yang penuh bahaya tapi menawarkan kekuatan untuk membalas dendam?
Lidahnya yang biasanya "julid" kini terasa kelu. Namun, ingatan tentang wajah puas Bayu dan Tante Lastri saat menghinanya tadi kembali muncul. Rasa panas menjalar di dadanya.
"Baju seharga rumah, ya?" gumam Alana.
"Dan akses ke salon terbaik yang bisa mengubahmu jadi ratu dalam satu malam," tambah Arkan, seolah tahu apa yang dipikirkan wanita itu.
Alana menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Ia membetulkan letak kebayanya yang berantakan. "Oke, Tuan Miliarder Nyasar. Saya ikut. Tapi satu hal: saya nggak mau jadi istri pajangan yang cuma bisa bilang 'iya, Mas' atau 'baik, Mas'. Saya punya mulut, dan saya akan memakainya."
Arkan menatapnya dengan intens, lalu mengulurkan tangannya. "Kesepakatan?"
Alana menjabat tangan besar yang hangat itu. "Kesepakatan. Tapi tolong, suruh sopir Mas berhenti di minimarket depan. Saya butuh beli tisu basah. Tangan saya bau rendang banget, saya nggak mau Rolls-Royce Mas jadi bau katering."
Arkan tertegun sejenak, lalu tawa rendah keluar dari tenggorokannya—sesuatu yang sepertinya sudah lama tidak ia lakukan. "Tisu basah. Baiklah, Alana. Kamu benar-benar... berbeda."
Mobil itu terus melaju menembus kegelapan malam yang mulai turun, membawa Alana pergi jauh dari kondangan mantan, menuju sebuah kontrak yang akan mengubah sejarah hidupnya selamanya.
Tepat saat Alana merasa aman, ponsel milik Arkan yang ia pegang bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal: "Jangan percaya padanya, Alana. Dia membawamu ke sana bukan untuk melindungimu, tapi untuk dikorbankan."
Siapakah pengirim pesan itu? Dan apa rahasia gelap yang disembunyikan Arkan di balik wajah tampannya?