Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Rina menatap takjub barang-barang bermerek di kamar Lydia. Tidak akan ada yang menyangka semua itu didapatkan dari berondong, yang katanya siap membiayai hidup Lydia.
Lydia belum bertemu Arion sejak hari ia menemukan paper bag di depan apartemennya. Namun, ia sudah menerima banyak barang dari laki-laki itu sampai barangnya menumpuk di kamar.
Tidak hanya barang, Arion kadang meletakkan paper bag berisi makanan atau camilan. Hidup Lydia benar-benar sudah dibiayai oleh berondong dari sebulan yang lalu.
"Karyawan magang mana yang bisa beli barang sebanyak ini?" tanya Rina, masih tidak percaya jika Arion yang membelikan barang-barang itu.
Perlu diakui, Arion sama seperti pamannya, yang rela mengeluarkan banyak uang demi perempuan yang dicintainya. Tapi yang menjadi masalah di sini, Arion hanya bekerja sebagai karyawan magang yang bahkan tidak fulltime karena masih kuliah.
"Kalau gue jadi lo sih, gue langsung minta kepastian," ujar Rina tanpa mengalihkan pandangannya.
Jujur saja, ia juga ingin mendapatkan pasangan royal seperti Arion. Tidak perlu memberi barang bermerek, yang terpenting tidak perhitungan soal uang.
"Arion masih anak kecil," ucap Lydia, lalu menghela nafasnya pelan.
Ia cukup tersentuh dengan cara Arion mengutarakan perasaannya. Namun, semua terasa berlebihan. Ia bukan orang yang suka dengan barang-barang mewah. Terlebih jika barang itu pemberian dari laki-laki.
"Kenapa?" tanya Rina, menatap heran Lydia yang tampak tidak senang.
Melihat Lydia terdiam, Rina kembali bicara dan mengingatkan sahabatnya itu.
"Arion bukan anak kecil, dia sudah legal, bahkan sudah masuk usia menikah."
Di negara mereka, usia legal untuk menikah adalah sembilan belas tahun, dan usia Arion sekarang sudah memasuki dua puluh tiga tahun. Arion sudah bukan anak kecil lagi.
"Bagi keluarganya, dia masih anak kecil," kata Lydia menatap Rina.
Sebagai orang yang pernah bekerja di Adhivara Grup, dan sering berinteraksi langsung dengan anggota keluarga itu, Lydia tentu tahu bagaimana Arion diperlakukan di keluarganya.
Arion anak pertama, cucu pertama, dan bahkan keponakan pertama yang masih diperlakukan layaknya anak yang belum dewasa.
"Iya, tapi Pak Calvin tahu Arion suka sama lo," sahut Rina, merasa itu bukan masalah.
Selagi Arion yang memberi dengan sukarela, seharusnya tidak masalah. Lydia tidak perlu pusing memikirkannya.
"Lo tunggu di sini. Gue mau ketemu Arion," ujar Lydia sambil berjalan keluar kamar.
Ia sudah mempelajari pola Arion. Kapan laki-laki itu meletakkan barang, dan kapan meletakkan makanan, waktunya selalu sama.
Biasanya, Arion langsung pergi setelah meletakkan sesuatu di depan pintu apartemennya. Tapi kali ini, ia akan keluar sebelum Arion pergi, agar ia bisa bicara dengan laki-laki itu.
"Lo mau ke apartemen Arion?" tanya Rina sebelum Lydia benar-benar keluar dari kamar.
Lydia hanya menggeleng, tanpa sedikitpun menoleh ke arah Rina. Ia harus bergegas agar bisa memergoki Arion di depan apartemennya.
Perhitungannya tidak salah, Arion datang membawa paper bag tepat saat ia membuka pintu. Ia pikir Arion akan kabur saat melihatnya, namun ternyata laki-laki itu menyodorkan paper bag padanya.
"Makan siang kamu," ujar Arion terkesan terlalu santai untuk orang yang kepergok oleh Lydia.
"Kita perlu bicara," kata Lydia, tanpa menerima paper bag dari tangan Arion.
Ia tidak bisa terus-terusan menerima sesuatu dari Arion. Orang yang tidak tahu akan salah paham dan mengira ia meloroti uang Arion. Padahal kenyatannya, ia tidak pernah meminta apa pun dari laki-laki itu.
"Kita bisa bicara, tapi kamu terima dulu ini," ucap Arion masih mengulurkan tangannya yang memegang paper bag.
Lydia terpaksa mengambilnya. Daripada nanti Arion menolak bicara dengannya, lebih baik ia menerima paper bag itu, setidaknya untuk sekarang.
"Ada apa?" tanya Arion setelah Lydia menerima paper bag dari tangannya.
Laki-laki itu tampak berbeda sekarang. Mungkin karena memakai setelan jas. Namun, perubahannya membuat Lydia melupakan sesaat tujuannya.
"Lydia," tegur Arion saat melihat Lydia terdiam.
Meski sudah mengakui perasannya, Arion masih tidak merubah panggilannya terhadap Lydia. Ia tidak suka memakai embel-embel apa pun di depan nama perempuan itu.
Lydia menggeleng pelan. Mencoba untuk fokus dengan tujuannya. Ia akui, Arion berkali-kali lipat lebih tampan dan dewasa memakai setelan jas, tapi ada hal lain yang lebih penting sekarang daripada mengagumi wajah tampan laki-laki di depannya itu.
"Saya tidak butuh barang yang Anda kasih," ucap Lydia to the point.
Ia sudah berusaha sebaik mungkin agar perkataannya tidak sampai menyinggung Arion.
"Semua itu terlalu mewah untuk saya, dan saya tidak terbiasa memakainya," jelasnya.
"Baiklah, kalau begitu barang apa yang biasa kamu pakai? Dari brand mana?" tanya Arion, seolah hal itu tidak masalah untuknya.
Jika Lydia tidak menyukai barang yang ia kasih, ia bisa membeli barang yang perempuan itu sukai dan butuhkan. Begitulah prinsipnya.
"Bukan begitu," Lydia mulai putus asa.
"Saya sangat berterimakasih atas kebaikan Anda yang sudah membelikan semuanya untuk saya, tapi ini tidak wajar bagi saya," jelasnya, berharap Arion mengerti kali ini.
Memberi barang bermerek terlalu berlebihan, meski Lydia tahu Arion memiliki cukup banyak uang untuk membeli semua itu.
"Pendekatan yang benar tidak seperti ini. Bukan dengan membelikan banyak barang. Cukup dengan hal-hal kecil," tambahnya.
"Lalu yang benar seperti apa?" tanya Arion spontan.
Ia belum berpengalaman dalam melakukan pendekatan dengan perempuan. Yang ia lakukan sekarang hanya mengikuti apa yang pamannya lakukan saat mendekati bibinya. Tidak sama persis, tapi dulu pamannya juga royal.
Lagipula, Lydia pernah mengatakan ingin seseorang membiayai hidupnya. Jadi, Arion pikir tidak ada salahnya ia melakukan itu.
"Kita bisa mulai dari pergi ke coffeeshop bersama."
Lydia tidak percaya dirinya akan mengajari Arion pendekatan. Padahal, ia sendiri sebenarnya tidak berpengalaman, karena seumur hidupnya laki-laki yang dekat dengannya hanya Marvin.
"Baiklah, kita pergi ke coffeeshop besok," ujar Arion langsung menyetujui itu.
***
Keesokan harinya, Arion benar-benar mengajak Lydia pergi ke coffeeshop. Untuk pertama kalinya, motor gede Arion membonceng perempuan selain adik dan ibunya.
Arion membawa Lydia ke coffeeshop langganannya, dan di jam yang sama persis seperti waktu Lydia biasa datang. Bahkan, memesankan minuman yang sering Lydia pesan.
"Jangan duduk di sana," ujar Arion saat Lydia hendak berjalan menuju meja biasa ia duduk.
Meja itu pernah Lydia duduki bersama Jevan, jadi Arion tidak ingin mereka duduk di sana sekarang. Ia tidak mau tempat itu merusak momen mereka.
Beruntung, Lydia cukup peka. Ia tidak jadi duduk di sana, dan langsung memilih meja lain.
"Kalau gitu kita duduk di sini saja," ujarnya sebelum duduk di salah satu meja di dekat mereka.
Arion mengikuti Lydia duduk. Tidak ada adegan menarik kursi karena Lydia sudah lebih dulu duduk sebelum Arion sempat melakukannya.
Perlu diingatkan kembali, laki-laki yang sedang melakukan pendekatan dengan Lydia ini laki-laki dewasa berusia dua puluh tiga tahun. Arion tahu hal kecil seperti menarik kursi.
"Terus apalagi yang perlu kita lakukan?" tanya Arion begitu mereka duduk.
Lydia menatap laki-laki itu lama sebelum menjawab.
"Hanya duduk, menikmati waktu bersama. Itu baru namanya pendekatan."